PENGEMBARA JIWA

(Menemukan Cahaya Abadi di dalam Lautan Tauhid dan Tasawuf)

PILAR-PILAR TAUHID MENUJU KEBENARAN SEJATI

Posted by pengembarajiwa pada April 19, 2009

Di dalam Kehidupan ini segala sesuatunya serba berpasang-pasangan. Jika ada siang pasti ada malam, ada gelap dan ada terang, ada Laki-laki dan ada perempuan, ada benar dan ada salah, ada baik dan ada buruk, ada halal dan ada haram, ada untung dan ada rugi, ada langit dan ada bumi, ada surga dan ada neraka, ada hidup dan ada mati, ada Nyata dan ada Ghoib, ada Zahir dan ada Bathin, ada yang “ADA” dan ada pula yang “TIADA”, dll……dll……….dl. Juga termasuk dalam sifat pun berpasang-pasangan seperti ada suka dan duka, ada tangis dan tawa, ada marah dan sabar, dll……..dll……..dll.
Sempurnanya Hidup jika yang berpasang-pasangan itu ada pada diri manusia, dan kesempurnaan itu di dapatkan apabila sang diri bisa membawa diri pada jalur Tengah diantara keduanya…. Artinya tetap tegak pada yang mengadakan ke dua hal yang berpasang-pasangan itu yaitu Tuhan Seru Sekalian Alam (Allah Swt).
Dan itulah pentingnya…… Ketauhidan, agar manusia berjalan di muka Bumi ini dalam mengarungi Hidup senantiasa terpelihara dari sifat berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan sesuatu tanpa sadar bahwa hanya Sang Hyang Kuasa lah (Allah Swt) sebenar2nya yang memiliki ke Agungan itu.
Banyak yang terjebak dari segala sesuatu sifat yang berpasang-pasangan itu, dengan berambisi untuk mendapatkan tujuan itu hanya semata-mata untuk memuaskan Diri nya sendiri, begitu pula ada yang berusaha sekuat tenaga dengan mempertahankan dirinya agar terhindar dari segala sesuatu yang membuat dirinya merugi. Saya katakan….. bahwa itu semua tidak lah salah!!!!, dan baik sekali. Akan tetapi jika itu semua di sandarkan pada Daya Upaya nya sendiri dengan merasa bisa berbuat sesuatu maka itulah mereka-mereka yang terjebak oleh ke DIRI an/ke EGO an yang ada pada dirinya (Hawa Nafsu).
Terus bagaimana dengan yang mengatakan bahwa : di Al-Qur’an…bukannya sudah di Firmankan bahwa : Apabila yang baik-baik dan benar itu datang dari pada Allah dan yang tidak baik atau yang buruk-buruk datang dari diri sendiri..????, bahkan yang menyampaikan itu buka hanya satu dua orang tetapi setiap Ustadz-ustadz, Kyai, Syech dan Majelis-majelis Ulama pun mengatakan demikian…. Lalu apakah masih bisa di bantah…???!!!!

Sungguh… Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya, akan tetapi yang perlu di renungkan adalah bahwa yang datang dari pada Allah itu sudah pasti Benar adanya dan tidak ada keragu-raguan di dalamnya dan hal itu berlaku bagi mereka-mereka yang telah tumbuh kesadaran di dirinya bahwa Allah senantiasa menyertainya di setiap langkahnya dari buka mata sampai tutup mata kembali 24 jam sehari semalam. Jika Allah senantiasa menyertainya dimana pun ia berada tentunya Allah akan memelihara dirinya dari pada keburukan-keburukan dan perbuatan-perbuatan yang tidak baik dengan cinta kasih Allah atas dirinya. Dan kalau toh mereka itu lalai, bukan disebabkan ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu) melainkan karena Fitrah dirinya memang dalam keadaan lupa. Tentunya Allah akan mengingatkan dirinya bahwa ia telah salah dan seketika itu akan membuat ia sadar bahwa kesalahan itupun datang dari pada Allah untuk mendidik ia tentang kebenaran dibalik kesalahan itu yang membuat dirinya semakin mengetahui akan Cinta Kasih Allah Amat sungguh-sungguh tiada taranya. Tentunya mereka itu adalah orang-orang yang telah tertanam pada dirinya ke Tauhidan yang sebenar-benarnya. Sehingga kesalahan yang terjadi atas dirinya karena kelalaiannya tadi bukan lah suatu hal yang buruk baginya melainkan suatu hal yang baik bagi dirinya, karena di dalamnya terdapat pelajaran-pelajaran dari Allah untuk di renungkan olehnya.
Adapun mereka yang tidak mengetahui akan ke Tauhidan itu, setiap waktunya dan setiap saatnya dalam ke adaan lalai karena ia merasa berbuat dengan daya upaya nya sendiri. Jangankan perbuatan-perbuatan atau kelakuan-kelakuan yang sudah nyata salah dan buruk, perbuatan baikpun, perbuatan yang benar pun seperti halnya menolong orang, baik dengan tamu, sopan santun, mencintai orang lain, bahkan termasuk amal ibadah sekalipun di dalam Sholatnya, Puasanya, Zakatnya, Hajinya, Wirid, Tasbih dll……..dll………dll……….., itu semua adalah BATIL, karena ia berbuat kebaikan itu di dasari oleh ke DIRI an/ke EGO an nya (Hawa Nafsu) dan itu semua terjadi karena ia lalai dari pada Kebenaran di balik ke DIRI an/ke EGO annya (Hawa NAfsu).
Jika demikian…… Sangat-sangat penting sekali Tahuid itu ya….????
BENAR..!!!!, Bahkan sangat berarti dan bermakna sekali dalam penerapan Hidup baik di Dunia maupun di Akhirat, agar tidak tertipu daya oleh ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu) yang ada pada dirinya. Jadi intinya adalah…. Bahwa ke DIRIan/ ke EGO an (Hawa Nafsu) itu bukan hanya membawa dirinya kepada hal-hal yang tidak baik saja melainkan juga membawa dirinya kepada hal-hal yang baik dan benarpun dalam hidup baik dari segi sosial maupun dalam Amal Ibadah. Segala sesuatu pekerjaan atau perbuatan bila di dasari oleh ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu), itu semua adalah BATIL. Dan itulah makna dari pada : “Kebaikan itu datang dari sisi Allah, dan keburukan itu datang dari diri sendiri”. Yang di maksud dengan diri sendiri adalah perbuatan yang dilakukan karena ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu)nya. Dan itu di sebabkan karena ia senantiasa dalam ke adaan lalai dari pada Ketauhidannya kepada Allah. Sedangkan segala sesuatu selain Allah adalah BATIL dan tidak KEKAL.

Allah Swt ber firman :
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal”. (QS, An Nahl : 96)

Katakanlah : “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah : “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah : “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah : “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS, Ar Ra’d : 16)

Wahai Insan…!!!!,
Beratuhidlah engkau….. dalam Kehidupanmu, dalam Gerak dan Diammu, Dalam Tidur dan Jagamu, dalam Sehat dan Sakitmu dan di setiap hari dari buka mata sampai tutup matamu begitupun juga dalam Amal Ibadahmu agar engkau tiada tertipu oleh sesuatu apapun yang ada pada ke DIRI an/ke EGO an (Hawa Nafsu)mu. Cukuplah….. Allah sebagai penglihatanmu, pendengaranmu, penciumanmu, perkataanmu dan nyawamu, masuk didalam ketauhidan Allah yang meliputi tiap-tiap segala sesuatu.
Dan untuk masuk dalam Ketauhidan yang demikian, maka bermula dengan mengenal terlebih dahulu kepada Allah Swt lalu kemudian dapatlah mentauhidkan-Nya. Mengenal dengan sebenar-benarnya pengenalan yaitu tidak hanya sebatas Teori belaka tetapi lebih pada merasakan kehadiran Allah Swt dekat sekali pada dirimu dan meliputi yang di luar dirimu. Yaitu dengan Rasa Pengrasa lah engkau benar-benar merasakan kehadiran-Nya bukan dengan merasa-rasakan, sebab merasa-rasakan itu adalah hanya bermain di logika Akal semata yang masih suka menimbang-nimbang iya atau tidak, benar atau salah…..
Adapun Rasa Pengrasa itu terdapat pada KESADARAN DIRI, karena mengerti bahwa memang Allah senantiasa Hadir dari dulu sampai sekarang dan sampai akan datang di setiap waktu. Hadir bukan karena di Hadir-hadirkan tetapi memang sudah QIDAM/SEDIA dalam ke Hadirannya, itulah Ma’rifat yang sesungguhnya dan sebenar-benarnya yaitu MA”RIFATULLAH namanya.
Dan setelah masuk dalam MARIFATULLAH yang demikian lalu dalam Haqqul Yaqin (Kebenaran ke Yakinan) tertanam Ketauhidan yang Sejati di balik segala sesuatu yang berpasang-pasangan, seperti yang sudah di uraikan di atas mengenai Kehidupan ini segala sesuatunya serba berpasang-pasangan. Jika ada siang pasti ada malam, ada gelap dan ada terang dst….dst….dst…
Di dalam Ketauhidan yang Sejati disitulah KEBENARAN SEJATI yang terlepas dari sifat yang berpasang-pasangan namun meliputi yang berpasang-pasangan. Bukan “A” dan Bukan “B”, tetapi meliputi “A” dan “B”. Bukan “INI” dan “ITU”, tetapi meliputi “INI” dan “ITU”. Itulah Al-Haq Bil-Haq dalam Maqom Laa Maqom (tempat yang tiada bertempat).
Dan untuk berjumpa dengan KEBENARAN SEJATI itu maka haruslah dikenali dan dimengerti serta lebur dalam Rasa Pengrasa pada “PILAR-PILAR TAUHID”, yaitu :
– Tauhidul Af’al (Esa dalam Af’al/perbuatan Allah)
– Tauhidul Asma’ (Esa dalam Nama Allah)
– Tauhidus Shifat (Esa dalam Sifat Allah)
– Tauhiduz Zat (Esa dalam Zat Allah)
Lalu…… bisakah semua Insan sampai pada Ketauhidan yang demikian…?????
Bisakah dan mampukah diri yang penuh dengan dosa ini masuk dalam Tauhid yang demikian…?????
Bisakah dan sanggupkah diri yang bodoh ini memahami Tauhid yang demikian…?????
Jawabnya….. Allah tidak pernah menutup diri-Nya kepada siapapun juga, dan tidak pernah merahasiakan diri-Nya kepada siapapun juga. Karena Allah itu Amat Maha Nyata senyata-nyatanya dan Maha menyatakan tiap-tiap segala sesuatu. Jadi tidak ada yang mustahil bagi siapapun untuk sampai kepada-Nya, tinggal manusia nya saja untuk pertama kalinya dan awal-awal sekali sebelum menuju kepada-Nya dalam MA”RIFATULLAH dan TAUHIDULLAH agar berserah diri dengan sebenar-benarnya penyerahan dan menenggelamkan dirinya dalam penyerahan diri itu yaitu menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa dirinya “Laa… Hawla Wa Laa….Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil Adziiim”. Dan untuk masuk dalam kesadaran yang demikian maka jalannya dengan mengenal akan Hakikat Ruh. bisa di baca di : KESADARAN AKAN RUH AWAL MENGENAL ALLAH
Semoga Allah senantiasa membimbing Nur-Nya kedalam Hati kita semuanya dan menuntun kita untuk dapat berserah diri sepenuhnya dalam Penyerahan Diri “Laa… Hawla Wa Laa….Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil Adziiim”, yang pada akhirnya akan sampai kepada perjumpa’an dengan Allah Swt.

Allah memberkati kita semuanya dan senantiasa beserta kita di mana pun kita berada.
Salam Taklim,
Pengembara Jiwa.

Iklan

37 Tanggapan to “PILAR-PILAR TAUHID MENUJU KEBENARAN SEJATI”

  1. zal said

    ::ini penyampaian yang bagus, tapi ya gak ada salahnya juga bermain pada ego dahulu, sebab airpun mulai meresapnya dari permukaan tanahkan…
    apalagi sebanarnya gak bisa juga percaya ini-itu, jika tak ada suatu permainan dari The Master…jika kita bisa, itupun kan hanya perasaan kita, sebab dirasakan seolah-olah kita, jika kita katakan bukan kita…hmmmh..lalu siapa yang merasakan sakit, kecewa..nikmat..takut…, mungkin memang pastinya bukan kita (lho koq mungkin ada pastinya.. 🙂 )..lalu.. lho koq jadi ya ketikan ini…

  2. Gama said

    Jika engkau ada ………. ” Aku ” tiada .
    Jika engkau tiada …….. ” Aku ” ada .
    Wassalam,

  3. Assalamualaikum..wr.wb
    gimana caranya agar kita mengetahui segala hal yang berasal dari keegoan kita sendiri…terus gimana caranya agar kita selalu dalam lautan marifatNya…?
    Apa khabar..mas PJ yang tercinta….?

  4. mujahidahwanita said

    Baik dan buruk datangnya dari pada Allah…

    Tetapi manusia telah di berikan akal dan hati….
    untuk memilih ingin berada di jalan kefasiqan atau ketaqwaan.

    Akal adalah tempat untuk menimbang baik dan buruk, benar dan salah
    Adapun hati adalah tempat untuk menentukannya…

    semuanya kita kembalikan kepada KESADARAN karena KESADARAN itulah yg dapat menentukan tentang kebenaran yg sesungguhnya melalui hati nurani sebagai cerminannya.

    Adapun hati ada dua macam:
    1. Suara hati sanubari(suara yang datang di karenakan kegelisahan jiwa, keragu2an, kebimbangan, dan ketidak pastian dalam menentukan pilihan). semuanya itu berdasarkan keegoan didiri.

    2. Suara hati nurani(suara yang datang di karenakan jiwa yang tenang, lapang, damai, tentram dan sadar bahwa segala sesuatu urusan, Allah lah yang menentukan dan menghendaki) semuanya itu berdasarkan kepasrahan dirinya karena mengerti akan tuhan-Nya.

    jadi kita bisa menyimak suara yang ada pada hati atau batin itu, berada pada point yang keberapa. point ke-1 atau point ke-2.

  5. kangBoed said

    hmmm… jadi ingat ini…
    Sebagaimana Allah berfirman :

    “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan Ridho serta di Ridhoi. Masuklah ke dalam golongan hamba–hamba Ku. Dan masuklah kedalam Syurga Ku”. (QS, Al-Fajr : 27-30)

    JIWA yang Tenang — RIDHO — di RIDHOI — Kembali kepadaNYA
    yayaya…. inilah perjuangan kita sebenarnya dalam perjalan memasuki kesadaran batiniah dan membuka pintu ketuhanan untuk bertemu dengan Yang Maha Bathin…. sudah tersirat dengan baik…. sebuah perjalanan menekan hawa nafsu… sampai akhirnya mencapai Maqom La Maqom… yayaya… Maqom yang tiada Maqom lagi… semua sudah bergerak dengan sendirinya…. karena si aku telah benar benar lenyap…. dalam SEJATINYA La Hwalla Walla Quwata…… hmm…. yayaya…. semoga ya ya ya….
    Salam Sayang Mbah PJ, mBak Yu nee, mBah ZAAAL hehehe teteeep..

  6. kangBoed said

    hmm….. wong kita ini cuma lamunannya TUHAN… masa TUHAN yang menjadi lamunan kita…. hidup ini hanya sinetron dan senda gurau belaka apalagi… apakah daya kita yang lemah ini selain tunduk dan menyerahkan diri bulat bulat alias pasrah dan sumeleh cuma itu took dak lain dak bukan… gak usah bicara bisa ini bisa itu karena kekuatan diri yang sebenatnya tiada daya sama sekali apalagi jadi merasa lebih dari sang Causa Prima…. bekerjalah sekuat tenaga dan akal fikirmu dan biarkanlah engkau berjalan dalam kepasrahan kepadaNYA… yayaya…. hanya itu saja hubungan horisontal yang terjalin dengan apik dan indah berlandaskan hubungan vertikal…
    Allah memberi petunjuk yayaya… Mengenal diri maka kenal hakekat Gustinya…. Mengenal Tuhan maka mengenal diri…. weleh weleeh bolak balik…
    Yang dimaksud kedalam dan keluar yaitu dia…. jalan kedalam adalah berusaha mengenal Tuhan melalui dirinya sendiri dan masuk terus masuk dalam penghilangan diri dalam sejatinya Laa Hwalla Walla Quwata…. cuma itu tok… karena yang ada juga semakin kosong dan kosong…. wong seorang nabi saja ketika bertemu dengan ALLAH eeee pingsan sedemikian lama apalagi kita manusia biasa…
    hmmm…. mengenai jalan keluar diri yayaya…. mengenal Tuhan dari hasil ciptaanNYA… alam semesta raya dan segala isinya dari berbagai dimensi kehidupan…. nah cuma segitu aja kook repot siih…. dan sampai kapanpun kita mencari dan mengejar hmm sungguh jalan tak berujung… yang penting carilah kesadaran DIRI SEJATI cukup itu saja dan gunakan itu untuk mencipta dan berkarya…. karena ketika KESADARAN DIRI SEJATI itu menyertai kita sungguh tiadalah sang diri ini untuk mengaku ngaku dan merasa rasa apalagi bisa ini itu… sedangkan bernafaspun kita tak mampu jika tiada IJIN ALLAH…… apalagi untuk bergerak dan berkata berkarya dan mencipta…. karena semua hanya NIKMAT ANUGERAH ALLAH saja…. dan tiada bergerak sebutir debupun tanpa qudrat dan iradatNYA alias IJIN ALLAH….. yayaya…. yang MAUJUD adalah ILMU dan dibalik itu adalah HIDUP… Ilmu yang Hidup tanpa ada yang menghidupi disertai Qudrat dan Iradat…. hmm… ternyata semua paket yayayaya… paket Awal di alam kandungan/rahim…. ???
    Salam Sayang mBaaaah PJ dan mBak Yunee..

  7. zal said

    ::PJ, ya..ya..benar, hanya saya hanya dikenalkan tassawuf saya sendiri, “setelah api menyala, lalu Kami tutup cahayanya, serta merta mereka dalam kegelapan…”…, “jika ada cahaya mereka berjalan, jika tak ada cahaya mereka berhenti…”..namun hidup terus berjalan meski dalam keadaan gelap gulita…sebentar…

    ::KangBoed…ya…ya…bolo bolo kuwoto… hi…hi…. semuanya datang tidak diundang pulang tidak diantar….semua tersedia dimeja-meja panjang…duduklah dihamparan bertelekan bantal-bantal…makan minumlah sepuasnya…tersedia..tersedia….bersedia…

  8. Purnomo said

    Assalamu’alaikum buat para kyai semuanya!
    Saya mau nanya apa sih yg dinamakan wasilah itu sebenarnya?
    Trima kasih atas penjelasanya!
    Wassalamu’alaikum

  9. quantumillahi said

    assalamu’alaikum
    Bagus weblognya mas
    assalamu’alaikum salam kenal
    salam dari quantumillahi
    http://www.quantumillahi.wordpress.com
    Boleh ndak saling tukar weblog?

  10. kangBoed said

    Dirimu hadir….. saat aku DIAM…
    DIAM dalam keDIAMan…
    Menatap mesra… lembut dan manja…
    Menggetarkan sang diri yang terlena…

    Lupaaa…… Hilaaaang sudaaah semua perkara….
    Saat sapaaaan dan belaianMU datang
    Tertumpah Rindu hati dalam isak tangis penyerahaaan…
    hmm…. Sungguh indaaah…. tak terkira rasanya…

    Apalah daya ini….
    Lepas sudah… telanjang….
    Semua tertinggaaaal….
    Hidup dalaaam HIDUP….

    Salam Sayang…
    Salam Hormat…
    Salam Taklim…
    Salam Sejati… (*sampai mati*)

  11. Luthfi65 said

    Assalamualaikum wr.wb. Tulisan yang mengagumkan, inilah inti dari pada ilmu Ikhlas. Tidak menilai, tidak membeda-bedakan, karena yang ada adalah kesempurnaan semata. “Wama Ramaita idz ramaita walakinnallahu kamal, La haola wala quwwata illa billahil aliyul adzhim.
    La tataharrahu dzaratun illa bi idznillahi”. Tidaklah ada yang melempar tetapi Allahlah yang melempar ketika anda melempar. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan daya kekuatan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Tidak bergerak satu jarah juapun melainkan atas izin Allah. Semua keberadaan dan kejadian diciptakan Allah swt. dalam rangka memberi pelajaran pada makhluk untuk lebih menyadari dan mengenal Allah swt. Ini adalah hakikatnya dari sifat “Ar Rahman” dan “Ar Rahim” (Maha Pengasih dan Maha Penyayang) dari Allah swt. Oleh karena itu dalam setiap ayat dalam “Al’Qur’an” selalu diawali dengan “Bismillahir Rahmanir Rahim”. Sungguh..Maha Sempurna Engkau Ya Allah, dan tidak ada yang dapat dikatakan dalam doa selain “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin Ar Rahmanir Rahim”, puji dan syukur kepada Allah Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah 2 ayat pertama dari surat Al Fatihah, yang dalam hadis juga disebutkan sebagai intinya Al qur’an. Semoga bermanfaat, dan bila ada salah mohon dikoreksi. Terima Kasih. Wassalamualaikum wr.wb

    • @Luthfi65

      Wa’alaikum salam wr,wb

      Ya..ya..ya..ya..sungguh Ikhlas itu adalah penentu dan kunci tercapai maksud dan tujuan. Amal Ibadah tanpa Ikhlas, bagaikan Jasad tanpa Ruh, dimana Ikhlas itulah yang menghidupkan Amal Ibadah. Dan adapun Ikhlas itu adalah Buah dari pada Kalimah Bismillahirrohmaanirrohiim. Yang mana Kalimah Bismillaahorrihmaanirrohiim adalah Kalimah Pencitaan Alam semesta. Dengan Bismillahirrohmaanirrohiim lah terciptalah segala sesuatu itu, yaitu dengan sifat Arrohmaan dan sifat Arrohiimnya Allah Swt.

      Terimakasih Pak Luthfi atas pencerahannya…..

      Wassalam

      • Luthfi65 said

        Terima Kasih kembali Mas PJ atas tanggapannya. Saya ini cuma pemula yang mencoba berbagi dengan para pemula lainnya di Pondok ini.

        Kalau boleh saya tambahkan lagi, agar tidak keliru, bahwa untuk para pemula, Ikhlas itu tidak berarti bahwa kita menjadi hanya diam saja dan tidak perlu berusaha apapun. Dalam mencapai tujuan dan keinginan, kita tetap harus selalu berusaha dan berdoa. Setelah itu pasrahkan dan bersyukurlah apapun hasilnya, karena keinginan kita belum tentu baik di mata Allah swt.

        Berbeda dengan para nabi, rasul, waliyullah, dan para guru (master)yang telah mendapatkan hidayah, dan Nur dari Allah swt., semoga Allah swt. senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada mereka, dalam hal ini memang mereka sudah mencapai Ikhlas secara total, sudah tidak ada keinginan pribadi (ego), mereka sudah murni menjadi alat Allah swt, lebur dalam Cahaya dan Kasih Allah swt, segala perbuatannya adalah representasi dari kehendak Allah swt.

        Sekali lagi terima kasih Mas PJ, mohon dikoreksi bila ada salah. Wassalamulaukum wr.wb.

  12. aburahat said

    @Luthfi65
    Saudara Luthfi65. Saya ingin sharing sedikit dengan anda atas kata2
    anda:
    Kalau boleh saya tambahkan lagi, agar tidak keliru, bahwa untuk para pemula, Ikhlas itu tidak berarti bahwa kita menjadi hanya diam saja dan tidak perlu berusaha apapun. Dalam mencapai tujuan dan keinginan, kita tetap harus selalu berusaha dan berdoa. Setelah itu pasrahkan dan bersyukurlah apapun hasilnya, karena keinginan kita belum tentu baik di mata Allah swt.
    Seorang yang ikhlas dia harus melalui proses penyerahan diri secara total kepada Allah. Setelah penyerahan TOTAL kemudian bertawakal. Bertawakalpun secara total. Sehingga apa saja Rakhmat dari Allah (semua yang dari Allah itu adalah rakhmat, apakah itu cobaan atau peringatan itu merupakan rakhmat/hidayah)kita terima dengan IKHLAS. Kalau anda sudah bertawakal total, maka semua itu dari Allah apakah anda bergerak atau diam semua dari Allah. Walaupun anda mau berdiam diri, kalau Allah tidak menghendaki anda berdiam diri maka anda tidak mungkin berdiam. Laa haula wa laa quata illa billah. Kita tidak mempunyai kemampuan daya untuk berbuat sesuatu tanpa izinNya. Orang yang bertawakal total jalan hidupnya ditutun oleh Allah Yang Maha Rahim. Wasalam

    • hamba yang fakir said

      Sungguh penjelasan yg mencerahkan, seperti itulah seseorang itu hendaknya. Laa haula wa laa quata illa billah – bila Rasulullah yg notabene adalah habib Allah berlaku hukum “Laa haula wa laa quata illa billah” maka kita yang “pecahan botol ini” seringkali nekad, bicara, bertindak tanpa ada laku “Laa haula wa laa quata illa billah” yg hakiki, sehingga tanpa sadar, bersifat spt firaun y.i”: “menuhankan diri sendiri”

    • Luthfi65 said

      Assalamualaikum wr.wb

      Salam kenal saudaraku Mas Aburahat dan rekan lainnya di Pondok ini. Terima kasih atas tanggapan dan penjelasannya. Saya sependapat tentang penyerahan diri secara total kepada Allah swt, dan bertawakal secara total pula.

      Namun pertanyaan besarnya, bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari? Anak saya bertanya, Pah apakah kalau saya ingin jadi juara kelas harus belajar, atau cukup bertawakal saja? Kemudian teman saya bertanya, Apakah kalau kita ingin selalu sehat harus rajin berolahraga, dan rutin cek kesehatan ke dokter, atau sukup bertawakal saja? Saya diam, kemudian teringat salah satu hadis Rasulullah saw, salah seorang sahabat menanyakan “Ya Habib Allah, apakah unta saya harus diikat agar tidak lepas, atau cukup bertawakal saja? Rasulullah Muhamad saw menjawab, “Ikatlah untamu kemudian bertawakalah pada Allah swt.

      Untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, kita juga tetap harus berusaha, melakukan amal ibadah dan selalu berdoa. Memang Allah-lah yang menggerakan hati kita untuk cenderung mendekat kepada-Nya, untuk cenderung melakukan berbagai hal tanpa kita sadari. Tapi pada batas-batas tertentu kitalah yang memilih. Allah memberikan pilihan, dan kita memilih.

      Untuk itulah alam semesta diciptakan dan kita dilahirkan, untuk belajar dalam rangka mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yakni untuk mendekatkan diri dan kembali seutuhnya kepada Allah swt. “Ina lillahi waina lillahi rojiun”.

      Berdasarkan itulah, saya menyampaikan pesan dalam tulisan sebelumnya, khususnya bagi para pemula yang ada di Pondok ini. Saya khawatir apabila pemahaman seseorang masih belum cukup, menyalah artikan masalah keikhlasan dan ketawakalan ini, dan menjadikan orang menjadi cenderung bermalas-malasan dalam hidupnya.

      Demikianlah penjelasan saya, sekali lagi terima kasih kepada saudaraku Mas Aburahat dan juga Hamba Fakir atas tanggapannya. Mohon dikoreksi bila ada salah.

      Wassalamualaikum wr.wb.

  13. kangBoed said

    hmm.. copas yang dulu tapi relevan semoga.. :mrgreen:
    Manusia hidup terikat dengan dua alam alam lahir dan alam batin ini penting sekali untuk kita sadari sehingga jangan sampai terjadi ketidak seimbangan antara yang lahir dan yang batin,seperti terjadi saat sekarang ini, tolong yang lahir bagiannya panca indria tangkap dan olah dengan akal pikiran putar otak keras untuk mencipta dan berkarya demi kemaslahatan sesama, dan untuk yang batin bagiannya hati nurani pancaran rahsa sejati bagiannya zikrullah rasa ingat dalam 24 jam mengalir sealiran nafasnya sejalan detak jantung rohaninya yang telah bangkit. apa yang terjadi di alam lahir jangan sekali kali mengganggu apalagi menggetarkan alam batin.
    Sumeleh, Pasrah bongkokan, tiada daya tiada upaya, laa hwalla walla quwwata, adalah bahasa rahsa, yaitu rahsa sejatine. maafkan saya sibotol kosong nyaring bunyinya alias sok tahu mungkin juga itu satu satunya pintu masuk Unity, yang lemah terserap pada Yang Maha Kuat, selagi kita merasa bisa,merasa tahu, merasa mampu palsulah semuanya Kenapa bisa sumeleh? Kenapa bisa pasrah? karena sudah mengenal dirinya bahwa tiada kepemilikan sedikitpun atas yang ada didalam diri ini baik harta, tahta wanita dan kemampuan serta segalanya ternyata bukan milikku, dan menyerahkan pada pemiliknya.
    Satu kebohongan besar kalau suatu saat ketika kita berjalan tiba tiba dalam perjalanan dapat persoalan besar, masalah berat, sehingga hampir jatuh atau kebingungan dan untuk menghibur dirinya dia berkata saya pasrahkan semuanya pada Gusti Allah, Sumeleh, Pasrah, Tak berdaya upaya kok dipaksa oleh keadaan, di buat oleh kondisi terdesak enggak salah tuh he he he… Pasrah adalah dasar kita melangkah dalam semua perjalanan kehidupan kita lahir dan batin menyerahkan semua hasil kepadaNYA, alias bekerja tanpa memikirkan hasil yang di dapat, alias LILLAHITAALLA.
    Dalam saat yang sama detik yang sama akal pikiran berpikir keras setiap anggota badannya bekerja keras tapi hatinya hening heneng madep, mantep, madeg kepada Gusti Allah, ketika diam sejenak mulut tak berbicara , qolbu diam , tapi lirih sejalan detak jantung fisik, detak jantung rohani terasa detaknya otomatis karena sudah ada yang menggerakkan Allah, Allah, Allah, Allah maka dalam diam walau ditengah kesibukan kita semua terbawa getaran rahsa sejati di tengah keramaian engkau terpaku oleh aliran aliran yang menyegarkan jiwa, menenangkan hati, mendinginkan akal dan serasa seluruh sendi kita dilolosi..
    Salam Sayang
    Salam Taklim
    Salam Hormat
    Salam Sejati… saudara sejatiku mas PJ dan mBak Yu nee

  14. mbahtukul said

    Hua..ha..ha..ha. Iya, ya kemaren dompet mbah ilang kecopetan. Jadi nggak bisa pasrah..apalagi tersenyum..hua..ha..ha..ha.

  15. Sumego said

    Assalamualai(kum) Mas PJ dan Saudara lainnya salam kenal dari sy… mohon izin baca-baca dah lama denger namanya tapi baru sekarang berani ketik-ketik coment… baca-baca dulu ya… Mas PJ

    Wss
    Salam Damai Penuh Cinta Kasih

  16. KangBoed said

    hehehe… *ngelirik keatas*… weleh weleeeeh… mas Sumego akhirnya keluar kandaaaang… hehehe… begitu atuh nanti YMnya saya add ke mBaaaah PJ.. yaaa..
    Salam Sayang

  17. tigaw said

    saya adalah manusia yang hina tapi percaya ada tahuid didiri kita karena titik, lingkaran dan kosong…
    entahlah apakah itupun saya tidak mengerti yang saya tahu adalah “Aku” ber”sakasi” “tiada” “Tuhan” “selain” “Allah” dan “Aku” ber”saksi” bahwa “Aku” adalah “Utusan “Allah”
    maksih dan selamat malam semuanya…

  18. krishna said

    ..salam kenal Mas…apa boleh minta tukeran linknya?…terima kasih sebelumnya..

    • b.ariyanto said

      bukan tidak mau mas krishna blog saya sudah saya tutup untuk selmanya…. pingin balik tapi masih menentukan hati lagi dulu..
      makasih atas perhtainnya mas….
      sekarang saya cuma bisa koment2 saja. maaf ya mas

  19. puput anggoro said

    Alhamdulillah…. alhamdulillah… alhamdulillah… akhirnya ketemu juga situs yang sangat sangat mencerahkan hati, jawaban atas pertanyaan2 slm ini ada di sini.. numpang baca mas PJ…ustad2 smua bisakan saya menimba ilmu dari bapak2 semua? lbh dalam lg.. mgkn melalui YM

  20. sujiatmoko said

    Salam Sejati,
    salam kenal mas Pengembara Jiwa …
    Uraian yg membuka wawasan akan arti sembah YANG. Namun harus tetap telaten jika ada pembaca yg bertanya tentang uraian ini. Khawatir akan terjadi distorsi dari tujuan awal mas PJ menguraikan hakekat sholat yg sesungguhnya.

    Salam Sejati
    Sujiatmoko

  21. Abu Farhan said

    Assalamu’alaikum..salam kenal utk saudara2ku semua..salam kenal mas PJ…
    Baru nimbrung nih di blog ini..bagus2 komen nya…semoga banyak manusia menemukan kesadaran diri sejatinya diri..mana diri sebenarnya diri yg irji’ ila Allah shg Allah Azza wa Jalla memberikan Hidayah Nya utk ber Akhlak Mulia.

    Salam kenal,
    Wassalam

    Abu Farhan

  22. Sopyan A said

    Assalamualaikum…wr.wb
    Seorang yang islam adalah dia yang sudah bersyahadat,saya hanya ingin pencerahannya,sebenarnya syahadat yang sejati dan sejatinya syahadat itu yang seperti apa dan yang bagaimana,soalnya pemahaman saya,hanya mereka yang benar-benar ‘BERSYAHADAT’ yang bisa benar-benar selamat (berislam) yang sesungguhnya,apakah syahadat yang kita pahami selama ini adalah sudah merupakan syahadat yang sejati/sejatinya syahadat?
    Mohon petunjuk dan pencerahannya…
    Terimakasih banyak sebelumnya..
    Wassalamualaikum..wr.wb

  23. http://sangkebenaran.blogspot.com/

    Inilah contoh ajaran PEDOFILIA Muhammad:

    Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

    Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

    A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci?

    • aku pengen belajar said

      @ sang kebenaran.

      ganti nama kamu sang pemfitnah. dan kamu akan dirajam api neraka karena menghina nabiku.

    • serakah said

      Buat saudara SANG KEBENARAN,,,,,,,,,,,,,,
      Semoga Allah membuka Pintu Hidayah pada saudara AGAR keCINTAan Pada Nabi MUHAMMAD SAW Akan TUMBUH di antara Niat saudara dalam mempelajari HADIST -2 Beliau melalui Riwayat BUKHARI & MUSLIM.
      ………………..
      Begitulah Kadang Allah memainkan Peran Aktor yang semula begitu Membenci..lalu menimbulkan Fitnah Yang Luar Biasa (hanya karena tafsir/pemahaman buta) …namun dengan RAHASIA dan KeAGUNGan ALLAH maka HATI Terbalik CINTA……..
      ……………….
      Buat Suadara-SaudaraKU Semua Mohon KeIKHLASannya Agar bersama kita memanjatkan Doa Semoga ALLAH membuka PINTU HIDAYAH agar Hati Sang Kebenaran memang segera manjadi PengIKUT….PenCINTA….SANG KEBENARAN NABI MUHAMMAD SAW.Amin Ya Rabbal Alamin

  24. alllahh maha besssarrr

  25. efendie said

    tolong tulis lg yg lbh seru mas pj krn bs utk pembelajaran diri….

  26. FARIDAH said

    Jangan berpikir kamu tak mampu hidup tanpa dia yg meninggalkanmu Percaya ada seseorang yg lebih baik menunggumu di luar sana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: