PENGEMBARA JIWA

(Menemukan Cahaya Abadi di dalam Lautan Tauhid dan Tasawuf)

————- KILATAN CAHAYA CINTA SEJATI ————-

Posted by pengembarajiwa pada Mei 21, 2010

Ya…… Cinta memang penuh dengan bermacam2 Rupa, Warna dan Bentuknya, bahkan yang Lebih dahsyat……. lagi bahwa Cinta itu akan menjerat mereka2 yang sedang mabuk di dalamnya. Terbuai….. dan Hanyut oleh getaran2 yang mengalir ke seluruh tubuhnya sehingga membuat diri semakin tak berdaya….dan pada Akhirnya akan menuruti Rasa apa saja yang menggetarkan jiwa raganya.

Karenanyalah…… hendaklah diketahui dan di mengerti tentang “HAKIKAT CINTA” itu sesungguhnya, agar tidak tertipu oleh berbagai macam rupa, warna dan bentuk yang ada pada cinta itu. Sesungguhnya hanya ada satu cinta yang sebenar2nya yaitu “CINTA SEJATI”i yang tiada pernah mati dan tiada tertandingi serta tiada terbagi.

Mengkaji ke dalam diri…., menyelam sampai kedalam dasar jiwa yang terdalam maka disitulah akan di temukan “CINTA SEJATI” itu. Yang tiada rupa, warna dan bentuk tetapi meliputi kesetiap rupa, warna dan bentuk.

Itulah……., Akhir dari perjalanan Cinta yang tak akan tertipu lagi. karena telah menyatu dengan Sang Pemilik Cinta dan lebur selebur2nya dalam KESADARAN akan sang Pemilik Cinta yang meliputi akan dirinya.

Sungguh…..! keindahan yang terlihat yang disebabkan oleh rasa cinta itu

Sungguh…..! kesenangan yang di timbulkan oleh perasaan cinta itu

Sungguh…..! apa saja yang membuat gairah….. yang sangat luar biasa yang terjadi karena cinta itu

Semuanya hanyalah sebagai jembatan semata, sebagai perantara semata, sebagai Wasilah semata untuk membawa mereka2 yang SADAR akan KESADARAN kepada Sang Pemilik Cinta itu.

Dan pada Akhirnya Sang Pemilik Cinta itu akan menyapa dirinya dan menebarkan Aura Kasih-Nya kepada mereka2 yang telah sampai kepada-Nya.

Wassalam

Salam Cinta Damai Kasih dan Sayang di dalam Rahmat dan Ridho Allah swt.

“Pengembara Jiwa yang masih di dalam perjalanan dan masih di dalam belajar”

Iklan

24 Tanggapan to “————- KILATAN CAHAYA CINTA SEJATI ————-”

  1. satrio said

    subhanallah….laa haula wa laa quwwata illa billah. Bisakah saya rasakan kenikmatan itu? . Terima kasih kang PJ

    • @Satrio & @Dian

      Subhanallah Walhamdulillah Wa Laa Ilaaha Illallah Wallaahu Akbar, Walillaahil Hamd’…….

      Insya Allah tiada yg mustahil bagi Allah untuk menghunjamkan rasa itu kepada siapa2 yg dikehendaki-NYA dan Hal itu sangat…sangat..sangatlah mudah bagi-NYA. Karena memanglah pada Dasarnya KESADARAN akan RASA itu telah menjadi bagian ke-FITRAH-an yg ada pd DIRI yg disematkan Allah sejak diri terlahir ke Alam Dunia ini namun……dikarenakan sang Diri terlena oleh Ma Siwa Allah (sesuatu selain Allah) maka menjadi terhijablah Diri dari KESADARAN yg demikian itu.

      Maka….ketika Allah menanamkan Hdayah-NYA berupa Anugrah Ma’rifat di Qolbu’, dan Rasa KESADARAN-nya pada saat itu telah membenarkannya maka janganlah sekali2 membantahnya dan tidak memperdulikannya. Jika terselip di Qolbu bantahan2 lalu perlahan2 tidak memperdulikannya maka Hidayah-NYA dalam Anugrah Ma’rifat tadi akan terselimuti oleh “Kabut Sangka2” yg akhirnya menutupi dirinya sendiri dari jalan-jalan-NYA.

      Semoga Allah Swt memelihara kita semua dalam Pemeliharaan-NYA yg tiada keragu2an didalamnya.

      Salam Kasih selalu dalam Rahmat Cinta Kasih Allah Swt untuk para pengembara2 yg berjalan di Jalan-NYA, semoga Allah Swt memberkati.

      Aaamiiin.

      • God servent said

        Assalamualaikum.
        Nun~. Wal qalami wama~ yashturun~. Ma~ anta bi ni`mati rabbika bi majnu~n. Wa inna laka la ajran ghaira mamnu~n.
        Nun.Demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat ni`mat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali kali bukan orang gila.
        Dan sesungguhnya bagi kamu benar benar pahala yang besar yang tidak putus putusnya. Syukur Syukur Syukur….
        Kang PJ yang sangat ku hormati.Banyak sungguh ku manafaati.Yang kurang bertambah, Yang kelabu semakin terserlah. Hanya Allah yang merahmati di atas usaha Kang.

  2. dian said

    sungguh indah hidup ini jikalau kita bisa merasakan itu semua….

  3. nubie said

    listen to your heart…

    it,s true love

    thank,s PJ

    • @Nubie

      Yayayaya……….
      Dengarkanlah Suara Hati yg terdalam yaitu “Rasa & Kesadaran” yg di dalamnya tiada keragu2an yg ada hanya liputan ketenangan, kedamaian, kelapangan, ketentraman maka disitulah Suara Hati yg Haq’ maka dengarkan lah………apa yg terbetik di dalamnya. Namun jika suara itu terliputi oleh sangka2, keragu2an, kebimbangan, kegundahan, ketergesa’an, Ambisi dll….maka disitu adalah Suara yg telah bercampur dengan ke-DIRI-an/ke-EGO-an/Hawa Nafsu maka tinggalkanlah…….dan berserah dirilah kepada Allah Swt semoga Allah membebaskan diri dari belenggu ke-DIRI-an/ke-EGO-an/Hawa Nafsu tsb.

  4. Alam Rasa said

    Salam Kasih

    Kilatan Cahaya Cinta Sejati..sebuah judul yang sangat baik untuk direnungkan secara mendalam. Karena Cinta Sejati hanya dimiliki oleh Dia Sang Pemilik Cinta. Dan Cahaya-Nya……

    Ya Allah..Biarlah segala yang masih membatasi antara kami dan Engkau berganti dengan Cahaya, Cinta, Kesadaran, dan Kerinduan Kepada-Mu. Biarlah agar seluruh diri dan hati kami dapat selalu memilih Engkau, dan memprioritaskan Engkau di atas segalanya. Amin.

    • @Alam Rasa

      Salam Kasih selalu Saudaraku Alam Rasa…..

      Dan Terimakasih atas Do’anya……sangat bermanfa’at sekali untuk kita semua. Semoga Allah Swt meng-ijabah Do’a saudaraku Alam Rasa…...

      Aaamiiin……Aaaamiiiin……Yaa…Robbal ‘Aaalamiiin….

      Salam Ta’lim wa Ta’dzhim, saudaraku…..

  5. chairullah said

    CINTA ITU MEMANG DAHSYAT…? mas PJ
    kadang kita melihat sesuatu keajaiban yang ada di bumi ini , kadang kita kagum ,kadang kita terlena ,kadang kita terpesona , kadang kita tergila gila ,kadang kita jadi hampa karena cinta ,kadang kita sakit karena cinta ,kadang kita menangis karena cinta , kadang kita tertawa karena cinta ,lalu lalu bagaimana kita mensyukurinya atas diri kita cinta kepada ALLAH….????

    mas PJ
    mohon ceramahnya ya?
    trims

    • @Chairullah

      CINTA ITU MEMANG DAHSYAT…!!!, Ya…Benar sekali. Namun…hendaknya diketahui bahwa CINTA itu bukanlah Akhir dari perjalanan namun CINTA itu adalah penyemangat JIWA yg sedang DAHAGA dalam perjalanan menuju kepada Tujuan yg sebenar2nya yaitu Allah Swt.

      Maka maknailah CINTA itu sebagaimana mestinya, janganlah menyatakan bahwa CINTA itu adalah segala2nya karena jika CINTA itu dinyatakan sebagai sesuatu yg sangat ISTIMEWA lalu kemudian meng-AGUNG2-kan CINTA melebihi dari Sang Pemilik CINTA, maka akan dipastikan si “Salik/Pejalan/Pengembara/Penuntut” akan mengalami ke-MABUK-an. Ada yg MABUK dalam ke-BAHAGIA-an dan ada pula yg MABUK dalam ke-PUTUS ASA-an.

      Katakanlah : “Hai….CINTA..!!!, Engkau bukanlah apa2 jika tanpa yang Memiliki dirimu yaitu Allah Swt. Maka tak pantas bagiku untuk memuja dan mengagungkan dirimu melainkan hanya Allah Swt lah yg Pantas dan sudah selayaknya Aku Puja dan Aku Agungkan. Namun…..karena engkau Hai CINTA, adalah Anugrah dari pada Tuhanku yg dipakaikan pada HAYAT yg ada pada diriku sehingga menjadikan setiap sendi kehidupan yg ada pada diriku menjadi NIKMAT dan RAHMAT meliputi Ruh dan Jasad maka sudah selayaknya engkau akan kujaga dan kupelihara sebagai Sembah Baktiku kepada Allah Swt dan pada Akhirnya nanti Aku dan Engkau akan kembali kepada Allah Swt dalam Satu kesatuan sebagai ABDULLAH yg penuh CINTA KASIH kepada siapa saja dan menjadi RAHMATAN LIL ‘AALAMIIN.

      Semoga Allah Swt memelihara kita semua dalam Pemeliharaan-NYA yg penuh Rahmat.

  6. http://sangkebenaran.blogspot.com/

    Inilah contoh ajaran PEDOFILIA Muhammad:

    Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

    Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

    A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci?

    • @Sangkebenaran

      Pertama2 saya ucapkan bahwa kedatangan Anda di Pondok PJ ini tetap saya sambut sebagai Tamu dan sudah selayaknya saya mempersilahkan Anda untuk masuk di Pondok PJ ini, walau sebagai Tamu tetap saja harus ada batasan2 sebagai Adab seorang Tamu namun sekali lagi…saya salut dengan Anda yg pada dasarnya sesuai dengan Nickname Anda menunjukkan bahwa Anda ingin menunjukkan kebenaran2 menurut Versi Anda Sendiri tetapi….Anda juga harus menghormati siapa2 yg ada di Pondok PJ ini sehingga tidak gegabah untuk menyampaikan sesuatu yg mengundang Fitnah yg mengakibatkan Kemudharatan.

      Jika Anda menyampaikan apa2 yg Anda sampaikan kepada Kelompok Anda sendiri, mungkin tidak ada masalah bagi kami karena bagi kami apa2 yg kami yakini dan bagimu apa2 yg engkau Yakini. Namun karena Anda telah menyampaikan Hal itu di Pondok PJ ini tentunya akan menjadi Hukum secara Zahiriyyah yg berlaku, entah apa itu….biarlah Sang Maha Pencipta yang Memiliki kerajaan Langit dan Bumi, Penguasa Seru Sekalian Alam yg menentukan dan memutuskannya. Maka dengan ke-TEGAS-an saya sampaikan kepada Anda wahai @Sangkebenaran Cukuplah…bagiku Allah Swt sebagai Saksi yg mengetahui KEBENARAN-KEBENARAN SESUNGGUHNYA antara “kami yg ada di Pondok PJ” ini dan “Anda”.

      Wahai….@Sangkebenaran, hendaknya engkau Arif dan Bijak dalam menyampaikan sesuatu. Semoga ada se-TITIK ke-SADAR-an pada diri Anda yg menyuarakan KEBENARAN se-JATI yg se-SUNGGUH-nya.

      Asyahu AnLaa Ilaaha Illallah
      wa Asyhadu Anna Muhammadarrosuulullah Al-Haq Bil- Haq

  7. @sangkebenaran. Memandang dengan kacamata kebencian, kecintaan, kebijakan, kesalahan, kebenaran tentu akan berbeda tampak dan wujudnya yang d pandang… Ketika anda datang dengan menggunakan salah satu kacamata tersebut, ketika itu anda d tipu olehnya.. Maka, lepaskanlah kacamata tersebut.. Maka SEGI PANDANG yang ada pada diri anda yang akan berbicara…. Selagi SEGI PANDANG anda masih berkacamata, selama itu anda akan terhalang dari nyatanya sang SEGI PANDANG..

  8. Mbah Tukul said

    @Sangkebeneran

    Kami umat islam mencintai Rasulullah Muhamad s.a.w dan tidak akan terpengaruh dengan pandangan anda yang keliru tentang usia pernikahan Siti Aisyah dengan beliau.

    Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

    BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER

    Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya,Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.
    Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

    Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

    Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

    Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

    KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

    KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:

    pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
    610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam
    613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
    615 M: Hijrah ke Abyssinia.
    616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
    620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
    622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
    623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

    BUKTI #2: MEMINANG

    Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

    Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

    Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).

    Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

    KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

    BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

    Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

    Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

    KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

    BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

    Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).

    Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

    Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

    Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).

    Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

    Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

    Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

    Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?

    KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

    BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

    Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

    Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr.

    Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

    Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud

    KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

    BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

    Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

    Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

    KESIMPULAN: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

    BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab

    Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

    Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”.
    Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

    KESIMPULAN: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

    BUKTI #8. Text Qur’an

    Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

    Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid doaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

    Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

    Disini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

    Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

    Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

    AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.

    KESIMPULAN: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

    BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

    Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

    Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

    Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

    Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.

    KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

    SUMMARY:

    Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernha keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

    Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karean adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

    Oleh karean itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai MITOS SEMATA. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

    SALAM

  9. @Awae Masya Allah

    Alhamdulillah….
    Semoga Allah senantiasa memberkati dalam Rahmat-NYA kepada Anda sekeluaga, wahai Saudaraku.

    Salam ke-BENAR-an dalam KEBENARAN2NYA

    @Mbah Tukul

    Alhamdulillah…Alhamdulillah..Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiiin.
    Allahumma Sholli ‘Alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘Alaa Aalihi Sayyidina Muhammad.

    Terimakasih ku ucapkan kepadamu wahai Saudaraku @Mbah Tukul atas referensi2 ke-BENAR-an2NYA yg terurai begitu Jelasnya.

    Salam Ta’lim wa Ta’dzhim selalu wahai saudaraku @Awae Masya Allah & @Mbah Tukul

  10. engkaudanaku said

    Subhanallah, Sungguh luar biasa…!
    Suatu keindahan yang tiada tara, saat cinta hadir karena leburnya rasa yang berasal dari dalam diri,
    Wallaahu a’lam bish shawab, 🙂

  11. edod said

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Salam kenal mas PJ. Blog anda sangat membantu saya mengenal Alloh SWT.

    Mohon inin CoPas untuk di share di yahoo saya.

    Wassalam..

  12. salam kenal…blognya keren .. artikelnya jugga..

    di tunggu kunjungan baliknya…

    thanks…

  13. salam kenal…………. kutunggu artikel yang baru.

  14. Dian &diamyangsendiri said

    Assalamualaikum wr wb

    Salam sejahtera, salam kasih dan , salam selalu

    Salam kenal juga saudara-saudara ku, aku yg telah ditunjuki jalan menapak situs ini….mengharapkan lebih banyak lagi penyejuk-penyejuk diri untuk menjajaki diri dan mengenal illahi….

  15. Maiso Rani said

    Sejatinya didalam Qolbu setiap manusia hanya terdapat 1 cinta seperti halnya diatas langit mustahil ada 2tuhan yang berdiri sejajar..

  16. Rahmad Basuki said

    Assalamualaikum…Mencari dan terus mencari,tiada henti sampaiku temukan cintaNya…dlm kesadaran keSejatianNya…!Salam PERSAUDARA’AN KANG PJ serta seluruh saudaraku.

  17. Orang berbicara haq sesuai pengalaman dirinya yang menjadi ilmu adalah benar. Terima kasih salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: