<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: MENYEMBAH ALLAH, ITU SUATU KESALAHAN</title>
	<atom:link href="http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/</link>
	<description>Menemukan Cahaya Abadi di dalam Lautan Tauhid dan Tasawuf</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Dec 2009 04:02:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: ibrahim</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-3004</link>
		<dc:creator>ibrahim</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 18:04:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-3004</guid>
		<description>islam itu panutannya ya nabi Muhammad, kalo gak ikut nabi &amp; AQ itu bukan islam.. ngaku islam aja kali, gampang kan???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>islam itu panutannya ya nabi Muhammad, kalo gak ikut nabi &amp; AQ itu bukan islam.. ngaku islam aja kali, gampang kan???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: aburahat</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2989</link>
		<dc:creator>aburahat</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 06:28:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-2989</guid>
		<description>@Siraj
Allah berfirman yang maknanya dimana saja kamu hadapkan wajahmu, kamu memandang wajah Allah. Dan yang melaksanakan perintah Allah ini adalah para mukmin diseluruh dunia. Kira2 kalau anda maksudkan wajah Allah itu dapat dilihat. Menurut perhitungan anda berapa banyak wajah Allah. Astaqfirullaha Al Adhim. Subhanallah. Wasalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Siraj<br />
Allah berfirman yang maknanya dimana saja kamu hadapkan wajahmu, kamu memandang wajah Allah. Dan yang melaksanakan perintah Allah ini adalah para mukmin diseluruh dunia. Kira2 kalau anda maksudkan wajah Allah itu dapat dilihat. Menurut perhitungan anda berapa banyak wajah Allah. Astaqfirullaha Al Adhim. Subhanallah. Wasalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: pm.uj</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2988</link>
		<dc:creator>pm.uj</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 05:33:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-2988</guid>
		<description>assalamualaikum.wr.wb
aku sbg pendatang br disini, salam untuk saudara2 ku ,khusus nya mas pj,
disini aku ingin bertanya ttg suatu hal,yg menganjal dlm batin ku selama ini,
yaitu;&quot;barang siapa yg tersesat di dunia,maka diakherat nanti akan lebih sesat lagi&quot;
untuk segala komentar nya ,terima kasih yg sebesar besar nya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamualaikum.wr.wb<br />
aku sbg pendatang br disini, salam untuk saudara2 ku ,khusus nya mas pj,<br />
disini aku ingin bertanya ttg suatu hal,yg menganjal dlm batin ku selama ini,<br />
yaitu;&#8221;barang siapa yg tersesat di dunia,maka diakherat nanti akan lebih sesat lagi&#8221;<br />
untuk segala komentar nya ,terima kasih yg sebesar besar nya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Siraj</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2965</link>
		<dc:creator>Siraj</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 07:25:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-2965</guid>
		<description>Kang PJ
Terima kasih PJ sdh menjabarkan sifat Allah Laisa Kamitslihi Syai’un
Boleh donk juga sharing penjabaran sifat Allah &#039;Wujud&quot;
Maaf Kang PJ Sedikit berbeda pendapat ttng pengertian Laisa Kamitslihi Syai’un, klu menurut saya arti Laisa ....dst... artinya Zat Allah tdk bs diserupai oleh siapapun juga. Bukan berarti wajah Allah tidak bs dilihat oleh manusia, jk wajah Allah tdk bisa dilihat maka kemanakah kita menghadapkan wajah kita ketika shalat?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kang PJ<br />
Terima kasih PJ sdh menjabarkan sifat Allah Laisa Kamitslihi Syai’un<br />
Boleh donk juga sharing penjabaran sifat Allah &#8216;Wujud&#8221;<br />
Maaf Kang PJ Sedikit berbeda pendapat ttng pengertian Laisa Kamitslihi Syai’un, klu menurut saya arti Laisa &#8230;.dst&#8230; artinya Zat Allah tdk bs diserupai oleh siapapun juga. Bukan berarti wajah Allah tidak bs dilihat oleh manusia, jk wajah Allah tdk bisa dilihat maka kemanakah kita menghadapkan wajah kita ketika shalat?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: aburahat</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2959</link>
		<dc:creator>aburahat</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 11:02:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-2959</guid>
		<description>@PJ
Maaf bahwa saya belum bisa menerima bahwa kita memakai kata SEMBAHYANG sama dengan SHALAT selama kita memahami makna shalat sama dengan sembahyang. 
Menurut saya banyak yang belum mengerti makna dari SHALAT dan beriman terhadap shalat. Tanpa kita mengerti dan memahami yang dimaksudkan dengan SHALAT saya rasa sia2 sembahyang  kita.
Untuk ini saya harap PJ bisa mendifinisikan/mernjelaskan makna Shalat dan apakah itu sama dengan pengertian SEMBAHYANG yang dilaksanakan umat sekarang ini?
Sebab menurut saya sangat beda maknanya.Kalau menurut saya sembahyang adalah bagian dari Shalat Wasalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@PJ<br />
Maaf bahwa saya belum bisa menerima bahwa kita memakai kata SEMBAHYANG sama dengan SHALAT selama kita memahami makna shalat sama dengan sembahyang.<br />
Menurut saya banyak yang belum mengerti makna dari SHALAT dan beriman terhadap shalat. Tanpa kita mengerti dan memahami yang dimaksudkan dengan SHALAT saya rasa sia2 sembahyang  kita.<br />
Untuk ini saya harap PJ bisa mendifinisikan/mernjelaskan makna Shalat dan apakah itu sama dengan pengertian SEMBAHYANG yang dilaksanakan umat sekarang ini?<br />
Sebab menurut saya sangat beda maknanya.Kalau menurut saya sembahyang adalah bagian dari Shalat Wasalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rudy suwarno</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2957</link>
		<dc:creator>rudy suwarno</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 01:39:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-2957</guid>
		<description>@ Sahabat ku Wawansyah

Iya, Sahabatku. Pada dasarnya tidak ada Benturan dalam diskusi kita, sesama iman. Yang ada hanyalah salah penafsiran dalam istilah yang berbeda..

Terima kasih atas pencerahan sahabat, semoga menjadikan kita bisa lebih erat lagi BERSATU, dalam menyibak tabir yang menutupi hati kita semua, tetap dalam cinta.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Sahabat ku Wawansyah</p>
<p>Iya, Sahabatku. Pada dasarnya tidak ada Benturan dalam diskusi kita, sesama iman. Yang ada hanyalah salah penafsiran dalam istilah yang berbeda..</p>
<p>Terima kasih atas pencerahan sahabat, semoga menjadikan kita bisa lebih erat lagi BERSATU, dalam menyibak tabir yang menutupi hati kita semua, tetap dalam cinta.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wawansyah17</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2954</link>
		<dc:creator>wawansyah17</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 17:15:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-2954</guid>
		<description>@Rudy Suwarno

Sahabat mengatakan:

&quot;Entah kalau dalam paham tasawuf, manusia dapat MELIHAT Allah walaupun masih berada di alam Dunia, mestinya harus ada dalil “paten” (Al Quran) yang mengatakan bahwa ada manusia yang sudah melakukannya, dan siapa.? ( dalam pemahaman saya tidak ada ), jadi bisa dijamin kebenaran sejatinya.&quot;

Saya menjelaskan:

Apabila yang dimaksud dengan melihat Allah itu adalah melihat secara lahir dan kasat mata, maka sekali-kali tiada seorang pun yang dapat menyaksikan dan melihat Allah. Hal ini sesuai dengan Dalil Aqli dan Dalil Naqli

Dalil Aqli 

Berkenaan mustahilnya Allah dapat dilihat dengan Dalil Aqli dapat dijelaskan sebagai berikut;

Aktifitas melihat dan menyaksikan didapatkan melalui berhadap-hadapannya seseorang dengan sesuatu yang ada di luar dengan mata dan getaran cahaya yang merupakan kiriman dan refleksi gelombang cahaya. Artinya; Pertama, yang disaksikan itu adalah sesuatu bendawi yang ada di dunia luar. Kedua, mata berhadapan dengan benda yang ada di hadapannya. Karena itu, mata kita tidak melihat sesuatu yang berada di balik itu, sementara Allah bukan benda (jism) juga tidak memiliki bentuk dan karakteristik benda (seperti yang dihadapan mata). Karena itu Allah sekali-kali tidak dapat dilihat dengan menggunakan mata lahir.

Dalil Naqli 

Berikut ini adalah ayat-ayat Al-Qur&#039;an dan Al Hadits yang secara tegas memandang mustahil Allah dapat dilihat.

A. Al-Qur&#039;an

1. &quot;Lan tarani.&quot;  (Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku&quot; (QS. Al A&#039;raf :143)

2. &quot;La tudrikuhu al-abshar.&quot; (Dia tidak dapat digapai oleh penglihatan mata,&quot; (QS. Al-An&#039;am :103)

B. Al Hadits

Wamtani&#039; ala ain al-Bashir, (Allah tidak akan pernah nampak di hadapan mata).

Lam taraka al-&#039;Uyun (Mata tidak dapat menyaksikan-Mu).

La tudrikuhu al-&#039;Uyun bimusyahadati al-&#039;Iyân (Mata tidak melihatnya berhadap-hadapan).

Akan tetapi apabila melihat Allah, walaupun kita masih ada didunia yang dimaksudkan dlm istilah Tasawuf adalah melihat secara mata batin, yang disaksikan itu adalah ilmu, makrifat, nama-nama dan sifat-sifat Allah sejalan dengan kapasitas eksistensial, potensial dan kemampuan manusia, maka Allah dapat disaksikan dengan penyaksian batin (Mukhasyafah). Sebagaimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra berkata: &quot;Lakin tudrikuhu al-Qulub bihaqaiq al-iman&quot; (Namun hati dapat menggapai dan menyaksikannya dengan kebenaran iman). 

Demkian penjelasan dari saya, semoga sahabatku Rudy berkenan.

Wassalamu&#039;alaikum...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Rudy Suwarno</p>
<p>Sahabat mengatakan:</p>
<p>&#8220;Entah kalau dalam paham tasawuf, manusia dapat MELIHAT Allah walaupun masih berada di alam Dunia, mestinya harus ada dalil “paten” (Al Quran) yang mengatakan bahwa ada manusia yang sudah melakukannya, dan siapa.? ( dalam pemahaman saya tidak ada ), jadi bisa dijamin kebenaran sejatinya.&#8221;</p>
<p>Saya menjelaskan:</p>
<p>Apabila yang dimaksud dengan melihat Allah itu adalah melihat secara lahir dan kasat mata, maka sekali-kali tiada seorang pun yang dapat menyaksikan dan melihat Allah. Hal ini sesuai dengan Dalil Aqli dan Dalil Naqli</p>
<p>Dalil Aqli </p>
<p>Berkenaan mustahilnya Allah dapat dilihat dengan Dalil Aqli dapat dijelaskan sebagai berikut;</p>
<p>Aktifitas melihat dan menyaksikan didapatkan melalui berhadap-hadapannya seseorang dengan sesuatu yang ada di luar dengan mata dan getaran cahaya yang merupakan kiriman dan refleksi gelombang cahaya. Artinya; Pertama, yang disaksikan itu adalah sesuatu bendawi yang ada di dunia luar. Kedua, mata berhadapan dengan benda yang ada di hadapannya. Karena itu, mata kita tidak melihat sesuatu yang berada di balik itu, sementara Allah bukan benda (jism) juga tidak memiliki bentuk dan karakteristik benda (seperti yang dihadapan mata). Karena itu Allah sekali-kali tidak dapat dilihat dengan menggunakan mata lahir.</p>
<p>Dalil Naqli </p>
<p>Berikut ini adalah ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan Al Hadits yang secara tegas memandang mustahil Allah dapat dilihat.</p>
<p>A. Al-Qur&#8217;an</p>
<p>1. &#8220;Lan tarani.&#8221;  (Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku&#8221; (QS. Al A&#8217;raf :143)</p>
<p>2. &#8220;La tudrikuhu al-abshar.&#8221; (Dia tidak dapat digapai oleh penglihatan mata,&#8221; (QS. Al-An&#8217;am :103)</p>
<p>B. Al Hadits</p>
<p>Wamtani&#8217; ala ain al-Bashir, (Allah tidak akan pernah nampak di hadapan mata).</p>
<p>Lam taraka al-&#8217;Uyun (Mata tidak dapat menyaksikan-Mu).</p>
<p>La tudrikuhu al-&#8217;Uyun bimusyahadati al-&#8217;Iyân (Mata tidak melihatnya berhadap-hadapan).</p>
<p>Akan tetapi apabila melihat Allah, walaupun kita masih ada didunia yang dimaksudkan dlm istilah Tasawuf adalah melihat secara mata batin, yang disaksikan itu adalah ilmu, makrifat, nama-nama dan sifat-sifat Allah sejalan dengan kapasitas eksistensial, potensial dan kemampuan manusia, maka Allah dapat disaksikan dengan penyaksian batin (Mukhasyafah). Sebagaimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra berkata: &#8220;Lakin tudrikuhu al-Qulub bihaqaiq al-iman&#8221; (Namun hati dapat menggapai dan menyaksikannya dengan kebenaran iman). </p>
<p>Demkian penjelasan dari saya, semoga sahabatku Rudy berkenan.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rudy suwarno</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2953</link>
		<dc:creator>rudy suwarno</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 16:54:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-2953</guid>
		<description>SUBHAANALLAH...
WAL HAMDULILLAH...

Telah terbuka satu hijab yang menutupi hati ini, dalam mengenali Samudra Ilmu-Mu, dan semoga semakin terbuka hijab hijabku yang lainnya, dalam mengenali Percikan Cahayamu, hingga menyinari seluruh Jiwa dan Akalku..  agar aku bisa membuat diri ini, menjadi semakin dekat dengan-Mu..  Aminn.


Rasa Terima Kasih yang sangat mendalam, saya haturkan buat Sahabatku, Saudaraku, Guruku, Alam Rasa yang di Rahmati Allah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SUBHAANALLAH&#8230;<br />
WAL HAMDULILLAH&#8230;</p>
<p>Telah terbuka satu hijab yang menutupi hati ini, dalam mengenali Samudra Ilmu-Mu, dan semoga semakin terbuka hijab hijabku yang lainnya, dalam mengenali Percikan Cahayamu, hingga menyinari seluruh Jiwa dan Akalku..  agar aku bisa membuat diri ini, menjadi semakin dekat dengan-Mu..  Aminn.</p>
<p>Rasa Terima Kasih yang sangat mendalam, saya haturkan buat Sahabatku, Saudaraku, Guruku, Alam Rasa yang di Rahmati Allah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Alam Rasa</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2950</link>
		<dc:creator>Alam Rasa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 01:10:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-2950</guid>
		<description>Ass. Sahabat Terkasih
@Truthsekker08
@Siliwangi
@Lor Muria
@Rudy Suwarno

Perkenankan aku untuk ikut sharing dalam diskusi sahabat2 ku.
Aku melihat masih ada perbedaan pemahaman antara sahabatku Rudy Suwarno dengan yang lainnya, terutama tentang penjelasan &quot;komunikasi dengan Allah&quot;, dan &quot;kebenaran sejati&quot;.

Dengan mengacu pada Al Qur&#039;an, &quot;komunikasi dengan Allah&quot; ini ada 3 jenis:
1. Penyampaian wakhyu kepada para Rasul dengan perantaraan Malaikat Jibril;
2. Penyampaian wahyu kepada Rasul secara langsung dibalik Tabir, seperti dijelaskan dalam:
(QS An Nisaa: 164).
&quot;Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung&quot;.
(QS Asy Syuura: 51)
&quot;Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir[1347] atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki...&quot;
3. Penyampaian ilham kepada nabi, manusia, atau mahluk lainnya, seperti dijelaskan dalam:
(QS Al Kahfi: 16)- Ilham disampaikan kepada para pemuda Gua Kahfi.
&quot;Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu&quot;.
(QS An Nuur: 41) - Ilham disampaikan kepada mahluk-Nya.
&quot;Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan&quot;.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Allah juga berkomunikasi dengan mahluk-Nya termasuk burung. Nah, sekarang bagaimana Allah berkomunikasi dengan kita manusia secara umum?

Seperti dijelaskan oleh sahabat Truthseeker, bahwa &quot;setiap saat Allah berkomunikasi dengan kita&quot;. Melalui apa?...Dalam banyak ayat di Al Qur&#039;an dan juga hadits disebutkan tentang &quot;Hati&quot;. Ya, hati inilah media komunikasi antara kita dengan Allah. Namun, sayangnya kebanyakan dari hati manusia ini &quot;kotor&quot;, akibat kita terlalu sering mengumbar &quot;emosi negatif&quot; kita, seperti amarah, iri, dengki, sombong, dll.

Sebenarnya Allah selalu ingin membimbing kita, seperti dijelaskan dalam:     
(QS An Nuur 35) &quot;..... Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu&quot;.
 
Inilah cerminan dari sifat-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bukankah, dalam setiap surat dalam Al Qur&#039;an selalu diawali dengan &quot;Bismillahir Rahmanir Rahim&quot;. Sesunguhnya, Kasih Sayang Allah kepada kita semua sangat sangat besar dan tidak ada batasnya. Jauh melebihi kasih sayang orang tua kita, dan semuanya.

Kembali ke pokok diskusi, dalam pemahamanku, bahwa Allah berkomunikasi dengan manusia melalui media &quot;Hati&quot; atau &quot;tidak langsung&quot;. Yang dimaksud dengan &quot;melihat Allah&quot;, pandang memandang,...itu sebatas dari kemampuan kesadaran manusia dalam melihat percikan cahaya-Nya. Sesungguhnya tidak seorangpun dapat menyadari kebesaran, kekuasaan, ataupun keesaan Allah, karena jauh melebihi imajinasi manusia manapun.

Terakhir, mengenai &quot;kebenaran sejati&quot;. Aku setuju, bahwa kebenaran sejati adalah dari &quot;Al Qur&#039;an dan Sunnah Rosul&quot;. Pertanyaannya, apakah itu sudah cukup? Bila sahabat Rudy sudah merasa cukup, maka aku tak perlu menjelaskan lebih lanjut.

Namun untuk pernyataan selanjutnya, &quot;bahwa kebenaran yang hakiki itu akan kita temui setelah ajal menjemput”. Menurutku itu adalah pandangan yang keliru. Itu artinya terlambat!! 

Sekedar menambah wawasan, sahabatku Rudy dapat membaca artikel ini:

http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2064

Saranku, ikutilah suara hati kecil (nurani) anda.  

Salam Asih, Asah, Asuh.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass. Sahabat Terkasih<br />
@Truthsekker08<br />
@Siliwangi<br />
@Lor Muria<br />
@Rudy Suwarno</p>
<p>Perkenankan aku untuk ikut sharing dalam diskusi sahabat2 ku.<br />
Aku melihat masih ada perbedaan pemahaman antara sahabatku Rudy Suwarno dengan yang lainnya, terutama tentang penjelasan &#8220;komunikasi dengan Allah&#8221;, dan &#8220;kebenaran sejati&#8221;.</p>
<p>Dengan mengacu pada Al Qur&#8217;an, &#8220;komunikasi dengan Allah&#8221; ini ada 3 jenis:<br />
1. Penyampaian wakhyu kepada para Rasul dengan perantaraan Malaikat Jibril;<br />
2. Penyampaian wahyu kepada Rasul secara langsung dibalik Tabir, seperti dijelaskan dalam:<br />
(QS An Nisaa: 164).<br />
&#8220;Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung&#8221;.<br />
(QS Asy Syuura: 51)<br />
&#8220;Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir[1347] atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki&#8230;&#8221;<br />
3. Penyampaian ilham kepada nabi, manusia, atau mahluk lainnya, seperti dijelaskan dalam:<br />
(QS Al Kahfi: 16)- Ilham disampaikan kepada para pemuda Gua Kahfi.<br />
&#8220;Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu&#8221;.<br />
(QS An Nuur: 41) &#8211; Ilham disampaikan kepada mahluk-Nya.<br />
&#8220;Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan&#8221;.</p>
<p>Dengan demikian, jelaslah bahwa Allah juga berkomunikasi dengan mahluk-Nya termasuk burung. Nah, sekarang bagaimana Allah berkomunikasi dengan kita manusia secara umum?</p>
<p>Seperti dijelaskan oleh sahabat Truthseeker, bahwa &#8220;setiap saat Allah berkomunikasi dengan kita&#8221;. Melalui apa?&#8230;Dalam banyak ayat di Al Qur&#8217;an dan juga hadits disebutkan tentang &#8220;Hati&#8221;. Ya, hati inilah media komunikasi antara kita dengan Allah. Namun, sayangnya kebanyakan dari hati manusia ini &#8220;kotor&#8221;, akibat kita terlalu sering mengumbar &#8220;emosi negatif&#8221; kita, seperti amarah, iri, dengki, sombong, dll.</p>
<p>Sebenarnya Allah selalu ingin membimbing kita, seperti dijelaskan dalam:<br />
(QS An Nuur 35) &#8220;&#8230;.. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu&#8221;.</p>
<p>Inilah cerminan dari sifat-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bukankah, dalam setiap surat dalam Al Qur&#8217;an selalu diawali dengan &#8220;Bismillahir Rahmanir Rahim&#8221;. Sesunguhnya, Kasih Sayang Allah kepada kita semua sangat sangat besar dan tidak ada batasnya. Jauh melebihi kasih sayang orang tua kita, dan semuanya.</p>
<p>Kembali ke pokok diskusi, dalam pemahamanku, bahwa Allah berkomunikasi dengan manusia melalui media &#8220;Hati&#8221; atau &#8220;tidak langsung&#8221;. Yang dimaksud dengan &#8220;melihat Allah&#8221;, pandang memandang,&#8230;itu sebatas dari kemampuan kesadaran manusia dalam melihat percikan cahaya-Nya. Sesungguhnya tidak seorangpun dapat menyadari kebesaran, kekuasaan, ataupun keesaan Allah, karena jauh melebihi imajinasi manusia manapun.</p>
<p>Terakhir, mengenai &#8220;kebenaran sejati&#8221;. Aku setuju, bahwa kebenaran sejati adalah dari &#8220;Al Qur&#8217;an dan Sunnah Rosul&#8221;. Pertanyaannya, apakah itu sudah cukup? Bila sahabat Rudy sudah merasa cukup, maka aku tak perlu menjelaskan lebih lanjut.</p>
<p>Namun untuk pernyataan selanjutnya, &#8220;bahwa kebenaran yang hakiki itu akan kita temui setelah ajal menjemput”. Menurutku itu adalah pandangan yang keliru. Itu artinya terlambat!! </p>
<p>Sekedar menambah wawasan, sahabatku Rudy dapat membaca artikel ini:</p>
<p><a href="http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2064" rel="nofollow">http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2064</a></p>
<p>Saranku, ikutilah suara hati kecil (nurani) anda.  </p>
<p>Salam Asih, Asah, Asuh.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rudy suwarno</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2949</link>
		<dc:creator>rudy suwarno</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 17:02:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=280#comment-2949</guid>
		<description>@ Sahabat Truthseeker08 YTH

Rasa Terima kasih yang dalam, kepada YTH Truthseeker08, yang telah berkenan memberikan pencerahan kepada saya yang masih dalam tahap belajar ini, mohon ketelatenan bimbingannya…

Sahabat Truthseeker08 berkata :

1. ALLAH SELALU BERKOMUNIKASI DENGAN MAHKLUKNYA. Hanya saja caranya tidak selalu sama. Cara berkomunikasi Allah disesuaikan dengan maqam masing.

Rudi suwarno bertanya :

Apakah maksud anda disini, Allah berkomunikasi secara LANGSUNG dengan manusia.? Sebab yang sering saya lihat dalam  paham tasawuf, saya sering sekali menemui kata kata seperti : Bertemu Allah, bercakap cakap dengan Allah, pandang memandang, terbuka segala hijab, terbuka segala rahasia, dls. Lalu saya mengartikannya benar benar bertemu dengan Allah tanpa hijab (Maqam Kasyaf). Sedangkan dalam pemahaman saya yang masih awam ini, Kita tidak mungkin bisa “MELIHAT” Allah SWT secara langsung tanpa hijab, karena kita akan hancur sebagaimana gunung sinai dalam cerita Nabi Musa. Dan Nabi Muhammad SAW yang derajatnya sudah Rosululloh SAW saja harus dibersihkan dulu hatinya oleh malaikat, sebelum melakukan perjalanan panjang Isro Mi’roj untuk bertemu Allah SWT (inipun masih dalam perdebatan, apakah benar benar Nabi Muhammad SAW benar benar telah bertemu Allah). Dan dalam pemahaman saya, Maqam Kasyaf tidaklah bisa dikatakan menyamai / melebihi derajat kerosulan.. sehingga bisa secara langsung “MELIHAT” bahkan menerima ilmu dari Allah tanpa perantara malaikat.
Adakah benturan disini.? Ataukan cuma salah pemaksudan saja.? Mohon Argumen ataupun penjelasan dari sahabat Truthseeker08 ataupun sahabat seiman lainnya.…


Sahabat Truthseker08  berkata  :

3. Bahasa manusia memiliki keterbatasan2, janganlah terpaku pada bahasa/kata, pemahaman jauh diatas bahasa. Diatas kebenaran sejati ada kebenaran yang lebih sejati. Kesejatian tidak bisa dibatasi oleh keterbatasan kita.

Rudy suwarno menjawab :

Insya Allah, saya sedang berusaha untuk mengerti maksud anda , cuma mungkin di karenakan keterbatasan pengetahuan dan pemahaman saya, jadi agak kurang bisa mengerti.

Supaya terjadi persamaan peng ARTI an, ada baiknya saya berusaha menggambarkan, mohon koreksinya bila kurang tepat...

Ada sebuah kata  :   DIA “MELIHAT” JIN.

Dalam berkomunikasi dengan bangsa Jin, bahasa yang di pergunakan berbeda dengan bahasa manusia berkomunikasi dengan manusia, yaitu seperti berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat atau mirip mirip bahasa tarzan. Begitu pula dalam MELIHAT nya, yaitu tidak menggunakan mata telanjang, tapi bisa tahu dia ada dimana dan tahu bagaimana rupa, bentuk dan wujudnya, yang lalu itu dinamakan “mata batin.”
Tetapi manusia memberitakannya dalam bahasa manusia supaya bisa di mengerti manusia, dengan kalimat : DIA “MELIHAT” JIN.

Begitu pula dalam MELIHAT Malaikat, (Nabi) tidak mengunakan “mata telanjang” ataupun “mata bathin”, tetapi memakai “mata yang lain” sesuai maqamnya. Saya sudah tidak bisa menggambarkan.

Dan dalam MELIHAT Allah, entah menggunakan mata yang apalagi, tidak bisa di jelaskan. Karena maqamnya adalah sudah berada di dalam syurga, dan MELIHAT Allah adalah “puncak dari segala puncak kenikmatan”, melebihi syurga itu sendiri.

Entah kalau dalam paham tasawuf, manusia dapat MELIHAT Allah walaupun masih berada di alam Dunia, mestinya harus ada dalil “paten” (Al Quran) yang mengatakan bahwa ada manusia yang sudah melakukannya, dan siapa.? ( dalam pemahaman saya tidak ada ), jadi bisa dijamin kebenaran sejatinya.


Saya rasa sahabat Siliwangi sudah sepaham dengan saya, karena mengunakan kalimat yang mudah di mengerti oleh orang awam seperti saya :

Sahabat siliwangi berkata  :

“Kebenaran sejati adalah kebenaran berdasarkan Al Qur,an dan Sunah Rosul”

 “Betul sekali bahwa kebenaran yang hakiki itu akan kita temui setelah ajal menjemput”


Salam Sahabat dalam Damai…</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Sahabat Truthseeker08 YTH</p>
<p>Rasa Terima kasih yang dalam, kepada YTH Truthseeker08, yang telah berkenan memberikan pencerahan kepada saya yang masih dalam tahap belajar ini, mohon ketelatenan bimbingannya…</p>
<p>Sahabat Truthseeker08 berkata :</p>
<p>1. ALLAH SELALU BERKOMUNIKASI DENGAN MAHKLUKNYA. Hanya saja caranya tidak selalu sama. Cara berkomunikasi Allah disesuaikan dengan maqam masing.</p>
<p>Rudi suwarno bertanya :</p>
<p>Apakah maksud anda disini, Allah berkomunikasi secara LANGSUNG dengan manusia.? Sebab yang sering saya lihat dalam  paham tasawuf, saya sering sekali menemui kata kata seperti : Bertemu Allah, bercakap cakap dengan Allah, pandang memandang, terbuka segala hijab, terbuka segala rahasia, dls. Lalu saya mengartikannya benar benar bertemu dengan Allah tanpa hijab (Maqam Kasyaf). Sedangkan dalam pemahaman saya yang masih awam ini, Kita tidak mungkin bisa “MELIHAT” Allah SWT secara langsung tanpa hijab, karena kita akan hancur sebagaimana gunung sinai dalam cerita Nabi Musa. Dan Nabi Muhammad SAW yang derajatnya sudah Rosululloh SAW saja harus dibersihkan dulu hatinya oleh malaikat, sebelum melakukan perjalanan panjang Isro Mi’roj untuk bertemu Allah SWT (inipun masih dalam perdebatan, apakah benar benar Nabi Muhammad SAW benar benar telah bertemu Allah). Dan dalam pemahaman saya, Maqam Kasyaf tidaklah bisa dikatakan menyamai / melebihi derajat kerosulan.. sehingga bisa secara langsung “MELIHAT” bahkan menerima ilmu dari Allah tanpa perantara malaikat.<br />
Adakah benturan disini.? Ataukan cuma salah pemaksudan saja.? Mohon Argumen ataupun penjelasan dari sahabat Truthseeker08 ataupun sahabat seiman lainnya.…</p>
<p>Sahabat Truthseker08  berkata  :</p>
<p>3. Bahasa manusia memiliki keterbatasan2, janganlah terpaku pada bahasa/kata, pemahaman jauh diatas bahasa. Diatas kebenaran sejati ada kebenaran yang lebih sejati. Kesejatian tidak bisa dibatasi oleh keterbatasan kita.</p>
<p>Rudy suwarno menjawab :</p>
<p>Insya Allah, saya sedang berusaha untuk mengerti maksud anda , cuma mungkin di karenakan keterbatasan pengetahuan dan pemahaman saya, jadi agak kurang bisa mengerti.</p>
<p>Supaya terjadi persamaan peng ARTI an, ada baiknya saya berusaha menggambarkan, mohon koreksinya bila kurang tepat&#8230;</p>
<p>Ada sebuah kata  :   DIA “MELIHAT” JIN.</p>
<p>Dalam berkomunikasi dengan bangsa Jin, bahasa yang di pergunakan berbeda dengan bahasa manusia berkomunikasi dengan manusia, yaitu seperti berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat atau mirip mirip bahasa tarzan. Begitu pula dalam MELIHAT nya, yaitu tidak menggunakan mata telanjang, tapi bisa tahu dia ada dimana dan tahu bagaimana rupa, bentuk dan wujudnya, yang lalu itu dinamakan “mata batin.”<br />
Tetapi manusia memberitakannya dalam bahasa manusia supaya bisa di mengerti manusia, dengan kalimat : DIA “MELIHAT” JIN.</p>
<p>Begitu pula dalam MELIHAT Malaikat, (Nabi) tidak mengunakan “mata telanjang” ataupun “mata bathin”, tetapi memakai “mata yang lain” sesuai maqamnya. Saya sudah tidak bisa menggambarkan.</p>
<p>Dan dalam MELIHAT Allah, entah menggunakan mata yang apalagi, tidak bisa di jelaskan. Karena maqamnya adalah sudah berada di dalam syurga, dan MELIHAT Allah adalah “puncak dari segala puncak kenikmatan”, melebihi syurga itu sendiri.</p>
<p>Entah kalau dalam paham tasawuf, manusia dapat MELIHAT Allah walaupun masih berada di alam Dunia, mestinya harus ada dalil “paten” (Al Quran) yang mengatakan bahwa ada manusia yang sudah melakukannya, dan siapa.? ( dalam pemahaman saya tidak ada ), jadi bisa dijamin kebenaran sejatinya.</p>
<p>Saya rasa sahabat Siliwangi sudah sepaham dengan saya, karena mengunakan kalimat yang mudah di mengerti oleh orang awam seperti saya :</p>
<p>Sahabat siliwangi berkata  :</p>
<p>“Kebenaran sejati adalah kebenaran berdasarkan Al Qur,an dan Sunah Rosul”</p>
<p> “Betul sekali bahwa kebenaran yang hakiki itu akan kita temui setelah ajal menjemput”</p>
<p>Salam Sahabat dalam Damai…</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
