Jiwa
Jiwa/Diri adalah kehidupan yang ada pada setiap diri, dalam Bahasa Arab disebutkan dengan kata : “NAFS” yang artinya ; Jiwa/Diri.
Sebagaimana Allah berfirman :
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan Ridho serta di Ridhoi. Masuklah ke dalam golongan hamba–hamba Ku. Dan masuklah kedalam Syurga Ku”. (QS, Al-Fajr : 27-30)
Jiwa/Diri adalah suatu kesatuan antara Ruh dan Jasad, di mana tatkala Ruh nasab/misra kepada sekalian batang tubuh/Jasad maka bernamalah ia dengan Jiwa/Diri.
Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari seorang Awliya Allah dan termasuk Ulama Besar di Kalimantan Selatan Kalampaian yang berguru kepada Syech Mursyid Muhammad Saman Al-madani Al-hasani di Kota Madinah salah seorang zuriat daripada Baginda Rosulullah Saw yang juga sebagai penjaga Maqom Nabi, mengatakan :
Bahwa sebenar-benarnya Diri itu adalah Ruh
Sebenar-benarnya Ruh itu adalah Nafs/Jiwa
Sebenar-benarnya Nafs/Jiwa itu adalah Naik Turun Nafas
Naik Turun Nafas itu adalah Sir/Rahasia
Dan adapun yang dikatakan Sir/Rahasia itu adalah Nur Muhammad Saw.


hinakelana berkata
Islam adalah agama fitrah. Artinya, perkara apa saja yang ada di dalam Islam sesuai dengan fitrah manusia. Misalnya, manusia cenderung menghambakan diri kepada apa yang dicintainya. Oleh karena itu Islam memberi petunjuk, kepada siapakah seharusnya kita menghambakan diri. Sebagai contoh, walaupun manusia menyukai harta dan kekuasaan. Anehnya, kita tidak suka jika disebut hamba harta atau hamba kekuasaan, meskipun sikap kita memang seperti itu. Tapi kita redha dan suka jika disebut-sebut sebagai hamba ALLAH. Artinya, fitrah manusia memang ingin menjadi hamba kepada ALLAH, Tuhan Semesta Alam.
Manusia suka kepada ilmu dan kepandaian agar kehidupannya maju dan tidak beku (jumud). Memang ALLAH menjadikan jiwa manusia begitu keadaannya. Setiap orang juga suka kepada makanan yang lezat, suka kepada lawan jenis, suka kepada badan dan akal yang sehat. Oleh karena itu Tuhan datangkan agama Islam yang mengajar manusia untuk memenuhi tuntutan fitrah tersebut. Sabda Rasulullah, “Menuntut ilmu wajib bagi lelaki dan perempuan” (HR. Ibnu Abdi Al Barri). Kemudian jika mengikut Rasulullah SAW, maka sunnat hukumnya makan daging seminggu sekali. Islam juga mendorong pernikahan dan melarang zina sebab zina hanya akan menganiaya kaum perempuan. Sudah tentu tidak ada orang yang mau teraniaya.
Begitulah Islam agama fitrah. Apabila sesuatu disukai oleh fitrah, maka Islam akan membenarkan dan mendorongnya. ALLAH yang menciptakan fitrah manusia, maka ALLAH pula yang menunjukkan cara bagaimana keinginan fitrah itu dipenuhi karena begitulah keinginan fitrah manusia. Jika keinginan fitrah ini tidak tercapai maka manusia akan merasa susah, duka cita dan gelisah. Namun tanpa petunjuk dari ALLAH, nafsulah yang akan memimpin manusia untuk melaksanakan kehendak fitrah itu secara liar tak terkendali. Maka, hasilnya akan buruk sekali.
Sebagai contoh adalah keinginan fitrah manusia untuk berhibur. Batin manusia butuh untuk berhibur sebagaimana jasad lahir manusia perlu beristirahat. Jika tidak dipenuhi maka akan letihlah batin manusia dalam menjalani kehidupan ini. Untuk memenuhi keinginan itulah dapat kita lihat betapa majunya teknologi entertainment saat ini. Jika dulu manusia berhibur dengan karya-karya sastera, pertunjukan cerita dan alat-alat musik, maka manusia jaman sekarang berhibur dengan film, musik, teknologi animasi, efek-efek visual yang memanjakan imajinasi, musik dengan istrumen yang semakin kompleks, game interaktif, synthesizer, virtual reality dsb. Semuanya bertujuan untuk memuaskan keinginan batin manusia. Namun, sebenarnya batin manusia yang manakah yang hendak dihibur?
Di samping memiliki jasad lahir, manusia juga memiliki unsur batin yaitu akal, nafsu dan hati. Dengan melihat kesan hiburan-hiburan tersebut pada diri manusia maka dapat kita pilah menjadi hiburan akal, nafsu atau hati. Sebagai contoh, berhibur akal misalnya mempelajari hal-hal baru, meneliti, berdiskusi dsb. Islam mendorong keinginan fitrah untuk berhibur tersebut selama mengikuti petunjuk ALLAH yang menciptakan manusia. Misalnya, jika yang dipelajari adalah ilmu sihir maka Islam melarangnya karena hanya akan membawa kerusakan. Jangankan ilmu sihir, ilmu agama pun akan membawa keburukan jika tidak dikaitkan dengan tauhid dan akhlak. Ilmu tersebut hanya akan menjadikan manusia sombong, merasa mulia, bermegah-megah, hasad dengki, ego dsb. Apalagi ilmu-ilmu yang lain jika tidak dikaitkan juga dengan Tuhan. Begitu juga berhibur nafsu. Misalnya, keinginan manusia kepada lawan jenis, ALLAH telah tunjukkan caranya melalui pernikahan. Jika tanpa cara yang telah ALLAH tunjukkan yaitu pernikahan, hasilnya hanya akan rusak dan merusakkan. Sudahlah tidak mendidik dan mendisiplinkan nafsu agar tunduk kepada fitrah kita yang ingin menghamba kepada ALLAH, malah menjadikannya semakin liar tidak terkendali. Sedangkan Al Quran telah mengajarkan kepada kita, “Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan” ( Yusuf:53 )
Sebenarnya, hakikat berhibur adalah terhiburnya hati dengan mengingat ALLAH. FirmanNya dalam Al Quran, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar Raad: 28) Dengan demikian hiburan akal dan nafsu hanya akan menghibur hati jika selalu dihubungkaitkan dengan ALLAH. Sehingga melalui hiburan-hiburan tersebut kita akan terasa KebesaranNya, Maha KuasaNya, Maha PemurahNya, Maha PengasihNya, Maha AdilNya. Semakin kita berhibur semakin kita merendah diri, tawadhuk, hilang kesombongan dan kemegahan diri, semakin bersyukur dan merasa hina di hadapanNya, semakin takut kepada dosa-dosa dan terkikis rasa cinta dunia yang melemahkan jiwa. Itulah berhibur yang sesungguhnya. Semakin dekat diri kita kepada Tuhan, terpimpin akal, nafsu dan hati kita untuk cinta dan takut kepadaNya. Itulah kebahagiaan sebenarnya yang dicari-cari manusia dari hiburan. Jika kita berhibur namun tidak tampak dan tidak terasa sifat Kemuliaan Tuhan, justru nafsulah yang akan semakin liar tak terkendali. Maka, sebenarnya hiburan seperti itu bukan hiburan melainkan jebakan nafsu dan syaitan.
Inilah yang sering luput dari para penghibur dan para pencari hiburan. Berapa banyak penghibur yang sibuk memikirkan bagaimana menghibur manusia dengan berbagai macam media, bentuk dan gayanya. Namun rupa-rupanya diri mereka sendiripun tidak terhibur. Resah, gelisah, jiwa mereka menderita, hilang kebahagiaan, narkoba menjadi pelarian, semakin jauh dari Tuhan, bahkan bunuh diri karena tidak tahan dengan cobaan. Jika para penghibur gagal menghibur dirinya lalu bagaimanakah nasib kita yang ingin mencari hiburan? Jangan-jangan tanpa sadar sebenarnya kita telah masuk ke dalam tipuan yang menyesatkan. Naudzubillahi min dzalik.
Wong Gendeng berkata
Ass.
abah (PJ)
bolehkah kiranya kalimat (petuah) yg kiranya sulit tuk di pahami
kami yg bodo ini di perjelas.
mungkin dengan penjelasan abah kiranya kami bisa sedikit memahami.
yang sekiranya masih ada selubung yang mungkin tidak memungkinkan untuk di tulis, mungkin di rubrik yang lain bisa nyambung.
wasalam
Wong Gendeng berkata
bual kang H………….
kami ada buku: Kholifah Bumi
kiranya tertarik tuk membacanya
Aburahat berkata
Apa yang dikatakan PJ :
Bahwa sebenar-benarnya Diri itu adalah Ruh
Sebenar-benarnya Ruh itu adalah Nafs/Jiwa
Sebenar-benarnya Nafs/Jiwa itu adalah Naik Turun Nafas
Naik Turun Nafas itu adalah Sir/Rahasia
Dan adapun yang dikatakan Sir/Rahasia itu adalah Nur Muhammad Saw.
Adalah benar. Saya hanya ingin tambahkan untuk menjaddi bahan renungan mengenai fungsinya.
Saya menganggap tiga ciptaan Allah: AKAL, ROH DAN JIWA; sebagai three ini one dan masing mempunyi fungsi.
1. AKAL berfungsi untuk membedakan yang HAK dan BATHIL
2. ROH berfungsi sebagai penghubung Allah dan HambaNya
3. JIWA berfungsi untuk menyalurkan hasrat dan keinginan (Nafsu). Wasalam
Wong Gendeng berkata
Ass.
mohon Kiraya di posting tentang
Alizu & Al mulqu
Wasalam……..
pengembarajiwa berkata
Aburahat
Alhamdulillah……
Terimakasih Saudaraku sudah menambahkan akan pencerahannya….
Wong Gendeng
Wa’alaikum salam Wr,Wb
Insya Allah…. semoga Ridho-Nya menyertai gerak hatiku dalam memenuhi permintaan saudaraku….
Terimakasih atas perhatiannya ya…………
Wassalam
Insan hina berkata
Sy sdh membuka/membaca hmpr semua tulisan diblok pengembarajiwa ini be
pengembarajiwa berkata
@Insan Hina
Alhamdulillah…… Allah telah meringankan hati Anda untuk membaca isi Blog di Pondok ini, semoga Hikmahnya akan menjadi kekuatan pada ke Imanan dan ke Yakinan Anda kepada Allah Swt.
Aamiin.
sufigokil...kill...dekil berkata
Subhanallah…
Semuanya baik sang PJ, Aburahat, Wong ghendeng etc, benar2 mencerahkan hati, Saling isi mengisi, saling berbagi…\Alhamdulillah…
Mari Kita doakan dalam doa agar Sang PJ, aburahat, wong…gendeng…seterusnya agar selalu dalam kesuksesan dunia dan akhirat….semoga kita dapat merasakan kebahagiaan jiwa yang Insya Allah dibahagiaken dengan dan bersama Allah…
pengembarajiwa berkata
@sufigokil…kill…dekil
Aamiin…………Aamiin……….Aamiin……. Ya…. Allah Ya… Robbal ‘Aalamiin….
ManusiaBodoh berkata
Ass.wr.wb
Salam kenal mas PJ…
Dalam tafakur/musyahadah adalah dgn merasakan naik turunya nafas kan?
Nah,maksud dari perkataan Nabi ‘Matikan dirimu sebelum kamu mati’ bisakah dipaparkan?
Terima kasih
pengembarajiwa berkata
@ManusiaBodoh
Wa’alaikum salam Wr,Wb.
Salam kenal kembali….
Benar Sekali……. rasakanlah Naik tutunnya Nafas itu, karena Nafas itu adalah Sir/Rahasia antara Insan dengan Tuhannya. dengan sering2nya bermusyahadah maka Anda akan semakin sadar bahwa diri Anda adalah sangat dekat dengan Tuhan
Mengenai matikan diri sebelum Mati.
Rosulullah Saw bersabda : “Matikan diri kamu sebelum Mati”
Sungguh Manusia itu tidak akan sampai kepada Tuhannya selama ke DIRI an/ke EGO an/ke AKU an nya masih melekat pada dirinya.
Karenanya matikan lah ke DIRI an/ke EGO an/ke AKU an itu hingga tumbuh kesadaran bahwa saya tidak bisa melakukan ini dan itu melainkan serta Allah.
Lalu bagaimana agar ke DIRI an/ke EGO an/ke AKU an mati???
yaitu dengan Mengenal diri sebenar2nya diri.
Jika sudah dikenal diri sebenar2nya diri maka akan di kenalilah Tuhan yang bernama ALLAH itu.
kangBoed berkata
he he he mas bodoh tapi pinter salam ketemu lagi ma saya yang botol bodoh dan tolol
Salam Sedulur
pengembarajiwa berkata
@KangBoed
@SabdaLangit
Salam Sejati juga untukmu Saudaraku yang “Kasyaful Ghoibi”
Sungguh….! Uraian Saudaraku Sabda Langit yang Waskita ini sangat….sangat…mencerahkan sekali dan bisa di pahami oleh “semua Pihak”
Apalagi mengenai uraian tentang Nafs Negatif menjadi Nafs Positif (Nafsul Mutmai’innah)
Dan jika kita telusuri perjalanan Nafs itu sendiri terbagi menjadi 7 tingkatan Nafs
3 Nafs yang harus dileburkan dan dimatikan yaitu :”Nafs Amarah, Nafs Lawwamah dan Nafs Mulhammah”
1 Nafs yang di pelihara kesuciannya yaitu : “Nafsul Mutma’innah” dan………
3 Nafs yang di Anugrahkan Allah kepada mereka yang Eling lan Waspada pada Nafsul Mutmainnah yaitu : “Nafs Rodiyah, Nafs Mardiyah dan Nafs Kamaliyah”
Dan ke tujuh Nafs itu telah disimpukan dalam Surah Al-Fatihah yaitu sebagaimana yang telah di muat dalam sebuah Hadits Qudsi : Bahwa Allah telah berfirman “Aku turunkan kepadamu tujuh Ayat yang berulang2. 3 diantaranya adalah bagi-Ku (Hak-KU), 1 diantaranya yaitu penghubung antara Aku dan kamu, dan 3 diantaranya Bagimu.
3 Bagi-Ku yaitu : Alhamdulillahirobbil ‘Aalamiin, Arrohmaanirrohiim, Maaliki yau middiin
1 antara Aku dan Engkau yaitu : Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nas ta’iin
3 Bagimu yaitu : Ihdinashirootol Mustaqiim, Shirootolladzziina an’amta alaihim, Ghoiril Magdhuu bi Alaihim Wa Ladhoooollliiiin.
Dan masih banyak sekali pemahaman Ilmu dari Surah Al-Fatihah itu yang jika di tuliskan maka habis air Lautan di jadikan tinta maka belum cukup untuk menuliskan Ilmu Allah Ta’ala. Ditambah lagi 7 lautan di jadikan tinta itupun juga masih belum cukup lagi.
salam sejati
salam taklim
Gusti Allah juga selalu melimpahkan anugrah-Nya kepada Anda Saudaraku Sabda Langit sekeluarga
“Pengembarajiwa”
sabdalangit berkata
salam sejati
saudaraku Pengembara Jiwa yang arif dan ikhsan
Sebuah penjabaran yang membumi, mudah dicerna akal budi. Perkenankan saya yg masih belajar ini, untuk memahami mata pelajaran dari saudaraku Pengembara Jiwa. Dan memberanikan diri coba-coba dan ikut-ikutan memberikan wacana sederhana. Maaf apabila dirasa banyak kekurangan, semua itu tidak lain karena pemahaman sy yg masih jauh dari arif dan ikhsan, dan selalu mengambil pelajaran berharga dari saudaraku ini.
Fitrah adalah suci. Manusia harus bersikap dan berbuat agar supaya diri menjadi suci. Fitrah tidaklah sekedar tiadanya jasad dan hati oleh polusi nafsu negatif. Untuk hal ini tentunya manusia harus “mati” dalam “hidupnya”. Yakni mematikan kehidupan api (nar) atau hawa nafsu negatif. Agar kehidupan an nafs al mut mainah nafsu positif (nur) dapat tumbuh subur. Krn an nafs (nafas) negatif menjadi bahan pembunuh bagi kehidupan an nafs (nafas) positif.
Tiadanya penghalang an nafs negatif, menjadi pembuka jalan manusia untuk menempatkan sikap dan pebuatannya sebagaimana sifat hakekat (Zat tertinggi). Dan satu2nya jalan menuju kesucian al fitrah bila kita penuhi kodrat ilahi.
Jika Tuhan Maha pemurah = janganlah kita berwatak pelit
Jika Tuhan Maha Besar = janganlah kita tidak menjadi penyabar
Jika Tuhan Maha Bijak = janganlah kita berwatak licik dan culas
Jika Tuhan Maha Tahu = hendaklah kita menjadi ikhsan dan arif
Jika Tuhan Maha Luas ilmuNya = hendaknya kita jangan jahiliah
Jika Tuhan Maha Mengasihi= hendaknya kita tebar sikap belas kasih pada sesama
Jika Tuhan Maha Memelihara= hendaknya kita jangan membuat kerusakan di muka bumi
Jika Tuhan Rabbul alamin = hendaklah kita menjunjung tinggi toleransi, menghargai perbedaan, mensyukuri keberagaman, menjaga alam semesta dari kehancuran, melawan musuh dengan kasih sayang.
Dan masih beribu, bahkan mungkin berjuta ke-maha-an Tuhan, yg kini tengah kita cari dan telusuri. sulitnya menjadi al kamil.
salam sejati
salam taklim
rahayu
Gusti Allah selalu melimpahkan anugrah kepadamu dan keluarga, untuk saudaraku Pengembara Jiwa dan Mujahidah Wanita
sabdalangit
Gusdur berkata
he…he…he… wah aku gak bisa nambahin banyak mas PJ, la wong semuanya udah Jlentre…. wis pas tenan…. lalu mau ngopo..? yo wis… selamat…selamat hai saudara-saudaraku, semoga dengan cara mengenal karakter EGO, jiwa-jiwa kita menjadi Tenang dan nggak Gelisah baik dalam kondisi dan situasi apapun, oh ya Mas PJ Badan Jasmani kita butuh Matahari yang dhohir itu, apakah Jiwa juga membutuhkan Matahari…?
salam…..
kangBoed berkata
Matahari yang memancar dari dasar relung jiwa
Sinarnya membuat alam semesta ikut bernyanyi riang
Alam Ghaib tergetar menunduk malu tak kuasa melihat pancarannya
Air, tanah, pohon bahkan anginpun menyambutnya dengan suka cita
Ketika sang aku hilang dalam AKU sejati
Dalam Kesejatian Rahsa yang sejati
Semua alam ciptaanNYA tunduk menyembah dengan cara mereka masing masing
Subhanallllaaaaahhhhh walhamdulilllaaaaaah
he he he dasar botoooool koooosooooong selalu sok tahu botoooool koooosooooooomg nyaring bunyinya, sorry ngawur mas gemeteran sih bayangin sampeyan he he he
Salaaam Mas Gus Dur anda sungguh mumpuni dan banyak merendah sakaligus menuntun kita semua yang lagi belajar di sini belajar dari saudaraku Mas PJ yang cuaaaeeem dan baik hati serta tidak sooooooooooooooomboooooooooooooooooooooooong
he he he ha ha ha monggo maaaaas ho ho ho hoooooooooooooooooooooooooooooooooo
Salam Persahabatan dalam Kesejatian untuk semuanya daaaaaah
thoto berkata
itu semua betul … tapi menurut saya yg inti doeloe harus kita cari…
penjelasan di atas adalah merupakan penjabaran dari ilmu inti yg harus kita ketahu
“ya allah tunjukkanlah kami jalan yg lurus”
cari ilmu allah doeloe baru kita dapat mengerti akan penjelasan diatas.
pengembarajiwa berkata
@Thoto
Salam Kenal Saudara Thoto…dan selamat datang di Pondok PJ ini, silahkan….ditunggu pencerahan2nya yang lain jika Anda berkenan.
Semoga saya bisa banyak belajar dari Anda dan juga saudara2 yang lainnya..
Wassalam
Pengembara Jiwa.
hamba allah berkata
Assalamualaikum WW
Mudah2an, tidak menyimpang dari tulisan kang pj, masih seputar nafs. Kalau tidak salah salah, nafs memeliki beberapa arti. Antara lain jiwa, diri, nafs (tidak diterjemahkan). Pada kesempatan ini kami akan mencoba pengertian NAFS adalah nafs yaitu HAKIKAT INSAN. Kami mencoba membedakan antara RUH dengan NAFS.
Kita fahami bahwa struktur insan itu terdiri dari dzahir (jasad) dan bathin. Selama ini bathin adalah RUH, pada kenyataannya bathin ini terdiri dari RUH dan NAFS. Jadi insan terdiri dari JASAD, NAFS dan RUH.
Wassalam ww
Mazadjie berkata
asslamualaikumwrwb
Sungguh luar biasa topicnya sederhana, tapi sangat mendasar sekali untuk memahami pencerahan pencerahan ilmu selanjutnya….
@Aba PJ, Bang Hina, kangsabda dll..
mungkin berkenan kiranya menjelaskan asal mulanya ruh dan Jiwa dari sebelum berjasad berikut perjalannya hingga kelak kembali kepadaNYa…agar kami yg masih dangkal ini bisa lebih memahami dan tidak kesulitan mengiikuti pelajaran berikutnya ..
matur suwun al tararrengkiu
salam sejati buat poro sedulur di blog ini
wassalamwrwb
ari__ berkata
Assalamu’alaikum Mas PJ
Blog yg sederhana tapi banyak mengandung hikmah Ilmu di dalamnya, Maha Suci Allah dgn segala firman Nya.
Salam kenal & Salam Silaturahim,
haniifa berkata
@Mas PJ
ikutan ngamen disinih :
http://haniifa.wordpress.com/2009/07/27/bom-comments/
wawan berkata
Fungsi jiwa manusia yg memiliki kemampuan berwacana adalah fungsi yg paling tinggi, karena ia berasal dari rukh yg paling mulia dan dapat merenungi segenap ciptaan dan menafakuri segenap makhluk ciptaan Allah SWT.
Wassalam
wawan berkata
Jiwa manusia akan menerima pahala, sebab ia tetap kekal setelah kehancuran badan dan tidak lekang oleh panjangnya perjalanan waktu. Ia akan mengalami kebangkitan setelah mengalami kematian. Disinilah pahala dan kebahagiaan jiwa bersumber pada kebangkitannya kembali. Kwalitas pahala yg bakal didapatnya bergantung pada perbuatan dan tindakannya. Apabila perbuatannya sempurna, maka jiwa ini akan mendapat pahala yg melimpah dan Syurga adalah tempat kembalinya kelak.
Wassalam