PENGEMBARA JIWA

(Menemukan Cahaya Abadi di dalam Lautan Tauhid dan Tasawuf)

MENYEMBAH ALLAH, ITU SUATU KESALAHAN

Posted by pengembarajiwa pada Juli 2, 2009

“…………………… maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.

(QS : Thaahaa,14)

Sudah menjadi Tradisi bagi setiap Umat Muslim se Dunia bahwa setiap melaksanakan Sholat, maka yang terbenak dalam fikiran adalah Penyembahan/Menyembah. Entah darimana Bahasa itu berasal, tetapi yang jelas hampir semua dari seluruh Umat Muslim meyakini bahwa kita harus menyembah kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, jika tertanam pada diri untuk Meyembah Allah dalam Amal Ibadah maka yang terjadi adalah pengkultusan suatu “sosok”/”personal”. Padahal telah diketahui dan diyakini oleh Umat Muslim bahwa Allah adalah “Laisa Kamitslihi Syai’un”/Tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu apapun.

Kata-kata “Menyembah/Penyembahan”, maka masih bisa dimitsalkan dengan seseorang yang menyembah kepada sesuatu misalnya Patung, Pohon, Matahari, Api dll…dll…dll, yang mana ada suatu “sosok” yang berada di luar atau di depan atau di atas atau dikanan atau dikiri dari diri Sang Penyembah. Lalu apa bedanya dengan mereka yang menyembah Patung, Pohon, Matahari, Api dll…dll…dll…????. Melihat ataupun tidak melihat akan yang di SEMBAH, tetap saja bertentangan dengan TAUHID yang sebenarnya. Karena TAUHID itu, bukan PENYEMBAHAN melainkan KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt.

KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt MUTLAK tidak bisa di ganggu gugat, karena Allah Muhitum Fil ‘Aaalamiin/Allah Meliputi sekalian Alam. Tetapi jika dimaknai dengan MENYEMBAH, maka menunjukkan bahwa Allah itu adalah suatu “sosok” yang berada di suatu Tempat yang berada Nun jauh disana….., ada yang meyakini bahwa Allah bersemayam di Atas Arsy yang berada di atas langit ke tujuh, Salahkah jika dikatakan demikian…??? Benar dan Tidak salah. Tetapi yang salah adalah Penafsiran dari pada Ayat tsb. Apalagi Ayat tsb terdapat dalam Al-Qur’an, berarti itu sudah benar adanya, tetapi…jika salah menafsirkan maka salah pula lah Keyakinan yang ada. Bahasa Qur’an adalah Perkataan Allah/Suara Allah, tentunya tidak bisa di cerna dengan Akal fakir Manusia, karena Akal Fikir Manusia itu terbatas dan juga Akal itu tercipta. Sesuatu yang tercipta itu adalah Baharu dan tidak Kekal, apakah bisa sesuatu yang baharu dan tidak kekal itu mengetahui Hakikat sebenarnya dari kata-kata/Firman/Suara Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an…???

Jika akal mencerna lalu menafsirkan hanya sebatas kata-kata yang menurut akal fikir semata, maka Nyata SALAH lah….penafsiran yang demikian. Sebab, Allah itu Laitsa Kamitslihi Syai’un, bagaimana mungkin bisa dikatakan berada di suatu tempat, sedangkan Allah tidak terikat oleh Ruang dan Waktu. Ruang dan Waktu menunjukkan Tempat, dan hanya Makhluk lah….yang berada dan terikat oleh Ruang dan Waktu. Sedangkan Allah….., Tidak bertempat tetapi yang memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat).

Karenanya dalam pandangan TAUHID dan TASAWUF atau MA’RIFATULLAH, maka siapa yang menyembah Allah maka mereka berada dalam ke kufuran, Karena telah menyamakan Allah dengan “sosok” yang berada di suatu tempat.

Para Arifbillah(yang Mengenal akan Allah), menilik kata-kata “MENYEMBAH” itu bukanlah suatu “PENYEMBAHAN” melainkan “KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt yang tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat)”.

Jadi……..mendirikan Sholat adalah untuk mengenal akan ALLAH MAHA BESAR (ALLAHU AKBAR) yang akan menumbuhkan kesadaran bahwa BENAR lah….ALLAH itu ESA tiada sekutu bagi-Nya, Tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan-Nya meliputi tiap-tiap sesuatu.

Karenanya renungkanlah…..kenapa pada saat Takbiratul Ihram mengangkat ke dua tangan dan mengatakan “ALLAAHU AKBAAR”. Ternyata Itu adalah Tanda dan Bukti bahwa dalam Penyerahan Diri akan Tumbuh Kesadaran bahwa “YA” BENAR!!!!…..Allah Maha Besar dan Meliputi”.

Wallahu A’lam bishowab….

About these ads

432 Tanggapan to “MENYEMBAH ALLAH, ITU SUATU KESALAHAN”

  1. KangBoed said

    Pertamaaaaaaaaaaaaaxxxxxxxxzzzzz..

    Salam Sayang untuk mBaaah PJ dan mBak YU neeee

    *komentar malam ya mbah*

    • Dangstars said

      Pertamaaaaaxxxxxxx
      Kunjungan pertama salam kenal Mbah PJ.
      Wah..judulnya ngeriiiii amat..

    • qarrobin said

      Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
      Mohon maaf lahir dan batin

    • ibrahim said

      islam itu panutannya ya nabi Muhammad, kalo gak ikut nabi & AQ itu bukan islam.. ngaku islam aja kali, gampang kan???

    • assalaamualaikum
      salam kenal.
      blog yang di penuhi dengan hikmah-hikmah.
      serasi dengan kata kata ahlu sirr, (orang yang melihat sesuatu dari sudut yang paling dalam), itulah ulama ahli ma’rifat..kadang perkataanya tidak di mengerti oleh ahli awam, tetapi di benarkan oleh ahli khowas.
      pemahaman manusia bertingkat-tingkat, menurut maqom-nya, dan hal-nya. semakin tinggi maqom seseorang, maka semakin dalam faham akan ma,na ahad (tauhid)
      ma’na ibadah begitu kaya dalam al-quran, sehingga ahli tafsir-pun begitu komplit menafsirkan-nya, untuk membimbing kaum awam ke tingkat kaum khowas.
      di antaranya ibnu abbas yang menafsirkan (illa liya’budun dengan tafsiran illa liya’rifuun) yang berarti ma’rifat kepada Allah.
      terimakasih atas postingan-postinganya

      http://adekunya.wordpress.com/

      • @Tedisobandi

        Wa’alaikum salam wr,wb….

        Salam Kenal kembali saudara Tedi, dan selamat datang di Pondok PJ ini. Dan tidaklah apa2 yg terpostingkan di Pondok ini baik Artikel maupun Koment2nya semuanya tiada terlepas dari pada Qudrat Iradat Allah Swt. Maka…dengan Allah lah….segalanya berasal dan kepada-NYA lah segalanya kembali.

        Semoga Allah Swt membimbing Nur-NYA kepada kita semuanya dan menjadikan Qolb’ bercahaya dengan Nur-NYA lalu kemudian membias kepada Budi Pekerti yg baik(Akhlakul Kariimah).

        Aaamiiiin….Yaa.. Robbal ‘Aalamiiin.

        Salam Silaturrahmi dan Salam Ta’lim saudara2ku semuanya.

    • moonrider said

      ada bener nya tapi ada salah nya juga..judul nya juga salah

    • Abidal said

      Sekedar nimbrung.
      Supaya tidak bingung, marilah kita fahami lebih dalam tentang zatulloh, sifatulloh, wujudulloh. Sokur sudah ketemu juga airrulloh dan af`alulloh.

  2. KangBoed said

    mari kita belajar mencintaiNYA lebih dari segalanya dalam hidup.. bukankah dulu kita PEMUJA CINTA dalam PENYAKSIAN… mengapa sekarang tidaklah kita mau tuk menjadi PEMUJA CINTA.. subhanallaaaah
    Salam Sayang dan rindu untukmu

    • Ya…ya…ya…KangBoed hanya CINTA dalam Penyaksian lah…yang akan menghantarkan seseorang semakin dekat dan semakin dekat dengan yang di CINTA-i. Dan tidak ada Sembah menyembah dalam CINTA, yang ada hanyalah saling Pandang Memandang dalam MUROQOBAH dan Akhirnya akan terjalin Rasa KESADARAN akan….”Subhanallaaaaaaah…..Sungguh-sungguh Amat Maha Terpuji dan Amat Maha Mulia Rubbul Izzati, ESA dengan sendirinya bukan lantaran ada yang meng-ESA-kan, Terpuji dengan Sendirinya Awal tiada berpermulaan dan akhir tiada berkesudahan, bukan Terpuji karena ada yang Memuji.

      Salam Cinta Kasih Allah dalam Barokah dan Rahmat-Nya untukmu sekeluarga saudaraku, juga untuk saudara2 yang ada di Pondok PJ ini.

    • vicky said

      Salaaaam sejati penuh takzin dan rinduuuu buat kang Boed…

  3. zal said

    ::Allah memang gak butuh penyembah, sebab pada penciptaan adam, malaikat sudah protes bahwa “bukankah kami selalu bersujud san mengagungkan namaMU”, namun cinta kan tidak langsung bersemi, “witing tresna, jalaran soko kulino”, ada waktu yang bermain, ada buliran roti, yang ditebarkan, agar kenal jalan.., maka AQ diturunkan berangsur-angsur, agar tidak hancur gunung sebab diletakan AQ itu…” salam taklim Mas PJ tulisan ini, memang ditujukan buat yang sudah mengetahui, yang belum biasanya : pada pendengarannya bagai dengungan saja…

    • Hmmm….Mas Zal!, sesuai dengan apa yang telah dinyatakan :” Jika seluruh Hamba dari Jin dan Manusia mereka semua Ta’at dan Patuh serta beribadah kepadaKU, maka tidak akan menambah dari pada “KERAJAAN(Kemuliaan)KU”. Dan Jika seluruh Hamba dari Jin dan Manusia mereka semuanya tidak ada yang Ta’at dan tidak ada yang Patuh serta tidak ada yang beribadah kepadaKU, maka tidak akan mengurangi dari pada “KERAJAAN(Kemuliaan)KU” pula..”

      Hanya CINTA karena mengerti akan Allahlah baik dalam Amal Ibadah maupun dalam Hidup disetiap waktu, yang akan menghantarkan seseorang ke Hadirat-Nya. Selain itu…..Entahlah!!!!

      • lor Muria said

        CINTA diatas cintanya…..
        RINDU diatas rindunya…..
        IKHLAS diatas ikhlasnya….

    • rahmat said

      manusia adalah hamba dan setiap hamba mempunyai sesembahan(ALLAH),menyembah(ALLAH) suatu bentuk apresiasi dikarenakan takut,butuh,cinta kepada sesembahannya(ALLAH).kalau bagaimana cara menyembah ALLAH yang maha ghaib kita tinggal mengikuti Firman ALLAH(AL-QUR’AN)dan sunnah Rasulullah Muhammad SAW. WASSALAM

  4. truthseeker08 said

    Sembah = memberi, menhaturkan
    Sembahyang (Sembah Hyang) = memberikan diri kita kepada Tuhan. Bisa juga diartikan sebagai berserah diri.
    Jika ada perubahan makna maka itu bukanlah kesalahan sang kata, namun salah si manusia yang salah menerapkan/memaknai. Sebagaimana kata puasa, khalwat, mantera, dll dapat juga disalah artikan.
    Murnikan i’tikad.

    Wassalam

    • Ya..ya..ya…saudaraku Truthseeker08. Jika seseorang itu mengerti akan Makna dari pada Sembah itu adalah “Penyerahan Diri/Berserah Diri” dan mengerti bahwa dirinya itu adalah Laa Hawla Wa Laa Quwwata…, maka bisa dibenarkan Ibadahnya itu. Tetapi… banyak yang belum menyadarinya, masih terjebak pada “Penyembahan” sebagaimana orang yang menyembah Patung, Pohon, Matahari, Api, Gunung dll..dll…dll…dan sayangnya lagi mereka tiada menyadari bahwa telah masuk kedalam Syirik Khoofi(Syirik yang lembut lagi halus).

      Oleh sebab itulah…mari kita saling memberi dan mengisi dalam Kebenaran agar terbuka KESADARAN-KESADARAN bagi kita semuanya ttng apa yang seharusnya berlaku dalam Hidup ini, baik dalam Amal Ibadah maupun dalam Aktifitas sehari2. Bahwa Karena CINTA lah kita semua ada, dan karena CINTA pulalah lalu kemudian Hidup dan karena CINTA pulalah yang akhirnya mengalami suatu kematian dan kembali kepada Pemilik CINTA. Karenanya….Ibadah tanpa di dasari Ilmu, akan hampa. Dan menuntut Ilmu itu adalah Wajib. Dan ke wajiban yang Utama adalah menuntut Ilmu yang dengan Ilmu itu bisa mendekatkan dirinya kepada Tuhannya bukan dilandasi oleh Rasa Takutnya Budak kepada Tuannya tetapi karena di landasi CINTA antara sang Kekasih dengan Kekasihnya.

      Terimkasih saudaraku atas Masukkan2nya yang mencerahkan…

      Wassalam

  5. Ganang said

    Beramal sesuai ilmunya… Alhamdulillah bang PJ… bagus banget nalar dan pemahamannya. Syukran. Salam damai.

  6. abdullah said

    yg susah dibikin gampang, yg gampang dibikin njelimet. cuppe dèh..

    • Ya..ya..ya…Mas Abdullah
      Sungguh Gampang ataupun susah itu semua kembali kepada diri masing2 dalam memandang sesuatu itu. Pada Dasarnya Tidaklah Qur’an itu di turunkan untuk menyusahkan Manusia, melainan untuk memudahkan Manusia untuk mengenal akan Kebenaran2. Tetapi dikarenakan Tidak mau tahu nya Manusia apalagi sudah merasa Benar sendiri, itulah yang menjadi kan dinding pada dirinya sendiri.

      Salam untuk Anda dan orang2 yang anda Cintai

  7. asep said

    Jadi inget dulu waktu SD ketika suka ngaji di mesjid ada Nadhom, sbb:

    Sembahhyang…hyang lima waktu,
    itu adalah fardhu,
    suruhan Tuhan yg satu,
    untuk menahan hawa nafsu.
    Mari kawan-kawan 2x
    marilah bersembahyang 2x

    Wassalam

    • Hmmm……Masa-masa Indah di waktu kanak2 menjadi bahan renungan yang sangat berharga sekali bagi yang mau mengambil pelajaran di dalamnya. Tidak ada beban dan sesuatu yang mngganjal di hati, Polos dan Lugu serta Ceria selalu….Itulah Misteri Kehidupan Anak2.

      • asep said

        Masa kecil adalah masa yg penuh dgn kenangan. Bersenda gurau dgn teman sebaya, patuh kepada orang tua dan guru ngaji. Bermain, tertawa dan menangis, lepas tanpa ada beban. Polos, lugu dan ceria. Oh sungguh kenangan yg sangat indah. Ingin rasanya untuk kembali lagi. :))

    • mujahidahwanita said

      Masa kecil itulah… masa2 di mana tak ada hizab antara Hamba dgn Tuhannya. Karena di masa itu kita masih di dalam keadaan fitrah, dimana di masa2 itu kita dapat bertatap muka dan berdialog langsung dng yg Haq tanpa ada tirai sedikitpun/secuilpun yg membatasinya. Tetapi setelah beranjak dewasa kita telah di masuki Oleh pengetahuan2 tentang dunia berserta hiruk pikuknya yg mengakibatkan diri kita terdinding/terhijab.

  8. akayr said

    Assalamu Alaikum wr wb

    Salam PJ,

    Artikel yang anda posting kali ini, saya anggap sangat “BERANI”, Ini kalau tidak dipahami betul akan menimbulkan penafsiran yang salah…
    Namun saya sangat bersyukur adanya tulisan pemaparan pemahaman seperti yang anda tuliskan, Sangat menggugah, sangat menyentuh. Ini betul2 mengajak kita untuk mengembalikan ke mana pengabdian kita. Ya… Ternyata intinya di (QS : Thaahaa,14). Nah Sekarang bagaimana bentuk pengabdian kita tersebut…? Ternyata AlQuran pun telah menjawabnya dengan jelas (QS : Al-Imran, 31) “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”.

    Wassalam

    • Wa’alaikum salam Wr,Wb Mas Akayr…. Semoga Barokah Allah meliputi dirimu sekeluarga.

      “Balighu Ani wa lau Aayat”/Sampaikan walaupun satu Ayat. Itulah Dasar bagi kita semuanya untuk menyampaikan Kebenaran2. Dan tentunya….walau “pahit” yang akan di hadapi, itu semua sudah menjadi bagian dari pada Mujahadah/Perjuangan.

      Wassalam

      • Hamba yg Dhaif said

        Betul Mas PJ

        sampaikanlah kebenaran itu walaupun pahit, bukahkah manusia diciptakan itu utk menjadi kholifah dimuka bumi, dalam arti utk bisa mengendalikan hawanafsu yg bersemayam di dlm jiwa .

        Amin

  9. Alam Rasa said

    Assalamualaikum wr.wb.
    Salam Kasih. Senyum dari hati untuk saudaraku Pengembaran Jiwa, dan semuanya yang ada di Pondok ini.

    Perkenankan aku memiliki pandangan/pemamahan yang berbeda. Dalam konteks menyembah Allah, dalam Al Qur’an cukup banyak ditemukan ayat-ayat yang menyatakan “sembahlah Allah atau sembahlah Aku”.
    Aku fikir ini bukan suatu kesalahan/kekeliruan.

    Allah dalam pemahamanku ada di suatu tempat, yaitu Void. Adapun yang terdapat pada setiap diri, itu adalah percikan cahaya-Nya, yang sering disebut sebagai hati nurani dan berfungsi sebagai penunjuk jalan kepada-Nya, sekaligus sebagai alat komunikasi antara hamba dan sang Pencipta.

    Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena kesadaran-Nya meliputi seluruh alam semesta dan seluruh dimensi keberadaan (tampak atau tidak tampak). Dalam suatu sistem yang kompleks dan tak terbayangkan, Allah mengatur seluruh kejadian yang ada di alam semesta dan keberadaan.

    Dengan demikian, menurut pemahamanku hamba tetap hamba. Yang diciptakan berbeda dengan Yang Menciptakan, Yang diatur berbeda degan Yang Mengatur. Oleh karena itu, aku kurang sependapat dengan pemahaman Manunggaling Kawula Gusti. Pemahamanan ini dapat dibenarkan hanya ketika belum terciptanya keberadaan.

    Demikian, aku mohon maaf atas pemahamanku yang berbeda ini. Apabila pemahamanku keliru, mohon dikoreksi. Terima Kasih.

    Wassalam.

    • Wa’alaikum salam Wr,Wb….

      Salam Cinta Kasih Allah menyinari Qolbu para pejalan2 Ruhani…..termasuk Anda Saudaraku Alam Rasa. “Wa Huwa Ma’akum Ainama Kuntum”/Dan Allah Beserta kita dimana kita berada.

      Pada Dasarnya perbedaan diantara Umat adalah Rahmat, tergantung dari sudut mana kita memandangnya…Dan sesungguhnya Tidaklah sesuatu itu ada melainkan terdapat Rahmat Tuhan di dalamnya. Beruntunglah mereka2 yang telah MENYADARI akan Rahmat Tuhan itu di balik sesuatu.

      Dan benarlah Tuhan itu “ADA” dan ke “ADA” anNya itu tidak berada dalam Ruang dan Waktu. Sesuatu yang ada tentu berada pada tempatnya karena tempat itu meliputi dirinya. Begitu Halnya Allah itu “ADA” dan berada di tempat, tetapi bukan berada dalam ruang dan waktu, melainkan dibalik ruang dan Waktu. Yang di sampaikan oleh saudaraku Alam rasa berada di suatu tempat yang disebut dengan Void, dan saya mengatakan Tuhan itu berada pada Tempat yang tiada bertempat atau istilah Sufi mengatakan berada pada “Maqom Laa Maqom”/Tempat yang tiada bertempat, Maqom yang tiada bermaqom, kedudukan yang tiada berkedudukan. Dimana…”Maqom Laa Maqom” itu tidak bisa dijangkau dengan Akal Fikir. Namun Hati dapat menangkap Sinyal keberadaan Tuhan, tetapi hanya sebatas Keberadaan ILMU-Nya saja, bukan ZAT-Nya. Dan setidaknya dengan Hati, Manusia mendapatkan pegangan Hidup ttng adanya Tuhan yang jauh tiada berjarak dan dekat tiada bersentuhan. Adapun yang di sebut dengan Hati itu bukanlah Hati yang berbenda, melainkan Hati yang tersirat di dalam hati yang berbenda yang disebut dengan Hati “Nurani”/Hati yang bercahaya lagi tertib.

      Dengan terbatasnya Akal fikir maupun Hati untuk menyingkap tabir keberadaan Tuhan dan dimanakah Tuhan sebenarnya berada, maka itulah fitrah yang menunjukkan bahwa Tuhan ada lah Tuhan dan Hamba adalah Hamba, tetapi Sang Hamba itu tiada lain melainkan dari pada Tuhan. Sehingga SIR yang pada Hamba menjadi penghubung dirinya dengan Tuhannya. Ketika sang Hamba diliputi RASA dan KESADARAN Sang “AKU” yang bukan aku Hamba, maka yang ada adalah “AKU” dan lenyaplah “aku”, dan ketika sang “aku” sadar akan kefitrahan dirinya adalah Laa Hawla Wa Laa Quwwata, Maka Sang “AKU” menjadi SIR pada “aku”. Dan tidak terpisahlah….sang “aku” dengan sang “AKU”. Karena Wahuwa Ma’akum Ainama Kuntum (AKU sertamu dimana saja kamu berada).

      Wassalam

      • Alam Rasa said

        Terima Kasih saudaraku Pengembara Jiwa

        Sungguh suatu penjelasan yang sangat mencerahkan bagiku dan mungkin untuk yang lainnya yang ada di Pondok ini.
        Aku sudah cukup lama menunggu-nunggu komentar dari Mas PJ. Semoga Mas PJ dan keluarga dalam keadaan sehat selalu, dan dalam rahmat Allah yang berkelimpahan setiap saat. Amien.

        Perbedaan pendapat adalah rahmat, agar kita dapat memetik pelajaran/hikmah yang bermanfaat bagi kita semua. Dengan demikian, sebenarnya yang ada hanyalah Kasih Allah…Ya Rahman..Ya Rahim…

        Bagaimana mungkin anda tidak CINTA kepada Sang PECINTA sejati?
        Dan ketika menyadari sang PECINTA dan yang di-CINTA-i adalah kesatuan yang tak terpisahkan (dalam hakikat).
        Menyembah hanya menjadi sebuah kata.
        Surga dan neraka juga hanya menjadi dua buah kata.
        Yang ada hanyalah CINTA..
        RASA CINTA…
        Ya Allah, Biarlah RASA CINTA ini semakin kuat di hati kami.
        Nikmat dan Syukur..
        Ya Allah, Bimbinglah kami agar menjadi orang yang pandai beryukur kepada-Mu.
        Amien.

      • ben wae bono said

        Assalamu’alaikum, nderek ngangsu kaweruh…sembahnuwun

  10. omiyan said

    apapun tiu sebutannya semoga kita tetap dalam melaksanakan kewajibannya slalu disarkan atas ikhlas dan keyakinan kepada Allah SWT…serta tanpa perantara dalam bentuk apapun

    semoga Cahaya Islam selalu ada dalam benak kita sebagai umat akhir jaman

    Amin

    • Benar sekali…Saudara Omiyan, apapun sebutannya dan apapun istilah yang digunakan dalam suatu kalimat yang bermakna, semoga bukan itu yang menjadi ukuran tetapi keikhlasan dalam Hidup lah yang akan membawa dirinya kepada Hidayah Allah. Dan ikhlas yang demikian itu adalah dasar dari pada memahami akan Hidayah2 yang turun kepadanya.

      Semoga Nurul Iman lebih menentramkan Jiwa dan dan mengokohkan Hati dalam Tauhidullah dan Ma’rifatullah.

      Aaamiiin.

  11. truthseeker08 said

    Sangat menarik topik yang saudara PJ “persembahkan”… ;)
    Dari topik yang satu ini saya mengharapkan akan berlanjut kepada pencarian hakikat kata lainnya.

    Kembali kepada kata “sembah”, ada beberapa makna (penggunaan) dari kata sembah dan turunannya. Pada beberapa penggunaan ada yang tepat ada yang kurang tepat, ada juga yang salah. Salah satu contoh yang menurut saya salah adalah ketika kita mengartikan iyya kana’ budu wa iyya kanasta’in sebagai: hanya kepada Mu kami menyembah, dan hanya kepada Mu kami meminta/memohon pertolongan. Kata budu lebih tepat diartikan sebagai menghamba. Tidak sedikit memang kata ya’budu diartikan sebagai yang disembah.
    Namun bukan berarti semua kata sembah salah. Gerakan2 shalat kita sebagaimana berdiri dengan hikmad dan tertunduk, ruku’ dan sujud dapat dikategorikan sebagai “menyembah”.
    Sehingga ketika kita bicara tentang shalat, maka kita tidak bisa melihat shalat hanya dalam cara pandang hakikat (yang tentunya tidak ada sosok, ruang dan waktu). Karena dalam shalat pun kita tidak boleh terlepas dari syari’at (berupa gerakan2 dan bacaan2) yang kesemuanya dibatasi oleh ruang dan waktu. Ketika seseorang melihat hanya syari’at, maka semua gerakan kita dalam shalat adalah gerakan2 “penyembahan”.

    Saya harapkan saudara PJ bisa mengembangkan kepada kata2 lain yang saya rasa saya (kami?) masih butuh mengenali hakikatnya lebih jauh, semisal:
    1. Allah Maha Besar; bagaimana kita memaknai besar disini?
    2. Allah Maha Mulia; bagaimana kita memaknai dan memahami hakikat mulia ini?
    3. Allah Maha Tinggi.
    4. dstnya.

    Kata2 tersebut berbeda dengan misalnya Allah Maha Pencipta, Allah Maha Suci, Allah Maha Adil dll yang kita lebih mudah untuk dimaknai.

    Wassalam

    • saudaraku Truthseeker08 yang saya Hormati dan di berkati Allah….

      Yang Mesti kita pahami adalah “Menyembah” itu bukanlah suatu penyembahan atas sesembahan, walau banyak sekali kata2 Sembah dan disembah yang tercantum dalam Al-Qur’an. Dan walau gerakkan dalam Sholat pun mengisyaratkan kepada gerak2an “penyembahan”. Tetapi para Arifbillah memaknai kalimah “Ubudiyyah”(Arab) dan “Penyembahan/Menyembah”(Indonesia), “Mengabdi”(istilah Tarikatnya) itu dengan suatu makna “Menyadari akan ke ESA-an Allah Swt yang tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat)”, yang termanifestaikan dalam Gerakan Sholat itu sebagai Cermin dari pada SIRULLAH/NURULLAH/NUR MUHAMMAD yang berada pada Martabat “WAHDAH”(Tunggal). Dan adapun pada Martabat “WAHDAH”, disitulah Manifestasi dari pada ASMA’/Nama Bathin Muhammad Saw yaitu “AHMAD”, yang tercantum di Kitab Taurat, Zabur dan Injil. Dan gerakkan Sholat itu Manifestasi dari pada ASMA’/Nama “AHMAD” tsb, sebagai…. “Tanda” bahwa : “BENARLAH” ke ESA-an Allah Swt yang tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat)”, adalah HAKIKAT dari pada SIRULLAH/NURULLAH/NUR MUHAMMAD yang berada pada Martabat “WAHDAH”(Tunggal).

      Dalam Gerakkan Sholat, 5 gerakkan adalah Isyarat dari pada “ASMA”/Nama “AHMAD” adalah : Qiyam Isyarat daripada Huruf “Alif”, Ruku’ Isyarat daripada Huruf “Ha”, Sujud Isyarat daripada Huruf “Mim” dan Tahyat Isyarat dari pada Huruf “Dal”.

      Dan keseluruhan dari pada Gerakkan Sholat dimulai dari Qiyam sampai Tahyat, ada 7 Gerakkan. Mengisyaratkan perjalanan Ruh Insan itu terdiri dari 7 Makna Ruh yang berlapis2 yaitu : Qodimullah, Ruh Rahmatan Lil Aalamiin, Ruh Robbanii, Ruh Idzhofii, Ruh Al-Quddus, Ruhaniyyun dan Ruh Jasmani. Dan ke 7 itu sebagai yang tersirat dari pada Surah Al-Fatihah, yang di sebutkan dalam Suatu Hadits Qudsi, “AKU turunkan kepadamu 7 Ayat yang berulang2, 3 bagiKU, 1 antara engkau dan AKU dan 3 lagi adalah bagimu yang AKU Anugrahkan untukmu,
      Yaitu :

      1. Alhamdulillaahirobbil ‘Aaalamiin———-> Qodimullah
      2. Arrohmaanirrohiim————————-> Ruh Rahmatan Lil ‘Aalamiin
      3. Maaliki Yau middiin———————–> Ruh Robbanii
      4. Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nastha’iin—–> Ruh Idzhofii
      5. Ihdinashirootol Mustaqiim—————–> Ruh Al-Quddus
      6. Shirootol Ladziina An’am ta Alaihim——-> Ruhaniyyun
      7. Ghoiril Maghdhuubi ‘Alaihim Waladhoolliin-> Ruh Jasmani
      Aaaamiiin ———————————–> Sirullah wa Amrullah muhituumfil ‘Aalamiin (Rahasia Allah dan Urusan Allah meliputi sekalian Alam).

      1-3—-> Haq Tuhan
      4 —-> Hubungan Antara Hamba dan Tuhan
      5-7—-> Haq yang di Anugrahkan pada Hamba.

      Jadi 3 Haq Tuhan
      dan 1 Hubungan Antara Hamba dan Tuhan
      dan 3 Haq yang di Anugrahkan kepada Hamba
      3,1,3

      Dari situlah…..menjadi Makna bahwa ternyata BENARLAH…”ALLAH AMAT MAHA BESAR” karena Meliputi tiap2 sesuatu, Keserba MeliputanNya tiada bandingan dan tiada yang menyamaiNya. Dan Amat Maha Mulia Allah, karena kesemuanya…..segala sesuatu itu berada dalam “GenggamanNya Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim di dalam keserba meliputanNya(ALLAHU AKBAR)”. Dan dengan itu lah “Sifat Arrohman Arrohiiim Allah di mulai dengan Kalimah “Bismi” (Bismi—-Allah—-Arrohmaan—-Arrohiiim).

      Bismi = Bi Asmaa’ih—–> Dengan Nama “HU”
      Dan Asma berasal dari kata “SAMAA” artinya “Langit”. Dan “Langit” disini adalah I’tibar dari pada sesuatu yang “TINGGI”. Karnanya…Allah itu di kenal dengan ke MAHA TINGGIanNya….

      Kalau dijabarkan Makna dari pada Bismillaahirrohmaanirrohiim itu adalah :



      “Dengan “HU” Yang Maha Tinggi dalam Ismul A’dhzoomKU dan tajalli pada ASMA’ ALLAH yang meliputi Sifat Kasih SayangKU pada tiap2 segala sesuatu”.

      Kalau di simpulkan atau di persempit makna Bismillahirrohmaanirrohiim itu adalah :

      “Dengan AKU(ALLAH) hadir pada tiap2 segala sesuatu meliputi Rahman dan RahimKU Atas tiap2 sesuatu”.

      Kalau disimpulkan dan dipersempit lagi makna Bismillaahrirroohmaanirrohiim itu adalah :

      “Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

      Wallahu A’lam Bishowab…….

  12. Rxan gokil said

    Ikutt… Menyimak ya..

  13. Ganang said

    “………maka mengabdilah kepadaKU dan DIRIKANLAH SHALAT UNTUK MENGINGAT AKU “.(QS. THAAHAA : 14). Tujuan shalat, sesuai ayat ini : untuk mengingat ‘AKU’. Yang jadi masalah : gimana sih shalat sambil mengingat ‘AKU’ atau malah mengingat ‘AKU’ sambil shalat ?(apa ada kata lain dari ‘sambil’ untuk menyatakan dua pekerjaan sekali jalan?). Kita dapat mengingat jika sudah kenal atau tahu atau pernah ketemu, paling tidak ada info tentang yang akan di ingat. Mengingat ‘AKU’ pada posisi shalat…?. Perlu banyak ‘modal’ untuk itu. Latihan yang keras, pengenalan akan ‘AKU’, dan keberadaan mentor mumpuni yang mengalirkan ‘barokah’nya serta’hidayah’ dari sang Pemilik Segalanya. Shalat adalah puncak penyerahan diri kepada sang ‘AKU’. Jika masih ada ‘aku’ maka tak kan pernah ada ‘AKU’.
    bang PJ dan kak MW…. salam damai.

    • Ya..ya..ya…Mas Ganang. Insya Allah…Anda termasuk salah satu diantara Hamba2 Allah yang telah mengenal Kepada-Nya. Oleh Karena itu dengan segala Hormat, saya mengucapkan terimaksih atas pencerahan2 Mas Ganang yang sungguh dalam dan bermakna sekali. Menjadi Pelajaran Khususnya bagi saya Pribadi dan saudara2 yang lain yang ada di Pondok ini.
      Terimakasih sekali lagi.

      Barokah Allah menyertai Anda dan saudara2 semuanya.

      Salam Persaudaraan….

  14. Satmata said

    Duduk ikut jd santri aahhh…!!!

    • Silahkan Mas Satmata, duduklah bersama kita semua yang ada disini. Saya pun sedang duduk di ‘pojok’, mendengarkan segala Pencerahan2 dari saudara2 kita semuanya.

      Salam Santri

  15. Supriyanto said

    Allah Maha Ghaib, tak terjangkau nalar.

    • Hmmm…….Benar Mas Supriyanto, jika di cerna dengan Nalar/Logika/Akal maka Allah itu Maha Ghaib bahkan Ghaibul Ghaib. Dan Hanya Hati Nurani lah…yang tersentuh oleh RASA KESADARAN yang akan mendapatkan Sinyal bahwa Allah itu Ghaib dan juga Nyata. “Hu wal Awwalu wal Akhiru waz Dzhohiru wal Bathinu”/”Dia(Allah) yang Awal tiada bepermulaan dan yang Akhir tiada berkesudahan dan yang Nyata tidak terlihat oleh Mata dan yang Tersembunyi terlihat oleh Nurul Bashiroh.

      Wassalam

  16. aburahat said

    Sembahyang mungkin berasal dari kata sangsekerta SEMBAH dan YANG
    Bagaimana kalau kita tidak menyebut lagi SEMBAHYANG tapi SHALAT? Wasalam

    • Ya…memang benar saudaraku, bahwa dalam Islam yang ada adalah SHOLAT bukan Sembahyang. Tetapi jika sudah di mengerti akan Makna di balik SHOLAT itu, maka tiada jadi masalah dengan kata2 Sembahyang. Semua kembali kepada Pemahaman dan keyakinan dalam memaknai Hakikat Sholat itu.

  17. dwi said

    Alhamdulillah ketemu kebun hikmah lagi….

    suwun…suwun… :)

    • Al-hamdulillahi robbil ‘Aalamiiin… Akhirnya saya pun bertambah saudara lagi, yaitu Anda Mas Dwi. Terima kasih telah berkunjung kemari..dan selamat datang. Semoga Barokah Allah meliputi Anda sekeluarga dan orang2 yang anda cintai.
      Aamiiin.

  18. adi isa said

    penuh hikmah..
    nice article

    still reading.

    • Mas Adi Isa ini bisa aja, bukankah Di Blog Anda pun postingannya penuh dengan Makna dan Hikmah luar biasa…Semoga kita bisa sama2 saling berbagi dan saling mengisi. Dan terlebih utama semakin Erat Tali Silaturrahmi.

      Salam Hormat
      Salam Taklim
      Salam Berkah Allah semoga terlimpah untuk Anda sekeluarga..

      Wassalam

  19. Alam Rasa said

    Ya, penuh hikmah..
    Maknanya kadang berlapis-lapis..
    Seperti yang dijelaskan oleh saudaraku Truthseeker, secara syariat adalah menyembah. Ini dapat juga diartikan memuji atau mengagungkan. Kemudian dari kesadaran akan ke-Agungan-Nya akan timbul kesadaran “Laa Haw Laa Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil Aliyyil ‘Adziim”.
    Kemudian hamba akan berserah diri…hanya kepada-Nya lah tempat bergantung.

    (QS Az Zumar:11)
    Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.
    (QS Az Zumar:12)
    “Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.”

    Melalui penyerahan diri yang seutuhnya, ego dapat ditekan (diminimasi). Hingga Allah berkenan untuk membuka hatinya.

    (QS Az Zumar:22)
    Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?…..

    Kemudian Allah membimbingnya… membawa masuk ke dalam keindahan Cahaya Ma’rifat. Nur ilmu hakikat menjadi terbuka, lapis demi lapis, seperti terbukanya mata air yang mengalir, melahirkan kesadaran demi kesadaran. Termasuk “KESADARAN akan ke ESA an Allah, dan kesadaran bahwa “YA” BENAR!!!!…..Allah Maha Besar dan Meliputi”, seperti yang dijelaskan oleh saudaraku Pengembara Jiwa.

    Semoga Allah selalu membimbing kita semua. Amien

  20. Alam Rasa said

    “………maka mengabdilah kepadaKU dan DIRIKANLAH SHALAT UNTUK MENGINGAT AKU “.(QS. THAAHAA : 14).

    Saudaraku Ganang, perkenankan aku untu menambahkan:
    (QS Ar Raad:28)
    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

    Dengan demikian, Shalat bermanfaat agar hati menjadi tenteram. Bagi orang yang telah Ma’rifat, shalat akan bermanfaat untuk mengingat Allah dalam arti sesungguhnya (karena telah mengenal-Nya). Orang yang telah ma’rifat juga memandang bahwa Shalat bukan suatu kewajiban (karena kewajiban seolah bermakna memberatkan), tetapi justru timbul kesadaran bahwa Shalat adalah kenikmatan. Nikmat mengingat Allah, nikmat karena hati menjadi tentram.

    Bukankah sehabis Shalat, kita juga selalu berdoa. Nah, giliran aku sekarang bertanya “Kenapa bila kita berdoa sehabis shalat, kedua telapak tangan dibuka ke atas? Apakah dengan cara itu kemudian Allah akan memberikan apa yang kita minta dan dijatuhkan dari langit, sehingga telapak tangan kita harus dihadapkan ke atas untuk bersiap-siap..he..he.. Bukan itu, tapi ada makna/hakikatnya, ini juga terkait dengan kenikmatan Shalat.

    Salam Kasih untuk saudaraku Pengembara Jiwa, Ganang, Truthseeker, Aburahat, Adi Isa, dan semuanya yang ada di Pondok ini. Senyum dari hati untuk kalian semua. Semoga Allah selalu membimbing kita semua. Amien.

    • Ganang said

      Bagi orang yang telah ma’rifat, shalat akan bermanfaat untuk mengingat Alah dalam arti sesungguhnya (KARENA TELAH MENGENAL-NYA)… sahabatku mas Alam Rasa.. untuk ma’rifat akan yang di’sholati’ membutuhkan seorang pembimbing, yang akan mengenalkan “SIAPA” sholat dan “SIAPA” yang di ‘SHOLATI’. dan itu semua membutuhkan perjuangan yang keras dan tangguh… salam damai mas…

    • Salam Kasih pula teruntuk :

      @Mas Alam Rasa
      @Mas Ganang
      @Mas Lor Muria
      @KangBoed
      @Mas Akayr
      @Mas Aburahat
      @Mas Asep
      @Dan semua saudara2 yang ada di Pondok PJ ini.
      Barokah Allah dan RosulNya senantiasa meliputi kalian semuanya yang Insya Allah sampai Akhir Hayat menutup Mata. Aaamiiin.

      Sholat adalah Mi’rojnya orang2 Mu’min

  21. lovepassword said

    Tulisan yang keren.

  22. vicky said

    Salam rindu…selalu

    Thanks berat mas…alhamdulillah semakin mantap saja rasanya…

    jadi Kalo ‘Sembahyang’ artinya juga ‘sembah’ yang mana apakah :nafsu kah, iblis kah, tahta kah..etc..

    insya Allah yang benar adalah ‘SHOLAT’ itu kan nama yang diberikan Allah Ta’Ala untuk ibadah rutin dan sunnah umat Rasulullah SAW, kalo ga salah…Insya Allah..

    Wassalam…

    yang merindu….

    • @Vicky

      Ya…Ya..Tegakkanlah/Dirikanlah Sholat dalam Kesadaran akan ke ESA an Allah Swt yang meliputi tiap2 segala sesuatu bahkan juga pada diri Zahir dan Batin.

      Wassalam

  23. sukanto said

    sholat bukan hanya dikerjakan tapi harus didirikan dan ditegakan

    • adi isa said

      benar, namun yang paling utama, adalah dipahami…

    • @Sukanto dan @Adi Isa

      Benar sekali….Tegakkanlah/Dirikanlah Sholat, karena dengan menegakkannya sebagai Bukti dari pada Penyerahan Diri/berserah diri. Dan tentunya….tiada yang dapat menegakkan/mendirikan Sholat selain mereka2 yang telah memahami dan mengerti akan Ilmu Pengetahuan ttng Ma’rifatullah.

      • anto said

        kenapa sebelum shalat harus wudlu, dari telapak tangan dan seterusnya apa hakikat dari itu semua. Dari anak kecil sampai orang dewasa sama, apa yang membedakan antara orang dewasa dan anak kecil klo belum bisa mengerjakan. Dari wudlu aja sudah banyak pelajaran yang harus terus kita kaji.

  24. aburahat said

    @Sukanto
    Benar mas. Jadi bagaimana mereka yang menterjemahkan Shalat dengan SEMBAHYANG

    • adi isa said

      its oke,..
      bukankah tuhanmu lebih mengetahui isi hati

    • @Aburahat dan @Sukanto serta @Adi Isa

      jika Makna Sembahyang telah di mengerti dengan Makna SHOLAT yang sebenarnya yaitu Menyadari akan ke ESA an Allah Ta’ala yang meliputi tiap2 sesuatu maka tiada masalah dengan sebutan “Sembahyang”. Tetapi tentunya….terlebih baik dengan mengucapkan “Sholat” dari pada “Sembahyang” jika telah mengetahuinya. Maknailah sesuatu itu dengan yang lebih baik…..

      Wassalam

  25. asep said

    Assalamu’alaikum…

    Sembahyang kalau menurut asal katanya adalah dari bahasa Sansekerta; sembah dan hyang. Sembah artinya menyerahkan diri dan hyang artinya yg tidak kelihatan (ghaib). Kalau digabungkan berarti menyerahkan diri kepada yg ghaib. Jadi bagaimana presepsi kita sebagai seorang Muslim untuk menyikapi perbedaan bahasa tsb.

    Wassalamua’alaikum…

  26. Ratu Adil Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu said

    yang penting Tuhan harus ada di hati, ok.

  27. KangBoed said

    SUDAHKAH ALLAH MENJADI RAJA DALAM DIRI KITA.. SEHINGGA SETIAP LANGKAH KITA ADALAH LILLAHI TA’ALA.. KITA MENCINTAI SEMUANYA KARENA KITA MENCINTAI ALLAH.. KITA BEKERJA KARENA MEMEGANG TANGGUNG JAWAB BESAR KEPADA ALLAH.. SETIAP LANGKAH KITA MENYADARI KEHADIRANNYA YANG SELALU MELIPUTI DAN MENGAWASI SETIAP LANGKAH KITA.. SUBHANALLAAAAAAAH.. ITULAH SEBENAR BENARNYA IBADAH SEJATI… JADIKANLAH ALLAH MENJADI RAJA DALAM DIRI..
    SALAM SAYANG
    SALAM RINDU MBAH PJ DAN MBAK YU NEE

  28. asep said

    @All

    Kalau dalam istilah Tasawuf shalat adalah untuk mengenal Allah swt (Ma’rifatullah) seperti bunyi ayat: “…………………… maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”(QS : Thaahaa,14)

    Ini berarti bahwa shalat adalah penggabungan dari maqam; Syari’at, Tharikat dan Hakikat. Dengan istilah lain bahwa sesungguhnya shalat itu adalah pelayanan (khidmah), kedekatan (qurbah) dan kehadiran (wuslah).

    Pelayanan adalah Syari’at, kedekatan adalah Tharikat dan kehadiran adalah Hakikat. Seperti penjelasan yg lalu bahwa seorang Muslim secara sadar maupun tidak sadar, apabila telah melaksanakan maqam Syari’at, maka secara otomatis dia sudah melakukan maqam Tharikat dan Hakikat. Hal ini bisa dilihat dari penjelasan tentang shalat yg merupakan penggabungan dari maqam Ma’rifatullah diantara maqam; Syari’at, Tharikat dan Hakikat.

    Wassalamu’alaikum…

    • vicky said

      @kang Asep
      Setuju sekali…Salam persahabatan selalu, semoga kang asep selalu dalam limpahan cinta dan Ridho-Nya semata…amien..
      hidup itu kan ya untuk sholat dan sholat selama bumi Allah berputar…

  29. Satmata said

    Puji Qodim Puji Muhadats

  30. lor Muria said

    Ketika diri dalam liputanNYA, apalah artinya sembah menyembah…
    Apalah artinya penyarahan diri….
    Diri hanyalah Laahaula walaaquwwata illabillah dengan sebenar-benarnya.
    diri hanya mengerjakan apa yang harus dikerjakan.
    Tak ada yang “disembah” karena tak ada sosok yang disembah..
    DIA tidak butuk disembah, tetapi untuk “diingat”, diingat dengan CINTA, CINTA diatas CINTA sehingga….
    Diri dalam kesadaran, kesadaran akan kehadiranNYa yang selalu meliputi dan mengawasi setiap tindakan kita.
    Jadikan DIA “Imam” bagi kita
    Innanii annallaha laailaaha illa anta….
    Salam rindu
    salam sayang
    Salam sejati mBah PJ dan keluarga

  31. m4stono said

    ya sebenarnya cuman istilah saja…karena bahsa jawa tidak ada kata sujud, sujud itu bahasa arab, apapun istilahnya yg penting hati kita tetap sujud kepdaNya

  32. Gama said

    Supriyanto berkata
    Juli 4, 2009 pada 8:43 am
    Allah Maha Ghaib, tak terjangkau nalar.

    Tapi…….. bagi sebagian orang adalah ” NYATA “.

    Sembah Hyang……
    Siapa yang disembah, dan Siapa yang menyembah ???????????

  33. Ryan gokil said

    Salam kenal salam sayang untuk mas Pj @kang asef @aburahat @hinakelana dll…Dan semua penghuni blog ini.Kutunggu pencerahan selanjutnya,hamba yg bodoh ini dak berani kasih komentar karna masih dlm tahap pencarian takut salah. Salam kenal….

  34. Ryan gokil said

    Askum…Buat tmn2 penghuni pondok pengembara jiwa @mas PJ Klo boleh ak mohon pencerahan gimana cara sholat kusyuk atau MERASAKAN NIKMATNYA SHOLAT sbb hamba yg bodoh ini masih bingung gmn to sholat kusyuk itu? Sebelum n sesudahnya mohon maaf bila ada yg tdk berkenan dihati. Emailku>ryan.gokil@gmail.com wasalam.,..

    • adi isa said

      gimana nih mas PJ?
      kalau menurut adi, sholat khusu’ itu bukan dilihat dari diemnya atau pusatnya pemikiran dalam sholat, tapi lebih kepada
      berfungsinya semua indera kita saat sholat, karena itu semua harus dipahami bahwa takan ada upaya dan daya bagi kita manusia untuk mendirikan sholat, jika bukan karena kuasa Allah.

    • vicky said

      @Ryangokil..
      Salam kenal penuh cinta untuk Ryan..Semoga selallu dalam Pelukan-Nya semata..amieen..

      Saya ingin membantu Ryan,..tolong sahabat2 yang lain dibantu saudara kita..ini..

      Kalau yang saya praktekan dalam sholat hanya bisa sebatas ini > Mata harus fokus pada satu titik disejadah …usahakan telinga mendengakan bacaan yang kita baca, lalu hati memahami artinya (dalam Bahasa Indonesia)..pusatkan kosentrasi akal pada hati/qalbu..Insya Allah

      Wasalam

      yang merindu…

    • zal said

      Mas Ryan Gokil, benar Mas, kalau shalat memasuki fana, maka menjadi gak jelas lagi apa ini khusuk, padahal sudah tak ada lagi apa itu bacaan, ingatan, atau kesadaran, jika masih terdengar bacaan, nyemmbah kemana..? bacaan..?…lalu shalat itu apa…??, lalu khusu’ itu apa pula…?, keknya mulai merenungi shalat itu apa..? dengan menghimpun segala pengetahuan yang sudah diberikanNYA…lebih membantu ketimbang bertanya.., sebab ada rezeki uniq yang diberikan pada tiap-tiap kita dan setelah itu temukanlah persamaan-persamaan…

    • @All……

      Silahkan untuk saudara2ku yang lain, untuk memberikan pencerahan2 ttng Sholat khusyuk agar saudara kita “Ryan..G” dapat memahami dan mengapliaksikannya…

      Atas Perhatian saudara2ku semuanya saya ucapkan Terima kasih

      Wassalam

    • rahmat said

      yg saya pahami sekarang ini sholat itu artinya mengingat(ALLAH),dan barang siapa yang mengingat ALLAH dalm artian menjalan perintah dan menjauhi larangannya dikesehariannya.
      mungkin itulah yang dimaksud sholat yg khusyuk,semoga saya tdk salah mngartikannya.
      kebenaran itu datangnyya dari kekhilafan dan kesalahan datangnya dari manusia.

    • Yandi said

      Ass, salam buat semua, menurut pengetahuan Allah yang diberikan kepada saya, secara gamblangnya sholat adalah bersatunya antara Allah & Muhammad, sebab kalau bercerai antara keduanya maka hancurlah dunia & akhirat, mohon maaf jikalau kata-kata demikian kurang dimengerti, semoga Allah memberi petunjuk-Nya

  35. itempoeti said

    mengabdi…
    menyembah…

    bukan itu sesungguhnya…
    tapi kesadaran dibalik itu yang lebih penting…

    ketika bersahadat, siapa yang bersaksi? apa yang dipersaksikan?
    ketika bersholat, siapa sesungguhnya yang sholat? kepada siapa bersholat?

    ada syari’atnya syari’at…
    ada hakikatnya sya’riat…
    ada syari’atnya hakikat…
    ada hakikatnya hakitat…

    • truthseeker08 said

      mengabdi…
      menyembah…

      Syari’at?

      bukan itu sesungguhnya…
      tapi kesadaran dibalik itu yang lebih penting…

      Hakikat?

      ketika bersahadat, siapa yang bersaksi? apa yang dipersaksikan?
      ketika bersholat, siapa sesungguhnya yang sholat? kepada siapa bersholat?

      Hakikat?

      Bisa dibantu penjelasan lebih lanjut?

      Wassalam

    • @Itempoeti

      Selamat Datang Mas…di Pondok Ini, silahkan Mas untuk melanjutkan Pencerahan2 yang sangat bermakna itu. Kami semua akan menyimak dengan seksama.

      Atas Perhatiannya saya ucapkan Terimakasih..

      Salam Persahabatan
      Salam Persaudaraan
      Wassalam

    • itempoeti said

      maaf…, baru berkunjung lagi…
      komentar mas Alam Rasa dibawah ini rasanya sudah menjelaskan apa yang saya maksud…

      rahayu… rahayu… rahayu…
      hong wilaheng, awignam asthu…..

  36. yang-kung said

    yang paling penting dalam doa adalah ungkapan kasih yang tulus kepada Allah,bukan kata2 atau ide2 yang indah.Doa sebagai ungkpan kasih menjadi doa pujian,syukur,tobat,penyerahan diri dan permohonan.

    hidup bersama dalam klg/komunitas-dapat saling meningkatkan mutu hidup dan membangkitkan gairah,bila dimaknai sbg kesempatan untuk saling “asih-asah-asuh” dengan hidup penuh perhatian,pengertian dan pengampunan.Bagaimana menyembah Allah itu……..????nyumanggakaken panjenegan sami….

    salam rahayu.

    • @Yang-kung

      Do’a yang tulus adalah Do’a sang Pecinta dengan Rasa dan Kesadaran Cinta kepada yang di cintai, tentunya tiada harapan yang di dasari ke EGO an diri. Melainkan hanyalah ingin selalu serta dengan yang di Cintai sampai kapanpun juga. Dan Kemudian teraplikasi Cinta itu dalam Kehidupan sehari-hari dengan saling kasih mengasihi satu dengan yang lain, saling “Asah-Asih-Asuh”, menebarkan Rahmat kepada siapa saja dikarenakan telah dipandangnya akan sesuatu bahwa Allah meliputi akan sesuatu itu.

      Salam Kenal dari pengembara untuk Mbah Yang-kung yang saya hormati,
      Salam Taklim
      Salam Persahabatan

      Wassalam

  37. [...] diri menayangkan syair tersebut menjadi postingan dengan judul Syair Pengembara Jiwa… semoga mas Pengembara Jiwa berkenan yaaaaa.. jangan maraaaaah yaaaa.. hehehe.. inilah komentarnya.. maaf dikasih judul yaaa [...]

  38. Alam Rasa said

    Dalam aku ada AKU
    Dalam AKU ada aku

  39. Gama said

    Alam Rasa berkata
    Juli 7, 2009 pada 5:26 am
    Dalam aku ada AKU
    Dalam AKU ada aku

    => Betul…..bagi yg sudah bersaksi!
    Wassalam,

  40. kinan said

    Perkenankan aku yang bodoh ini selalu bertanya.

    Kenapa dalam shalat kita ruku dan bersujud ? Persis sama juga dengan orang budha yang menyembah patung sang budha.

    Mohon maaf, bila kiranya pertanyaan aku yang bodoh dan selalu bodoh berhadapan dengan Sang Khalik yang Maha Mengetahui.

    • @Kinan

      Selamat datang di Pondok PJ ini, dan semoga NurNya menyinari Qolbu.

      Saudara Kinan yang di rahmati Allah, sesungguhnya Gerakan2 dalam Sholat bukanlah Gerakkan Menyembah seperti halnya seseorang yang menyembah “sesuatu”. Melainkan Gerakkan Sholat itu adalah Pengabdian tertinggi dalam Asma’ Nur-Nya yang bernama “AHMAD”, sebagai cermin dari pada CINTA ALLAH kepada HambaNya.

      Jadi sudah menjadi ketetapan dalam Sholat itu ada Ruku’ dan Sujud, sebagai lambang dari pada Sifat Tawadhu’ dan Sifat Tawakkal kepada Allah.

      Semoga Berkah Allah meliputi saudara Kinan.

      Wassalam

  41. mujahidahwanita said

    Mas PJ terkasih mohon penjelasannya….

    kalau sholat itu merupakan huruf

    Alif : Berdiri, kebaktiannya api bermakam pada awal “mim” awal yaitu kepala, takluknya kepada sifat kof,dal,jal,alif,ta.

    Lam : Ruku kebaktiannya air bermakam pada “ha” yaitu dada, takluknya kepada sifat lam alif, zal, alif, dal, alif, ta.

    Lam : Sujud, kebaktiannya angin bermakam pada mim akhir yaitu pinggul, takluknya pada sifat Ilmu.

    Ha : Tahyat, kebaktiannya tanah bermakam pada dal yaitu kaki, takluknya pada sifat hayat.

    Mohon di koreksi mas PJ terkasih apabila ada penulisan yg salah dan saya mohon pencerahannya….

    Salam di dalam Cinta dan kasih sayang Allah untuk mu dan pengujung setia pondok ini….

  42. kanto said

    bagaimana shalat bisa khusu`& bisa selalu mengingat Allah kalo masih mengingat-ingat rekaat,masih mengingat bacaan kalo-kalo bacaan salah

  43. lintang said

    ass…warr..wb..
    salam kenal mas pj,perkenan kan lintang yang awam ini mampir di warung anda,semoga menambah iman semakin mengenal allah…
    salam kenal buat kang boet dan lain komentar menyntuh hati semoga manfaat…amin

    • @Lintang

      Wa’alaikum salam wr,wb

      Salam Kenal kembali Mas Lintang. Semoga Barokah Allah meliputi akan Qolb’, dalam mencerna segala Ilmu yang ada di Pondok ini dan semoga di tetapkan dalam Iman dan Islam Indallah yang berlandaskan Tauhidullah dan Ma’rifatullah.

      Silahkan singgah di Pondok ini apabila Anda sedang dalam Perjalanan, semoga Istirahat Anda tidak sia2 dengan tersedianya MENU ILMU yang ada di Pondok ini dan semoga di dalamnya terdapat Hikmah baik bagi diri Anda, Saya Pribadi dan Kita semua.

      Wassalam

  44. Ganang said

    Sahabat(s)… RUARRR BIASA…. melambung naik menembus batas syari’at. Awas kebablasan lho… ntar salah ‘adab’ kepada ilmu dan Guru…

    • itempoeti said

      niat yang akan meluruskan…

    • Berserah dirilah kepada Allah dengan sebenar2nya penyerahan diri yang di dasari dengan Ma’rifatullah maka Niscaya Allah akan memelihara.

      Wa Man Yattawakkal Alal Hayyilladzii Laa Yamuut (Berserah dirilah kepada Yang Hidup yang tiada mati)

      Ma Man Yattawakkal Alallaah Fa Huwa Hasbuh (Dan barang siapa yang berserah diri kepada Allah, niscaya Allah akan menjamin)

  45. Harunyahya said

    Alhamdulillah.. Akhirnya artikel baru muncul jugaa.. setelah sekian lama menunggu, tak sabar lagi rasanya menanti artikel2 baru dari pak PJ yg terhormat, setiap kali membaca artikel2 na pak PJ… baik lama maupun baru selalu membuat ‘taste’ tersendiri buat kami..terimakasih..terimakasihhh pak PJ

    lanjutkan..:)

    salam hormat, salam taklim…dari jauh

  46. salam ukhuwah,banyak sekali saranan yg bagus2 ,bagi saya orang melayu ..yg maksud menyembah itu ada lah persembahan….biasa nya klau orang buat sesuatu lagu kah atau yg seni2 gitu ,sudah tentu mereka akan mempersembahkan bakat2 nya,dan jikalau solat itu di katakan sembah itu ada lah yg di persembahkan konsep memuji2 Allah dgn kalimah2 nya…jika saya slah minta di maafkan.

  47. pusing said

    asalamualaikum
    salam hormatku bwt pak pj semoga kebahagiaan slu menyertai bapak keluarga dan penghuni pondok ini.amin
    hem.. menyembah Alloh suatu kesalahan..!!
    bagaimana dengan beribadah pada Alloh..??
    hem..iya yah buat apa sih manusia menyembah Tuhan toh Tuhan ga membutuhkannya..??
    hem…untuk apa sih manusia beribadah pada Tuhan toh ga da yang masuk surgaNya karna ibadahnya..??
    mendingan pd bersyukur aja.. tp manusia cuma sedikit dalam bersyukur..payah…?
    bagaimana bisa mendapatkan ampunan ridho dan karuniaNya..??
    mohon pencerahannya…??
    wasalammualaikum

  48. hitam said

    Salam kenal,
    Blog bagus,sbh usaha utk melawan arus kebiasaan yg blm tentu benar.Kalam Allah perlu dimaknai lebih teliti dan usaha kerja keras.Dia tidak bisa dimisalkan dgn sesuatu apapun…..
    إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً
    [4:48] Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

    • pengembarajiwa said

      @HarunYahya

      Salam Taklim
      Salam Berkah Allah senantiasa untukmu sekeluarga Sahabatku…dalam Cinta Kasih Sayang Allah tentunya.

      @Rohaya Mohd Shah

      Salam Ukhuwah kembali saudaraku….Allah memberkati dirimu sekeluraga

      Menyembah jika di maknai dengan Puji2an Kepada Allah karena di dasari Ingat akan Allah, sangat baik sekali saudaraku. Dan teruskanlah……

      Rosulullah Saw bersabda : “Man Ahabba Syai’an Kadzuro Dzikruhu”(Siapa yang CINTA akan sesuatu, pasti sering menyebut2nya/memuji2nya dan mengingat2nya).

      Wassalam

      @Pusing

      Wa’alaikum salam Wr,Wb…..

      Salam kembali Saudaraku “Pusing”, Semoga pencerahan2 dari saudara2 kita yang lain yang ada di Pondok PJ ini dapat membuka pemahaman yang ada pada diri Anda, khususnya juga bagi saya pribadi.

      Saudaraku……
      Tetaplah beribadah kepada Allah dalam Sholat, akan tetapi tanamkan pada diri bahwa Ibadah yang dilakukan itu sebagai salah satu sarana/jalan dalam Mensyukuri akan Nikmat2 Allah yang senantiasa meliputi diri setiap waktunya. Sehingga memberikan pengertian pada kita, bahwa dengan Mensyukuri akan Nikmat Allah itu adalah yang lebih utama dari pada persembahan/pemberian kita kepada Allah. Karena Anugrah Allah dalam Rahmat Karunia NikmatNya tidak bisa di bandingkan dengan apa yang kita persembahkan kepadaNya.

      Satu Biji Mata adalah Karunia Nikmat Allah atas Insan, begitupun apa saja yang ada pada diri Zahir dan Bathin semuanya adalah Karunia Nikmat Allah. Jika Satu Biji Mata di timbang dengan Amal Ibadah 70 tahun lamanya yang di persembahkan kepada Allah, maka Niscaya masih terberat Satu Biji Mata itu ketimbang Amal Ibadah 70 tahun lamanaya yang di persembhkan tadi.

      Karenanya Bersyukur adalah Pintu Ridho Allah dan pembuka KaruniaNya.
      “Barang Siapa yang bersyukur kepada Allah, maka akan di tambah NikmatNya yang lain. Barang siapa yang ingkar akan Nikmat Allah, maka sesungguhnya Adzab yang pedih akan datang kepadamu(kegelisahan, kebimbangan, ketakutan, putus asa dll…dll…dll)”.

      Semoga bermanfa’at….
      Wassalam

      @Hitam

      Salam Kenal kembali..saudaraku Hitam. Selamat Datang di Pondok PJ ini, semoga Anda berkenan untuk berbagi Ilmu kepada kami2 semuanya…,

      Sebelumnya saya ucapkan Terimakasih dan salam Hormat untuk Anda.

      Wassalam

  49. Alam Rasa said

    Tak apalah bila salah-salah dikit, karena kita semuanya ini pada hakikatnya masih dalam Tahap BELAJAR. Sepanjang kita semua masih punya semangat untuk BELAJAR UNTUK DAPAT LEBIH MENGENAL-NYA, Insya Allah, kesalahan kita akan diampuni, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Sesungguhnya murka Allah, adalah kepada orang-orang yang sombong merasa dirinya paling pandai, paling benar, tidak mau mendengarkan perkataan orang lain, dan tidak mau BELAJAR untuk lebih Mengenal-Nya. Kepada orang seperti ini, Allah akan menutup dan mengunci mati HATI-nya, seperti yang dinyatakan dalam banyak ayat-ayat dalam Al Qur’an. Diantaranya:

    (QS Al Mu’min: 35):
    (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang

    (QS Ar-Ruum : 59)
    Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami.

    Dan bila Allah telah mengunci mati Hati-nya, maka sungguh dia akan menjadi orang yang merugi, seperti dinyatakan dalam:

    (QS Al A’Raaf: 179)
    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

    (QS Al Baqarah:7)
    Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

    Demikian, semoga kita semua dijauhi dari kesombongan. Amien.

    • lor Muria said

      Subhanallah
      Hehehe…apa ada yang sombong yaa di forum ini??
      semoga kita baik2 aja sama-sama belajar, saling asah asuh, saling mengisi kekurangan kita masing2. saling mengumpulkan pecahan kaca yang bertebaran dalam diri masing2.
      Salam Sayang dan Kasih dalam RAhmatNYA

    • Alam Rasa said

      Subhanallah…saudaraku Lor Muria

      Aku hanya sekedar mengingatkan saja agar kita waspada, dan tidak bermaksud menuduh.
      Karena syaiton paling suka mengganggu orang-orang yang belajar di jalan Allah.
      Ketika kita mulai tertarik untuk belajar, dia membisikkan keraguan pada diri kita, bahwa mempelajari Ma’rifat adalah kesia-siaan.
      Kemudian ketika kita sudah mulai belajar, dia mulai mengganggu dengan kemalasan dan kebosanan.
      Ketika kita sudah mulai pandai, dia membisikkan kesombongan dan rasa ingin menonjolkan diri, sehingga kita cenderung merasa paling benar dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.

      Aku ingin menggarisbawahi ayat ini: (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Sekali lagi “tanpa alasan yang sampai kepada mereka”. Pertanyaannya siapa yang menyampaikan? Kata si A atau kata si B, kata Ulama ini atau kata Ulama itu. Bukan itu maksudnya. Cobalah teliti kalimatnya!!

      Demikianlah, aku sekedar mengingatkan agar kita selalu waspada dan memurnikan hati kita dari sifat sombong, rasa ingin menonjolkan diri, iri, dengki, dan emosi negatif lainnya. Marilah kita sama-sama belajar, saling asih asah asuh, seperti yang disampaikan oleh saudaraku Lor Muria.

      Mas PJ, kami menunggu petuahnya. Kok blognya dicuekin aje!! Jadi sepi nih.
      Semoga Mas PJ dan keluarga dalam keadaan sehat selalu, dalam rahmat Allah yang berkelimpahan setiap saat. Amien.

    • @Alam Rasa & @Lor Muria

      Saya sangat setuju sekali dengan uraian Anda Saudaraku, bahkan saya pun juga belajar dengan Anda dari apa2 yang anda tulis dalam Koment2 di Pondok ini. Terimakasih saudaraku…

      Allah Memberkati Anda berdua dalam CINTA Kasih SayangNya…. Aaamiiin.

      @Itempoeti

      Silahkan Mas, ditunggu lhooo…. pencerahan2nya.

      Lanjutkan…..!!!!!
      Dengan tidak mengurangi rasa Hormat dan Terimakasihku padamu.

      Wassalam

    • Deva said

      wah Tuhan Yang mana yang suka murka kok sama dengan aku saya yang masih suka marah
      Tuhan bagiku nak pernah murka atau menyiksa, begitulah kalau tuhan sudah dibahasakan oleh manusia………….carilah dengan diam dan diam

  50. mujahidahwanita said

    Orang yg berma’rifat kepada Allah, ujian terberatnya bukan karena Iblis atau syaitan melainkan ujian terberatnya adalah kedirian, akal/fikir.

    • lor Muria said

      Nambahin sedikit mbak Mujahidahwanita…..
      ……….ilmunya, ilmu yang dimiliki, Ma’rifat yang dimiliki, semakin tinggi ilmu yang dimiliki semakin merasa diri ini mempunyai, mempunyai kelebihan, mempunyai kepandaian, mempunyai kebisaan, mempunyai KeMa’rifatan. Padahal itu semua bisa menjadi hijab bagi diri ini. Yang diminta SANG Robbul Izzat adalah PENYERAHAN DIRI dalam LAAHAULA WALAAQUWWATA ILLABILLAH…dan Kesadaran akan Liputan RahmatNYA pada diri ini….sehingga yang ada adalah Qodrat dan IrodatNYA semata.
      Salam kasih dalam RahmatNYA
      SAlam sayang dalam CintaNYA
      Salam rindu untuk berjumpa denganNYA

    • Alam Rasa said

      Salam Kasih saudaraku Mujahid Wanita.

      Anda benar!! maksudku syaitan itu yang ada dalam diri, yaitu ego kita atau emosi negatif, atau kedirian atau akal/fikir.

      Demikian juga yang disampaikan oleh saudaraku Lor Muria, karena ego ini akan menghijab atau menutup hati seperti yang dinyatakan pada QS: Al Mu’min 35 da QS: Ar Ruum 59. PENYERAHAN DIRI dalam LAAHAULA WALAAQUWWATA ILLABILLAH… Kesadaran akan Liputan RahmatNYA pada diri, dan “KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt yang meliputi, akan menghadirkan kesadaran KECINTAAN pada sesama mahluk. Dan dengan ini Insya Allah, ego kita dapat dikendalikan.

      Semoga kita semua selalu dalam bimbingan-Nya. Amien.

    • itempoeti said

      tubuh menjadi penjara ma’rifat.., pintunya di akal fikir…
      seperti yang anda sendiri jelaskan dalam hakikat shalat…

    • @MujahidahWanita

      Benar sekali…., bahkan dengan KEDIRIAN itulah sebagai sarana/jalan bagi Iblis untuk lebih leluasa mendekati Insan untuk menggoda agar menyimpang dari Jalan yang Lurus.

      Semoga Allah Swt memelihara kita semuanya dari ke-DIRI-an yang ada, dan dimasukkan dalam CINTA Kasih SayangNya. Aaamiiin…Yaa..Robbal ‘Aaalamiiin.

      @Lor Muria

      Setuju Mas Muria dengan apa yang sudah anda paparkan.

      Salam Taklim
      Salam Berkah Allah dalam Cinta kasih SayangNya.

      @Itempoeti

      Sayapun Manut mas…….

      @Alam Rasa

      Terimakasih saudaraku atas tambahan pencerahannya….

      Allah mengenal Kalian semua sebagaimana kalian layak untuk dikenalNya.

  51. ampuni said

    mas Alam Rasa sangat benar, harus tetap eling lan waspada,
    begitu yg saya alami mulai malas dan bosan. alhamdulillah diingatkan mas AR, maturnuwun . LANJUTKAN ….!!!

    sALAM nI’MAT DAN nYAMAN

    • Alam Rasa said

      Semua adalah Rahmat Allah SWT. Salam Kasih untuk saudaraku Ampuni.

    • @Ampuni

      Ya…ya..ya…, tetaplah Eling lan Waspada.

      Allah senantiasa memberkati Anda sekeluarga, dan salamku untuk Pak Iyan ya…???

      Semoga ada langkah untuk bertemu kembali di Jakarta.

      Wassalam

      @Alam Rasa

      Ya…Ya…Ya… Rahmat Allah senantiasa mengalir dalam Kehidupan ini di setiap waktu. Salam Cinta Kasih untuk semuanya.

    • Cah Angon said

      Salam Kenal
      ngapunten nambahin sakedhik……

      OJO DUMEH ELING LAN WASPODO

  52. tigaw said

    maksih buat kangboad yang mengirimkan aku ke pengembara jiwa. benarkah mas dari balikapan? bisakah saya tahu alamatnya. soalnya saya juga dari balikpapan. terus terang artikel mas tentang menyembah itu salah benar adanya… dan mas begitu gamblang dan terbuka menjawab sesuatu yang sebenarnya rahasia. semoga Allah selalu memberikan rahmat yang begitu besar kepada mas. salam kenal selalu dari kami sekelurga. mohon diemail tau dibalas coment saya ya mas. maksih banyak

    • mujahidahwanita said

      Semoga saja dgn Qodrat dan Iradat Allah anda dapat di pertemukan dgn mas PJ. Amin ya rabbal alamin.

      • novalisiris said

        Semoga saja dengan Qudrat dan Iradat Allah saya diijinkan memahami diskusi di padepokan ini.
        Boleh saya minta alamat email Mujahidahwanita?

    • @Tigaw

      Salam Kenal Mas Tigaw yang di rahmati Allah Swt. Selamat datang ku ucapkan kepada Anda di Pondok PJ ini.

      Benar sekali mas, saya tinggal di Balikpapan. Dan Insya Allah Alamat akan saya kirim ke Email Anda ya….???

      Allah lah yang memberkati kita semua sehingga di mudahkannya dalam memahami Ilmu Allah yang sungguh sungguh Amat Maha Luas ini. Dan tidaklah apa2 yang sampai kepada kita melainkan tidak lebih dari satu tetes Ilmu dari Ilmu Allah Ta’ala yang Maha Luas. Dan semua Karena Anugrah Allah Semata.

      Wassalam

      @MujahidahWanita

      Ya..ya..ya..semuanya dengan Qudrat IradatNya semata.

      @Novalisiris

      SElamat Datang di Pondok PJ ini, semoga Ada secercah Hikmah yang dapat di pahami. Silahkan sering2 mampir agar hilang rasa Haus dan dahaga dengan Qudrat Iradat Allah tentunya.

      Salam Kenal
      Salam Taklim

      Wassalam

  53. SIN said

    Kesambar petir lagi

    Somoga Allah swt merahmati kita semua Aminn ,,,
    Salam rindu untuk Bapak dan mbaknya.. dan sumuanya yang ada di pondok PJ ini, kangboedku sayang hehehe lama tak jumpa kangen juga yaaa rasanya…

    “Salam damai didalam ketenangan jiwa”

    Salam sejati.

    • mujahidahwanita said

      Hmmm…. jadi sekarang bkn hidup semakin hidup lagi nih, hidup semakin hidup udah lebur ke dlm SIN

    • @SIN

      Hmmm…..”PETIR MENYAMBAR PELEBUR DIRI” ya……..

      Semoga Allah memberkati Anda dan siapa pun yang Anda Cintai dan Kasihi.

      Salam Damai dengan penuh Rahmat dalam Anugrah Allah.

      Salam Sejati
      Wassalam

      @MujahidahWanita

      Ya..ya..ya..ya.., Lebur dalam SIN sebagai Cermin dari pada Nur Muhammad Saw. :wink:

      • harry sjaharia said

        sebenar saya mau membahas tentang suatu yang lebih dalam dalam lautan ma’rifat.ada di antara saudara yang pernah merasakan hawa ma’rifat.wasslam

  54. aburahat said

    @Pusing

    Saya jadi ikut pusing. Allah Maha Kaya. Ia tidak membutuhkan apa2 dari kita.
    Ibadah tidak juga Allah butuhkan. Jadi apa ya yang Allah butuhkan dari kita? Wasalam

    • Sulthan said

      hemmmm semua yang ada ini adalah milik dari Tuhan atau Bukti dan Saksi adanya Tuhan… dan bisa dikatakan Tuhan tidak memerlukan apa-apa lagi, tidak dipujipun Tuhan akan tetap Mulia… lalu kiranya kalau tidak ada Hamba atau Mahluk… apakah Tuhan bernamakan Tuhan… (saya suka ngaji disini, salam buat saudaraku semua)

    • lor Muria said

      Allah memuji dirinya melalui hambanya……..bersambung..

    • Alam Rasa said

      Salam Kasih

      @ Pusing
      @ Aburahat
      @ Sulthan

      Dalam hal ini kita perlu mengkaji secara lebih dalam tentang apa hakikat dari penciptaan. Memang benar Allah tidak butuh apa-apa. Lalu kenapa Dia menciptakan seluruh Alam Semesta dan Keberadaan ini? Itulah Kehendak-Nya, untuk menunjukkan QUDRAT dan IRADAT-nya.

      Untuk itu, terdapat 2 (dua) paradigma, pertama: Yang Baik berasal dari Allah sedangkan yang Buruk berasal dari diri sendiri, kedua: Baik dan Buruk berasal dari Allah.

      Paradigma kedua mengatakan baik dan buruk berasal dari Allah. Oleh karena itu, kita cukup besyukur saja, karena segala sesuatu telah sempurna dan berjalan sesuai kehendak-Nya. Hidup mengalir mengikuti siklus hidup yang ada. Namun permasalahannya adalah, apakah kita dapat memetik pelajaran dari semua itu? Apakah kita paham dan mengerti hakikat dari semua itu?

      PELAJARAN itulah tujuan dari penciptaan. Untuk siapa? Untuk mahluk atau hamba (hakikatnya utuk Roh atau Diri Sejati kita). Belajar Apa? Pada hakikatnya adalah belajar untuk mengenal Sang Pencipta, dan kembali kepada Sang Pencipta atau INNALILLAHI WA INNAILLAIHI ROJI’UN (hakikatnya yang kembali adalah Roh kita).

      Sebelum kita lahir, Roh kita dipersaksikan di hadapan Tuhan, dan dibuat ketetapan-ketetapan yang harus kita lalui, dan peristiwa-peristiwa yang harus kita hadapi, yang disebut juga TAKDIR atau kodrat manusia. Peristiwa-peristiwa khusus yang harus dihadapi ini biasanya terkait dengan PELAJARAN YANG HARUS DITEMPUH. CARA KITA BERINTERAKSI dengan peristiwa-peristiwa tersebutlah yang memperlihatkan seberapa jauh kita telah belajar.

      Dengan demikian, sebenarnya DRAMA KEHIDUPAN INI ADALAH GABUNGAN DARI TAKDIR DAN INTERAKSI DARI MANUSIA SENDIRI. Dalam hal ini, TAKDIR bertindak sebagai pemicu.

      Oleh karena itu, aku meyakini paradigma yang pertama, bahwa yang Baik berasal dari Allah, yang Buruk dari diri sendiri (manusia). Demikian, semoga penjelasan ini dapat bermanfaat.

      Wassalam

      • asep said

        @Alam Rasa

        Sungguh suatu penjelasan yg sangat berharga. Alhamdulillah… :)

      • vickyv said

        Salam cinta..
        Sebuah pencerahan sejati..makasih..buddy..

      • mujahidahwanita said

        Sungguh Allah menciptakan jiwa itu di dalam kefitrahannya, yg mana dgn kefitrahan itulah jiwa bisa memimilih mana jln kebaikkan dan mana jln kebatilan. Allah telah mengilhamkan kepada jiwa yg fitrah itu berupa jln2 kefasikkan dan jln2 ketaqwaan.Akan tetapi semua kembali kepada diri sendiri, mau mengambil kefasiqan atau ketaqwaan. Karena manusia telah di beri hati nurani, akal dan fikir untuk mentelaah, memilah2 mana yg baik dan mana yg buruk. Dan sebaik2 pakaian adalah taqwa.

        “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan_Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu(jln)kefasikkan dan ketaqwaannya. Sesunguhnya beruntunglah org yg mensucikan jiwa itu. dan merguliah orang yg mengotorinya”.(QS, Asy-Syms)

      • roni said

        @Mujahidahwanita

        Pencerahan Ukhti sungguh menyentuh fitrah manusia yg paling dalam, karena fitrah manusia yg suci cenderung untuk mencapai ketaqwaan. Alhamdulillah… :)

      • itempoeti said

        nampaknya hanya ada 1 paradigma… baik dan buruk berasal dari Allah…
        jika baik berasal dari Allah, sedang buruk berasal dari diri sendiri..,
        bukankah diri sendiri ini juga berasal dari Allah?

        jadi pada akhirnya baik dan buruk memang berasal dari Allah…
        yang baik bisa nampak buruk…
        yang buruk bisa nampak baik…
        baik dan buruk sesungguhnya tak ada…
        yang ada hanya Allah semata…

      • kinan said

        bukannya kita harus mengimani takdir baik dan takdir buruk ? takdir buruk juga merupakan ketetapan Allah juga. Jadi bukankah semuanya itu berasal dari Dia, dan kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kejadian tsb ?

        Maaf atas kelancangan saya mengomentari hal ini, padahal ilmuku tak seberapa dibandingkan saudara2 di forum ini.

      • Tabahsatoe said

        @itempoeti
        yup..benar sekali..yang ada hanya Allah semata..

    • @Aburahat

      Tentunya…..Allah tiada berhajat kepada HambaNya, akan tetapi segala kebaikan, Manfa’atnya untuk Hamba itu sendiri sebagai Karunia Allah dalam Cinta KasihNya kepada HambaNya.

      @Sulthan

      Jika Hamba dan Makhluk tidak ada, maka Tuhan tetaplah Tuhan walau tidak bernamakan Tuhan. Dan tiada yang mengetahui akan DiriNya melainkan hanyalah DiriNya sendiri.

      @Lor Muria

      Mana sambungannya Mas….., ditunggu Lhooo pencerahan2 selanjutnya. :wink:

      @Alam Rasa

      Pencerahan yang sangat mengagumkan……………Lanjutkan Mas..>
      Saya sangat bersyukur bersaudara dengan kalian2 semuanya yang sangat Arif dan Bijak dalam Ilmu dengan Qudrat Iradat Allah Swt.

      @Asep & @Vicky

      Setuju….

      @MujahidahWanita

      Ya…Ya…Ya…Hati Nurani adalah sebagai Barometer pada diri, dan Akal fikir adalah sebagai Sarana dalam memahami Ayat2/tanda adanya Allah.

      @Roni

      Allah memberkati Anda…..dalam Cinta Kasih SayangNya. Aaamiiin

      @Itempoeti

      Ya..ya..ya…Benar sekali Saudaraku.
      Bagaimana mungkin dapat memiliki sesuatu sedangkan diri ini pun milik Allah.

      Salam Taklim saudaraku

      Wassalam

      @

  55. rif naif said

    Salam perkenalan untuk Pak PJ dan rakan-rakan yang berada di pondok ini. Artikel-artikel dan komen-komen yang terdapat di sini sungguh mencerahkan bagi saya yang masih naif ini, sudah sekian lama saya mencari blog seumpama ini, kini baru ketemu.
    Pak PJ yang dimuliakan saya harap dapat pencerahan bagaimana mahu membangkitkan/membebaskan SIR yang dibaluti nafsu itu, saya harap bapak tidak keberatan memberikan kaedahnya, jikalau tidak boleh disiarkan di sini, harap hantar saja ke e-mel saya (rif5@yahoo.com. Terlebih dahulu saya ucapkan jutaan terima kasih.

  56. vicky said

    kita ada dalam ada dan tiada-Nya

  57. roni said

    Aslkm.wr.wb.

    Kenapa ya kalau shalat, saya tidak konsentrasi (tidak khusyu’). Pikiran selalu melayang-layang kepada urusan dunia. Kadangkala ada yg lupa menyimpan suatu benda, namun ketika shalat jadi ingat dimana benda itu disimpan. Kadangkala jumlah bilangan raka’at dlm shalat juga lupa. Kepada rekan-rekan mohon pencerahannya, bagaimana sih caranya untuk konsentrasi dlm shalat (khusyu’)?

    Wslkm.wr.wb.

    • vicky said

      Wa’alaikumsalam wr.wb…mudah2an ini bisa sedikit membantu mas Roni Yang selalu dalam Ridho-Nya amiien..

      Izinkan Saya yang bodoh ini berbagi rasa dengan mas Roni semampu yang saya ketahui…usahakan mata fokus kesatu titik disajadah dalam keadaan sadar sesadarnnya diri sedang menghadap dan berdialog dengan pemiliknya…usahakan telinga mendengar kan bacaan nya (baik bacaan imam waktu berjamaah atau sholat sendiri..usahakan selalu berjamaah – red)pikiran fokus pada hati dan hati memahami dalam bahasa yang kita pahami..disaat memuja, mmuji , mensucikan Allah kita harus merasakan betapa hinanya diri dihaadapan-Nya, disaat mengucapkan salam tahiyatul kita sampai salam takzim pada Rasulullah (Assalamu alaika..) sewaktu mengucap kan salam kesejahtraan bagi diri dan selluruh Ahli ibadah Sholihin/Assalamualaina…/ niatkan untuk seluruh makhluk-Nya yang sholeh2 baik malaikat kah jin kah atau umat manusia yang sudah mati atau masih hidup) lama kelamaan tubuh akan lebbur dengan bacaan kita..Insya Allah…itu yang saya amalkan selama ini masih cetek banget..ayo sobat-sabit yang saling bertukar ilmu rasa-Nya..jangan lupa ada saudara kita yang membutuhkan bantuannya…please….

      Wassalam

      al Fakir kelana

      • lor Muria said

        Yaa..semua ada tahapannya, jangan berkecil hati, niat yang baik dan himmah yang tinggi akan mengantarkan kepada semakin sempurnanya amal ibadah kita, semakin suci jiwa kita dan semakin khusyu’. Yang akhirnya bisa mengetahui hakikat Ikhlas, sabar,tawakkal, ridho dan khusyu’itu sendiri.
        Yang terbaik adalah kita tidak berhenti dan sudah merasa cukup apa yang telah kita perbuat untuk diri kita sendiri, serta mengharap RahmatNYA..Amieenn..
        wassalam

      • roni said

        Alhamdulillah, trims atas pencerahannya. Saya ingin bertanya lagi apakah hikmah sholat dapat menemukan barang yg lupa?

      • kinan said

        Saudara ku al Fakir kelana,

        Saya pernah mendapatkan masukan dari teman saya.

        Kenapa kita harus fokus ke satu titik, untuk mendapatkan khusyu’. Bukannya Allah Maha Luas, Maha Meliputi dan Menggerakkan seluruh mahluknya ?
        Temanku memberi pandangan agar kita menyadari keberadaan-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan melapangkan hati kita seluas-luasnya kemudian diikuti dengan kesadaran bacaan apa yang kita baca bahwa kita sedang berhadapan dan berdialog dengan Sang Khalik.

        Mohon masukan dan tanggapan atas saran dari teman saya itu.

  58. aburahat said

    @Alam Rasa
    Ass. A.W.A Salam Bahagia.
    Terlebih dahulu saya minta maaf apabila ada salah kata2. Karena komentar saya ini mengaja untuk diskusi agar kita lebih memahami mengenai MA”RIFATULLAH.
    Anda menagatakan: Itulah kehendaknya untuk menunjukkan KODRAT dan IRADATNYA.
    Saya bertanya:kepada siapa akan ditunjukan ciptaanNya sedangkan Makhluk belum tercipta?

    Apa yang saya ketehui Ilmu Allah dan SabdaNya mendahului Penciptaannya. Kita tidak bisa membayangkan apalagi dipikirkan sebelum ada penciptaan. Ciptaan Allah mula2 adalah NUR Rasulullah. Sesudah tercipta Nur Rasuli maka dari Nur Rasul diciptaan yang lain secara bertahap (dalam 7 masa). Apa Tujuan Allah menciptakan Nur Rasul lebih dahulu. Mungkin kita hanya mampu berasumsi dengan nash Alqur’an yang ada. Sebab kita tidak tahu Ilmu Allah atas penciptaan Nur Rasul. Untuk berasumsi tujuan Allah menciptaan Nur Rasulullah lebih dulu Kita bisa ketahui dari penciptaan Nabi Adam.

    Anda mengatakan 2 pradigma yakni Pertama: baik dari Allah dan buruk dari kita, dan yang kedua adalah baik dan buruk dari Allah. Ini adalah Firman Allah dalam Alqur’abn

    Menurut saya pradigma pertama adalah untuk orang2 beriman. sedangkan pradigma kedua bagi orang yang bertagwa.

    Inna lillahi wa inna ilahi Rajiun menurut saya apa yang anda sampaikan agak kurang.
    Menurut saya bahwa Firman tsb, bukan saja terhadap ROH yang akan kembali pada Allah tapi apa saja yang ada pada kita serta semua Amal Ibadah kita tanpa terkecuali kembali pada Allah

    Roh, kalau saya tidak keliru memahami tulisan anda mengenai Roh hanya satu yang berada dalam diri kita ini. Dan yang diambil sebagai saksi hanya ada pada diri kita.
    Menurut saya ada dua. Karena setiap ciptaan Allah ber-pasang2an kawan/lawan.
    Roh yang satu lagi berada dialam malakut sebagai argument saya, saya tunjukan Firman Allah
    Surah An Nabah 38. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar
    Dan Surah At Takwir 7. dan apabila ruh-ruh dipertemukan.

    Demikian pandapat saya. Dikoreksi kalau salah. Wasalam

    • lor Muria said

      @Aburahat
      @Alam RAsa
      semua yang dari DIA baik Kalam maupun CiptaanNYA mempunyai arti yang berlapis-lapis, tinggal kita memandangnya dari sisi yang mana??
      Anda berdua sama-sama benar dengan dalil yang benar pula, hanya berbeda letak memandangnya dari sisi sebelah mana..
      Salam Kasih dalam RahmatNYa
      Salam Sayang dalam CintaNYa
      Salam Rindu untuk berjumpa denganNYA

    • Alam Rasa said

      Salam Kasih untuk saudaraku

      @Aburahat
      @Lor Muria

      Wah..wah..Mas Aburahat pertanyaannya kritis. Saya bertanya:kepada siapa akan ditunjukan ciptaan-Nya sedangkan Makhluk belum tercipta? Ya benar, pada awalnya kepada NUR Rasulullah, namun dalam arti hakikat dari NUR Rasulullah.

      Tentang dua paradigma. Sebaiknya kita tidak membuat bingung, lebih baik kita konsisten pada satu cara pandang, yaitu paradigma pertama. Itu pendapat saya, silahkan bila Mas Aburahat berpendapat lain.

      Tentang Inna lillahi wa inna ilahi Rajiun. Hmm..benar yang kembali adalah semuanya dari diri kita .. yang telah lebur dengan Roh atau Diri Sejati kita.

      Tentang Roh, Roh kita telah ada sebelum kita lahir, ketika kita hidup di dunia, dan setelah kita meninggal. Roh kita selalu berada di Alam Roh atau Alam Malakut. Sebelum kita lahir, memang hanya ada satu Roh kita, yang dipersaksikan di hadapan Allah di Alam Roh. Karena Roh tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, maka setelah kita lahir, Roh kita berada di 3 tempat secara bersamaan, yakni: di Alam Roh, di atas kepala kita, dan di dalam hati kita (hati bukan arti fisik/liver). Walaupun demikian, pada hakikatnya Roh kita tetap satu.

      Demikian penjelasanku, dan terima kasih atas koreksinya Mas Aburahat.
      Seperti yang disampaikan oleh Lor Muria, semua yang dari DIA baik Kalam maupun CiptaanNYA mempunyai arti yang berlapis-lapis, tinggal kita memandangnya dari sisi yang mana. Untuk itu, aku persilakan Mas Aburahat menyampaikan pandangan atau pendapatnya. Karena di sini, kita sama-sama belajar, saling asih, asah, asuh.

      Wassalam.

  59. aburahat said

    @Lor Muria
    Alhamdulillah Puji dan Syukur Hanya Untuk. Treimah kasih. Wasalam

  60. aburahat said

    @Alam Rasa
    Terima kasih. Berbeda tapi satu tujuan
    Insya Allah kita tetap diberi petunjuk dan berada di siratul Mustaqim. Wasalam

    • lor Muria said

      Setelah sampai tujuan kita akan senyum2 sendiri, ketawa sendiri, bahkan menangis sendiri melihat diri yang dianggap berilmu ini, ahli ibadah, ahli Jihad, ahli tafsir, ahli zikir, ahli Ma’rifat dll ahli… ternyata kita ini bodoh dan hina ketika telah dibukakan Kebenaran Sejati.
      Kita melihat perjalanan demi perjalanan seperti bayi yang baru lahir tumbuh dan berkembang berlatih bicara, berjalan, dan berpendapat…..
      Maka biarkanlah yang sedang berjalan biar berjalan sesuai kemampuannya masing-masing, bimbinglah dan gandenglah adik-adik kita berjalan agar tidak terjatuh. Kita hanya lebih dulu tahu perjalanan, bukan lebih pandai dan lebih benar..
      Salam Sayang untuk semuanya
      Salam Sejati dalam DIAM dan GERAK-NYA untuk saudaraku Mas PJ

    • Alam Rasa said

      Assalamu alaikum
      Salam Kasih untuk saudaraku

      @Aburahat
      @Lor Muria

      Alhamdulillah. Semua adalah Rahmat Allah SWT.
      Semoga kita semua selalu dalam bimbingan-Nya.

      (QS Thaahaa:20)
      Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

      Amien.

      • akayr said

        Assalamu alaikum wr wb…

        @Alam Rasa

        Mohon maaf…
        Koreksi sedikit, Ayat yang sdraku tuliskan mungkin keliru… saya lihat adanya di (QS.Thahaa 114)…

        Wassalam

      • Alam Rasa said

        Wa’alaikumsalam wr.wb
        @Akayr

        Mohon maaf aku salah ketik, seharusnya nomor ayat tapi yang aku ketik nomor Surat. Begitulah manusia banyak kelemahannya. Terima Kasih atas koreksinya.

        Wassalam

  61. [...] beberapa sahabat sejatiku.. Mas Wong Alus.. Ki Kumitir.. mas dBO911.. Kang Mas Sabda Langit.. Mas Pengembara Jiwa.. Ki Ngabehi.. Mas Item Poeti.. Kang Cephot [...]

  62. SABDå said

    Salam hormat setinggi-tinggi untuk saudaraku Mas PJ yg budiman. Mohon ijin saya ingin share di sini. Sebelumnya sy ucapkan beribu terimakasih.

    SELAMATKAN GENERASI BANGSA

    Salam karaharjan, salam tresno asih, teruntuk para pembaca, diskuser, para sanak kadhang ingkang dahat kinurmatan dan semua yang mampir di pondok ini.
    Dua hari ini saya benar2 berkabung dan sedih melihat nasib bangsa ini yg kian terpuruk oleh ulah sebagian orang berduit, aktor politik yg gelap nuraninya.
    Celakanya, org-org yg banyak belajar agama secara TEKSBOOK, ekonomi yang sangat menghimpit, namun kurang berbekal ilmu pengetahuan, SEHINGGA terlalu mudah dijebak oleh situasi yang menjebak diri, dan MUDAH dimanfaatkan oleh siapapun SI RAJA TEGA, atau aktor politik yang oportunis dan egois.

    Agama tanpa ilmu pengetahuan yg luas, akan mudah diombang-ambing, lalu terpuruk dan mudah dipermainkan oleh situasi politik kacau. Sebaliknya ilmu pengetahuan tanpa agama akan menjadi mesin penghancur peradaban dan alam semesta. Ilmu dan agama idealnya bersanding saling melengkapi dan mendukung. Dan selalu mencari sisi positifnya hubungan keduanya. Agama harus lebih terbuka, karena norma agama mengatur tata moral dalam diri (inner world) untuk masing2 individu, alias pengendalian dari dalam diri. Karena agama sebagai WADAH NORMA (norma agama) agar tidak kacau (A=tidak, Gama=kacau) dalam kehidupan dunia yg serba DINAMIS.
    Agama ada untuk menata moral dan batin (dalam jagad kecil) agar selaras dengan hukum alam semesta. Serta TIDAK untuk menyerang dan mencelakai orang lain. Sanksi norma agama berupa “dosa/neraka”. Berbeda dengan NORMA SOSIAL dan HUKUM. Walau norma sosial dan hukum banyak mendapat inspirasi dari norma religi, namun kedua norma tsb orientasinya diterapkan utk implementasi ke lingkup tata moral masyarakat dengan konsekuensi sanksi sosial dan sanksi hukum.

    MAKA DARI ITU SAYA PRIBADI MENGAJAK PARA PEMBACA YG BUDIMAN, PARA SANAK KADHANG, PARA RAWUH DAHAT KINURMATAN di gubuk sederhana ini UNTUK TIDAK TERPANCING DAN TERPENGARUH OLEH TRAGEDI MARIOT II & RITZ. Biarlah di tingkat elit berkecamuk dan terjadi perpecahan, namun jangan sampai terjadi FRAGMENTASI di tingkat ARUS BAWAH.
    Kita semua harus tetap harus SOLID menjalin kerukunan, ketentraman, dan kedamaian GENERASI bangsa. Semua itu tergantung pada diri kita masing-masing. Kita pertahankan tradisi BERSAMA dalam PERBEDAAN.

    Oleh sebab itu perlu dan sangat perlu kita semua meningkatkan kesadaran setinggi-tingginya, agar supaya KESADARAN KITA LEBIH TINGGI dari segala macam SITUASI BURUK yang barusaja melanda negeri. Sehingga kita tidak mudah terpancing emosi. Sebaliknya MENJADI MUDAH menganalisa dan MEMAHAMI apa SESUNGGUHNYA yg terjadi. Kita tidak meraba-raba lagi, kita tidak berspekulasi, dan kita tidak berprasangka buruk yg salah kaprah. Jika kita SALAH BERSIKAP, hanya akan menambah keadaan semakin runyam.

    PALING UTAMA adalah, kita tingkatkan sikap eling dan waspadha, memasuki bulan AGUSTUS dan SEPTEMBER ’09. Bila alam pun akhirnya menjadi murka lagi, semoga kita semua, bangsa ini, selalu diberikan keselamatan jiwa raga, dan mampu melewati masa-masa sulit saat ini dan di saat yang akan datang. Semoga kesadaran kita semakin tinggi, seiring waktu berjalan detik demi detik.

    salam hormat,
    salam karaharjan,
    salam asah asih asuh,
    salam sih katresnan
    selamatkan generasi bangsa
    Jayalah NKRI

    • roni said

      Ya, setuju ! :D

    • @SabdaLangit

      Salam berkah senantiasa tercurah kepada Anda sekeluarga Saudaraku Mas Sabda Langit. Salam hormat selalu dalam Majlis Taklim ini.

      Konsep Al-Qur’an adalah mengutamakan Akhlak yang terpuji untuk kebaikan seluruh Makhluk, menjadi Rahmat bagi sekalian Alam merupakan Pilar-Pilar Kebahagiaan dan kedamaian. Namun….jika Manusia sudah tiada menyadari akan Hakikat dirinya, buta akan Nilai-nilai Dasar Fitrahnya maka tentunya apa yang menjadi tujuan Hidup yaitu Kebahagiaan dan Kedamaian tak akan terwujud.

      Apapun yang ada di luar dari diri adalah cermin dari apa yang ada pada diri. Ketika Bangsa dan Negara mengalami KRISIS MULTI DIMENSI karena Tonggak Dasar dari pada TAUHID sudah ternodai dengan segala Aneka Ragam yang serba gemerlapan menjadi keutamaan dan kebutuhan pada diri lalu melangkah tanpa Arah yang sudah di tetapkan dalam Norma Kebenaran, mengikuti Nafsu, ke-EGO-an diri semata tentunya bias dari pada itu akan terjadi sikut menyikut satu dengan yang lain, gontok-gontokkan meraja lela, saling menjatuhkan bahkan tidak jarang yang saling bunuh membunuh hanya di karenakan persaingan dalam mendapatkan Kedudukan, Tahta, Kekayaan dan Kecantikkan. Lalu dimanakah…Kemuliaan Manusia yang telah dinyatakan Allah lebih Mulia dari pada Makhluk2 yang lain…????. Ternyata kemuliaan yang di Anugrahkan Allah kepada Manusia itu telah di-GADAI-kan untuk kepuasan Hawa Nafsu/ke-EGO-an semata dalam memenuhi rasa ketidak puasan akan sesuatu yang ada pada dirinya. Semuanya serba kurang….kurang….dan kurang, Jika Seandainya Dunia dan seluruh isinya bisa di genggamnya maka tentunya manusia-manusia yang buta Hatinya akan berlomba-lomba untuk meraihnya.

      Marilah…bersama-sama melangkah dalam Kesadaran Diri yang berlandaskan Azaz Lillaahi Ta’ala dan mengerti bahwa Hidup bukan hanya sekedar untuk mengisi perut dan menurutkan Hawa Nafsu tetapi yang terlebih utama adalah Berbagi dalam Cinta Kasih, menebarkan Rahmat kepada sekeliling menjadi pengayom bagi orang2 yang membutuhkan, menjadi Kawan bagi yang kekurangan, menjadi Kebahagiaan untuk orang lain bukan menjadi orang yang mengharapkan kebahagiaan orang lain.

      Tentunya….jika hal itu terwujud di muka Bumi ini, di Bumi Pertiwi ini, di Negara yang kita Cintai ini yaitu INDONESIA RAYA dari Sabang sampai Merauke maka tak akan diragukan lagi….Kebahagiaan dan Kedamaian berangsur-angsur akan di dapatkan. Seiring dengan Waktu, jika Manusia yang didalamnya menyadari akan Jati Dirinya dan kemudian menyelam kedalam Dirinya senantiasa Introspeksi diri, merenung dalam Musyahadah, Menyaksikan akan dirinya beserta Alam adalah sebagai Bukti dan Saksi adanya Allah yang Arrohmaan Arrohiim dan selalu mendengarkan Hati Nuraninya yang tiada tercampur oleh Nafsu/EGO, Maka merekalah sebagai Penyelamat Bangsa, merekalah sebagai Tonggak Negara, merekalah sebagai Pejuang-Pejuang Tuhan untuk membela Ibu Pertiwi dan merekalah Khalifah di muka Bumi ini untuk menebarkan Rahmat dan Cinta Kasih. Temukanlah Jati Diri itu mulai saat ini, jangan sia-siakan Waktu karena waktu terus berputar dan berputar tak perduli Status diri kita. Waktu akan segera menelan orang2 yang yang tiada menyadari akan Jati Dirinya. Karenanya….
      “Demi Masa/Waktu di setiap harinya dalam 24 jam Sehari Semalam dari buka mata sampai tutup mata kembali, sesungguhnya Manusia itu dalam Kerugian karena tiada Kesadaran akan Jati Dirinya(Nilai-nilai Dasar Fitrah)”. Dan Mereka yang mengerti serta menyadari akan Jati Dirinya(Nilai-nilai Dasar Fitrah) adalah mereka yang ber Iman dan ber Amal Sholeh(ber-Akhlakul Karimah/Baik Budi Pekertinya). Mereka itu senantiasa saling berbagi dalam nasihat menasihati(Sharing) dalam Kebenaran dan juga saling berbagi dalam nasihat menasihati(Sharing) dalam kesabaran.

      Salam Berkah Allah
      Salam Taklim
      Salam Sejati
      Saudaraku Mas Sabda Langit
      dan juga untuk saudara2ku semuanya

  63. ardi said

    Tuhan itu wujud cak bukan perasaan belaka.jangan2 artikel ini ditulis karena penulis belum bisa/tidak bisa melihat Tuhan ya.shahadat artinya penyaksian.jangan2 penulis belum bersahadat atau belum belajar bersahadat lalu memaknahi sholat.ya ndak bisa cak.belajar sahadat yg haqqul yaqin jangan sahadat biasa.anda ndak punya guru ya,atau guru anda belum sempurna lalu memaknai sesuatu menurut perasaan belaka.

    • roni said

      Ah, anda belum baca semua tulisan2 di blog ini. Makanya komentarnya gersang. :o :)

    • akayr said

      Assalamu Alaikum wr wb

      @sdra Ardi…
      Ajarin dong Syahadat yang sebenarnya… Padahal 2 Kalimat Syahadat itu, Kalau tidak salah tidak ada di AlQuran…

      Mohon pencerahannya…

      Salam Kenal
      Wassalam

    • Sin said

      “Salam Damai Didalam Ketenangan Jiwa”

      @sdra Ardi…

      hmmmm …
      Wahai saudaraku Ardi,, sabar cak jangan gegabah dalam menilai suatu kalimat, apalagi kalimat itu mengandung makna didalamnya dan tentu memerlukan pengupasan lebih dalam untuk menemukan maksud dan tujuan si penyampai dengan benar, disini dalam memaknai kata2 sekali2 jangan menggunakan apa2 selain dr kesadaran sebab jika demikian yang ada pasti selalu yang timbul pertentangan, untuk itu saudarku telaah dahulu sebelum mengulurkan jari anda untuk melakukan penilaian.
      tentu tidak juga demikian maksud penulis seperti yg anda maksud di komen saudaraku, sangat disayangkan jika ternyata kita salah sangka, selalulah berbaik sangka terhadap sesuatu carilah hikmah dibalik sesuatu itu jangan kau pandang apa yang telah engkau pandang dan lalu melakukan penilaian sebab yang terlebih penting adalah apa yang Ada dibalik pandang itu, jika kita mengerti ini maka kita seketika akan malu pabila menilai segala sesuatu itu adalah suatu kesalahan mutlak belum tentu yang menurut kita salah itu salah juga disisi Kebenaran…

      oa sampaikan salam saya ya untk teman2 di timur pulau jawa

      Salam Damai

    • @Ardi

      Salam Kenal dan selamat datang di Pondok PJ ini Mas Ardi. Semoga Rahmat HidayahNya senantiasa menuntun langkah2 Anda.

      Terimakasih Mas, atas Masukkan2 dan Kritikannya. Sungguh itu berarti sekali buat saya pribadi dan Alhamdulillah…..menjadikan koreksi diri pada saya. Allah memberkati Anda dan saudara2 yang lain.

      Wassalam

      • Abu Hasan Al Asy’ari sendiri membagi 13 sifat wajib untuk ALLAH yang mana pertama beliau sebutkan adalah sifat ‘al wujud’ di mana jika kita mau berangan-angan dengan nafsu, maka yang timbul adalah perwujudan yang seperti makhluk. Sementara ALLAH adalah “laisa kamitsilihi syai’un.” Nah ini point yang harus dikaji ulang, benarkah ALLAH itu jika disebut dengan bersemayam di atas Arsy, memiliki tangan, bisa tertawa, maka ini menyamakan ALLAH dengan Makhluk-NYA? Padahal sedari dulu para ulama meyakini ALLAH ada di atas Arsy, memiliki dua tangan, memiliki wajah, bisa tertawa, berdasarkan nash dalam Qur’an dan sunnah yang shahih, namun mereka tidak pernah menyamakan hakikat bentuknya dengan makhluk karena ALLAH “laisa kamitslihi syai’un.” Jika kita menganggap kata menyembah lalu memberikan predikat ALLAH di atas Arsy dan lain-lain sebagai musyabbih (menyamakan ALLAH dengan makhluk), ini tentu kurang tepat karena hakikatnya dikembalikan kepada ALLAH. Kita hanya dituntut untuk beriman pada apa yang ada dalam Qur’an dan sunnah shahihah yang telah jelas, tanpa ada ta’wil (penafsiran baru dan mengganti apa yang ditulis ALLAH dalam nash dengan pengertian lain) dan ta’thil (penolakan atau peniadaan suatu arti) padahal ALLAH sendiri yang memberikan sifat itu dengan bahasa yang mudah dimengerti dan sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang orang Arab saat itu fahami. Jika kembali pada awal komentar saya, maka anda pun menuduh secara tidak langsung jika Abu Hasan Al Asy’ari (yang banyak dianut kaum sufi-aswaja) telah menyamakan ALLAH dengan makhluk-NYA karena telah memberi predikat sifat ‘al wujud’ kepada ALLAH padahal nalar kita setuju bahwa sesuatu yang berwujud itu adalah sebagian dari sifat makhluk, bukan khaliq. Jadi coba renungkan kembali, apa pantas kita meniadakan sifat yang ALLAH tulis dan sebut sendiri untuk diri-NYA dalam Qur’an dan sunnah shahihah dikarenakan dianggap menyamakan ALLAH dengan makhluk? Mungkin saja justru kita lah yang terlebih dahulu menyamakan bentuk wajah ALLAH, tangan ALLAH, arsy ALLAH dengan apa-apa yang setara yang dimiliki oleh makhluk, sehingga akhirnya menolak apa yang ALLAH turunkan sendiri dalam Qur’an dan as sunnah yang shahih. Kesimpulannya, kita imani saja apa yang telah ALLAH sebutkan dan turunkan dalam Qur’an dan sunnah shahihah tentang sifat diri-NYA sendiri tanpa sedikit pun menyerupakan hakikatnya dengan yang dimiliki oleh makhluk serta tidak pula menolak, mengubah, maupun meniadakan sifat-sifat tersebut. Ingat bahwa akal dan nalar kita ini sangat lah sempit dibandingkan dengan keluasaan ilmu ALLAH. Dulu para kaum kafir dan musyrikin menolak ajaran Islam karena tidak sesuai dengan akal pikiran mereka. Mereka menolak percaya pada hari kiamat atau hari berbangkit, menolak percaya ALLAH bisa membangkitkan kembali manusia setelah matinya, dll. Mereka menolak karena tidak masuk akal, apakah kita juga mau mengikuti gaya berpikir mereka ini? Jika seandainya agama ini karena akal, maka dubur lebih layak dibersihkan daripada kaki saat berwudhu setelah wudhu kita batal dikarenakan buang gas (kentut).

        Saya tetap menghargai perbedaan di antara kita walau saya menolak pendapat ‘perbedaan adalah rahmat’ dikarenakan ke-dha’if-an haditsnya. Salam kenal dan salam ukhuwah, selalu saling mengingatkan dan menuntut ilmu, wassalamu’alaikum.

      • Logika berikutnya adalah, jika kita berkata, “ALLAH Maha Besar” maka kata besar saja menunjukkan sesuatu yang identik dengan wujud makhluk atau ukuran di mana menurut pendapat anda tentu ukuran tidak lah menjadi sifat ALLAH karena ukuran ada pada makhluk. Jika kita sama-sama menolak Besar ALLAH itu bukan Besar seperti ukuran pada makhluk, maka secara tak langsung anda setuju dengan pendapat ALLAH di atas Arsy namun hakikat bersemayamnya tentu berbeda dengan bersemayamnya makhluk. Penggunaan kata ganti ‘dia’ (huwa, hi, dll) yang disebutkan ALLAH Ta’ala dalam Qur’an jika ditafsirkan serampangan maka akan berakhir pada kesimpulan bahw kata ganti seperti ini hanya digunakan untuk makhluk, maka penyebutan kata ganti seperti ini tidak layak untuk dinisbatkan pada ALLAH Ta’ala yang “laisa kamitslilhi syai’un” tersebut. Ma’rifatullah atau mengenal ALLAH jika kita mau renungkan dengan hawa nafsu, bisa saja kita bilang, “kata mengenal itu hanya ditujukan kepada sesuatu yang memiliki bentuk dan wujud yang secara jelas diketahui manusia sehingga tidak pantas kita menyebutkan kata ‘mengenal’ ALLAH karena sama saja dengan menyerupakan ALLAH dengan makhluk-NYA. hakikat mengenal adalah hanya mengenal pada makhluk, bukan khaliq.” Tentu ini pendapat yang pasti anda tentang sendiri, karena penetapan ma’rifatullah atau mengenal ALLAH itu juga dipakai dalam istilah tasawwuf atau sufistik. Coba pikir lagi, berapa banyak nash yang akan kita ganti dan rubah jika kita selalu membayangkan dan menyerupakan sifat ALLAH itu dengan makhluk? Hakikatnya kita kembalikan saja kepada ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.
        :) salam damai dan salam ukhuwah

  64. [...] diri bangsa, bahkan sebagai bahan untuk diskusi dengan kangBoed aku sempet juga baca-baca blog nya Mas PJ dan Mas Sabda Langit…. tapi entah apa mulanya perutku ini terasa kembung (meski sebenarnya [...]

  65. [...] yang maknanya sangatlah dalam tersebut menjadi postingan dengan judul JATI DIRI MANUSIA semoga mas Pengembara Jiwa berkenan yaaaaa.. jangan maraaaaah yaaaa.. hehehe.. inilah komentarnya.. maaf dikasih judul yaaa [...]

  66. omagus said

    semua nitrisi untuk jiwa ini berada saat sholat, semua kandungan dan isinya sangat sempurna. Sehingga menjadikanya sebuah kebutuhan. Sholat adalah sarana untuk menyadari betapa kecil kita di hadapan Alloh. Suatu Zat yang harus kita yakini dengan hati keberadaaNya. Kita Imani, dan bukan hanya sekedar sesembahan.

    mohon koreksi…

    • Benar sekali Omagus Sahabatku….,
      Sholat itu kesatuan dari pada saripati Nur Zat Allah Swt. Secara Zahir jika kita mau menyimaknya bahwa dalam Sholat itu Dua Kalimah Syahadat, Tidak makan minum(puasa), Penyucian diri dalam Fitrah(zakat) dan juga menghadap Baitullah(Haji) semuanya ada menjadi satu dalam SHOLAT. Karenanya tidak salah jika Rosul bersabda bahwa : “SHOLAT itu adalah Mi’roj nya orang2 Mukmin”. Itulah ke Imanan yang sesungguhnya tatkala seseorang mengerti makna Sholat sebenarnya adalah “MENYADARI KE ESA AN ALLAH TA’ALA dalam KESERBA MELIPUTANNYA akan tiap2 sesuatu”.

      Terimakasih atas Sharingnya Omagus sahabatku…..

      Salam Berkah Allah di dalam Cinta KasihNya untuk Omagus sekeluarga.

      Wassalam

  67. pkus said

    Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

    Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

    [18:1] Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan –tak ada makna-makna yang berlawanan, dan tak ada penyimpangan dari kebenaran– di dalamnya;

    [18:2] sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,

    [18:3] mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

    [51:55] Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

    [2:21] Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,

    [51:56] Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

    [51:57] Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.

    [53:62] Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

    [20:14] Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

    [2:152] Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.

    [6:103] Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

    [26:218] Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang),

    [26:219] dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

    [26:220] Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    [5:76] Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa’at ?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    [36:60] Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,

    [36:61] dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.

    [36:62] Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan ?.

    [88:21] Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

    [22:77] Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

    Wabillahii taufiq walhidayah,
    Wasalamu’alaikum Wr. Wb.

    salam hangat,
    salam kasih,
    salam cinta Kekasih,
    salam sejati,

    situhiyang, 27 Rajab 1430 H
    refleksi peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

  68. Salam Kenal Juragan..

    Salam Perubahan..
    Salam Anak Bangsa..

    http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/07/19/fakta-terbaru-tragedi-bom-kuningan/

  69. dwishuhuf said

    Masya Alloh….

    dengan segala kerendahan hati,ijin ngelink blognya ya… :)

  70. ahmad said

    subhanallah…. saya tertegun membaca tulisan ini. terkadang menghambakan diri kepada Allah itu sulit diekspresikan dengan bahasa verbal karena ini adalah masalah jiwa dan hati.

    salam ta’aruf, salam sayang sodaraku

  71. Allahu Akbar….apik tenan bloe..mampir nih dapet siraman rohani thanks
    maseta -> Bloging for Beginners

  72. Te-eN said

    nice post
    makasih atas pencerahannya

  73. KangBoed said

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang Sahabatku

    waduuuh malam pos ronda hanya bertiga saja

  74. @Pkus

    Wa’alaikum salam Wr,Wb

    Salam Kenal dan selamat datang di Pondok ini yang sangat sederhana ini, semoga menjadikan suasana Hati dalam ketenangan. Dan terimakasih atas masukkan2 dan pencerahannya. Sungguh itu semua sangat berharga sekali untuk kami semua yang ada di Pondok ini maupun yang berkunjung ke pondok ini.

    salam hangat,
    salam kasih,
    salam cinta Kekasih,
    salam sejati,

    Pengembara Jiwa

    @DwiShuhuf

    Silahkan…..Saudaraku untuk menautkan Blog PJ ini ke Blog Anda, semoga bermanfa’at untuk Umat. Dan Perkenankan jika Blog Anda pun sudah saya Tautkan kemari.

    @Ahmad & Bloging for Beginners & Te-eN

    Selamat datang saudaraku dan salam kenal dariku. Semoga Allah memberkati kita semua

    Salam Persahabatan
    Salam Persaudaraan
    Salam Taklim

    @KangBoed

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang selalu untukmu juga saudara Sejatiku

    Ma’afkan jika malam itu saya tidak hadir di “POS RONDA”

    Salam Sayang selalu

    @

  75. Vyan RH said

    Wah.. sangat membuka mata, hati dan pikiran..
    Mohon ijin jadi link dan salam kenal ti urang Kuningan nu seueur kudana..

  76. SABDå said

    Senuah kontemplasi yang sangat cermat dari saudara sejatiku Mas PJ. Semoga semakin banyak umat Islam yang membaca tulisan ini sehingga benar-benar terbuka kesadaran yang lebih tinggi sebagaimana Mas PJ miliki. Itulah pencapaian kesadaran rahsa sejati mengidentifikasi di mana Allah berada. Bukankah Allah ada dalam diri setiap insan. Allah lebih dekat dari urat leher, karena Allah ada di dalam rahsa yang tersimpan nun dalam di dalam diri sejati. Untuk mengenal apakah Allah, terlebih dahulu kita mengenal jati diri yg terdiri 7 petala: 1. raga/jasad, 2.kalbu 3. hawa/nafas/nafs/soul/jiwa 4. sukma/roh/ruh/nyawa/ruhulah/roh kudus/ruh al kuds (sukma sejati) 5.sir/as sir (rahsa sejati) 6. nur/nur muhammad/nurulah (cahya sejati) 7. atma/chayyu/kayu/kayun (yang menghidupkan) dan selanjutnya disebut Hyang Mahamulia. Apa yang hidup dalam diri kita itulah pancaran Tuhan dalam diri kita. Jadi langit ke 7 bukanlah langit biru batas pandangan mata. Tetapi sesuatu yang ada dalam diri kita juga.
    Jika membayangkan Allah berada di atas sana sungguh merupakan pemberhalaan Tuhan. Menyembah asal kata terminologi Jawa yang artinya memberi hormat. Hormat bisa dilakukan kepada sesama manusia, kepada orag tua, dan yang dituakan. Tentarapun menyembah komandannya dengan menempelkan telapak tangan di jidad. Orang jawa menyembah (menghormat) kepada raja dengan cara sungkem, menyatukan telapak tangan kemudian diletakkan didepan dahi. Itulah menyembah, Namun menyembah Tuhan menjadi salah kaprah. Yang lebih tepat kiranya adalah tunduk dan berserah diri kepada Tuhan. Benar apa yg dikatakan saudaraku Mas PJ. Marilah sejak saat ini kita semua merubah MIND SET yang salah kaprah. Agar menggapai kesadaran yang sejati.
    Terimakasih Mas PJ yang budiman.

    Sangat menunggu saat-saat yang penuh kedamaian dan ketentraman, saat bertemu Mas PJ dan seluruh sobat.

  77. the fachia said

    Salam kenal mas..

    Sungguh sangat bermakna dan memberi pencerahan kepada pembaca kaum muslimin.. :)

  78. @The Fachia

    Salam kenal kembali….

  79. mulyono said

    salam kenal… menyembah dan terus menyembah…..
    “saya ciptakan jin & manusia kecuali hanya untuk menyembah kepadaku” makna menyembah kukira banyak yang tau tetapi siapa yg di sembah..? TUHAN, nah yg lebih penting kita harus tau siapa tuhan ,dimana dia berada…apakah nunjauh disanah langit ketujuh he he he…sy sendiri masih nyantri,carilah mursid yg benar2,supaya kita dapat tau persis/detail tentang “TUHAN”,nanti akan tau makna MENYEMBAH setelah tau tuhan yg disembah,”AWALUDIN MARIFATTULLOH”pokok beragama mengenal olloh,jadi yg sangat penting kita harus tau tuhan dulu baru menyembahnya,kalau kita menafsirkan tuhan salah ya kita akan memaknai kata menyembah ya salah juga ……
    “olloh apa prasangka hambanya” jadi kita akan memprekdisikan tuhan sendiri2 tiap org berbeda2,sesuai dgn tingkatan masing2 yg masih di syareat dgn yg di hakikat akan berbeda,seperti nabi musa dgn nabi kidir tidak dapat bertemu ….makanya banyak perdebatan2,…tapi kita jangan begitu mari kita bersahabat…

    wasalam

    • @Muyono

      Salam Kenal kembali Mas Mulyono, Semoga Allah memberkati Anda dan kita semua. Aaamiiin.

      Pencerahan yang sangat menarik sekali yang Mas Mulyono uraikan, dan saya rasa sangat bermanfa’at untuk kita semuanya yang hadir di Pondok ini. Silahkan Mas…di lanjutkan pencerahan2nya, agar kami semua dapat memetik Hikmahnya.

      Wassalam

  80. Dono said

    Ass.wr.wb,
    Perkataan penyembahan menurut saya adalah hanya membedakan mana yg berhak untuk disembah dan tidak.
    Para rasul di utus oleh Allah hanya satu tujuan yaitu sembahlah Allah karena tiada tuhan melainkan Dia,tetapi sampai saat ini masih banyak yg menyembah selain dari Allah yaitu patung dll.Mereka ini mengikuti hawa nafsunya dan tidak menggunakan akalnya seperti firman Allah kepada rasulNYA yg mulia yaitu musa a.s pada surah Taha ayat 14 sampai dengan 16.
    Agama islam adalah agama kita yg sempurna seperti firman Allah dalam surah almaidah ayat 3 yg berbunyi sbb” Pada hari ini telah KUsempurnakan untukmu agamamu dan telah KUcukupkan nikmatku dan telah KUridhai islam itu jadi agama bagimu”.
    Oleh karena kesempurnaan agama islam ini tidak pantas lagi kita menggunakan perkataan “penyembahan” lagi karena tidak cocok dengan firman Allah dalam surah Al-baqarah ayat 115.

    Terimakasih pak pengembarajiwa atas penerangan diatas.

    Wassalam,

  81. batjoe said

    salam kenal dan hangat dari http://batjoe.wordpress.com
    “berdosalah orang-orang yang sholat tapi tidak sholat’ itulah yang selalu saya dengar dan artikel inilah petunjuknya.
    makasih atas artikelnya dan salam kenal dan semoga berkenan berkunjung balik ke blog saya. saya perlu banyak belajr memaknai arti hidup ini.

  82. batjoe said

    ass…
    pak diblok saya ada pertanyaan mohon bantaunnya untuk dijawab ya? karena sudah betahun2 saya cari jawabanya ndak cocok terus. maaf pak ngengangu terus.
    maksih ya pak

  83. batjoe said

    kalau ada tolong diemail aja ya pak di ummi.hubby@yahoo.cm makasih pak

  84. lestan said

    menurut saya : penyembahan ,hanya sebuah hal istilah dan setiap orang punya pendapatnya masing2 mengenai pengertiannya,pemahamannya.selama hal itu bisa membuat diri kita menjadi lebih baik dalam perilaku positif keseharian kita.so ,,apa yg salah ? dan kita sendiri tidak akan tau pengertian yg sebenarnya dan seharusnya.hanya ALLAH yg maha tahu ,maha benar.semua pengertian tentang penyembahan bisa dibenarkan,apapun pengertiannya,wujudnya adalah perilakunya.

  85. [...] yang maknanya sangatlah dalam tersebut menjadi postingan dengan judul JATI DIRI MANUSIA semoga mas Pengembara Jiwa berkenan yaaaaa.. jangan maraaaaah yaaaa.. hehehe.. mari kita semua berdoa semoga para korban yang [...]

  86. [...] beberapa sahabat sejatiku.. Mas Wong Alus.. Ki Kumitir.. mas dBO911.. Kang Mas Sabda Langit.. Mas Pengembara Jiwa.. Ki Ngabehi.. Mas Item Poeti.. Kang Cephot [...]

  87. [...] diri menayangkan syair tersebut menjadi postingan dengan judul Syair Pengembara Jiwa… semoga mas Pengembara Jiwa berkenan yaaaaa.. jangan maraaaaah yaaaa.. hehehe.. inilah komentarnya.. maaf dikasih judul yaaa [...]

  88. arkasala said

    Alhamdulillah diperkenalkan kemari Kang bisa ikut belajar agama. Terima kasih sekali sudah mampir.
    Salam kenal.

  89. Pengamat said

    satu hal yang pasti bahwa ke-ESA-an Tuhan itu diluar kemampuan manusia dalam menalar…jadi bagaimana mungkin kita memperdebatkan sesuatu yang sangat AGUNG yg tdk terjangkau oleh logika manusia? hasilnya mungkin adalah sebuah perdebatan kusir yg tdk akan habis dan bahkan mungkin akan menjebak manusia itu sendiri ke dalam penafsirannya masing-masing…

    mungkin yg terpenting adalah bukan pada kata menyembah atau kata lain yg akan dipakai dalam meng-AGUNG-kan sang Khalik..namun lebih pada bagaimana hati kita atau iman kita ketika berdoa melakukan “penyembahan” atau peng-AGUNG-an Tuhan itu sendiri..

    KONSPIRASI YAHUDI DI DUNIA

  90. KangBoed said

    tanpa CINTA tiada SABAR..
    tanpa CINTA tiada TULUS..
    tanpa CINTA tiada INGAT..
    tanpa CINTA tiada RINDU..
    tanpa CINTA yayaya.. hanya CINTA membawa sebagian diri terbang bersama yang diCINTAINYA..
    CINTA adalah TALI BUHUL YANG KUAT
    CINTA adalah BOURAQ membawa diri selalu bersamaNYA walau jasad hina ada di bumi
    CINTA daerah TAK BERHURUF TAK BERSUARA
    CINTA adalah RASA SEJATI
    CINTA adalah MAHA GHAIB
    CINTA tidak TERDEFINISIKAN hanya bisa diRASAkan JIWA yang mengalaminya
    CINTA adalah JALAN MELINTASI GHAIB SENDIRI
    SESUNGGUHNYA JIKA MANUSIA MENGERTI AKAN KEKUATAN CINTA.. KETIKA DI DENDANGKAN DALAM KEHENINGAN MALAM.. DI ALAM NYATA ENERGINYA HANYA SEPERTI PERCIKAN AIR YANG KECIL SEKALI.. TETAPI DI ALAM GHAIB SANA BAGAIKAN AIR BAH YANG KELUAR DARI BENDUNGAN BOCOR.. DAHSYAT RUAR BIASA.. MEREMBES KEMANA MANA.. PARTIKELNYA SANGAT SANGAT HALUS SEKALI

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  91. Allah itu nyata adanya, tetapi manusialah yang sebenarnya ghaib. Sedangkan yang ghaib itu akan nyata dengan adanya yang nyata. ”Adapun wujud itu wujud Allah Ta‛āla, sekali-kali jangan ada wujud lain selain Allah Ta‛āla. Inilah sebenar-benarnya diri. Begitu juga kelakuan jangan ada yang lain, kerana jika ada maka menjadi nafsi hamba jua. Adapun nafsi Rabbih itu tiada menerima salah satu melainkan suci zahir batin.”

    • adi isa said

      luar biasa, pemahaman antum.

      tks, met kenal dan selamat berpuasa

      dan tentunya buat saudara saya juga pemilik blog
      mas PJ

  92. Andry said

    Assalaamu alaikum,

    Saya melihat banyak benarnya artikel di atas. Detil-detilnya mengandung pelajaran yang baik. Bagaimana pun tesis yang diajukan dalam tulisan ini mengandung beberapa hal yang perlu dicermati lebih lanjut.

    Saya rasa betul bahwa hubungan dengan Allaah adalah tentang meletakkan Dia dalam puncak kesadaran kita kapan pun. Guru-guru kami pun mengajarkan demikian. Terutama guru kami Syaikh Mustofa Mas’ud yang menekankan sekali bahwa kehidupan adalah pertalian hati dengan Rasulullaah dalam rangka mengisi kesadaran kita (wuquf) dengan Allaah semata.

    Namun, rasanya sedikit terlalu simplistis dengan menyimpulkan bahwa bila kita menyembahNya maka itu serupa dengan menyembah berhala. Pada kenyataannya, Rasulullaah cukup sering menampilkan dakwah yang mempertentangkan obyek penyembahan/pengabdian kaum muslim dengan kaum kafir (periksa misalnya di surat al kafiruun– aku tidak menyembah yang kamu sembah…dst). Dengan demikian saya melihat bahwa masih absah untuk mengatakan bahwa pada dasarnya masih ada unsur perilaku yang serupa antara menyembah Allaah dan menyembah berhala. Perbedaannya hanya di obyeknya saja (tanpa bermaksud mengobjektifikasi Allaah).

    Jadi, sebagai sebuah tulisan penggugah, pengembara jiwa sangat berhasil memancing orang berpikir. Akan tetapi, obyek bahasannya masih perlu didasarkan pada penelitian lebih lanjut pada tafsir dan teks Al Quran serta As Sunnah sehingga keberanian dalam mengangkat sebuah topik non-mainstream yang dimliki Pengembara Jiwa dapat lebih tertampil dengan elegan. Sayang kalau sekedar sebuah hasrat menggebu tanpa dasar penelitian yang akurat.

    Mohon maaf lahir batin kalau ada kata yang tidak berkenan.

  93. oyong said

    saya nggak ngerti kenapa sebuah kata harus menjadi masalah…bukankah orang semabahyang, sholat,atau apapun namanya di negara antah berantah sana menyebutnya hanyalah suatu bentuk kata dan hanya karena majemuknya kelompok manusialah yang mengakibatkan penyebutannya yang berbeda-beda sementara sebenarnya yang membedakan adalah bagaimana niat dan ujud pelaksanaannya…

  94. vicky said

    KEUTAMAAN-KEUTAMAAN SHALAT…

    Bismillah awal wal akhiru..
    Didalam bebagai kitab hadits banyak sekali hadits yang menegaskan pentingnya shalat serta keutamaan2nya, sehingga sulit dan terlalu banyak jika ditulis keseluruhannya. Namun sebagai berkahnya, dibawah ini saya sebutkan terjemahan dari beberapa hadits Rasulullah saw. :
    1. Perintah pertama yang diturunkan Allah swt. kepada umatku adalah shalat, dan yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat.

    2. Takutlah kepada Allah mengenai shalat! Takutlah kepada Allah mengenai shalat! Takutlah kepada Allah mengenai shalat!

    3. Pembatas seseorang dengan syirik adalah shalat.

    4 Ciri seorang muslim adalah shalat. Seseorang yang mengerjakan shalatnya dengan hati yang khusyu, menjaga waktu2nya, dn memperhatikan sunnah2nya, maka dia adalah seorang yang beriman.

    5. Allah swt. tidak mewajibkan sesuatu yang lebih utama daripada iman dan shalat. Seandainya ada suatu kewajiban yang lebih utama daripada itu, nicaya Allah swt. akan memerintahkan para malaikat-Nya yang sebagian dari mereka senantiasa ruku dan sebagian lagi terus-menerus sujud.

    6 Shalat adalah tiang agama.

    7. Shalat menghitamkan mulut setan.

    8. shalat adalah cahaya bagi orang beriman.

    9. shalat adalah jihad yang paling utama.

    10 Selagi seseorang menjaga shalatnya, maka Allah swt mencurahkan seluruh perhatian-Nya, tetapi jika ia melalaikan shalatnya, maka perhatian allah akan terlepas.

    11. Apabila suatu musibah turun dari langit, maka orang2 yang memakmurkan masjid akan terhindar darinya.

    12apbila seseorang masuk ke dalam neraka jahanam disebabkan dosa2nya, maka api neraka tidak akan membakar anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud.

    13.Allah swt. mengharamkan api neraka bagi anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud.

    14 Amal yang paling disukai Allah swt. adalah shalat tepat pada waktunya.

    15. Keadaan manusia yangpaling disukai Allah swt. adalah ketika dalam keadaan sujud, yaitu kening menyentuh tanah.

    16 Sedekat-dekat seseorang kepada Allah adalah ketika dia berada dalam sujud.

    17. Shalat adalah anak kunci pintu syurga.

    18. Apabila seseorang berdiri untuk melaksanakan shalat, maka pintu2 syurga akan terbuka. Lalu tersingkaplah tabir antara Allah dengan orang yang shalat itu selama dia tidak sibuk dengan batuk dan sebagainya ( yaitu perkara2 yang dibenci dalam shalat).

    19. Seseorang yang sedang melaksanakan shalat berarti mengetuk pintu Yang Maha Kuasa, sebagaimana orang yang mengetuk pintu, maka pasti akan dibukakan baginya.

    20. Kedudukan shalat dalam agama adalah seperti kepala pada badan.

    21. Shalat adallah cahaya hati, barangsiapa yang ingin agar hatinya bersinar, hendaklah dia menyinarinya dengan shalat.

    22. Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudian melaksanakan dua atau empat rakaat shalat, baik shalat fardhu ataupun sunnat dengan khusyu dan khudhu, lalu memohon ampunan kepada Allah atas dosanya, niscaya Allah akan mengampuninya.

    23. Bagian bumi yang diatasnya disebut nama Allah melalui shalat, maka bagian bumi itu akan membanggakannya kepada bagian2 bumi yang lain.

    24. Barangsiapa berdoa kepada Allah setelah melaksanakan shalat dua rakaat, niscaya Allah mengabulkannya baik secara langsung ataupun ditangguhkan, demi kemaslahatan dirinya. Yang jelas doanya pasti diterima.

    25. Barangsiapa melaksanakan shalat 2 rakaat seorang diri tanpa diketahui oleh siapapun kecuali Allah dan para malaikat-Nya, maka dia mendapat jaminan keselamatan dari api neraka.

    26. Barangsiapa melaksanakan satu shalat wajib, maka bginya satu doa yang makbul di sisi Allah.

    27 Orang yang menjaga shalat lima waktu, dengan memperhatikan ruku, sujud dan wudhu yang sempuna, maka wajib baginya syurga dn haram baginya neraka.

    28. Selama seorng muslim menjaga shalatnya, maka setan akan takut padanya. Tetapi jika melalaikannya, maka setan akan berani kepadanya dan akan menyesatkannya.

    29. Amal yang paling utama adalah shalat lima waktu.

    30. shalat adalah kurbannya setiap orang yang bertakwa.

    31. Amal yang paling disukai Allah adalah shalat di awal waktu.

    32. Barangsiapa pergi untuk melaksanakan shlat Subuh, maka ditangannya dia membawa bendera iman. Dan barangsiapa pergi kepasar pada waktu subuh, maka ditangannya adalah bendera setan.

    33. Empat rakaat shalat sunnat sebelum shalat Zhuhur sama pahalanya dengan empat rakaat shalat Tahajjud.

    34. Empat rakaat shalat sunnat sebelum Zhuhur ,kedudukannya sama dengan 4 rakaat shalat Tahajjud.

    35. Apabila seseorang berdiri melaksanakan shalat, maka rahmat Allah tercurah padanya.

    36. Seutama-utama shalat (setelah shalat fardhu) adalah shalat pada pertengahan malam, namun sedikit sekali orang yang mengerjakannnya.

    37. Jibril as. datang kepada Muhammad saw, dan berkata “Wahai Muhammad, berapapun lamanya engkau hidup, suatu hari nanti pasti akan mati juga. Siapapun yang engkau cintai, pada suatu hari nanti pasti engkau berpisah dengannya. Dan segala amalan yang engkau kerjakan (yang baik ataupun yang buruk), pasti engkau akan mendapatkan balasannya. Tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah paa Tahajjudnya, dan kemuliaannya juga adalah pada sifat qana’ahnya.”

    38. Dua rakaat shalat pada akhir malam adalah lebih utama daripada dunia dan seisinya. Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan mewajibkannya kepada mereka.

    39. Jagalah shalat Tahajjud, karena Tahajjud adalah jalan orang2 shalih dan jalan untuk mendekati Allah, penjaga dari pebuatan dosa, penyebab keampunan dosa, dan meyehatkan badan.

    40. Allah swt berfirman, “Wahai anak adam, janganlah malas melaksanakan empat raakat shalat pada permulaan hari, niscaya Aku pasti akan memenuhi seluruh keperluanmu pada hari itu.”

    Sesungguhnya keutama2an shalat dan kabar gembira bagi orang2 yang menjaganya banyak sekali disebutkan di dalam kitab2 hadits. Namun semoga kiranya 40 hadits yang disebutkan diatas sudah mencukupi..
    Sesungguhnya shalat adalah sesuatu kekayaan yang sangat berharga. Hanya orang2 yang diberi Allah kelezatan shalat yang dapat menghargainya. Begitu berharganya shalat, sehingga Rasulullah saw. menjadikannya sebagai penyejuk mata, dan karena kelezatannya maka beliau saw. menghabiskan sebagian besar malamnya dengan melaksanakan shalat. itulah alasannya mengapa Rasulullah saw. secara khusus berwasiat mengenai shalat ketika akhir hata beliau saw. dan berpesan agar benar2 menjaganya. Di dalam banyak hadits, Rasulullah saw, bersabda, “Takutlah kepada Allah mengenai shalat,…Takutlah kepada Allah mengenai shalat,…Takutlah kepada Allah mengenai shalat,” Ibnu mas’ud ra. meriwayatkan dari Rasulullah saw., bahwa beliau saw bersabda, “Amalan yang paling kucintai adalah SHALAT”

    Semoga ada manfaatnya..Amiien

    Wassalam

    al fakir kelana

  95. Gatotkaca said

    pemahaman yang ku masih pedalami……lam kenal ya mas……

  96. Lambang said

    Selamat Malam Mas PJ,

    Mau tanya tentang quote yang ini :

    Karenanya renungkanlah…..kenapa pada saat Takbiratul Ihram mengangkat ke dua tangan dan mengatakan “ALLAAHU AKBAAR”. Ternyata Itu adalah Tanda dan Bukti bahwa dalam Penyerahan Diri akan Tumbuh Kesadaran bahwa “YA” BENAR!!!!…..Allah Maha Besar dan Meliputi”.

    Kalimat ini tentang Takbiratul Ihram.

    Kalau tentang sujud yang menghadap kiblat yang terletak di Arasy’nya Allah, apakah bisa diartikan menyembah juga? Kalau iya, berarti itu salah karena menyembah. Kalau tidak, berarti ada makna lain dari sujud yang artinya tidak menyembah. Mohon penjelasannya mas….
    Salam Persahabatan.

  97. why_snu said

    subhanallah………..maha besar alah dengan kudratnya….emang kita seringkali terjebak pada manifestasi pikiran kita, yang adakalnya itu semua tenpa kita sadari dapat menyesatkan kita, belajar dan terus mengkaji ilmu allah maka akan kita temukan jatidiri penghambaan kita sebagai makhluk allah…….salam…..

  98. KangBoed said

    Tertunduk ku dimalam ini
    Terdiam mencoba berucap nada CINTA
    Alunan Zikir alam semesta sayup terdengar
    menyapa mesra diri lemah tiada daya
    kudengungkan dalam qolbu terdalam
    Nyanyian pengagungan dan penyembahan
    Hadirkan diri dalam CINTA membara
    Perlahan tapi pasti getar menyambut
    Bagaikan gelombang membuat diri tergetar
    Hanyut sudah dalam buaian syahdu
    Diri hilang lenyap dalam pangkuanNYA
    Terang benderang padang terawangan..
    hilang.. lenyap.. tiada keberadaan..

    doooooh nikmaaaaatnyaa

  99. batjoe said

    sibuk terus samapi ndak update nih pak…
    maksih pak ajarannya keamrin isnya Allah pasti saya dateng lagi

  100. KangBoed said

    Malam ini kutertunduk…
    Diam dalam keheningan…
    Kubuka sedikit mulutku…
    Pelan terucap kata permohonan ampun…

    Hati terdalam berceloteh mesra…
    Menghadirkan tangis penyerahan diri…
    Melantunkan lagu sujud syukuuur…
    seakan kucoba berbicara dengan sahabatku…

    Kurasakan getaran simfoni nan indah mesra…
    Merinding seluruh bulu tubuhku…
    Seakan ikuti irama lafadz zikir…
    Mengalun perlahan tapi pasti…

    Seakan alam semesta turut berdendang…
    Menggetarkan sajadah kumalku…
    Sapaan dari dimensi kehidupan lainnya…
    Seakan ingin menunjukan eksistensinya…

    Tak kupedulikan apalagi kuhiraukan…
    Semakin dalam kutenggelaaaam…
    Hanyut dalam getaran nikmat ruaaar biasaaa…
    Tak tergambar dengan ucap dan kata…

    Masuk sudah dalam DIAM…
    DIAM dalam keDIAManNYA…
    Terhanyuuuuut sudah kesadaranku…
    Terlena sudah… tenggelaaaaam…

    Tiada daya dan upaya…
    Bahkan untuk mengangkat tanganku…
    Bahkan untuk berfikir dan menyadari…
    Serasa Hilang lenyap semuanya… entahlah…

    Hilang… Lenyaaaap…
    Tiada kutemukan apapun…
    Tiada kusadari apapun…
    Yang ada hanya… entahlah…

    Apakah ku tertidur…
    Apakah ku tak sadar…
    Apakah ku masih ada…
    Entahlah !!!…

    Salam Sayang… Salam Taklim…
    Salam Sejati dari sibotol kosong…
    Bodoh dan tolol banyak omong kosong…
    Untuk sahabatku para pejalan CINTA…

  101. Segala kebaikan..
    Takkan terhapus oleh kepahitan
    Kulapangkan resah jiwa..
    Karna kupercaya..
    Kan berujung indah

    MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
    MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN……..

  102. Sumego said

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh saudaraku Pengembara Jiwa

    MINAL AIDIN WAL FA IDZIN mohon maaf lahir dan batin atas segala pikiran, hati serta tingkah laku yang kurang berkenan yang tersurat maupun tersembunyi…semoga dihari yang penuh Rahmat ini Mas PJ dan keluarga menjadi hamba-hamba yang selalu dimuliakan 4JJI Swt…Aamiin

    Wss.Wr.Wb

  103. m4stono said

    Tak terasa ramadhan segera berakhir, para sufi pun menangis karena segera ditinggal ramadhan bulan paling bagus untuk menuju sang kekasih, kita yang lahir akan segera kembali kebatin kelak, segala yang lahir akan kembali ke batin, segala yg batin hanya milik Allah, segala dosa insya Allah akan dilebur, apabila ada salah salah kata dalam berucap maupun postingan maka itu hanya kesalahan kami belaka, segala kebaikan kebaikan yg tersirat hanya milik Allah semata. Akhirnya hanya bisa terucap selamat hari raya Idul Fitri 1430 H kepada mas PJ mohon maaf lahir dan batin, taqabalallahu minna wa minkum taqabalallahu yaa karim, minal aidzin wal faidzin

  104. KangBoed said

    Terselip khilaf dalam candaku,
    Tergores luka dalam tawaku,
    Terbelit pilu dalam tingkahku,
    Tersinggung rasa dalam bicaraku.
    Hari kemenangan telah tiba,
    Semoga diampuni salah dan dosa.
    Mari bersama bersihkan diri,
    sucikan hati di hari Fitri.
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqobalallahu minnaa wa minkum
    Shiyamanaa wa shiyamakum
    Minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllll

  105. KangBoed said

    Kedaling rasa nu pinuh ku bangbaluh hate, urang lubarkeun, ngawengku pinuh ku nyuuh, meungpeung wanci can mustari. Taqabalallahu Minna Wa Minkum
    Wilujeng Idul Fitri 1430 H, sim kuring neda dihapunten samudaya kalepatan.
    Kuring neda dihapunten kana samudaya kalepatan, boh bilih aya cariosan anu matak ngarahetkeun kana manah, da sadayana oge mung saukur heureuy, manusa mah teu tiasa lumpat tina kalepatan jeung kakhilafan

  106. Lambang said

    Saya mohon maaf lahir dan batin kepada mas PJ sekeluarga.
    Saya juga mohon maaf kalau ada komen atau pertanyaan yang kurang berkenan. Maklumlah, saya ini mungkin kebanyakan praktek tapi kurang teori, jadinya suka bingung kalau baca artikel syari’at, fiqih, dan tafsir.
    Mohon maaf lahir dan bathin juga untuk mbaknya. Sedih juga rasanya melihat mbaknya belum diijinkan untuk buat blog sama mas PJ… hehehe… padahal bagus lho untuk menambah wawasan ataupun pencerahan.
    Mudah-mudahan kapan-kapan saya bisa mampir lagi ke padepokan mas PJ. :)
    Salam Persahabatan.

  107. strez said

    wah ini luar biasa

  108. Hamba Yang Fakir said

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh saudara2ku.

    Dalam melaksanakan tiap Rukun sholat isinya adalah”mengingat Allah dengan khusyuk”

    Firman Allah: “Tegakkanlah sholat UNTUK MENGINGAT Aku”

    Allah mengetahui kelemahan hamba-Nya yg sering lengah “mengingat Allah” maka Diwajibkannya sholat 5 waktu sehingga diantara kelengahan hamba untuk “mengingat Allah” paling tidak 5 kali satu hari KEMBALI KEPADA-NYA dengan kata lain:”mengingat-Nya dengan khusyuk” Maka Allah sangat senang bila ada hamba-Nya yang kembali, lebih senang dibandingkan bila seorang musafir di padang pasir kehilangan untanya yg membawa perbekalan dan mendapatkan untanya kembali kepadanya. Subhanallah…

  109. wawan said

    @All

    Di hari yg Fitri ini saya mengucapkan;

    Taqqobalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa shiyamakum. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin :)

    Wassalam

  110. Alam Rasa said

    Semoga Rahmat Allah dilimpahkan kepada saudaraku Pengembara Jiwa dan ALL.

    Tanpa terasa bulan Ramadhan telah berakhir
    Dan tak lama lagi kita kan mendengar gema takbir

    “Allahu akbar (3x)..
    Laa illahailallahu Allahu akbar..
    Allahu akbar walila ilham”.

    Ya Allah, rahmatilah kami, Agar kami menyadari bahwa kami harus saling mengampuni untuk dapat lebih dekat lagi kepada-Mu. Bantulah kami, agar kami dapat mengampuni semua orang yang pernah bersalah kepada kami dengan setulus-tulusnya.

    Ya Allah, rahmatilah hati kami,
    Agar semua dendam, benci, kesedihan, sakit hati, ketidak puasan, kejengkelan, dan emosi negatif lainnya yang disebabkan oleh orang lain, semuanya berganti dengan Cahaya dan Kasih-Mu.

    Ya Allah, rahmatilah kami,
    Agar dapat menyadari semua kesalahan-kesalahan kami, baik kepada-Mu maupun kepada sesama kami. Kami menyesal dan memohon ampun atas semua kesalahan kami tersebut dengan sungguh-sungguh.

    Ya Allah, terimalah semua amal ibadah kami di bulan yang suci ini
    Biarlah Kasih-Mu menyentuh dan memenuhi seluruh hati kami
    Menguatkan hati, kasih, kesadaran, dan kerinduan kami kepada-Mu.
    Agar kami semakin mengasihi-Mu.
    Terimalah Kasih kami. Amien

    Kepada saudaraku semua di Pondok ini, aku ucapkan:
    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H
    Mohon Maaf Lahir dan Batin

    Wassalam

  111. KangBoed said

    Satu kata yang tiada tergantikan
    Kata MAAF nan tulus dan ikhlas
    Keluar dari lubuk hati terdalam
    Terselip khilaf dalam candaku,
    Tergores luka dalam tawaku,
    Terbelit pilu dalam tingkahku,
    Tersinggung rasa dalam bicaraku.
    Buruk laku tindak tandukku
    Hanya Harap dan MAAF terucap
    Mudah mudahan esok lebih baik
    Saat Hari Kemenangan telah tiba,
    Semoga diampuni salah dan dosa.
    Mari bersama bersihkan diri,
    Murnikan Jiwa dalam genggamanNYA
    sucikan keping hati di hari nan Fitri.
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqoba lallahu minnaa wa minkum
    Shiyamanaa wa shiyamakum
    Minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin

    Dari :
    “Kang Boed Sekeluarga”

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllll

  112. KangBoed said

    Lebaran telah tiba !!!..

    Sebulan sudah kita jalani Ramadhan bersama
    Malam penghujung hari yang indah ini
    Genderang Perang sudah di tabuh.
    Pekik Kemenangan dikumandangkan
    Alunan Nada Pengagungan dinyanyikan
    Suara Riang Gembira berkeliling kota
    Ramadhan dengan segala perniknya telah kita lewati bersama

    “Demi Masa sesungguhnya manusia itu merugi”

    Mudah mudahan Jerit kemenangan ada dalam diri kita semua
    Sebab tiadalah semua ini kecuali kembali kepada Fitrah Diri
    Mari bersama kita saling mensucikan diri menuju Illahi Robby
    Membersihkan diri melangkah menemukan diri sebenar diri
    Mulai menghampiri DIA tulus ikhlas karena CINTA
    Meraih keselarasan diri dalam Ketenangan Jiwa
    Bebenah dan jadikan momentum kemenangan ini
    Menjadi Manusia seutuhnya meliputi lahir bathin
    Dahulu datang putih suci bersih
    Mudah mudahan kembali suci putih bersih
    Tiada kata yang terungkap lagi
    Mari kita bersama menyambut hari yang FITRI
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqoba lallahu minnaa wa minkum
    Shiyamanaa wa shiyamakum
    Minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin

    Dari :
    ” Kang Boed Sekeluarga “

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaaaank

    I Love U fuuulllllllllllllllllll

  113. tomy said

    Allah adalah Yang Samasekali Lain, mengatasi segala peristilahan manusia, Akan selalu berkembang bersama kesadaran & kedewasan manusia, sedang manusia akan selalu tetap berada dalam pencariannya. Tak akan pernah ada iman yang selesai.
    Maka Allah akan menjadi Tuhan Semesta yang hidup, bukan Tuhan Sejarah yang mati dalam teks2 kosong & konsep2 yang diberhalakan.
    Tiada penyembahan hanyalah penyerahan akan Hidup dan segala yang terjadi dalamnya, menerima dengan ikhlas segala yang dipersiapkan hidup bagi kita.
    Juga dalam setiap kebetulan-kebetulan yang terjadi seperti saat kita bertemu *atau bila terhadap seorang wanita kukatakan saat aku terjerat lentik bulu matamu* :mrgreen:
    Karena ada sebuah proses dalam segala peristiwa, ada kedalaman dalam momen dangkal hidup kita

  114. tarqi said

    mantaaaaaaaaaap……

  115. fery said

    buat pengembara maap ya, setahu saya ada ayat yg mengatakan bahwa allah itu ada/ wujud. dan allah wujud allah tdk sama dg wujud kita /mahluknya. mari kt sama2 trs belajar

    • tarqi said

      iya yah betul jg apa yg dikatakan maz Fery, jadi wujud-Nya seperti apa yah? kalau memang tdk sama dgn mahluk-Nya. tp kalau boleh sharing sm maz fery memang wujud Allah itu dikatakan tidak sama. tp mungkin kata2 ini bisa membantu kita untuk belajar, Allah meliputi tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi dan barang antara keduanya. mudah2an bermanfaat trims

    • Alam Rasa said

      Bila kita bicara mengenai Kebesaran dan Kekuasaan Tuhan, aku hanya dapat mengatakan bahwa manusia harus sadar bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menyadari kebesaran, kekuasaaan ataupun keesaan Tuhan, karena jauh melebihi semua imajinasi manusia manapun.

  116. Soal menyembah Allah :

    Pertama : adalah kesadaran dulu bahwa Allah itu Esa (Surah Al-Ikhlas). Lalu apakah menyembah Allah itu salah???.

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.(Surah Thaahaa Ayat 14).

    “Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS-3: 43).

    Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.(AL Hajj:26)

    Dari contoh diatas dapat dipahami bahwa menyembah Allah dengan Shalat dalam artian gerakan (rukuk-sujud)adalah yang utama, selebihnya bisa beramal baik seperti sedekah dll.

    Menyembah Allah tidak bisa lalu disamakan menyembah patung. Allah memang suatu sosok (Dzat) yang tak ada duanya. Allah sosok karena DIA ada.

    So, tak hanya mengatakan Allah itu Esa,…tapi ada suatu keinginan untuk merabaNYA..dengan shalat..untuk menyembahNYA.so bercintalah dengan Allah dengan shalat baik shalat gerakan atau pujian…hehehe

    • tarqi said

      hebat pertanyaan mas wedul ini, saya jg mau bertanya kepada pengembara jiwa, tolong jelaskan yang disebut2 maryam & ibrahim orang2 yg sujud dan rukuk itu yang mana sih orang nya? apakah memang patut di tiru pada jaman itu? sedangkan sy pernah membaca: bukan kah ummat yg paling mulia itu adalah ummat Rasul Muhammad rasullallah? trima kasih…… sy tunggu jawabannya.

  117. “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS, Al – Ankabuut : 45)

  118. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka mengabdilah hanya kepada Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS, Thaahaa : 14)

    tanpa shalat pun sebenarnya bisa ingat…hehehe, itu mengapa banyak yang habis shalat bermaksiat lagi. Ingat disini maksudnya….menyadari bahwa segala yang dilakukan di dunia akan kembali kepada Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban. Dan memang perlu kekhusyukan agar benar2 jiwa ini tersentuh sehingga habis shalat sikap jadi lebih baik.

    • tarqi said

      betul sekali mas wedul… artinya shalat nya jgn putus pas ketika mengerjakan sembahyang saja, tp setelah sembahyang pun shalat tetap hrs slalu didirikan (shalat da’im) sehingga kita bisa sadar dalam memilih tindakan mana yg baik-jahat, salah-benar & halal-haram. trims…..

      • KangBoed said

        Hanya CINTA yang dapat membuat diri terbagi.. membuat JIWA selalu bersama dengan yang di CINTAinya.. yayaya.. hanya CINTA.. tiada yang lain..

        Salam Sayang Selalu

  119. KangBoed said

    HADIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRRRRRRRRRR..
    Menyapa Mas Pengembara Jiwa chayank..
    MAAF..
    Baru jalan jalan dan keliling lagi..

    salam sayang untukmu sekeluarga

  120. KangBoed said

    Sebulan sudah kita jalani Ramadhan bersama
    Malam penghujung hari yang indah ini
    Genderang Perang sudah di tabuh.
    Pekik Kemenangan dikumandangkan
    Alunan Nada Pengagungan dinyanyikan
    Suara Riang Gembira berkeliling kota
    Ramadhan dengan segala perniknya telah kita lewati bersama
    “Demi Masa sesungguhnya manusia itu merugi”
    Mudah mudahan Jerit kemenangan ada dalam diri kita semua
    Sebab tiadalah semua ini kecuali kembali kepada Fitrah Diri
    Mari bersama kita saling mensucikan diri menuju Illahi Robby
    Membersihkan diri melangkah menemukan diri sebenar diri
    Mulai menghampiri DIA tulus ikhlas karena CINTA
    Meraih keselarasan diri dalam Ketenangan Jiwa
    Bebenah dan jadikan momentum kemenangan ini
    Menjadi Manusia seutuhnya meliputi lahir bathin
    Dahulu datang putih suci bersih
    Mudah mudahan kembali suci putih bersih
    Tiada kata yang terungkap lagi
    Mari kita bersama menyambut hari yang FITRI
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqoba lallahu minnaa wa minkum
    Shiyamanaa wa shiyamakum
    Minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin
    Dari :
    ” Kang Boed Sekeluarga “
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabat Sahabatkuku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

  121. KangBoed said

    mudah mudahan semangat lebaran.. semangat persahabatan dalam CINTA dan KASIH SAYANG terus melekat di hati kita semua.. dan bertumbuh kembang membangun kembali kepribadian bangsa yang ramah dan penuh CINTA
    salam sayang untukmu saudaraku

  122. SIN said

    Assalamu’allaikum wr. wb
    Salam Damai Didalam Ketenangan Jiwa

    Tertuju kepada seluruh hamba Allah yang dimuliakan di pondok ini
    semoga rahmat Allah senantiasa tercurahkan dalam membimbing kita kepada dimensi kesadaran tanpa batas tak terhingga menuju fitrah diri yang tiada daya dan upaya…

    Salam Kangen buat saudara2 sejatiku tercinta,

  123. sholah said

    sejatinya itulah kehidupan
    hubungan makhluq dengan Sang kholiq…
    tapi saya pinta
    pengungkapan kaya gitu Mas, maaf paling tidak hati……..
    karena sekarang zamannya sudah modern anak-anak kecil sudah pandai mengakses………
    jadi pada intinya, takut yang belum mencapai akan pemahaman artikel Bapak bisa menjadikan kemelut di dalam pemikirannya…..
    mungkin dari saya, biar pemahamannya lebih mudahnya kan sholat seperti biasanya : niat, gerakan, ucapan

    • @Sholah

      Terimakasih Mas….sudah mengingatkan……, Alhamdulillah KarenaNya semata lah Mas Sholah dapat berkunjung kemari dan bersedia untuk memberikan Masukkan kepada Kami2 terutama saya sendiri. Sekali lagi saya ucapkan Terimakasih………

      Namun……….., yang ada kepahaman di saya bahwa HIDAYAH itu Murni HAQ ALLAH SWT, Dan Hanya ALLAH SWT lah yang berhaq menurunkan HIDAYAH kepada siapa yang di kehendaki. Adapun kita sebagai Insan hanya lah saling ingat mengingatkan dalam Kebenaran dan Kesabaran. Karena itu Sampaikanlah Kebenaran itu……dengan Penuh kebijaksanan dan Tutur Kata yang Baik, mengenai HDAYAH maka serahkan segalanya kepada ALLAH dan berdo’alah agar kita semua yang telah mendapatkan Pengetahuan juga mendapatkan HIDAYAHNYA sehingga dapat memaknai Ilmu dengan sebaik2nya yang sesuai dengan Ridho ALLAH SWT.

      Salam Takzim
      Wassalam

  124. truthseeker08 said

    @All
    Untuk yang di jakarta Silakan rehat bentar dan menikmati: 105.8 FM Lite FM, tiap kamis malam jam 21:00 – 22:30.

    Semoga bermanfaat.

    Salam Damai

  125. @PJ

    Kalo menurut saya adalah sangat berbeda antara menyembah Allah dgn menyembah berhala, patung, matahari dll. Kalo dihubungkan dgn shalat, maka shalat adalah perintah Allah untuk mengingat-Nya (Dzikrullah). Jadi shalat adalah bagian dari menyembah Allah. Kalo salah tolong dikoreksi. :)

    Wassalam…

    • @Wawansyah17

      Mengabdilah kepada Allah dan Menyembahlah kepada Allah jika kita lihat sepintas tiada beda. Tetapi jika kita renungkan lebih dalam Makna nya sangat jauh sekali berbeda.

      Contoh :
      – Sebagai Anak yang Sholeh/Sholehah maka sudah sepantasnyalah mereka Mengabdi kepada kedua Orang Tuanya.
      – Sebagai Anak yang Sholeh/Sholehah maka sudah sepantasnyalah mereka Menyembah kepada kedua Orang Tuanya.

      Nah…Dua kata tersebut : Mengabdi dan Menyembah memiliki dua Makna yang berbeda… kan.???

      Mengabdi ——-> Mencintai, Mengerti serta mengikuti Arahan2 dalam Perintah2 dengan sepenuh kesadaran bukan dengan keterpaksaan.

      Menyembah —-> Memuja-Muja dengan Harapan sesuatu (mengharap sesuatu) kepada yang di Sembah, padahal….sekali2 Allah Swt tidak akan pernah mengecewakan HambaNya karena Hamba itu adalah MilikNya dan sudah Pasti Allah Maha Mengetahui akan Kebutuhan2 HambaNya sebelum Hamba itu sendiri mengetahui ttng apa2 kebutuhannya.

      Wassalam

  126. rahmat asep said

    salam hangat-sehangat2nya mas PJ, krn di pondok PJ seminggu sekali & kadang2 kami berhalangan hadir, mohon izin kan menyimak disini. trims before

    • @Rahmat Asep

      Salam Hangat selalu pula untuk Mas Rahmat Asep Sekeluarga, silahkan……Mampir di Pondok PJ yang ini dan silahkan……duduk2 dulu sambil Mencicipi Hidangan MENU di Daftar Isi yang telah tersedia.

      Wassalam

  127. Kangdudung said

    Ass..
    Ikutan sharing
    Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku
    Silahkan sahabat untuk mengartikan menyembah atau menyaksikan. Sungguh tidak ada yang salah dengan semuanya itu. Meskipun demikian, yang lebih tepat adalah menyaksikan, karena hakekat tauhid adalah bersaksi. Sesungguhnya kalau sudah memasuki alam tauhid, tidak ada bahasa menyembah atau menyaksikan, tidak ada bahasa ikhlas, tidak ada bahasa manunggalng kawula-gusti. Emang ada kawula?
    Yang ada kelu, tak ada bahasa yang dapat menampung.
    Sesungguhnya, adanya malam hanyalah pergeseran bumi, karena matahari tidak pernah berhenti memancarkan sinarnya. Tapi di alam semesta apakah bisa dikatakan siang atau malam? tidak ada bahasa. Tapi meskipun demikian, yang lebih mendekati adalah siang.
    Sesungguhnya cahaya dan kegelapan diliputi-Nya, tapi apakah ada asma Allah yang Maha Gelap? yang ada adalah Yang Maha Cahaya.
    Sesungguhnya kebaikan dan keburukan diliputi-Nya, tapi pantaskah kita mengatakan Allah Maha buruk? yang ada kan Allah Maha Baik.
    Jadi apapun persangkaan hamba-Nya, Allah tidak akan menyalahkan.

    • @KangDudung

      Wa’alaikum salam Kang……!

      Saya sangat bersyukur sekali jika Kangdudung bisa ikutan Sharing di Pondok PJ ini, Terimakasih…Kang.

      Saya setuju sekali dengan apa yang Kangdudung uraikan di atas, sangat mencerahkan sekali Kang. Terutama mengenai Kalimat ini :

      “Sungguh tidak ada yang salah dengan semuanya itu. Meskipun demikian, yang lebih tepat adalah menyaksikan, karena hakekat tauhid adalah bersaksi. Sesungguhnya kalau sudah memasuki alam tauhid, tidak ada bahasa menyembah atau menyaksikan, tidak ada bahasa ikhlas, tidak ada bahasa manunggalng kawula-gusti. Emang ada kawula?
      Yang ada kelu, tak ada bahasa yang dapat menampung”.

      Benar sekali Kang, dan Terimakasih sekali….

      Satu yang saya Yakini bahwa : “Tidak ada yang sia2 dari apa2 yang terlihat, terdengar maupun terasa karena di dalamnya pastilah terdapat Hikmah2 untuk Menuju kepada Kebenaran Sejati”, dan tentunya…..bagi mereka2 yang dapat mengambil pelajaran di dalamnya. Mereka2 yang telah menemukan Kebenaran Sejati maka baginya tidak ada persoalan dan tidak ada masalah dari sudut pandang manapun dalam perjalanan Ilmu, karena mereka telah menyaksikan akan Kebenaran itu sendiri. Tetapi bagaimana dengan mereka yang belum sampai kepada tataran Penyaksian itu….???, tentunya harus melalui tahapan2 dalam keyakinan, bukan sekedar ikut2an kan…???
      Karena Keyakinan itu tidak semudah membalik Telapak Tangan hanya dengan mengikuti apa2 yang sudah menjadi Tradisi bukan berarti sudah lebur dalam Iman yang berisi Yakin. Karena itulah sangat pentingnya Ilmu sebagai dasar mencapai Iman dan Yakin. Bukan begitu Kang….???? (Mohon Sharingnya…)

      Salam Ta’zim,
      Salam Ta’lim,

      • Kangdudung said

        Ass..
        Sekalipun petani menanam suatu pohon, hakekatnya yang ditujunya adalah buah. Benih, akar, batang, cabang, ranting, daun, semuanya ditujukan untuk sang buah.Namun, sekalipun pohon telah berbuah, buah yang manislah yang dikehendaki petani. Sekalipun, buah itu terasa manis, hakekatnya, rasa petanilah yang maujud, karena petanilah yang punya lidah dan rasa.
        Sekalipun alam semesta di ciptakan lebih dahulu, hakekatnya manusialah yang dituju Sang Pencipta. Sekalipun manusia telah tercipta, hakekatnya manusia yang ma’rifatlah yang dikehendaki Sang Pencipta. Sekalipun manusia itu berma’rifat, hakekatnya ma’rifat Allah-lah yang maujud, karena hakekatnya Allah lah yang disaksikan, bersaksi, dan menyaksikan. Kita hanyalah bejana tuk mewujudkan tajalli-Nya.

      • @Kangdudung

        Wa’alaikum salam…Kang..!!!

        ………………maka hendaknya bejana itu senantiasa dalam ke Fitrahan diri “Laa hawla wa Laa Quwwata…” agar tersingkap segala Hijab, Fana dalam Rahmatullah dan Akhirnya Tajalli Allah tiada keraguan dan tiada Syak wasangka lagi melainkan “Yaaa…… BENAR-lah…….”

  128. Hamba yg Dhaif said

    Assalamu alaikum Wr.Wb

    Salam kenal semuanya

    Saya ingin bertnya tentang hadist nabi, sholatlah se akan2 engkau melihat Allah, dan apabila tdk bisa sholatlah bahwa Allah itu melihat kita , mohon penjelasan semuanya

    trims

    balas

    • Kangdudung said

      Ass..
      Hadis itu merupakan penjabaran dari derajat Ihsan. Berbicara mengenai derajat, dikalangan tasawuf ada terminal-terminal yang harus dilewati pesuluk (hamba yang menuju Allah). Mulai dari terminal Taubat, Sabar, Syukur, Ridha, Tawakal, Khauf, Roja’, Mahabbah, Moroqobah, Mu’ayanah, Mukasyafah dan Musyahadah.
      Sholatlah seakan2 engkau melihat Allah, merupakan keadaan (hal) orang2 yang berada di terminal Musyahadah, artinya orang2 tsb merasakan selalu berhadapan dengan Allah dalam segala keadaan, bukan hanya sholat (Kemanapun kamu menghadap, disitulah Wajah Allah.
      Apabila tak mampu merasakan itu, sholatlah dengan merasakan bahwa Allah selalu mengawasi kita. Inilah derajat orang2 yang ada di terminal Muroqobah (selalu merasa diawasi oleh Allah). Orang2 diterminal ini selalu waspada dalam menjaga itikad, konsep, perilaku maupun ucapan mereka, karena selalu merasa diawasi Allah.
      Demikianlah, sepengetahuan saya, ma’af jika kurang memuaskan.

    • @Hamba yg Dhaif

      Wa’alaikum salam Wr,Wb….

      Salam Kenal kembali…., dan selamat datang di Pondok PJ ini, semoga ada setitik Cahaya Hikmah di dalamnya.

      Mengenai Pertanyaan tadi saya rasa sudah di wakilkan oleh saudara kita Kangdudung dan saya pun berterimakasih atas Uraian Beliau(Kangdudung) yang dengan Tulus menjabarkan dari kemelut pertanyaan yang ada. Dan apa2 yang sudah di jelaskan sangat simple dan Mudah sekali untuk di pahami dengan kata2 yang sangat sederhana.

      Jika ada saudara2ku yang lain di Pondok PJ ini yang mau menambahkan ttng apa2 yang di pertanyakan oleh saudara Hamba yg Dhaif, di persilahkan………..

      Wassalam

      • Hamba yg Dhaif said

        Alhamdulillah

        Mas Pj & kangdudung

        atas jawabannya , semoga Allah membalasnya

        Amin ya Robbal alalim

  129. @Kangdudung

    Assalamu’alaikum…

    Salam kenal Kang,
    Penjelasan Akang sungguh begitu mencerahkan dan sepertinya sangat menguasai mengenai Tasawuf. Saya ingin bertanya, bagaimana tingkatan (maqam) dlm Tasawuf yg sesungguhnya? soalnya banyak informasi yg masih simpang siur tentang hal ini. Atas penjelasannya, sebelumnya saya mengucapkan terimakasih.

    Wassalam…

    • Kangdudung said

      Ass..
      Sebelumnya saya mohon ma’af kepada mas PJ, karena saya telah lancang menjawab pertanyaan dari hamba yang dhaif. Sungguh saya hanyalah ingin berbagi saja, mudah2an mas pj mema’afkan dan semoga rahmat Allah senantiasa melimpahi mas PJ beserta keluarga.

      Untuk sahabat Wawansyah,
      Jangan terlalu merisaukan masalah maqom (terminal), semuanya adalah hanya untuk kepentingan penjelasan. Secara sederhana, seperti ini, saya dari Bandung tujuan ke Jakarta, sebelum sampai ke Jakarta saya harus melewati terminal (maqom) Leuwi Panjang, terminal Cianjur, Terminal Baranang Siang (Bogor), terminal Kampung Rambutan, dan terus ketempat tujuan, kita pasrahkan (bertawakal) semuanya kepada Supir (Guru Mursyid).Ini jalan yang umumnya dilalui pesuluk dari kalangan ahli Tarekat, tapi bukan satu2nya jalan.
      Ada juga yang mengambil jalan dipersingkat melalui terminal Leuwi Panjang langsung lewat toll Cipularang ke Jakarta (ini dilalui oleh orang2 khusus), yang lebih khusus bisa jadi kalau melalui kendaraan pribadi tidak melewati tahapan tersebut dengan syarat kita mengetahui ilmu mengemudi dan tahu rute (termasuk rintangan2 yang ada) dalam perjalanan ke tujuan. Yang dimaksud khusus disini, tidak menunjukkan bahwa jalan yang satu lebih baik dari jalan yang lain, semuanya sama aja.
      Silahkan ambil perjalanan yang manapun, yang penting dapat menyampaikan kita ketujuan, karena tiap orang berbeda2 kecenderungan, keyakinan, pengalaman, konsep dan sangkaan2 yang mempengaruhinya. Adanya perbedaan dalam menjelaskan maqom2 itu, bukan dari sisi esensinya, tapi dari faktor2 yang mempengaruhi penafsirnya.
      Bekal yang harus selalu dimiliki dalam semua jalan yang dilalui adalah Niat yang tulus menuju Allah, bukan untuk ngumpulin ilmu tasawuf (ulama), bukan untuk memiliki karomah, apalagi untuk tujuan2 yang sifatnya duniawi.

      Demikian yang bisa saya jelaskan, mohon ma’af jika kurang memuaskan.

      • @Kangdudung

        Wa’alaikum salam…..Kang..!

        Kangdudung tidak perlu meminta Ma’af….Karena saya sangat senang sekali dengan kehadiran Kangdudung di Blog ini bisa bersama2 saling mengisi dan berbagi Ilmu. Apalagi dalam Tasawuf itu kan…satu tujuan. Sehingga dalam Pandangan Penyaksian benar2 meresap dalam Syuhudul Wahdah Fil Katsroh Syhudul Katsroh Fil wahdah (menyaksikan yang satu ada pada yang banyak, dan menyaksikan yang banyak ada pada yang satu).

        Silahkan…..dilanjut Kang…, Saya ikut menyimak dari apa2 yang Kangdudung uraikan. Dan terimakasih sudah berbagi pencerahan

        Wassalam

      • Yandi said

        Allahu Akbar!!! Engkau memang nyata Maha Berilmu Ya Allah, ilmu-Mu telah terhampar di jagat raya ini, khususnya di Blog ini, dititipkannya ke kita semua (walaupun setitik-setitik), Salam Kenal buat @Kangdudung & @Pengembarajiwa dan salam penuh cinta buat kita semua; “Marilah kita Sho-kan(kita satukan perbedaan/ tidak ada yang berbeda=La) sampai terwujut Ta (Sampai jadi kenyataan Adan-Nya) Melainkan Allah Semata, sekali lagi makasih Kangdudung, makasih mas PJ, dan makasih buat rekan-rekan semua yang komen diblog ini sehingga Kami menjadi benar-benar yakin bahwa islam itu benar2 selamat, mudah-mudahan kita semua ditambah oleh Allah pengetahuan-NYa yang lebih mendalam lagi. Salah Kasih dan Sayang!!!! Allahuakbar

    • @Kangdudung

      Terimakasih atas penjelasan Akang. Didalam Tasawuf dikenal dgn istilah Maqam (Tingkatan) ; Ma’rifat, Syari’at, Tharikat dan Hakikat. Itu yg saya tanyakan, karena saya awam dibidang ini, sedangkan dalam penjelasan Akang tsb diatas sepertinya sudah terbiasa tanpa ada kesulitan untuk menjawab pertanyaan sdr Hamba yg Dhaif. Mohon pencerahannya lagi Kang, terimakasih.

      Wassalamu’alaikum…

      • Kangdudung said

        Ass..
        Sahabat Wawansyah,
        Syari’at, Tharikat, Hakekat, dan Ma’rifat sebenarnya merupakan suatu kesatuan nggak bisa dipisahkan. Kalau diibaratkan sebuah buah apel, syari’at itu merupakan kulitnya, Tharikat adalah daging buahnya, Hakekat bijinya, ma’rifat adalah rasa dari buah itu sendiri. Yang dikehendaki penanam adalah buah yng sempurna, dari sisi kulit, isi, biji dan rasanya. kalau salah satunya tidak ada, buahnya tidak sempurna, otomatis tidak akan dipetik sama petani. Demikian pula yang dikehendaki Allah dari manusia, harus sempurna syari’at, tharikat, hakekat, dan ma’rifatnya, bukan kesempurnaan dari salah satu asfek saja. Kalau salah satunya tidak terpenuhi, otomatis ruh tidak akan mendapat panggilan dari Allah. Jadi antara Islam, Iman, dan Ihsan adalah suatu kesatuan yang harus dimiliki oleh manusia, inilah yang dimaksud masuklah Islam secara kaffah.

        Sebelumnya, mohon ma’af, semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada sahabat.

      • @Kangdudung

        Berdasarkan penjelasan Akang artinya diantara ke-4 maqam itu adalah satu kesatuan yg utuh yg tak dapat dipisahkan dan maqam2 tsb saling menyempurnakan satu sama yg lainnya, sehingga tercapai pula kesatuan Islam, Iman dan Ihsan yg dimaksud Islam yg kaffah. Yg saya ingin tanyakan lagi, apakah Islam yg kaffah tsb hanya yg dimiliki oleh individu saja atau dalam bermasyarakat dan bernegara? atau lebih luas lagi Islam sebagai agama yg Rakhmatan lil’alamin? Demikian Kang pertanyaan saya, semoga Akang tidak bosan untuk menjawab dan menjelaskannya, terimakasih.

        Wassalamu’alaikum…

  130. Kangdudung said

    Ass..
    Sahabat Wawansyah,
    Sudah barang tentu yang namanya kaffah meliputi segala asfek, hanya dalam proses perjalanannya ada prioritas yang harus diutamakan. Dalam tasawuf, memang kecenderungan prosesnya dari individu dulu, baru ke masyarakat. Nabi Muhammad saja, sebelum diangkat menjadi Rasul (peran kemasyarakatan), beliau menjadi Nabi dulu (mujahadah individual). Kalau diperhatikan sejarah Nabi, beliau pada tahap awalnya selalu merenung dan menyendiri sebelum menyampaikan risalahnya.
    Demikian pula dalam bertasawuf, yang paripurna itu melakukan peran-peran kemasyarakatan setelah melakukan riyadhah yang tiada berhenti dalam tataran individual.

  131. [...] Oktober 2009 Hmm… lagi  melamuuun… tiba tiba teringat pembicaraan di blognya mas Pengembara jiwa… mas PJ waktu itu meminta lagu SATU  dari DEWA 19…  yang saya jawab dengan lagu satu versi [...]

  132. Kangdudung said

    Ass..
    Sahabat Wawansyah,
    Sudah barang tentu yang dimaksud kaffah adalah menyeluruh. Hanya dalam prosesnya ada prioritas2 yang harus dijalankan. Bukankah Nabi Muhammad, sebelum diangkat menjadi Rasul (peran kemasyarakatan) beliau selalu merenung dan penyendiri (peran individual). Inilah yang coba dijalankan oleh orang-orang dari kalangan tasawuf, selalu bermujahadah terhadap diri mereka sendiri, meskipun titik idealnya adalah masyarakat dan peran-peran yang lebih luas lagi. Kalau kita runut sejarah para Wali Allah, terutama para pemimpin tharekat hampir selalu berproses seperti itu, meskipun itu tidak mutlak, karena pada hakekatnya Allah saja yang memperjalankan hambanya. Makanya, ada para pejalan yang prosesnya melalui perjalanan dari bawah ke atas (keyakinan bertauhid dari af’al, asma, sifat, dan Dzat) seperti Nabi Ibrahim, dan para wali umum-Nya. Ada juga yang dari atas ke bawah, yakni orang2 yang Madjubin, seperti Asy-Sibli, Mansyur Al-Hallaj dan lain2.

    • @Kangdudung

      Wa’alaikumsalam…

      Namun dalam kenyataannya orang-orang Tharekat itu biasanya lama sekali menyendiri didalam Khalwat berdzikir dan bertafakur, sehingga masyarakat sekitarnya ada yg menyangka bahwa mereka itu sedang mencari suatu yg ghaib dan sebagian ada yg mengatakan sesat. Apakah itu benar Kang?

      Di dalam banyaknya Tharekat yg ada, apakah ada seorang pempimpin yg menjadi tokoh panutannya? atau Tharekat tsb berjalan dgn sendiri-sendiri? Sedangkan Islam dalam peranannya dalam masyarakat membutuhkan satu orang pemimpin, sehingga berada dalam satu kesatuan perintah, seperti pada zaman Rasulullah saw masih hidup. Demikian pertanyaan saya, semoga Akang tidak bosan untuk menjawabnya.

      Wassalamu’alaikum….

      • Islam secara Kaffah artinya ada peranannya dalam individu dan masyarakat.

      • Kangdudung said

        Sahabat Wawansyah,
        Dalam kenyataanya memang seperti itu, tapi tidak apa, kita nggak usah terlalu mempermasalahkan, kan kata saya juga jalan apapun yang ditempuh silahkan sepanjang tujuannya menuju Allah. Kita nggak usah ikut2an menyatakan sesat, toh apa yang dijalani kita juga belum tentu benarnya, kita serahkan saja semuanya sama Allah.
        Adapun pertanyaan mengenai Tharekat, saya sebenarnya tidak berkompeten untuk menjelaskan, mungkin mas PJ lebih mengetahui, tapi kalau nggak salah tiap tharekat nanti bersambung ke Sayyidina Ali kemudian ke Rasulullah, keculai tharekat Naqsyabandiah yang bersambung ke sayyidina Abubakar terus ke Rasulullah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pemimpinnya Rasusullah. Tapi mengenai zaman sekarang, memang nantinya akan ada seorang diakhir zaman dari keturunan Nabi Muhammad yang mempersatukan semua tharekat bahkan firqah2 di luar tharekat menjadi satu garis komando yang dikenal sebagai Imam Mahdi. Hadis2 mengenai Imam Mahdi adalah hadis yang muthawatir baik dalam tradisi syi’ah maupun sunni.
        Hanya sebatas itu yang dapat saya jelaskan, mohon ma’af.

      • @Kangdudung dan Mas Wawansyah….

        Syukur Alhamdulillah……, Diskusi ttng Ma’rifat akhirnya semakin memberi kesan yang sangat Indah dan mencerahkan dengan kehadiran Saudara Kangdudung dan juga wawansyah. Semoga dari pencerahan2 Kangdudung bisa kami semua petik hikmah2 di dalamnya yang menjadikan diri semakin Yaqin akan Kebenaran Allah Swt dalam segala IlmuNya yang Amat Maha Luas tiada batas.

        Adapun… mengenai Tharikat sebagaimana Kangdudung, saya pun tidak ada haq untuk menjelaskan secara terperinci dan mendetail dikarenakan keterbatasan pemahaman saya ttng Tharikat2 yang sudah di kenal di Masyarakat Luas dari seluruh Penjuru Dunia, jadi mohon Ma’af sebelumnya bagi saudara2ku semuanya. Silahkan…… jika ada di antara Saudara2 yang lain yang memang telah berenang dalam Lautan Tharikat untuk menjelaskan atau memberikan pencerahan seputar Tharikat.

        Wassalam

      • Kangdudung yg baik hati,
        Kalo penjelasan Akang seperti diatas, saya menjadi bingung. Memang betul semuanya serahkan kepada Allah, apa yg kita jalani belum tentu benar. Lalu untuk apa kita beragama Islam, apabila belum tentu benar? Seperti konsep mengenai Imam Mahdi antara Sunni dan Syi’ah, manakah yg benar? Apakah Allah yg Esa menciptakan dua kebenaran? Semoga Akang dapat menjelaskan kepada saya yg ada dalam kebingungan ini.

        Wassalamu’alaikum…

  133. Kangdudung said

    Ass..
    Sahabat Wawansyah,
    Adanya kebingungan merupakan rahmat Allah, bukankah dengan bingung kita terus mencari. Bukankah pencarian yang terus menerus itu merupakan sarana untuk terus menaiki tangga demi tangga jalan menuju-Nya. Maksud saya dengan belum tentu benar bukan dari sisi Islamnya, Islam adalah mutlak benarnya karena berasal dari yang Maha Benar, tapi tafsiran kita (manusia) terhadap Islam yang belum tentu benarnya. Makanya dalam salah sebuah hadis qudsi dikatakan “Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku”, jadi sangkaan-sangkaan kita terhadap Allah dan Islam itulah yang berbeda-beda. Tapi justru banyaknya sangkaan ituluh semakin menunjukkan kreatifitas Allah yang tak terbatas.
    Coba sahabat perhatikan wajah manusia, apakah ada yang sama? kalaupun ada hanya mirip saja bukan sama. Adakah sidik jari manusia ada yang sama? padahal wajah dan sidik jari hanyalah bagian dari jasad yang terbatas, apalagi perjalanan ruhani. Bukankah ruh itu tidak terbatas? Itulah kreatifitas Allah yang tak terjangkau penalaran.
    Semoga tidak menambah bingung!

    • Wa’alaikumsalam…

      Kangdudung yg bijaksana,
      Betul Kang kebingungan merupakan rakhmat Allah, karena dgn bingung maka akan terus mencari kebenaran tentang Ma’rifat-Nya yg Haq. Kalo yg Akang terangkan mengenai ciri fisik manusia, itu adalah Sunatullah yg diciptakan berpasang-pasangan. Namun mengenai kebenaran, apakah ada kebenaran dalam agama Islam ada dua? seperti konsep Imam Mahdi antara Sunni dan Syi’ah? apakah dgn prasangka bisa menentukan diantara kebenarang tsb? sungguh Kang saya semakin bertambah bingung lagi.

      Wassalamu’alaikum…

      • Kangdudung said

        Ass..
        Kalau mengenai konsep Imam Mahdi dalam tradisi sunni dan syi’ah, saya tidak begitu banyak referensi. Saya khawatir tidak terjadi keseimbangan dalam memberikan penilaian, karena saya pribadi dibesarkan dalam lingkup pengetahuan sunni, sementara mengenai syi’ah minim sekali. Mudah2an sahabat Wawansyah bisa berbagi, saya nggak berani memberikan komentar apa2. Saya hanya bisa membicarakan apa yang diketahui sebatas pengetahuan dan pengalaman yang telah saya jalani, mohon ma’af. Mudah2an ada dari para sahabat yang bisa berbagi.

        Wassalamu’alaikum

      • Wa’alaikumsalam…

        Kangdudung yg bijaksana,
        Terimakasih Akang telah berbagi ilmu dgn saya. Kalo Akang dibesarkan dalam lingkup pengetahuan Sunni, maka tolong dijelaskan konsep Imam Mahdi menurut pemahaman Sunni? kemudian apabila ada Sahabat yg pemahamannya Syi’ah, maka nanti bisa dijadikan sebagai bahan perbandingan.

        Wassalamu’alaikum…

      • truthseeker08 said

        Salam,

        Sangat menarik dan mencerahkan penjelasan dari Kang Dudung. Dialognya pun sangat menarik. Salam kenal untuk kalian berdua.
        Saya mencoba sharing sedikit yang saya pahami.
        Kebenaran dari Allah Yang Maha Suci adalah Kebenaran Mutlak. Ketika disematkan kpd manusia (bayi) yang masih suci maka kebenaran tsb masih fitrah. seiring dg berkembangnya ego manusia maka kebenaran itu bergeser menjauh (semakin subjektif) ketika ego semakin dominan dan sebaliknya Fitrah (kebenaran mutlak) tsb semakin bergeser kepada Sang Maha Benar ketika diri semakin suci.
        Begitu juga dg perjalan Kebenaran Mutlak yang melalui firman. Kebenara tsb dibawa oleh Jibril yang suci maka tidak mengalami distori (subjektif), kemudian disampaikan kepada Rasulullah saaw yang suci juga jika mengalami pergeseran makna. Namun ketika sampai kepada umat, maka secara otomatis mengalami perubahan/perbedaan2 bergantung pada maqam kesucian penerimanya.
        Perbedaan ini adalah suatu keniscayaan (krn suatu keniscayaan pula adanya perbedaan maqam) yang tidak perlu menjadi pertentangan. Karena tugas kita manusia adalah berproses dalam menuju kesempurnaan diri. Tentunya dalam proses tsb yang terjadi adalah merubah yang salah menjadi benar secara bertahap. Dan dalam proses tsb membuat pilihan2 adalah suatu yang niscaya. Pada saat dihadapkan pada pilihan2 inilah EGO mencoba menguasai diri kita.

        Yang masih salah tidak perlu dipersalahkan krn layaknya dia yang masih salah kita pun masih belum sempurna.

        Wassalam

      • @Truthseeker08

        Alhamdulillah…………………,
        Saudaraku masih tetap setia untuk memberikan pencerahan2 di Pondok PJ ini, semoga Allah Swt senantiasa menetapkan Iman dan Yaqin atas Qolb’ Mas Truthseeker08 dan membimbing NurNya sehingga semakin tercerahkan diri saudaraku untuk menjadi rahmat bagi saudara2 yang lain yang ada di Pondok ini.

        Terimakasih Mas….,
        Salam Hangat selalu…

      • @truthseeker08

        Terimakasih atas pencerahannya. Saya tertarik dgn ungkapan Kebenaran dari Allah Yang Maha Suci adalah Kebenaran Mutlak. Betul sekali, namun bukan berarti manusia tidak berpotensi untuk menemukan kebenaran, karena setiap Sifat yg disandarkan kepada Allah, manusia juga berpotensi untuk memiliki sebagian Sifat tsb. Setidaknya manusia berusaha untuk menemukan kebenaran menurut nash Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw yg disepakati oleh ke-dua Mazhab tsb (Sunni dan Syi’ah). Karena ke-dua Mazhab tsb sudah menjadi realita dalam perkembangan sejarah Islam.

        Memang betul dalam pencarian kebenaran memerlukan proses dari yg asalnya salah, kemudian bertahap menjadi benar. Yang menjadi masalah adalah dalam prosesnya itu yg memerlukan keberanian dan perngorbanan. Oleh karenanya, maka tanggalkanlah Ego yg menguasai diri kita, sehingga kita bijaksana dalam proses pencarian kebenaran.

        Dalam mazhab yg benar ada kesalahannya, begitu juga dalam mazhab yang salah ada kebenarannya.

        Itu hanya pendapat saya saja yg masih perlu dibenarkan. :)

        Wassalamu’alaikum…

      • dede said

        @Wawansyah17

        Aslkm,

        Sahabat Wawan mengatakan:

        Dalam mazhab yg benar ada kesalahannya, begitu juga dalam mazhab yang salah ada kebenarannya.

        Atau lebih baiknya begini:

        Dalam mazhab yg benar secara manusiawi ada kesalahannya, begitu juga dalam mazhab yang salah secara manusiawi ada kebenarannya.

        Kenapa saya berkata demikian? karena apabila mazhab yg benar tsb merujuk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya berdasarkan nash Al Qur’an dan As Sunnah, apakah ada kesalahannya? Lebih jauh lagi apabila manusia sudah mengetahui Imam pada Zamannya yg merupakan puncak kesempurnaan Ma’rifatullah. Wallahu’alam Bishawab

        Wslkm

  134. Kangdudung said

    Ass..
    Salam kenal dan hormat saya untuk sahabat TS08, terima kasih ulasannya yang sangat mencerahkan, mudah2an dapat dijadikan pelita oleh sahabat2 semuanya.
    Untuk sahabat Wawansyah,kalau ingin mengkaji lebih jauh tentang Imam Mahdi, bisa merujuk buku dari Jabeer Bolushi (untuk tradidi syi’ah) dan dari Muhammad Isa Daud (tradisi Sunni).Diantara kedua mazhab tsb, sepakat bahwa Imam Mahdi adalah keturunan dari Nabi Muhammad, inilah yang harus dijadikan pegangan. Adapun mengenai sosoknya, memang terdapat perbedaan, kalau menurut Sunni Imam Mahdi belum terlahir ke dunia, sedangkan menurut syi’ah (Imammiyah) sudah terlahir hanya saja di ghaibkan yakni Imam Ali Al-Munthadzar Al-Mahdi puteranya Imam Hasan Al-Asqari (untuk sahabat dari kalangan syi’ah, ma’af jika saya keliru).
    Sahabat Wawansyah,
    Tiap kali sholat, kita selalu meminta untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Menurut keyakinan saya, jalan lurus itu, bukan sunni-syi’ah, jabariah-qodariah, palsafah-tasawuf, hinayana-mahayana, katholik-protestan ataupun mazhab2 lainnya.Tapi jalannya orang2 yang telah Allah anugerahi nikmat, bukannya jalan yang dimurkai dan sesat. Jadi jalannya orang2 yang selalu mendekat kepada Allah, dari mazhab apapun dia, bukannya jalan orang-orang yang menutup diri dari kebenaran dan bukannya orang2 yang menjauh dari Allah.

    Wassalamu’alaikum

    • Kangdudung yg bijaksana,
      Terimakasih Kang telah memberitahukan informasi buku tentang Imam Mahdi versi Mazhab Sunni dan Mazhab Syi’ah. Kemudian Akang menjelaskan siapa Imam Mahdi menurut ke-dua Mazhab tsb.

      Kalo menurut Akang jalan yg lurus tsb bukan dari Mazhab manapun, lalu apa artinya hadits Rasulullah saw dalam sabdanya: (?)

      “Barang siapa meninggal, sedangkan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, maka dia meninggal secara jahilliyah.” (Musnad Ahmad; 96)

      Hadits ini disepakati shahih dan mutawatir oleh para ahli hadits dan mufasir dari ke-dua mazhab tsb (Sunni dan Syi’ah).

      Semoga Akang tidak bosan untuk menjawab dan menjelaskannya.

      Wassalamu’alaikum…

      • Kangdudung said

        Ass..
        Sahabat Wawansyah,
        Pernahkah dengar kisah Uwais Al-Qarani, beliau adalah salah seorang yang yang nggak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad, namun Nabi sangat menghormatinya, bahkan Nabi berpesan kepada para sahabatnya untuk meminta nasihat kepadanya dan menitipkan salam kalau bertemu dengannya. Setelah Nabi wafat, sahabat Abubakar tidak pernah bertemu dengannya, tapi pada zaman Umar bin Khatab bersama dengan Sayyidina Ali bertemu dengan Uwais, dan beliau berdua menyampaikan salam Nabi dan memninta nasihat kepada Uweis.
        Dari riwayat ini dapat disimpulkan, sekalipun Uweis secara lahiriah tidak berbaiat dengan Nabi, tapi secara ruhani karena beliau seorang pejalan ruhani, otomatis tunduk kepada Nabi Muhammad. Makanya Nabi bersabda ” Aku merasakan nafas ar-Rahman dari sebelah timur” dan bertitip salam. Jadi ketundukan ruhaniahlah yang dimaksudkan oleh Nabi Muhammad dalam hadis di atas.
        Sekalipun saya bukan seorang syi’ah, secara ruhani saya tunduk kepada Imam Ali Zainal Abidin, Muhammad Al Baqir, Jafar As-Shodiq dan Imam2 syi’ah lainnya termasuk Sayyid Haidar Amulli, Mulla Sadra, Allama Thabathaba’i, Imam Khomeini dan yang lain nya. Begitu pula dengan Imam2 dari Sunni, seperti Abubakar, Umar, Imam Ghazali, Imam Abu Hasan As-Syadzili. Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Jalaludin Rumi, Ibnu Arabi’ dan yang lainnya.

    • Wa’alakumsalam…

      Kangdudung yg bijaksana,
      Sebenarnya dari awal saya tidak berdiskusi tentang Mazhab Sunni dan Syi’ah, namun Akang yg mengangkat kepermukaan tentang masalah ini, sbb:

      http://pengembarajiwa.wordpress.com/2009/07/02/menyembah-allah-itu-suatu-kesalahan/#comment-2775

      Selanjutnya diluar konteks ke-dua Mazhab tsb, maka saya ingin bertanya sekali lagi apakah artinya hadits Rasulullah saw dalam sabdanya: (?)

      “Barang siapa meninggal, sedangkan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, maka dia meninggal secara jahilliyah.” (Musnad Ahmad; 96)

      Hadits ini disepakati shahih dan mutawatir oleh para ahli hadits dan mufasir Islam.

      Semoga Akang tidak bosan untuk menjawab dan menjelaskannya. :)

      Wassalamu’alaikum…

      • Kangdudung said

        Ass..
        Sahabat Wawansyah,
        Mohon ma’af jika terjadi kesalahan persepsi dari saya, tapi yakinlah bahwa segala sesuatu tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Mudah2an dialog kita merupakan rahmat Allah terhadap kita semua untuk memberikan inspirasi kepada sahabat2 lainnya. Mengenai hadis yang tadi, mudah2an ada yang bisa menjelaskan, dan saya termasuk orang yang menantikan Imam Zaman ini. Barangkali ada diantara sahabat2 yang sudah mengenalnya atau sahabat Wawansyah sendiri barangkali sudah mengenalinya?

      • Wa’alaikumsalam…

        Kangdudung yg bijaksana,
        Betul Kang, semoga diskusi ini menjadi jalan Hidayah dan Rakhmat Allah kepada Sahabat yg lainnya. Kalau kita kaji lagi dari awal diskusi ini mengenai Maqam Ma’rifatullah diantara Syari’at, Tharikat dan Hakikat yg merupakan kesatuan yg tak dapat dipisahkan dan merupakan kesempurnaan Islam, Iman dan Ihsan (Islam secara kaffah), maka dapat diambil kesimpulan ternyata dlm Maqam Syari’at saja ternyata kita belum menguasai secara sempurna, maka apakah dalam Maqam Tharikat dan Hakikat akan dapat dicapai secara sempurna? karena kita belum mengetahui Imam Zaman yg Rasulullah saw sabdakan dlm haditsnya. Semoga hal ini menjadi bahan renungan bagi kita semua yg masih dalam proses menuju kebenaran menuju Maqam Ma’rifatullah yg Hakiki.

        Mungkin kepada Mas PJ atau Sahabat lainnya dapat memberikan pencerahan, mengenai siapakan Imam Zaman yg sesungguhnya berdasarkan hadits Rasulullah saw tsb diatas?

        Wassalamu’alaikum…

      • lorMuria said

        Ikutan sharing yach..
        Banyak sekali Ayat2 Alqur’an dan Hadits yang bermakna Kias. bukan seperti arti kata harfiah…dan juga Obyek/ sasaran yg dituju pd Al-Qur’an/Hadits yang sama bisa untuk individu/ummat/individu+ummat.

        Kebanyakan bagi orang2 Arif makna Ayat dan Hadits itu lebih dalam dari arti harfiahnya. simplenya untuk orang awam diartikan secara Harfiah,lahiriah (=secara syariat), untuk orang Arif diartikan secara Harfiah + makna Hakikatnya.
        Maka mengenai siapakah Imam Zaman yg sesungguhnya berdasarkan hadits Rasulullah saw tsb diatas, belumlah berarti secara lahir (syariat)saja, akan tetapi juga bisa berarti secara Hakikat, dan juga syariat+Hakikat.
        Secara Hakikat kita sebenarnya sudah bersama dengan Imam Zaman ini, hanya saja kita yg belum bisa mengenalnya. Padahal dia sangat-sangat mengenal kita. Dia bersama kita. dia yang membimbing kita kejalan yang lurus, jalan yang tidak pernah dipertentangkan, jalan yang di RidhoiNYA. Orang yg sudah mengenal dan berjalan bersama IMam ini niscaya akan selamat, karena jalannya adlah Jalan Islam yang HAQ, bukan jalan Jahiliyyah.
        Maka benar apa yang di Sabdakan dalam Hadits Nabi tsb.

        itu sedikit sharing dari sy, mohon pencerahan saudara2 kalau ada yang salah..
        Wassalam

      • @Lor Muria

        Alhamdulillah, telah memberikan pencerahannya. Saya merasa kurang jelas dgn penjelasan Mas; bahwa secara Syari’at Imam Zaman belum diketahui, namun dlm Hakikat Imam Zaman belum diketahui juga, tapi Beliau bersama kita dan membimmbing kita kejalan yg lurus. Apakah mungkin kalau kita belum mengetahui, yg membimmbing kita itu adalah Imam Zaman? Jadi bagaimana Mas, mohon penjelasannya lagi.

        Wassalamu’alaikum…

  135. dede said

    Kepada pemilik blog, ma’af tolong didelete komentar tsb. Karena salah mengirim komentar, makasih.

  136. dede said

    Aslkm,

    Ma’af tadi salah posting.
    Salam kenal kepada semua Sahabat. Sungguh menarik dialog antara sahabat Kangdudung, Wawansyah dan Lor Muria, maka ijinkanlah saya berbagi ilmu. Seperti yg dipertanyakan oleh salah satu sahabat adalah hadis dari Rasulullah SAW:

    “Barang siapa meninggal, sedangkan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, maka dia meninggal secara jahilliyah.” (Musnad Ahmad; 96)

    Menurut pengetahuan saya, hadis tsb menginformasikan kepada manusia dlm beberapa hal, diantaranya:

    1. Supaya manusia mengenal Imam Zamannya secara lahihriah dan bathiniah. Secara lahiriah artinya secara syari’at dan secara bathiniah artinya secara hakikat. Adapun secara tharikat artinya segenap ikhtiar manusia (Riyadhah) untuk mendukung akan kehadirannya yg dinantikan.
    2. Mengetahui Imam Zaman artinya mengenal kehidupannya secara baik dari mulai masa kelahirannya s/d masa keghaibannya.
    3. Telah disepakati oleh para ahli hadis dan mufassir bahwa Imam Zaman adalah keturunan Rasulullah SAW, artinya harus jelas dari keturunan siapa dan namanya siapa?
    4. Dalam masa kehidupannya Imam Zaman mengemban misi risalah Islam Murni yg dibawa oleh Rasulullah SAW. Artinya ada fatwa-fatwa yg telah disampaikan kepada para wakilnya yg harus disampaikan kepada manusia.
    5. Dalam setiap zaman ada seorang Imam yg ditunjuk atas perintah Allah SWT dan Rasul-Nya berdasarkan nash Al Qur’an dan As Sunnah.

    Berdasarkan dari informasi-informasi tsb, maka manusia dari mulai yg awam s/d kawash adalah suatu keniscayaan apabila tidak mengetahui Imam pada Zamannya. Apabila tidak mengetahui Imam Zamannya, maka manusia mati dalam keadaan Jahilliyah. Artinya Jahilliyah disini adalah suatu masa dimana manusia tidak mengenal Tuhannya yg telah menciptakan Imam pada Zamannya yg akan hadir pada akhir zaman ditengah-tengah manusia untuk mendirikan pemerintahan adil yg Mahdaniyah berdasarkan syari’at Islam (Islam Kaffah) sebagai agama yg Rakhmatan lil’alamin yg sebelumnya dunia dipenuhi oleh segala bentuk kedzaliman. Demikian ilmu dari saya yg alakadarnya. Wallahu’alam Bishawab.

    Wslmkm,

  137. dede said

    Aslkm,

    Sebagai tambahan; apabila manusia mengetahui Imam Zamannya, khususnya bagi umat Islam, maka akan tercipta persatuan dan kesatuan pemahaman dalam agama Islam diantara golongan/aliran/tharekat/mazhab, sehingga kekuatan Islam di seluruh pelosok dunia akan bangkit bersatu untuk melawan segala bentuk kedzaliman daripada musuh-musuh Islam. Inilah yg menunjang kehadiran (kemunculan) Imam Zaman dari masa keghaibannya pada akhir zaman yaitu adanya persatuan dan kesatuan umat. Dan didalam diri Imam Zaman terdapat Nur Muhammad, seperti sabda Rasulullah SAW : “Kehidupan diawali dgn Nur Muhammad dan diakhiri dengan Nur Muhammad”. Pada tahap inilah manusia mencapai puncak kesempurnaan maqam Ma’rifatullah. Wallahu’alam Bishawab.

    Wslkm

    • @Dede

      Wa’alaikumsalam…
      Salam kenal juga Sahabat :) Terimakasih Akang telah menjelaskannya dgn panjang lebar, sehingga saya lebih mengerti lagi sabda Rasulullah saw tsb yg mewajibkan manusia untuk mengetahui Iman pada Zamannya, maka dia tidak meninggal dlm keadaan Jahilliyah. Sesungguhnya dgn hadits tsb diharapkan umat Islam dari berbagi pemahaman bersatu dlm satu pemahaman, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh propaganda musuh-musuh Islam.

      Melihat dari fakta yg sudah menjadi realita, bahwa ada sekelompok umat Islam yg bertindak secara radikal dan ekstrem, sehingga membawa kepada kematiannya. Tindakan tsb sangat menodai agama Islam yg Rahkmatan lil’Alamin. Mungkin inilah yg dinamakan mati dlm keadaan Jahilliyah, karena dia tidak mengenal Imam pada Zamannya. Seandainya dia mengenal Imam pada Zamannya, maka dia tidak akan mengambil tindakan yg radikal dan ekstreem tsb, karena belum ada perintah (fatwa) dari wakil Imam yg merupakan hujjah Allah swt bagi manusia. Demikian Kang, kalau ada yg salah tolong dikoreksi lagi.

      Wassalamu’alaikum…

      • siliwangi said

        Sebenarnya janganlah terlalu jauh berpikir akan tetapi Tujulah terlebih dahulu alam Hakekat siapa diri ini sebenarnya…Insyaallah ketika diri ini telah bertemu dengan Sejatinya Diri maka disitulah kebenaran akan terungkap , segala Rahasia akan terbuka.

      • siliwangi said

        Ilmu…Praktek…Keyakinan

  138. rudy suwarno said

    Assalaamualaikum Mbah PJ..

    Postingin Masjidil Aqsa donk…???
    lagi seru nich..

    Terima kasih.

  139. ulat dunia said

    terima kasih atas ilmu2nya. tapi adakah yang bisa membantuku untuk mengenali diri dan lebih dekat dengan Allah.
    mohon bantuannya agar aku menjadi khalifahNya yang sejati.
    terimakasih

    • @Ulat Dunia

      Salam Kenal Sahabat……
      Silahkan berkunjung ke Blog PJ ini, nggak usah sungkan2 untuk Menggali dari apa2 yang sudah terposting disini baik dari Artikel2nya maupun Komentar2 dari Saudara2 yang lain.

      Sungguh…Media Blog ini adalah sebagai sarana bagi kita semua untuk saling belajar satu dengan yang lain, saling mengisi dan memberi serta saling menerima pencerahan2 yang ada.

      Semoga ada setitik Cahaya Hikmah dan Berkah dari kunjungan Anda di Blog PJ ini.

      Salam Tholabul ‘Ilmi
      PJ

  140. @All……

    Untuk semua saudara2ku dan sekaligus Sahabat2ku…

    Salam Barokah untuk semuanya……

    Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perperselisihkan itu.
    (al-Ma’idah/48)

    Wassalam

  141. Musafirbodohsombong bertanya? said

    assalaamualaikum sdrku PJ.
    izinkanlah saya numpang betanya di pondokmu ini,karna saya adalah seorang musafir dalam kegelapan,sudah lama juga saya dalam perjalanan ini entah apa yg saya cari, yg saya sendiripun tak mengerti. saya buat perjalan ini hanya berdsarkan cerita orang2 di warung kopi katanya bahwa nun jauh disana ada satu lautan luas yg tiada bertepi.maka dari cerita itu timbulah kesombongan saya utk mencari tempat itu dalam kebodohan saya yg tiada ilmu,akhirnya sekarang yg saya temui hanya keletihan dan kehausan.mulai dari semalam saya sudah terdampar ditepi pagar pondokmu ini dan saya lihat banyak orang didalam nya yg semuanya mengaku hanya murid,jadi ada yg berbisik didalam hati saya bahwa guru orang2 dipondok ini adalah MAHA GURU DARI SEKALIAN CIPTAAN.jadi izinkanlah saya utk minta sedekah di pondokmu ini saudaraKU.

  142. Kata “sembah” biasa saya temukan dalam terjemah Quran, yaitu digunakan untuk mengartikan ibadah.

    contoh terjemah yang saya temukan:

    Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
    terjemah QS. al-Baqarah (2) : 21

    kalau takut, ganti saja kata sembahlah dengan beribadahlah

    Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
    QS. al-Baqarah (2) : 21

  143. siliwangi said

    wawansyah17 berkata
    Oktober 23, 2009 pada 5:29 pm

    “Barang siapa meninggal, sedangkan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, maka dia meninggal secara jahilliyah.” (Musnad Ahmad; 96)
    =========================================

    Sebenarnya janganlah terlalu jauh berpikir akan tetapi Tujulah terlebih dahulu alam Hakekat siapa diri ini sebenarnya…Insyaallah ketika diri ini telah bertemu dengan Sejatinya Diri maka disitulah kebenaran akan terungkap , segala Rahasia akan terbuka.

    Ilmu…Praktek…Keyakinan

    jadi janganlah mempercayai sesuatu jikalau diri ini belum mengalaminya sendiri karena mempercayai sesuatu tanpa ilmu adalah kosong belaka.

    ilmu….pengalaman/mengalami…timbul keyakinan

    Yaqin..Aenalyaqin..Haqqulyaqin…Amarulyaqin

    itulah Sejatinya Yaqin….Yaqin berdasarkan ilmu dan pengalaman

    Mohon maaf jikalau kurang berkenan

    • Assalamu’alaikum…

      Salam kenal sahabat Siliwangi,
      Alhamdulillah, anda telah memberikan pencerahannya. Betul, kita janganlah terlalu jauh berpikir. Makanya saya mengutip perintah Allah dan Rasul-Nya dalam Al Qur’an dan As Sunnah:

      “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisaa’:59)

      Rasulullah saw pernah bersabda :

      “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali sesuai dengan sunnahku”

      “Barang siapa meninggal, sedangkan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, maka dia meninggal secara jahilliyah.” (Musnad Ahmad; 96)

      Saya fikir penjelasan tsb diatas akan sangat mudah dipahami oleh umat Islam dari berbagai kalangan, mulai dari yg awam (kurang ilmu) s/d yg kawash (berilmu/punya kelebihan). Dari yg berpengalaman maupun yg kurang berpengalaman. Dari maqam syari’at (Ilm al Yaqin), tharikat (‘Ain al Yaqin) dan (Haq al Yaqin) dalam kita mengenal Allah swt (Ma’rifatullah). Dimana puncak kesempurnaan adalah bersatunya semua Maqam tsb.

      Adapun yg membedakannya adalah kwalitas (tinggi dan rendahnya) Ilmu dan Iman seseorang dalam menyikapi perintah Allah dan Rasul-Nya tsb diatas.

      Terimakasih, saya sangat berkenan atas penjelasan anda. Karena dibalik suatu peristiwa, tentu akan ada hikmahnya.

      Wassalamu’alaikum…

    • lorMuria said

      Benar sekali saudaraku Siliwangi…yang terpenting dan urgen adalah mempraktekkan apa2 ilmu yg telah kita dapat, berangkat dari IlmalYaqin menjadi ‘ainal Yaqin kemudian HaqqulYakin, KamalulYaqin…hingga kita mengenal siapa DIRI sejati ini dan akhirnya mengenal Tuhan yang sebenar2nya.

      Ketika Kebenaran Sejati telah terungkap apalah artinya segala pertanyaan2 yang selama ini menghantui kita. Ketika Rahasia telah dibukakan, tak ada lagi pertanyaan dan pertentangan akan kebenaran pendapat manusia yang bersifat relatif. Semua telah jelas “tergambar” didepan “mata” tanpa keraguan sedikitpun (Dzalikal kitabu laa raibafihi), petunjuk bagi orang2 yang bertaqwa (Hudal lil Muttaqin).

      Maka marilah kita bersama-sama meraih DIRI SEJATI, meraih KEBENARAN SEJATI, melalui jalan yang sudah dipersiapkan untuk kita, bersama penuntun Jalan yang menyertai kita…tinggal menunggu kemauan dan Praktek kita saja sebenarnya yang masih dalam tanda tanya…

      Inilah sebenarnya yang harus menjadi pertanyaan buat diri kita sendiri..SUDAHKAH KITA BERJALAN MENUJU KEHADIRATNYA, BERJALAN MENUJU KE-RIDHOAN-NYA, BERJALAN MENEMUI KEBENARAN SEJATI

      Salam Takzim untuk semuanya
      dalam Keberkahan Rahman dan Rahim-NYA

      • Subhanallah, penjelasan dari sahabat Lor Muria sangat mengesankan, semoga semuanya sesuai dgn kehendak Allah dan Rasul-Nya, amin ya Allah yaa Rabbal’alamin.

      • Alam Rasa said

        @Siliwangi
        @Lor Muria
        @Wawansyah

        Terima kasih atas semua penjelasannya yang sangat mencerahkan. Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah kepada sahabat semua, dan semoga yang kita lakukan semakin sesuai dengan kehendak-Nya. Amin.

        (QS Al An’am: 104)- Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).

        (QS Yunus: 35) – Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran”. Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?

        (Al Kahfi: 29) – Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”…….

        (QS Al Baqarah: 147) – Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

    • truthseeker08 said

      Pilihan kita sangat berpotensi salah bahkan dengan segala dalil yang kita anggap (kira) benar, dengan segala perangkat yang ada di kita yang kita anggap/kira akan membawa kita kpd kebenaran. Semuanya tidak pernah cukup untuk memastkan bhw kita berada di jalan yang lurus. Jalan yang lurus bukanlah mazhab, karena mazhab buatan manusia. Jalan yang lurus adalah jalan yang disediakn dan ditunjukkan oleh Allah, hak Allah lah bahwa jalan yang lurus itu ada di banyak mazhab.
      Saya coba sharingkan sedikit pemahaman saya dalam mencari kebenaran(mohon koreksinya) melalui Al Fatihah:

      1. Luruskan dan bersihkan niat kita.
      2. Mulai dengan Bismillahirrahmanirrahim (dengan penuh keyakinan dan ilmu).
      3. Ucapkan dan yakinkan bahwa puji dan syukur hanya untuk Allah SWT, dan kita mensyukuri dan ridha atas apa yang ada pada kita dahulu, sekarang dan yang akan datang.
      4. Kenali dan yakini Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang akan membimbing kita. Yang tidak mungkin mendzalimi kita dan tidak akan menyesatkan kita.
      5. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang (bukan yang kejam) yang merajai di hari kemudian, yang akan menuntut, mengadili pilihan2 dan pencarian kita.
      6. Setelah itu ikhtiar2 kita haruslah menunjukkan penghambaan kita kepada-Nya.
      7. Dan ketika kita dalam kesusahan dan kebingungan (dalam keadaan apapun), kita hanya akan mengadu dan meminta tolong dan jawaban hanya kepada-Nya.
      8. Setelah itulah baru kita “layak” untuk meminta ditunjukkan jalan yang lurus. (bagaimana mungkin kita ujug2 loncat mengklaim sudah berada di jalan yang lurus).
      9. Dalam meminta ditunjukkan jalan yang lurus pun terlebih dahulu kita harus mengenali jalan itu sendiri (jangan kita meminta sesuatu yang tidak “kenali”). Yaitu jalan mereka yang diberi nikmat. Belum cukup itu bahkan kita harus bisa/mampu menafikan jalan2 yang lain (yang mengklaim lurus) yaitu jalan mereka dimurkai dan yang sesat.

      Perjalanan inipun hanya mengantar kita pada do’a utuk ditunjuki jalan yang lurus. Maka ketawadhuan kita sangatlah penting agar Iblis tidak mengambil alih diri kita.
      Sebagaimana do’a dan ibadah2 lainnya, maka keyakinan dan kecemasan hadir dalam diri kita. Kita yakin bahwa islam adalah pilihan yang benar namun juga diiringi harap2 cemas atas ridha Allah, atas keikhlasan kita, atas kebersihan hati kita.

      Mengapa mazhab bukanlah acuan bagi jalan yang lurus, karena di setiap mazhab ada mereka2 yang dzalim, ada mereka yang munafik, ada mereka yang dimurkai dan ada mereka yang sesat.
      Di mazhab yang manapun bisa ada jalan yang lurus.

      Wassalam

      • Alam Rasa said

        Alhamdulillah sahabatku Truthseeker08

        Sungguh sangat mencerahkan… Semoga rahmat dan hidayah-Nya senantiasa tercurah kepada anda sekeluarga, dan semua yang kita lakukan semakin sesuai dengan kehendak-Nya. Amin.

  144. aromasyurga said

    ingin belajar

  145. rudy suwarno said

    Assalaamu’alaikum..

    Sahabat Wawansyah berkata :

    Barang siapa meninggal, sedangkan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, maka dia meninggal secara jahilliyah.” (Musnad Ahmad; 96)

    Sahabat Siliwangi menjawab :
    Sebenarnya janganlah terlalu jauh berpikir akan tetapi Tujulah terlebih dahulu alam Hakekat siapa diri ini sebenarnya…Insyaallah ketika diri ini telah bertemu dengan Sejatinya Diri maka disitulah kebenaran akan terungkap , segala Rahasia akan terbuka.
    Sahabat Senior Lor Muria menambah kan :
    Ketika Rahasia telah dibukakan, tak ada lagi pertanyaan dan pertentangan akan kebenaran pendapat manusia yang bersifat relatif. Semua telah jelas “tergambar” didepan “mata” tanpa keraguan sedikitpun.
    Mohon maaf, sepertinya saya kurang sependapat dengan sahabat siliwangi dan Sahabat senior Lor Muria, bahwasanya kalau kita mencapai maqam bertemu dengan DIRI SEJATI, maka segala KEBENARAN SEJATI akan terungkap.

    Menjadi pertanyaan saya, mohon penjelasan..
    Lalu dimanakah letak / peran serta Iblis.? Yang mana Allah SWT telah memberikan restu-Nya kepada Iblis / Syetan untuk menggoda manusia. Dimana Definisi Iblis adalah bukan Hawa Nafsu (yang bisa kita singkirkan), melainkan Sosok Hamba Allah yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam, sosok HEBAT dan SAKTI yang dilaknat Allah SWT, yang kelak menjadi penghuni Neraka beserta para pengikutnya. IBLIS musuh besar kita, yang penuh dengan Tipu Daya dan Muslihat.

    Disebutkan pula dalam riwayat muslim dari Aisyah yang bercerita “pada suatu malam Rasulullah Sallahualaihi Wa Sallama keluar meninggalkan kami, lalu aku menjadi cemburu kepadanya, lalu beliau datang dan melihat apa yang aku lakukan, lalu bersabda “mengapa engkau cemburu wahai Aisyah? Aku menjawab, “Apakah tidak pantas saya cemburu atasmu? ‘beliau bersabda, “ataukah telah datang setan (yang menyertai) mu? Aisyah bertanya, “wahai Rasulullah apakah ada syaitan yang menyertai aku? “Beliau bersabda, “Ya. Saya bertanya, “apakah setiap manusia ada (yang menyertai) “Beliau bersabda, “Ya, akupun bertanya, “Termasuk anda wahai Rasulullah? ‘ Beliau menjawab, “Begitu pula aku, akan tetapi Rabbku Azza wa Jalla telah menolongku atasnya sehingga aku selamat (fa aslam).” (HR. Muslim)
    Dan masih banyak lagi Hadist yang menyatakan bahwa setiap manusia pasti di ikuti Qarin.

    Firman Allah SWT.
    Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perperselisihkan itu.
    (al-Ma’idah/48)
    Dari sini saya mencoba menyimpulkan bahwa dari sekian banyak pertentangan / perselisihan pendapat, umat manusia tidaklah bisa menemukan KEBENARAN SEJATI, selama masih berada di alam dunia ini.

    Mari kita ambil contoh salah seorang Tokoh Kontroversial, yaitu Syeh Siti Jenar. Yang telah mencapai Maqam “Kaliber” tapi tidak berpegang teguh / tidak menggigit kuat kuat Al Quran dan Hadist, (Mohon Maaf bagi penganut Beliau). Bagaimana mungkin KEBENARAN SEJATI yang beliau maksud adalah Tidak perlu SHOLAT.? Dzikir itu Percuma.? Memutar balikan wujud Surga dan Neraka tidak sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW.? Baiklah.., supaya tidak panjang lebar mari kita langsung ambil dalil PATEN saja.

    اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ {45}
    45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS.29:45)

    Saya tekankan lagi, itu adalah FIRMAN ALLAH SWT, yang mana Allah SWT Tidak akan merubah HUKUM yang telah dibuat-Nya sempurna (AL QURAN dan AL ISLAM) ilaa yaumil Qiyamah. Atau barangkali ada tolong carikan Dalil ataupun referensi yang mengatakan bahwa ada pengecualian diperbolehkan tidak Sholat khusus untuk manusia manusia yang telah mencapai maqam maqam tertentu.

    Maka kalau berkenan, saya agaknya lebih sependapat dengan Sahabat Wawansyah yang saya kagumi yang berkata :
    Dari maqam syari’at (Ilm al Yaqin), tharikat (‘Ain al Yaqin) dan (Haq al Yaqin) dalam kita mengenal Allah swt (Ma’rifatullah). Dimana puncak kesempurnaan adalah bersatunya semua Maqam tsb.

    Dan tambahan bagi yang merasakan telah menerima KEBENARAN SEJATI ataupun WAHYU dari Tuhan, Tolong jelaskan, barangkali saya salah menafsirkan..
    Dalam ‘Aun Al Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Imam Abu Ath-Thayyib Abadi menyebutkan sebuah atsar dari Ibnu
    Abi Hatim, dari Abu Zumail : Ada seorang laki laki bertanya kepada Ibnu Abbas RA, ” Hai Ibnu Abbas, sesunguhnya Al Mukhtar bin Abi Ubaid mengaku bahwa tadi malam dia mendapatkan Wahyu”. Ibnu Abbas RA menjawab ” Dia benar”. Abu Zumail yang pada saat itu berada di dekat Ibnu Abbas langsung tersentak. Dia bangun dan berkata,” Al Mukhtar benar telah mendapatkan Wahyu..?” Ibnu Abbas RA melanjutkan, “Sesungguhnya wahyu itu ada dua macam, Yaitu Wahyu dari Allah dan Wahyu dari Syetan. Wahyu Allah diturunkan kepada Nabinya, Muhammad SAW, sedangkan Wahyu Syetan diturunkan kepada kawan kawannya”. Lalu Ibnu Abbas RA pun membacakan Ayat Al Quran, ” Sesungguhnya Syetan itu memberikan bisikan(wahyu) kepada kawan kawannya untuk membantah kalian.” (QS.Al An’am: 121)
    Al Quran pun menerangkan dalam Surah Asy Syuura (Musyawarat), bahwasanya Allah tidak akan menurunkan wahyu secara langsung kepada para manusia, walaupun seberapapun tingginya derajatnya sebagai kekasih Allah SWT, tanpa terkecuali kepada Nabi Muhammad SAW.
    وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاء حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاء إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ {51}
    51. Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.(QS.42:51)
    Dan Inilah yang dimaksud dengan…
    ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ {2}
    2. Kitab (AL-QUR’AN) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa ,(QS.2:2)

    Saya sebagai manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan, Mohon Maaf yang sebesar besarnya. Dan tiada kata yang tepat melainkan, saya selalu memohon Pencerahan.….

    Salam Damai dan Sayang untuk sahabat semua.

    Terima Kasih.

    • rudy suwarno said

      Maaf,.. Ilmu copasnya blom canggih..

    • siliwangi said

      rudy suwarno berkata
      November 15, 2009 pada 1:19 am
      Menjadi pertanyaan saya, mohon penjelasan..
      Lalu dimanakah letak / peran serta Iblis.? Yang mana Allah SWT telah memberikan restu-Nya kepada Iblis / Syetan untuk menggoda manusia. Dimana Definisi Iblis adalah bukan Hawa Nafsu (yang bisa kita singkirkan), melainkan Sosok Hamba Allah yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam, sosok HEBAT dan SAKTI yang dilaknat Allah SWT, yang kelak menjadi penghuni Neraka beserta para pengikutnya. IBLIS musuh besar kita, yang penuh dengan Tipu Daya dan Muslihat.


      He..he..he….santai saja nyak

      Peran Iblis sudah jelas dikatakan dalam Al Qur’an

      ( Al Araaf :13 ) Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”

      ( Al Araaf :14 ) Iblis menjawab: “Beri tangguhlah aku, sampai waktu mereka dibangkitkan.”

      ( Al Araaf : 15 ) Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

      ( Al Hijr : 39 ) Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

      ( Al Israa : 62 ) Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.”

      Iblis adalah Bentuknya/Wujudnya sedangkan syetan adalah Sifatnya makanya dikatakan “ aku berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk “
      Iblis dikutuk karena sifatnya yang sombong yang karenanya dia tidak mau sujud kepada Adam.

      Jadi pada dasarnya jikalau ada manusia yang sombong ( tidak mau ikut aturan Allah dan Rosululloh ) maka bisa dikatakan dia memiliki sifat daripada iblis tersebut.

      Karena hakekatnya manusia itu lahawlawala quwwata…….

      Iblis masuk melalui celah hawa nafsu melalui bisikan bisikan hati , yaitu bisikan yang mengajak keluar dari aturan Qur’an dan Sunah Nabi dan lewat celah ini pulalah Iblis berhasil menipu Adam ( celah hawa Nafsu )

      Disebutkan pula dalam riwayat muslim dari Aisyah yang bercerita “pada suatu malam Rasulullah Sallahualaihi Wa Sallama keluar meninggalkan kami, lalu aku menjadi cemburu kepadanya, lalu beliau datang dan melihat apa yang aku lakukan, lalu bersabda “mengapa engkau cemburu wahai Aisyah? Aku menjawab, “Apakah tidak pantas saya cemburu atasmu? ‘beliau bersabda, “ataukah telah datang setan (yang menyertai) mu? Aisyah bertanya, “wahai Rasulullah apakah ada syaitan yang menyertai aku? “Beliau bersabda, “Ya. Saya bertanya, “apakah setiap manusia ada (yang menyertai) “Beliau bersabda, “Ya, akupun bertanya, “Termasuk anda wahai Rasulullah? ‘ Beliau menjawab, “Begitu pula aku, akan tetapi Rabbku Azza wa Jalla telah menolongku atasnya sehingga aku selamat (fa aslam).” (HR. Muslim)
      Dan masih banyak lagi Hadist yang menyatakan bahwa setiap manusia pasti di ikuti Qarin.


      Setiap manusia pastilah memiliki Qarin untuk menyesatkan Manusia dari Jalan yang lurus ini sesuai dengan Janji Iblis
      ( Al Hijr : 39 ) Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

      ( Al Israa : 62 ) Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.”

      Yang dimaksud sebahagian kecil itu adalah orang orang yang mengikuti petunjuk Allah dan RosulNya

      Seperti Firman Allah

      ( Thaahaa : 123 )

      Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua ( Adam Hawa ) dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

      Firman Allah SWT.
      Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perperselisihkan itu.
      (al-Ma’idah/48)
      Dari sini saya mencoba menyimpulkan bahwa dari sekian banyak pertentangan / perselisihan pendapat, umat manusia tidaklah bisa menemukan KEBENARAN SEJATI, selama masih berada di alam dunia ini.


      Betul sekali bahwa kebenaran yang hakiki itu akan kita temui setelah ajal menjemput akan tetapi ada kata kata bijak yang mengatakan “matilah kamu sebelum kamu mati “artinya sambangilah alam kematian itu sendiri melalui ilmu Allah sehingga dengan mengetahui keadaan alam kematian selagi hidup diharapkan kita bisa tahu mana yang boleh /harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan .

      Kita bisa menyambangi alam kematian jika telah bertemu dengan ilmuNya seperti Mi’rajnya Rosululloh bertemu dengan para Nabi pendahulunya . ( pahami terlebih dahulu sifat 20 yang melekat pada Diri )

      Mari kita ambil contoh salah seorang Tokoh Kontroversial, yaitu Syeh Siti Jenar. Yang telah mencapai Maqam “Kaliber” tapi tidak berpegang teguh / tidak menggigit kuat kuat Al Quran dan Hadist, (Mohon Maaf bagi penganut Beliau). Bagaimana mungkin KEBENARAN SEJATI yang beliau maksud adalah Tidak perlu SHOLAT.? Dzikir itu Percuma.? Memutar balikan wujud Surga dan Neraka tidak sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW.? Baiklah.., supaya tidak panjang lebar mari kita langsung ambil dalil PATEN saja.
      اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ {45}
      45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS.29:45)


      Shalat itu perlu seperti bagaimana halnya Rosululloh shalat meskipun beliau sudah terjamin oleh Allah

      Allah memerintahkan shalat untuk mencegah perbuatan keji jahat dan Munkar akan tetapi mengapa masih banyak orang yang shalat tapi kelakuannya masih terkena sifat iri dengki dendam kaniaya terhadap sesama makhluk ???

      Kalau dikatakan ayatNya yang salah itu tidak mungkin karena itu Firman Allah dan Janji Allah adalah Pasti adanya lalu shalat seperti apa yang Allah maksud yang bisa mencegah perbuatan keji jahat dan munkar ? ( mohon dijawab )

      Saya tekankan lagi, itu adalah FIRMAN ALLAH SWT, yang mana Allah SWT Tidak akan merubah HUKUM yang telah dibuat-Nya sempurna (AL QURAN dan AL ISLAM) ilaa yaumil Qiyamah. Atau barangkali ada tolong carikan Dalil ataupun referensi yang mengatakan bahwa ada pengecualian diperbolehkan tidak Sholat khusus untuk manusia manusia yang telah mencapai maqam maqam tertentu.


      Ikuti Al Qur’an , Sunah Nabi dan para Anbiya serta orang orang saleh sebelum kita

      Maka kalau berkenan, saya agaknya lebih sependapat dengan Sahabat Wawansyah yang saya kagumi yang berkata :
      Dari maqam syari’at (Ilm al Yaqin), tharikat (‘Ain al Yaqin) dan (Haq al Yaqin) dalam kita mengenal Allah swt (Ma’rifatullah). Dimana puncak kesempurnaan adalah bersatunya semua Maqam tsb.


      Ilm al Yakin , Ain Al yaqin dan Haq al Yaqin bersatu menjadi satu didalam Amarul Yaqin ( Kamalul yaqin )

      Dan tambahan bagi yang merasakan telah menerima KEBENARAN SEJATI ataupun WAHYU dari Tuhan,


      Kebenaran sejati adalah kebenaran berdasarkan Al Qur,an dan Sunah Rosul dibarengi dengan pengalaman/pengamalan dalam Hidup

      Tolong jelaskan, barangkali saya salah menafsirkan..
      Dalam ‘Aun Al Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Imam Abu Ath-Thayyib Abadi menyebutkan sebuah atsar dari Ibnu
      Abi Hatim, dari Abu Zumail : Ada seorang laki laki bertanya kepada Ibnu Abbas RA, ” Hai Ibnu Abbas, sesunguhnya Al Mukhtar bin Abi Ubaid mengaku bahwa tadi malam dia mendapatkan Wahyu”. Ibnu Abbas RA menjawab ” Dia benar”. Abu Zumail yang pada saat itu berada di dekat Ibnu Abbas langsung tersentak. Dia bangun dan berkata,” Al Mukhtar benar telah mendapatkan Wahyu..?” Ibnu Abbas RA melanjutkan, “Sesungguhnya wahyu itu ada dua macam, Yaitu Wahyu dari Allah dan Wahyu dari Syetan. Wahyu Allah diturunkan kepada Nabinya, Muhammad SAW, sedangkan Wahyu Syetan diturunkan kepada kawan kawannya”. Lalu Ibnu Abbas RA pun membacakan Ayat Al Quran, ” Sesungguhnya Syetan itu memberikan bisikan(wahyu) kepada kawan kawannya untuk membantah kalian.” (QS.Al An’am: 121)


      Tidak ada Wahyu setelah kenabian Rosululloh

      Al Quran pun menerangkan dalam Surah Asy Syuura (Musyawarat), bahwasanya Allah tidak akan menurunkan wahyu secara langsung kepada para manusia, walaupun seberapapun tingginya derajatnya sebagai kekasih Allah SWT, tanpa terkecuali kepada Nabi Muhammad SAW.

      وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاء حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاء إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ {51}
      51. Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.(QS.42:51)


      Perhatikan ayat diatas dan perhatikan juga ayat dibawah ini
      ( Al A’raaf : 143 ) Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.”

      Disini Allah Berkata-kata langsung kepada Musa akan tetapi bukan dalam WujudNya akan tetapi melalui SuaraNya karena sesungguhnya tidak ada satupun Manusia yang bisa melihat sejatinya/WujudNya Allah

      Dan Inilah yang dimaksud dengan…
      ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ {2}
      2. Kitab (AL-QUR’AN) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa ,(QS.2:2)


      Sangat sangat setuju bagi yang tidak setuju patut dipertanyakan keimananNya karena semua isi yang terkandug dalam Al Qur’an bersifat Mubin ( Nyata Adanya )

      Saya sebagai manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan, Mohon Maaf yang sebesar besarnya. Dan tiada kata yang tepat melainkan, saya selalu memohon Pencerahan.….


      Santai saja Mas………….

      • siliwangi said

        Mas PJ mohon di rapihkan garis yang keluar dari batasnya biar kelihatan rapih ….

        punten Nyak

        Salam

  146. rudy suwarno said

    Terima kasih sekali kepada Mas Siliwangi yang baik hati, telah berkenan berbagi kawruh sama saya. Saya sangat menghargainya.
    Mohon maaf barangkali saya ada kesalahan / kekurang jelasan dalam penyampaian.
    Saya mencoba meringkas seluruh uraian saya diatas, begini :

    Yang saya kurang sependapat bahwa : “Kalau kita mencapai maqam bertemu dengan DIRI SEJATI, maka segala KEBENARAN SEJATI akan terungkap”. Karena kalau kita melihat contoh Syeh Siti Jenar yang maqamnya LEBIH dari sekedar menemui DIRI SEJATI dan mempunyai sifat 20, pun akhirnya menemukan KEBENARAN SEJATI (menurut versinya) yang ternyata menyimpang dari AL QURAN and SUNAH ROSUL. Dan (Maaf kpd penganut beliau) saya menilai itu adalah hasil dari Tipu daya Muslihat Syaiton Iblis Laknatullah.

    Makanya saya mohon pencerahan kepada yang lebih mengerti, sebagai koreksi barangkali saya masih tertutup hijab.

    Sahabat Siliwangi berkata: Shalat seperti apa yang Allah maksud yang bisa mencegah perbuatan keji jahat dan mungkar ?

    Rudy suwarno menjawab : Shalat yang seperti Rosullulloh SAW lakukan dan praktikan, baik secara syariat, tarekat, hakekat, dan makrifatnya.

    Tambahan buat YTH Sahabat siliwangi..
    Sahabat Siliwangi berkata :

    Ilmu…Praktek…Keyakinan

    jadi janganlah mempercayai sesuatu jikalau diri ini belum mengalaminya sendiri karena mempercayai sesuatu tanpa ilmu adalah kosong belaka.

    ilmu….pengalaman/mengalami…timbul keyakinan

    Lalu bagaimanakah dengan SURGA dan NERAKA.? Apakah anda meyakininya.? Sedangkan anda sama sekali belum berpengalaman / berpraktek.? Hal ini yang menjadikan saya kurang bisa memahami.

    Juga mohon maaf bagi yang merasa pernah menerima PETUNJUK GHAIB dan mengira itu adalah dari TUHAN, menurut saya itu tidaklah dapat kita yakin percayai genap 100%, karena menurut saya masih ada kemungkinan tipu daya muslihat Iblis yang sanggup berbuat demikian (menurunkan bisikan / wahyu). Sebab dengan kesaktiannya, iblis syetan pun bisa membo membo / menyerupai arwah leluhur kita. Bukankah hanya Rosululloh SAW saja yang Iblis tidak bisa menyerupai.? maka menurut saya, ada baiknya kalau kita pertimbangkan lagi, apakah petunjuk itu tidak menyimpang dari Al Quran dan Sunnah Rosullulloh SAW.?

    Sedikit yang saya ketahui, mohon koreksi barangkali salah ; Syeh Siti Jenar (maaf, dan Ki SL) belum mencapai Maqam bisa melihat / bercakap cakap dengan Iblis, apalagi menangkap, sedangkan Rosululloh bahkan sudah pernah melihat, bercakap cakap, bahkan mencekik dan mengalahkannya. Sehingga hanya Rosululloh SAW dan Para Muslim yang berpegang teguh pada Al Quran dan Sunah Rosul lah yang tidak bisa tertipu oleh muslihat Iblis.

    Sahabat Wawansyah berkata :

    Barang siapa meninggal, sedangkan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, maka dia meninggal secara jahilliyah.” (Musnad Ahmad; 96)

    Terus terang saya juga dalam kebingungan dalam mencari IMAM saya, sekedar sharing, pas saya lagi jalan jalan, kok nemu blog ini..

    http://www.mail-archive.com/lantak@yahoogroups.com/msg02123.html

    Barangkali ada hubungannya.?

    Sekian, mohon maaf atas segala kekurangan, mohon diambil maksud, tujuan dan sisi positifnya, bukan dari kata kata saya yang kurang tepat penggunaannya.

    Terima kasih.

    Salam Damai dalam Persahabatan..

    • siliwangi said

      Rudy suwarno berkata
      November 17, 2009 pada 12:24 am

      Terima kasih sekali kepada Mas Siliwangi yang baik hati, telah berkenan berbagi kawruh sama saya. Saya sangat menghargainya.
      Mohon maaf barangkali saya ada kesalahan / kekurang jelasan dalam penyampaian.
      Saya mencoba meringkas seluruh uraian saya diatas, begini :
      Yang saya kurang sependapat bahwa : “Kalau kita mencapai maqam bertemu dengan DIRI SEJATI, maka segala KEBENARAN SEJATI akan terungkap”. Karena kalau kita melihat contoh Syeh Siti Jenar yang maqamnya LEBIH dari sekedar menemui DIRI SEJATI dan mempunyai sifat 20, pun akhirnya menemukan KEBENARAN SEJATI (menurut versinya) yang ternyata menyimpang dari AL QURAN and SUNAH ROSUL. Dan (Maaf kpd penganut beliau) saya menilai itu adalah hasil dari Tipu daya Muslihat Syaiton Iblis Laknatullah.

      Siliwangi Menjawab :

      Masalah Syech Siti Jenar saya tidak berkompeten untuk menjawabnya ( Mohon bagi yang sepaham dengan Syech Siti Jenar memberikan penjelasannya )

      Akan tetapi dalam Hal ini saya berpendapat walaupun sifat 20 yang melekat pada diri telah terbuka tidak bisa dikatakan bahwa kita telah bersatu dengan Zat Allah karena bersatunya sifat belum tentu bersatunya Zat.

      Contoh Air dan Minyak meskipun mereka sama sama Zat Cair dan memiliki kesamaan sifat yaitu mengikuti bentuk wadahnya tetap saja tidak bisa bersatu dalam satu tempat ( dalam satu wadah ) air tetaplah Air dan minyak tetaplah minyak konkretnya Hamba tetaplah Hamba tidak bisa Hamba menjadi Allah atau mengaku Allah hanya karena persamaan sifat .

      Akan tetapi hikmahnya adalah ketika sifat 20 itu terbuka maka disitu kita akan bisa membuktikan Qudrat , Irodat dan IlmuNya terhadap diri ini sejelas jelasnya dan tentulah kita akan merasa bodoh dihadapanNYa. Dan kita tidak akan berani untuk berbuat apa apa yang jelas jelas keluar dari Aturan Allah dan Rosululloh karena siang malam kita selalu diawasi oleh sifat-sifatNya.
      Dan ini memenuhi dalil

      ( Ali Imran : 29 ) Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

      Allah mengetahui segala apa yang kita lakukan dan apa yang kita sembunyikan melalui Qudrat ,irodat dan IlmuNya yang terangkum kedalam sifat20 yang melekat pada diri ini siang malam.
      Kebenaran Sejati itu adalah Pembuktian akan Firman –firman Allah yang terkandung dalam Al Qur’an melalui ilmu Hakekat bukan ilmu hasil daya pikir manusia ( hasil sangkaan belaka ).

      Contohnya :

      Allah berfirman “ dan tidaklah kuciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu “

      Saya yakin anda pasti percaya akan bunyi ayat diatas akan akan tetapi alangkah lebih indahnya jika anda sendiri melihat bagaimana tata cara Jin beribadah kepada Allah Penguasa jagat raya beserta isinya jadi yakin disini bukan yakin karena Allah yang berfirman saja akan tetapi yakin dengan disertai pembuktian oleh mata kepala sendiri bahwa firman Allah itu benar Adanya ( dan ini juga sebagai pembuktian kepada diri bahwa tidak ada keraguan akan kandungan Al Qur’an karena apa yang difirmankan Allah dengan kenyataan yang dilihat oleh diri benar adanya)

      Jin itu pasti adanya akan tetapi apakah anda tahu bentuk Jin yang sebenarnya ?

      Ada sebuah nasehat yang berbunyi begini
      “janganlah kamu menceritakan sesuatu jikalau kamu tidak mengetahui ilmunya dan janganlah kamu menceritakan suatu kejadian jikalau kamu sendiri tidak mengalaminya “
      Nasehat ini sangat bagus sekali karena mendidik kita agar selalu berhati-hati dalam berkata-kata dan jujur dengan apa yang kita alami dan rasakan berdasarkan ilmu yang kita dapat disertai dengan pembuktian secara nyata bukan berdasarkan katanya si A atau si B melainkan berdasarkan karena pengalaman sendiri.

      Rudy suwarno berkata :

      Lalu bagaimanakah dengan SURGA dan NERAKA.? Apakah anda meyakininya.? Sedangkan anda sama sekali belum berpengalaman / berpraktek.? Hal ini yang menjadikan saya kurang bisa memahami.

      Siliwangi Menjawab :

      Surga dan Neraka pasti adanya karena itu terdapat dalam Al Qur’an hanya saja menurut ilmu yang saya dapat , saya jalani , saya pahami dan saya telaah sampai detik ini menurut saya pintu Surga dan Neraka masih tertutup dan akan dibuka/terbuka kelak ketika hari pembalasan tiba adapun yang dilihat oleh Nabi sewaktu Mi’raj adalah keadaan Surga dan Neraka kelak setelah hari pembalasan tiba .

      Dan argument saya ini diperkuat dengan ayat
      ( Al Kahfi : 100 )
      Dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu ( hari pembalasan ) kepada orang-orang kafir dengan jelas,

      Rudy suwarno berkata :

      Juga mohon maaf bagi yang merasa pernah menerima PETUNJUK GHAIB dan mengira itu adalah dari TUHAN, menurut saya itu tidaklah dapat kita yakin percayai genap 100%, karena menurut saya masih ada kemungkinan tipu daya muslihat Iblis yang sanggup berbuat demikian (menurunkan bisikan / wahyu). Sebab dengan kesaktiannya, iblis syetan pun bisa membo membo / menyerupai arwah leluhur kita. Bukankah hanya Rosululloh SAW saja yang Iblis tidak bisa menyerupai.? maka menurut saya, ada baiknya kalau kita pertimbangkan lagi, apakah petunjuk itu tidak menyimpang dari Al Quran dan Sunnah Rosullulloh SAW.?

      Siliwangi Menjawab :

      Yap…benar sekali jika apa yang kita terima atau bisikan itu bertentangan dengan Al Qur’an dan petunjuk Rosul maka abaikan saja akan tetapi jika sesuai dengan Al Qur’an dan petunjuk Rosul jalankanlah dengan keyakinan penuh.

      Rudi Suwarno Berkata :

      Sedikit yang saya ketahui, mohon koreksi barangkali salah ; Syeh Siti Jenar (maaf, dan Ki SL) belum mencapai Maqam bisa melihat / bercakap cakap dengan Iblis, apalagi menangkap, sedangkan Rosululloh bahkan sudah pernah melihat, bercakap cakap, bahkan mencekik dan mengalahkannya. hanya Rosululloh SAW dan Para Muslim yang berpegang teguh pada Al Quran dan Sunah Rosul lah yang tidak bisa tertipu oleh muslihat Iblis.

      Siliwangi Menjawab :

      saya kurang paham maksud anda ???

      tapi menurut saya bertemu tidaknya seseorang dengan yang namanya iblis tidaklah begitu penting yang paling penting adalah mengetahui segala tipu daya dan tipu muslihat yang dijalankannya untuk menyesatkan kita semua.

      Rudi Suwarno Berkata :

      Sahabat Wawansyah berkata :
      Barang siapa meninggal, sedangkan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, maka dia meninggal secara jahilliyah.” (Musnad Ahmad; 96)

      Terus terang saya juga dalam kebingungan dalam mencari IMAM saya, sekedar sharing, pas saya lagi jalan jalan, kok nemu blog ini..

      Siliwangi Menjawab :

      Kalau belum sampai ilmuNya berjalanlah dengan pedoman yang ada yaitu Al Qur’an dan Hadist dan praktekanlah dalam kehidupan sehari hari insyaallah suatu ketika anda akan menemukan apa yang anda cari……………

      Rudi Suwarno Berkata :

      Sekian, mohon maaf atas segala kekurangan, mohon diambil maksud, tujuan dan sisi positifnya, bukan dari kata kata saya yang kurang tepat penggunaannya.

      Siliwangi Menjawab :

      Pertanyaan yang Kritis he..he..he…
      saya senang dengan pertanyaan pertanyaan dari anda…..

      Semoga Rahmat Allah selalu menyertai kita semua dimanapun kita berada Amin…amin…yaarobbalaalamin

      Salam

    • Assalamu’alaikum…

      Alhamdulillah, diskusi antara sahabat Siliwangi dan Rudy Suwarno adalah suatu ilmu yg sangat mencerahkan sehingga saya dapat mengambil hikmah diantara keduanya. Saya hanya ingin menambahkan saja;

      Peran syetan di alam semesta hanya sekedar penyeru dan pengajak saja; artinya syetan hanya mengajak manusia untuk menyimpang dan tersesat. Allah swt tidak memberikan kekuasaan kepadanya untuk menaklukkan jiwa-jiwa dan dominasi atasnya. “Sesungguhnya kekuasaan syetan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukanya dengan Allah.” (QS. Al-Nahl:99)

      Atas alasan ini di hari kiamat sebagian orang yang disesatkan berjumpa dengan syetan, kemudian syetan berdalih kepada mereka, “Dan syetan berkata tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyerumu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri.” (QS. Ibrahim: 22)

      Ajaran-ajaran Al Quran menegaskan bahwa peran syetan dalam menyimpangkan dan menyesatkan manusia hanya berada pada tataran menyeru dan mengajak. Ia sekali-kali tidak memaksa manusia untuk memilih jalan kesesatan; lantaran manusia merupakan obyek dari dua seruan. Pertama, obyek seruan Allah dan kedua obyek seruan syetan. Manusialah yang memilih salah satu dari dua seruan ini. Akan tetapi tatkala manusia, dengan selera dan kehendaknya sendiri, memenuhi seruan dan ajakan syetan dan menjadikannya sebagai teladan dan mematuhi perintah-perintahnya, maka syetan kemudian mendominasinya lalu menggiringnya kepada kebinasaan. “Sesungguhnya kekuasaan syetan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin.” (QS. Al-Nahl: 100)

      Selanjutnya saya mengutip hadits Rasulullah saw:

      Barang siapa meninggal, sedangkan dia tidak mengetahui imam pada zamannya, maka dia meninggal secara jahilliyah.” (Musnad Ahmad; 96)

      Dan sahabat Rudy Suwarno mengutip link ini:

      http://www.mail-archive.com/lantak@yahoogroups.com/msg02123.html

      Link tsb adalah penjelas dari hadits yg saya kutip tsb diatas. Itulah sesungguhnya kebenaran Hakiki yg sesuai dgn perintah Allah dan Rasul-Nya dlm Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau manusia tidak mengenal Imam pada Zamannya (pemimpin), maka syetanlah yg menjadi pemimpinnya. Semoga Allah swt menunjukkan jalan yg lurus kepada kita semua, amin yaa Rabbal’alamin.

      Wassalamu’alaikum…

      • rudy suwarno said

        @ Sahabatku Wawansyah YTH

        Alhamdulillah, telah datang pencerahan dari Sahabatku, dengan disertai dalil yang meyakinkan. Terima kasih..

        Sahabat Wawansyah YTH berkata :

        Ajaran-ajaran Al Quran menegaskan bahwa peran syetan dalam menyimpangkan dan menyesatkan manusia hanya berada pada tataran MENYERU dan MENGAJAK.

        Rudy suwarno menjawab :

        Ayat diatas telah menerangkan bahwa terjadi KONTAK / KOMUNIKASI LANGSUNG antara manusia dan Syetan, yang intinya syetan berupaya menjerumuskan manusia tenggelam dalam bujuk rayu, janji janji, tipuan, dan muslihatnya.

        Sahabat wawansyah YTH melanjutkan :

        Ia (syetan) sekali-kali tidak memaksa manusia untuk memilih jalan kesesatan; lantaran manusia merupakan obyek dari dua seruan. Pertama, obyek SERUAN ALLAH dan kedua obyek SERUAN SYETAN. Manusialah yang memilih salah satu dari dua seruan ini.

        Rudy suwarno mengajak berdiskusi :

        Sampai saat sekarang SERUAN SYETAN itu masih TERUS BERLANGSUNG, MEMBISIKI semua manusia BERBAGAI MAQAM (mohon dilihat lagi argumen argumen saya di komentar saya yg lain)
        Sedangkan Seruan Allah saat sekarang hanya terbatas pada kandungan isi didalam Al Quran. Dan tidak berlaku untuk manusia yang tidak mau membaca atau berpegang teguh pada Al Quiran. Dan tidak ada KONTAK LANGSUNG / KOMUNIKASI LANGSUNG antara Allah SWT dengan manusia di karenakan Allah sudah tidak menurunkan wahyu-Nya.

        “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Rabb berfirman: “Kamu sekali-kali TAK SANGGUP untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri KEPADA GUNUNG itu , dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh PINGSAN. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman”.(QS.7:143)

        Dan BUKTI KEBERHASILAN dari Tipu daya (Ghurur) Iblis Syetan telah banyak sekali kita lihat, diantaranya :

        1) Banyaknya kalangan yang menganggap adanya REINKARNASI pada diri manusia, ini membuktikan keberhasilan Iblis syetan dalam mempengaruhi Jin ataupun manusia yang menguasai rahasia “membo membo” dan menguasai dimensi waktu, menguasai memory manusia walaupun sudah meninggal, yang kemudian mengunakannya untuk menipu muslihat keluarganya atau manusia lainnya yang masih hidup.

        2) Kepercayaan MANUNGGALING KAWULO GUSTI yang banyak mengakar dikalangan Islam dan Non Islam. Yang terbukti melenceng bahkan berlawanan dengan akidah Al Quran dan Al Hadist. Padahal Syeh Siti Jenar dalam pengakuannya sudah mencapai Maqam menguasai sifat 20. Maka di sini, kita membutuhkan KEIMANAN yang kuat sekali terhadap Al Quran dan Al Hadist.

        3) Ilmu Iblis yaitu Santet dan Ilmu Hitam lainnya, tidak mungkin Allah mengajarkan kepada kita supaya hanyut dalam Nafsu dan Kesesatan.

        =========================
        Mohon maaf, agaknya dikarenakan kata kata saya yang terlalu panjang, justru telah mengkaburkan INTI dari semua pertanyaan saya. Maka sekedar menyegarkan kembali maksud dan tujuan saya, sebenarnya POKOK PERSOALAN / PERTANYAAN yang ingin saya diskusikan kepada semua teman teman, HANYALAH pernyataan saya di bawah ini :

        Rudy suwarno berkata :
        Yang saya kurang sependapat bahwa : “Kalau kita mencapai maqam bertemu dengan DIRI SEJATI, maka SEGALA KEBENARAN SEJATI akan terungkap”

        Inilah yang saya belum bisa menerima, dan memohon penjelasan kepada sahabat semua.

        Selain pertanyaan POKOK itu, semuanya hanyalah penjelas, argumen pelengkap saja. sebab setahu saya, apabila kita menyampaikan suatu pendapat yang bertentangan dengan yang sudah ada, maka selayaknya kita mengutarakan alasan alasannya juga.

        Sekian, semoga semakin terjalin persahabatan yang dinamis.

        Terima kasih.

      • @Rudi Suwarno

        Sahabatku yg bijaksana, saya kira pendapat anda dan sahabat Siliwangi mengenai iblis dan syetan pada hakikatnya, terdapat titik kesamaan mengenai hal tsb.

        Kalau saya boleh beragumen bahwa syetan bersumber dari dari kata sy-tha-na. Syâtin bermakna maujud yang rendah dan tercela, thagut, pembangkang, keras kepala. Syetan ini dapat berwujud manusia atau jin, bahkan juga bermakna ruh jahat dan jauh dari kebenaran. Oleh karena itu, syetan merupakan nama spesies (nama jenis) yang dilekatkan kepada maujud yang menyesatkan (baik manusia atau bukan manusia) dan penggangu.

        Sedangkan iblis adalah makhluk yang pertama bermaksiat di alam semesta dan di hadapan Allah swt mengklaim kemandirian wujudnya. Bersikap sombong dan congkak, membangkang perintah Allah swt dan pada akhirnya diusir dari syurga. Nama rendah lainnya Iblis adalah “Azâzil” dan Iblis berasal dari kata “Ablas” yang sebenarnya merupakan gelar baginya. Iblis artinya berputus asa dan boleh jadi penyebutan ini karena Iblis telah berputus asa dari rakhmat Allah swt, sehingga ia disebut sebagai Iblis.

        Baiklah kita kembali kepada yg menjadi pokok persoalan anda.

        Rudy Suwarno berkata :
        Yang saya kurang sependapat bahwa : “Kalau kita mencapai maqam bertemu dengan DIRI SEJATI, maka SEGALA KEBENARAN SEJATI akan terungkap”

        Sepengetahuan saya ungkapan tsb hampir ada kesamaan dgn Manunggaling Kawulo Gusti. Dalam istilah Tasawuf disebut dgn Fanabillah yg bermakna tenggelamnya seorang hamba dalam samudera Ilahi. Sedemikian karamnya sehinggga kemanusiaan seorang hamba lebur dan sirna dalam Rububiyah Tuhan. Para pesuluk dan orang-orang yang meniti jalan menuju Allah, membagi beberapa tingkatan (Maqam) untuk sampai kepada Allah swt dan fana dipandang sebagai jalan pamungkas dan akhir dari perjalanan seorang salik (pejalan) menuju Allah swt.

        Para ahli makrifat berkata bahwa mereka yang telah fana maka mereka baqa (berkediaman tetap) di hadirat Ahadiyat (Allah swt). Silahkan kepada Sahabat yg lainnya untuk menambahkan dan mengkoreksinya.

        Wassalamu’alaikum…

  147. rudy suwarno said

    @ YTH Siliwangi, sahabatku seiman.

    Rudi Suwarno Berkata :
    Sedikit yang saya ketahui, mohon koreksi barangkali salah ; Syeh Siti Jenar belum mencapai Maqam bisa melihat / bercakap cakap dengan Iblis, apalagi menangkap, sedangkan Rosululloh bahkan sudah pernah melihat, bercakap cakap, bahkan mencekik dan mengalahkannya. hanya Rosululloh SAW dan Para Muslim yang berpegang teguh pada Al Quran dan Sunah Rosul lah yang tidak bisa tertipu oleh muslihat Iblis.
    Siliwangi Menjawab :
    saya kurang paham maksud anda ???
    tapi menurut saya bertemu tidaknya seseorang dengan yang namanya iblis tidaklah begitu penting yang paling penting adalah mengetahui segala tipu daya dan tipu muslihat yang dijalankannya untuk menyesatkan kita semua.
    =======================================================
    Rudy suwarno :
    Mohon maaf atas kekurang lengkapan penjelasan saya, untuk itu saya mencoba menerangkan lebih gamblang lagi :

    Apabila seorang petinju, matanya tidak bisa melihat musuh / lawan tandingnya, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui segala serangannya apalagi trik / tipuannya.?
    Disaat maqam kita tidak bisa melihat Iblis / syaetan, bagaimana mungkin kita bisa mengetahui segala tipu daya muslihat Iblis / syaetan tersebut.? Sedangkan Rosullullah SAW, bahkan sudah bisa melihat wujud Syetan secara jelas diberbagai kejadian, sehingga bisa memperingatkan kepada kita semua akan segala godaan godaannya.
    Kita ambil satu contoh…

    Ibnu Khuzimah, Thabrani dan Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan sesuatu yang melewati antara dirinya dan pembatasnya. Pernah Beliau SAW sholat lalu lewat didepannya seekor kambing. Maka Rasulullah SAW mendahuluinya maju kedepan sampai perutnya menempel di dinding (sehingga kambing itu melewati belakang Beliau).

    Suatu ketika Rasulullah SAW sholat wajib, Beliau SAW menggenggam tangannya. Usai sholat mereka bertanya “Wahai Rasulullah, adakah sesuatu yang baru dalam sholat?” Beliau menjawab “Tidak, hanya saja setan hendak lewat di depanku. Lalu aku cekik sampai lidahnya terasa dingin di tanganku. Demi Alloh, seandainya saudaraku, Nabi Sulaiman tidak mendahuluiku, maka aku akan ikat setan itu pada sebuah tiang masjid sehingga dapat dilihat anak-anak kecil penduduk Madinah.” (HR Ahmad, Daruquthni dan Thabrani).

    Salam Kasih dan Hormat

    • siliwangi said

      rudy suwarno berkata
      November 20, 2009 pada 10:06 pm
      @ YTH Siliwangi, sahabatku seiman.
      Rudi Suwarno Berkata :

      Sedikit yang saya ketahui, mohon koreksi barangkali salah ; Syeh Siti Jenar belum mencapai Maqam bisa melihat / bercakap cakap dengan Iblis, apalagi menangkap, sedangkan Rosululloh bahkan sudah pernah melihat, bercakap cakap, bahkan mencekik dan mengalahkannya. hanya Rosululloh SAW dan Para Muslim yang berpegang teguh pada Al Quran dan Sunah Rosul lah yang tidak bisa tertipu oleh muslihat Iblis.
      …………………………………..
      Rudy suwarno :
      Mohon maaf atas kekurang lengkapan penjelasan saya, untuk itu saya mencoba menerangkan lebih gamblang lagi :
      Apabila seorang petinju, matanya tidak bisa melihat musuh / lawan tandingnya, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui segala serangannya apalagi trik / tipuannya.?
      Disaat maqam kita tidak bisa melihat Iblis / syaetan, bagaimana mungkin kita bisa mengetahui segala tipu daya muslihat Iblis / syaetan tersebut.? Sedangkan Rosullullah SAW, bahkan sudah bisa melihat wujud Syetan secara jelas diberbagai kejadian, sehingga bisa memperingatkan kepada kita semua akan segala godaan godaannya.

      Siliwangi Menjawab :

      Keterangan anda diatas itu saya pikir sangat kontradiktif dengan pernyataan anda sebelumnya ??

      Kita bahas Yuk..

      Anda mengatakan bahwa bagaimana mungkin kita bisa mengetahui trik / tipuan disaat kita belum mencapai maqam melihat iblis dan hanya Rosululloh SAW dan Para Muslim yang berpegang teguh pada Al Quran dan Sunah Rosul lah yang tidak bisa tertipu oleh muslihat Iblis.

      Yang jadi pertanyaan saya adalah apakah setiap muslim yang berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunah Rosul itu sudah PASTI melihat iblis ? karena anda mengatakan mereka tidak akan terjebak oleh tipu daya Iblis
      sedangkan disisi lain anda mengatakan
      “Apabila seorang petinju, matanya tidak bisa melihat musuh / lawan tandingnya, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui segala serangannya apalagi trik / tipuannya.?
      Disaat maqam kita tidak bisa melihat Iblis / syaetan, bagaimana mungkin kita bisa mengetahui segala tipu daya muslihat Iblis / syaetan tersebut.”

      Coba anda baca berulang ulang kedua komentar anda tersebut

      Lalu Muslim yang mana yang anda maksud ?

      Apakah seorang kiayi , ustadz atau orang yang Hapal Qur’an dan Sunah Rosul serta berpegang teguh kepada keduanya itu pasti bertemu dengan iblis ? Sehingga tahu trik trik serta tipu muslihatnya

      Kalau ada orang yang mengerti Al Qur’an dan pinter berdalil serta berpegang teguh kepada keduanya tapi belum bertemu iblis apakah bisa dikategorikan sebagai seorang Muslim ?
      Terus terang saya jadi binun dengan komentar anda sendiri he..he..he…

      Salam

  148. rudy suwarno said

    @ Sahabat diskusi semuanya…

    Dalam berbagai kesempatan, sebenarnya kita sudah sering mengatakan dan mendengar bahwa Kebenaran itu HANYALAH MILIK TUHAN. Sahabat kita YTH Alam Rasa, Pun telah berkenan menyumbangkan pengetahuan / menerangkan dalam komentarnya. Terima kasih, mohon izin saya mencopas sedikit..

    (Al Kahfi: 29) – Dan katakanlah: “KEBENARAN ITU DATANGNYA DARI TUHANMU; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”…….

    Dan dalam pendalamannya, Sunan Bonang menggambaran wujud ALLAH SWT, adalah sebagai berikut :
    Sunan Bonang: , “ALLAH ITU TIDAK BERWARNA, TIDAK BERUPA, tidak berarah, tidak bertempat, TIDAK BERBAHASA, TIDAK BERSUARA, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”
    Sumber : (*** wong alus)

    Dari berbagai masukan yang saya dapatkan selama ini, saya mencoba membuat kesimpulan bahwa..Kita tidak bisa mengklaim telah menerima KEBENARAN SEJATI, selama kita masih berada di alam Dunia ini (Inilah POKOK diskusi saya, mohon penjelasan…). Karena memang kita tidak akan bisa BERTEMU ataupun BERCAKAP CAKAP dengan Allah SWT. Semua Kebenaran Sejati itu hanya akan terbuka dan kita ketahui KELAK sesudah berada di alam di AKHERAT. (Mohon di baca ulang berbagai argumen saya di “komentar komentar” saya yg lain di atas). Dan ini juga di sudah di perjelas dalam Firman-Nya…

    ”Hanya kepada Allah-lah KEMBALI kamu semuanya, LALU diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perperselisihkan itu“. (Al-Ma’idah/48)

    Dan dikarenakan kita tidak bisa MENEMUKAN / BERCAKAP CAKAP dengan Sang “Laisa Kamislihi Syaiun”, maka Allah SWT pun telah menurunkan Al Quran untuk kita semua, sebagai Al Huda (Petunjuk), Al Bayan (Penerang), Al Fuqon (Pembeda Benar dan Salah), supaya kita mengetahui tentang apapun yang menjadi KALAMNYA ALLAH SWT.

    =============================================================

    Setelah melewati beberapa kali kajian, rudi suwarno sepertinya sepakat dengan perihal “bisikan bisikan / tipu muslihat syaiton” dalam perumpamaan “Yang Palsu dan Yang tertipu” berikut ini :

    Mengisahkan beberapa orang UTUSAN / PELAYAN berniat membawa pesan kepada Raja di negeri seberang. Tetapi dalam menjalankan tugasnya, para utusan tersebut banyak yg gagal. Ada yang terpesona dengan Gerbang / Gapura Kerajaan, hingga terbengong2 akan kemegahan gapura yg bertatahkan emas permata. Dan dia cuma termangu2 di depan gapura, tanpa beranjak lagi dari sana. Maka lupalah dia akan tugasnya. Dan dari beberapa utusan itu ada yang berhasil melewati gapura, namun begitu melintasi TAMAN kerajaan yang INDAH, dengan kolam air, ikan2 emas berwarna-warni, dan pancuran air yg gemerlapan, lupalah dia akan tugas semula. Ada juga yang lolos gapura dan kolam itu, namun begitu menjumpai pengawal raja, yang pakaiannya gemerlapan dan wibawa yang dikeluarkan oleh sosok itu, sang utusan mengira bahwa PENGAWAL RENDAHAN itu adalah sang RAJA… diapun juga tertipu di sini, lupa akan tugasnya semula. Dst…

    Rudy suwarno menambahkan..
    Dan di akhir cerita, dari beberapa utusan itupun ada yang lolos dari semua tahapan ujian, tetapi pada akhirnya pada waktu mereka masuk kedalam Kerajaan, mereka tidak bisa menemui siapapun di dalamnya, apalagi berkomunikasi dengan Raja, karena memang sang Raja tidak bisa di lihat dan tidak memperlihatkan diri.

    Sesuai dalil yang di ungkapkan sahabat kita YTH Siliwangi :
    ( Al A’raaf : 143 ) Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali TIDAK SANGGUP melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.”

    Sahabat Siliwangi menambahkan :
    Disini Allah Berkata-kata langsung kepada Musa akan tetapi bukan dalam WujudNya akan tetapi melalui SuaraNya karena sesungguhnya tidak ada satupun Manusia yang bisa melihat sejatinya/WujudNya Allah

    Lalu tanpa saya sadari saya mencoba membandingkannya dengan Penjabaran Ilmu Tasawuf oleh Guru Kita Mas PJ YTH :

    “Ketika para Pecinta Allah sudah asyik di dalam PANDANG MEMANDANG, maka Allah akan mendudukan ia pada “Maqom Muroqobah” sebagai jalan terbukanya TIRAI “Kebenaran Hakiki/Mukassyafaturrobbani”. Itulah AKHIR dari pada pengembaraan dan perjalanan dan Itulah PUNCAK SEGALA PUNCAK kenikmatan dan kebahagiaan”.

    Hal inilah yang cukup membuat saya merasa rendah diri dengan Kedangkalan Spiritual Agama saya, Tetapi bagaimana bisa penjelasan tersebut diatas justru berlawanan dengan pemahaman / penafsiran saya dan sahabat siliwangi di atas..? Mohon Pencerahan…

    =========================================

    Perlu saya sangat tekankan disini, saya melihat ada banyak sekali kelebihan dan penghayatan Hakikat Islam dalam Tasawuf, yang tujuannya adalah sangat mulia, yaitu mensucikan jiwa dan hati, serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menjadi kekasih Allah SWT. Maka saya TIDAKlah sependapat dengan perkataan pedas Al Junaidi yang mengatakan : “Saya anjurkan kepada kaum sufi supaya tidak membaca dan tidak menulis, karena dengan begitu ia bisa lebih memusatkan hatinya. (Quutul Qulub 3/135)
    Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=945

    Saya mengucapkan banyak banyak Terima kasih kepada semua teman teman seiman, yang sekiranya telah bersedia memberikan dukungan / sumbangsih apapun, sehingga terciptanya diskusi bersama ini, semoga Allah SWT berkenan melimpahkan Hidayah-Nya, dan berkenan pula membuka Hijab kita semua, terutama kepada saya yang merasa masih sangat awam ini.

    Juga Terima kasih yang tulus buat para sahabat yang telah memberitakan kepada kami akan Bencana 2012, dan mengingatkan kami akan Kematian, sehingga semakin menyadarkan kami akan semakin habisnya waktu kami untuk mencari Kebenaran, sampai kami merasa sudah tidak punya waktu lagi untuk sekedar mempertahankan rasa Ego, Gengsi, dan tidak sempat untuk memikirkan hal hal Negatip atau salah paham lainnya, sehingga kami bisa lebih mengedepankan DISKUSI BERSAMA, BERSATU, dan SALING MENGINGATKAN, TANPA ADA KERENGGANGAN SEDIKITPUN.

    Di akhir cerita, Tiada kata yang lebih tepat kiranya, selain kata Maaf yang sedalam dalamnya, atas segala kekurangan dan kesalahan saya , baik yang disengaja atau pun tidak disadari. Tetapi yakinlah, Tidak ada niat berdebat, melainkan semata mata karena besarnya rasa saling sayang dan rasa saling cinta saya untuk sahabat semua.

    Terima kasih yang sebesar besarnya.

    Wassalaamu’alaikum wr. wb.

    • rudy suwarno said

      GRAXX05@yahoo.com

    • rudy suwarno said

      From :
      GRAXX05@yahoo.com

    • truthseeker08 said

      @rudy suwarno

      1. Allah selalu berkomunikasi dengan makhluknya. Hanya saja caranya tidak selalu sama. Cara berkomunikasi Allah disesuaikan dengan maqam masing.
      Suara2 kebenaran adalah “suara” Allah, Nurani adalah rambu2 Allah, Fitrah adalah sifat2 Allah, akal adalah hujjah Allah. Setiap saat Allah berkomunikasi dengan kita. Sehingga yang tertinggal bagi kita untuk memilih mengikuti suara2 Allah ataukah suara syaitan.

      2. Apa yang kita capai apa yang kita mampu bukanlah urusan kita, tugas, tanggung jawab dan wewenang kita hanyalah memilih untuk berproses. Apakah kita akan menemukan kebenaran sejati tidaklah lagi menjadi penting.

      3. Bahasa manusia memiliki keterbatasan2, janganlah terpaku pada bahasa/kata, pemahaman jauh diatas bahasa. Diatas kebenaran sejati ada kebenaran yang lebih sejati. Kesejatian tidak bisa dibatasi oleh keterbatasan kita.

      Salam.

  149. rudy suwarno said

    @ Sahabat Truthseeker08 YTH

    Rasa Terima kasih yang dalam, kepada YTH Truthseeker08, yang telah berkenan memberikan pencerahan kepada saya yang masih dalam tahap belajar ini, mohon ketelatenan bimbingannya…

    Sahabat Truthseeker08 berkata :

    1. ALLAH SELALU BERKOMUNIKASI DENGAN MAHKLUKNYA. Hanya saja caranya tidak selalu sama. Cara berkomunikasi Allah disesuaikan dengan maqam masing.

    Rudi suwarno bertanya :

    Apakah maksud anda disini, Allah berkomunikasi secara LANGSUNG dengan manusia.? Sebab yang sering saya lihat dalam paham tasawuf, saya sering sekali menemui kata kata seperti : Bertemu Allah, bercakap cakap dengan Allah, pandang memandang, terbuka segala hijab, terbuka segala rahasia, dls. Lalu saya mengartikannya benar benar bertemu dengan Allah tanpa hijab (Maqam Kasyaf). Sedangkan dalam pemahaman saya yang masih awam ini, Kita tidak mungkin bisa “MELIHAT” Allah SWT secara langsung tanpa hijab, karena kita akan hancur sebagaimana gunung sinai dalam cerita Nabi Musa. Dan Nabi Muhammad SAW yang derajatnya sudah Rosululloh SAW saja harus dibersihkan dulu hatinya oleh malaikat, sebelum melakukan perjalanan panjang Isro Mi’roj untuk bertemu Allah SWT (inipun masih dalam perdebatan, apakah benar benar Nabi Muhammad SAW benar benar telah bertemu Allah). Dan dalam pemahaman saya, Maqam Kasyaf tidaklah bisa dikatakan menyamai / melebihi derajat kerosulan.. sehingga bisa secara langsung “MELIHAT” bahkan menerima ilmu dari Allah tanpa perantara malaikat.
    Adakah benturan disini.? Ataukan cuma salah pemaksudan saja.? Mohon Argumen ataupun penjelasan dari sahabat Truthseeker08 ataupun sahabat seiman lainnya.…

    Sahabat Truthseker08 berkata :

    3. Bahasa manusia memiliki keterbatasan2, janganlah terpaku pada bahasa/kata, pemahaman jauh diatas bahasa. Diatas kebenaran sejati ada kebenaran yang lebih sejati. Kesejatian tidak bisa dibatasi oleh keterbatasan kita.

    Rudy suwarno menjawab :

    Insya Allah, saya sedang berusaha untuk mengerti maksud anda , cuma mungkin di karenakan keterbatasan pengetahuan dan pemahaman saya, jadi agak kurang bisa mengerti.

    Supaya terjadi persamaan peng ARTI an, ada baiknya saya berusaha menggambarkan, mohon koreksinya bila kurang tepat…

    Ada sebuah kata : DIA “MELIHAT” JIN.

    Dalam berkomunikasi dengan bangsa Jin, bahasa yang di pergunakan berbeda dengan bahasa manusia berkomunikasi dengan manusia, yaitu seperti berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat atau mirip mirip bahasa tarzan. Begitu pula dalam MELIHAT nya, yaitu tidak menggunakan mata telanjang, tapi bisa tahu dia ada dimana dan tahu bagaimana rupa, bentuk dan wujudnya, yang lalu itu dinamakan “mata batin.”
    Tetapi manusia memberitakannya dalam bahasa manusia supaya bisa di mengerti manusia, dengan kalimat : DIA “MELIHAT” JIN.

    Begitu pula dalam MELIHAT Malaikat, (Nabi) tidak mengunakan “mata telanjang” ataupun “mata bathin”, tetapi memakai “mata yang lain” sesuai maqamnya. Saya sudah tidak bisa menggambarkan.

    Dan dalam MELIHAT Allah, entah menggunakan mata yang apalagi, tidak bisa di jelaskan. Karena maqamnya adalah sudah berada di dalam syurga, dan MELIHAT Allah adalah “puncak dari segala puncak kenikmatan”, melebihi syurga itu sendiri.

    Entah kalau dalam paham tasawuf, manusia dapat MELIHAT Allah walaupun masih berada di alam Dunia, mestinya harus ada dalil “paten” (Al Quran) yang mengatakan bahwa ada manusia yang sudah melakukannya, dan siapa.? ( dalam pemahaman saya tidak ada ), jadi bisa dijamin kebenaran sejatinya.

    Saya rasa sahabat Siliwangi sudah sepaham dengan saya, karena mengunakan kalimat yang mudah di mengerti oleh orang awam seperti saya :

    Sahabat siliwangi berkata :

    “Kebenaran sejati adalah kebenaran berdasarkan Al Qur,an dan Sunah Rosul”

    “Betul sekali bahwa kebenaran yang hakiki itu akan kita temui setelah ajal menjemput”

    Salam Sahabat dalam Damai…

    • Alam Rasa said

      Ass. Sahabat Terkasih
      @Truthsekker08
      @Siliwangi
      @Lor Muria
      @Rudy Suwarno

      Perkenankan aku untuk ikut sharing dalam diskusi sahabat2 ku.
      Aku melihat masih ada perbedaan pemahaman antara sahabatku Rudy Suwarno dengan yang lainnya, terutama tentang penjelasan “komunikasi dengan Allah”, dan “kebenaran sejati”.

      Dengan mengacu pada Al Qur’an, “komunikasi dengan Allah” ini ada 3 jenis:
      1. Penyampaian wakhyu kepada para Rasul dengan perantaraan Malaikat Jibril;
      2. Penyampaian wahyu kepada Rasul secara langsung dibalik Tabir, seperti dijelaskan dalam:
      (QS An Nisaa: 164).
      “Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”.
      (QS Asy Syuura: 51)
      “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir[1347] atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki…”
      3. Penyampaian ilham kepada nabi, manusia, atau mahluk lainnya, seperti dijelaskan dalam:
      (QS Al Kahfi: 16)- Ilham disampaikan kepada para pemuda Gua Kahfi.
      “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu”.
      (QS An Nuur: 41) – Ilham disampaikan kepada mahluk-Nya.
      “Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.

      Dengan demikian, jelaslah bahwa Allah juga berkomunikasi dengan mahluk-Nya termasuk burung. Nah, sekarang bagaimana Allah berkomunikasi dengan kita manusia secara umum?

      Seperti dijelaskan oleh sahabat Truthseeker, bahwa “setiap saat Allah berkomunikasi dengan kita”. Melalui apa?…Dalam banyak ayat di Al Qur’an dan juga hadits disebutkan tentang “Hati”. Ya, hati inilah media komunikasi antara kita dengan Allah. Namun, sayangnya kebanyakan dari hati manusia ini “kotor”, akibat kita terlalu sering mengumbar “emosi negatif” kita, seperti amarah, iri, dengki, sombong, dll.

      Sebenarnya Allah selalu ingin membimbing kita, seperti dijelaskan dalam:
      (QS An Nuur 35) “….. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

      Inilah cerminan dari sifat-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bukankah, dalam setiap surat dalam Al Qur’an selalu diawali dengan “Bismillahir Rahmanir Rahim”. Sesunguhnya, Kasih Sayang Allah kepada kita semua sangat sangat besar dan tidak ada batasnya. Jauh melebihi kasih sayang orang tua kita, dan semuanya.

      Kembali ke pokok diskusi, dalam pemahamanku, bahwa Allah berkomunikasi dengan manusia melalui media “Hati” atau “tidak langsung”. Yang dimaksud dengan “melihat Allah”, pandang memandang,…itu sebatas dari kemampuan kesadaran manusia dalam melihat percikan cahaya-Nya. Sesungguhnya tidak seorangpun dapat menyadari kebesaran, kekuasaan, ataupun keesaan Allah, karena jauh melebihi imajinasi manusia manapun.

      Terakhir, mengenai “kebenaran sejati”. Aku setuju, bahwa kebenaran sejati adalah dari “Al Qur’an dan Sunnah Rosul”. Pertanyaannya, apakah itu sudah cukup? Bila sahabat Rudy sudah merasa cukup, maka aku tak perlu menjelaskan lebih lanjut.

      Namun untuk pernyataan selanjutnya, “bahwa kebenaran yang hakiki itu akan kita temui setelah ajal menjemput”. Menurutku itu adalah pandangan yang keliru. Itu artinya terlambat!!

      Sekedar menambah wawasan, sahabatku Rudy dapat membaca artikel ini:

      http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2064

      Saranku, ikutilah suara hati kecil (nurani) anda.

      Salam Asih, Asah, Asuh.

      • rudy suwarno said

        SUBHAANALLAH…
        WAL HAMDULILLAH…

        Telah terbuka satu hijab yang menutupi hati ini, dalam mengenali Samudra Ilmu-Mu, dan semoga semakin terbuka hijab hijabku yang lainnya, dalam mengenali Percikan Cahayamu, hingga menyinari seluruh Jiwa dan Akalku.. agar aku bisa membuat diri ini, menjadi semakin dekat dengan-Mu.. Aminn.

        Rasa Terima Kasih yang sangat mendalam, saya haturkan buat Sahabatku, Saudaraku, Guruku, Alam Rasa yang di Rahmati Allah.

    • @Rudy Suwarno

      Sahabat mengatakan:

      “Entah kalau dalam paham tasawuf, manusia dapat MELIHAT Allah walaupun masih berada di alam Dunia, mestinya harus ada dalil “paten” (Al Quran) yang mengatakan bahwa ada manusia yang sudah melakukannya, dan siapa.? ( dalam pemahaman saya tidak ada ), jadi bisa dijamin kebenaran sejatinya.”

      Saya menjelaskan:

      Apabila yang dimaksud dengan melihat Allah itu adalah melihat secara lahir dan kasat mata, maka sekali-kali tiada seorang pun yang dapat menyaksikan dan melihat Allah. Hal ini sesuai dengan Dalil Aqli dan Dalil Naqli

      Dalil Aqli

      Berkenaan mustahilnya Allah dapat dilihat dengan Dalil Aqli dapat dijelaskan sebagai berikut;

      Aktifitas melihat dan menyaksikan didapatkan melalui berhadap-hadapannya seseorang dengan sesuatu yang ada di luar dengan mata dan getaran cahaya yang merupakan kiriman dan refleksi gelombang cahaya. Artinya; Pertama, yang disaksikan itu adalah sesuatu bendawi yang ada di dunia luar. Kedua, mata berhadapan dengan benda yang ada di hadapannya. Karena itu, mata kita tidak melihat sesuatu yang berada di balik itu, sementara Allah bukan benda (jism) juga tidak memiliki bentuk dan karakteristik benda (seperti yang dihadapan mata). Karena itu Allah sekali-kali tidak dapat dilihat dengan menggunakan mata lahir.

      Dalil Naqli

      Berikut ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan Al Hadits yang secara tegas memandang mustahil Allah dapat dilihat.

      A. Al-Qur’an

      1. “Lan tarani.” (Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku” (QS. Al A’raf :143)

      2. “La tudrikuhu al-abshar.” (Dia tidak dapat digapai oleh penglihatan mata,” (QS. Al-An’am :103)

      B. Al Hadits

      Wamtani’ ala ain al-Bashir, (Allah tidak akan pernah nampak di hadapan mata).

      Lam taraka al-‘Uyun (Mata tidak dapat menyaksikan-Mu).

      La tudrikuhu al-‘Uyun bimusyahadati al-‘Iyân (Mata tidak melihatnya berhadap-hadapan).

      Akan tetapi apabila melihat Allah, walaupun kita masih ada didunia yang dimaksudkan dlm istilah Tasawuf adalah melihat secara mata batin, yang disaksikan itu adalah ilmu, makrifat, nama-nama dan sifat-sifat Allah sejalan dengan kapasitas eksistensial, potensial dan kemampuan manusia, maka Allah dapat disaksikan dengan penyaksian batin (Mukhasyafah). Sebagaimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Lakin tudrikuhu al-Qulub bihaqaiq al-iman” (Namun hati dapat menggapai dan menyaksikannya dengan kebenaran iman).

      Demkian penjelasan dari saya, semoga sahabatku Rudy berkenan.

      Wassalamu’alaikum…

      • rudy suwarno said

        @ Sahabat ku Wawansyah

        Iya, Sahabatku. Pada dasarnya tidak ada Benturan dalam diskusi kita, sesama iman. Yang ada hanyalah salah penafsiran dalam istilah yang berbeda..

        Terima kasih atas pencerahan sahabat, semoga menjadikan kita bisa lebih erat lagi BERSATU, dalam menyibak tabir yang menutupi hati kita semua, tetap dalam cinta.

  150. aburahat said

    @PJ
    Maaf bahwa saya belum bisa menerima bahwa kita memakai kata SEMBAHYANG sama dengan SHALAT selama kita memahami makna shalat sama dengan sembahyang.
    Menurut saya banyak yang belum mengerti makna dari SHALAT dan beriman terhadap shalat. Tanpa kita mengerti dan memahami yang dimaksudkan dengan SHALAT saya rasa sia2 sembahyang kita.
    Untuk ini saya harap PJ bisa mendifinisikan/mernjelaskan makna Shalat dan apakah itu sama dengan pengertian SEMBAHYANG yang dilaksanakan umat sekarang ini?
    Sebab menurut saya sangat beda maknanya.Kalau menurut saya sembahyang adalah bagian dari Shalat Wasalam

    • mulade said

      sembahyang artinya menyembah kepada yang… (kuasa) Tuhan
      Sembah berarti serah, mempersembahkan/menyerahkan (diterimakan) kepada Tuhan. Berarti sembahyang sama dengan menyembah, mempersembahkan, menyerahkan diri kita kepada Tuhan.
      Sholat adalah rukun Islam(metode)penyembahan manusia kepada Tuhan.Tidak hanya sekedar gerakan-gerakan, tetapi setiap gerakan ada lafal doa dan semua lafal doa dalam sholat itu semuanya sesuai dengan kodrat kebutuhan hidup manusia di dunia dan di akhirat.
      Jadi tidak seperti pada jaman berhala menyembah Tuhannya hanya dengan gerakan sujud duduk-sujud duduk, ada yang memakai sesaji.Lagi pula jaman dulu ada yang menyembah/ mempersembahkan nyawa dirinya kepada rajanya sebagai sembul pengabdian pada Tuhannya.
      Jadi tidak perlu bimbang tentang sholat atau sembahyang
      Yang terpenting sholat adalah sembahyang dalam metode yang menjadi rukun.

  151. Siraj said

    Kang PJ
    Terima kasih PJ sdh menjabarkan sifat Allah Laisa Kamitslihi Syai’un
    Boleh donk juga sharing penjabaran sifat Allah ‘Wujud”
    Maaf Kang PJ Sedikit berbeda pendapat ttng pengertian Laisa Kamitslihi Syai’un, klu menurut saya arti Laisa ….dst… artinya Zat Allah tdk bs diserupai oleh siapapun juga. Bukan berarti wajah Allah tidak bs dilihat oleh manusia, jk wajah Allah tdk bisa dilihat maka kemanakah kita menghadapkan wajah kita ketika shalat?

  152. pm.uj said

    assalamualaikum.wr.wb
    aku sbg pendatang br disini, salam untuk saudara2 ku ,khusus nya mas pj,
    disini aku ingin bertanya ttg suatu hal,yg menganjal dlm batin ku selama ini,
    yaitu;”barang siapa yg tersesat di dunia,maka diakherat nanti akan lebih sesat lagi”
    untuk segala komentar nya ,terima kasih yg sebesar besar nya.

  153. aburahat said

    @Siraj
    Allah berfirman yang maknanya dimana saja kamu hadapkan wajahmu, kamu memandang wajah Allah. Dan yang melaksanakan perintah Allah ini adalah para mukmin diseluruh dunia. Kira2 kalau anda maksudkan wajah Allah itu dapat dilihat. Menurut perhitungan anda berapa banyak wajah Allah. Astaqfirullaha Al Adhim. Subhanallah. Wasalam

    • mulade said

      kamu pingin lihat wajah Allah ?
      Walah Allah adalah seluas jagat raya beserta isinya
      Dzat Allah ada di mana-mana. Di depan, di belakang, di samping, di atas bahkan di dalam diri anda.
      Jadi berpikirlah !

  154. surya said

    assalamualaikum.wr.wb
    aku pendatang yg sangat baru didunia maya(internet) dan disini, salam kenal dan salam buat saudara2 ku semua,khusus nya mas pj,
    disini aku ingin bertanya dimana aja belajarnya saudara2 ini kok hebat-hebat,apa juga ada yg sudah ketemu diri sejatinya(tolong beritahu aku caranya yg mudah dan haq).sekedar catatan saja, aku punya temen dan guru yg udah pada ketemu diri sejati(guru sejati),pengetahuannya tidak sehebat temen2 disini.
    Aku disini hanya akan menanyakan kepada teman2 sekalian, APA?SIAPA?DIMANA? 1.ALLAH SWT 2.ROSULLULOH SAW ,secara syariat,hakikat,ma’rifat. Biar sahadatku benar dan pas

    terima kasih yg sebesar besar nya.

    • mulade said

      Siapa Tuhan itu ? Tuhanmu adalah sejauhmana pengertian tentang Tuhan, seperti apa dan bagaimana Tuhan itu, itulah Tuhanmu.
      Tuhan itu maha segalanya, tidak ada yang luput dari pehatian Tuhan.
      Seperti Apa Tuhan itu ? tergantung pengertianmu. Lihatlah asmaul husna / 99 sifat Tuhan dan kenalilah Tuhanmu dengan lebih luas, kamu akan mengerti.
      Dimana Tuhan itu ? Tuhan ada di mana-mana, di depan, di belakang di atas, di samping, juga di dalam. Jadi Tuhan tidak jauh dari kita, jadi Tuhan maha mengerti makhluknya.
      Tergantung pilihanmu, mana yang kamu kembangkan Tuhanmu atau ego, nafsu atau duniamu. Sedangkan semua kekuatan ego, nafsumu berasal dari Tuhanmu.
      Tiada Tuhan selain Allah artinya Allah yang wajib di sembah. Kata-kata sembah berarti menyembah,mempersembahkan diri, semua yang ada pada diri kita dipersembahkan (diserahkan, diterimakan) hanya kepada Allah.
      Muhammadarasulullah adalah utusan, kurir, petugas menyampaikan surat-surat Allah kepada umat manusia, apakah kamu menerima dan membaca kiriman surat-surat itu (Alquran)?
      Jadi Muhammad bukan yang disembah, bukan yang dipuja.
      Yang dipuja dan disembah-sembah hanyalah Allah.Itulah ajaran Rosulullah. (TAUHID YANG BENAR).
      Kamu tau tidak orang yang memuja-muja/nyebut-nyebut Muhammad, bahkan guru-gurunya yang sudah meninggal secara terus menerus dengan alasan menghormatinya, maka akan menciptakan figur (gaib)jiwa rosulullah Muhammad atau guru-gurunya karena hasil pemujaan,penyebutan orang-orang yang memujanya.jadi pemujaan terhadap Muhammad dan guru-gurnya akan memberikan kontribusi terciptanya figur gaib Muhammad atau guru-gurunya. Ini semua karena belum mengenal siapa sesungguhnya Allah itu.
      Karena banyak orang yang memuja Muhammad atau guru-gurunya Allah berusaha melayani umatnya dengan menghadirkan figur Muhammad atau guru-gurunya, sedangkan yang pantas dipuja itu adalah Allah yang menciptakan Muhammad.
      Tetapi terserah pada pilihanmu, mau memuja Tuhan secara langsung atau lewat figur Rasulullah atau guru-gurumu.Ingat yang memberi kekuatan Rosulullah dan guru-gurumu adalah Tuhan.Kenapa tidak langsung kepada Tuhan yang memberikan segalanya, bahkan Tuhan bisa menjadi gurumu.
      Sekian dulu lain kali disambung lagi.

      • surya said

        maaf mas mulade, kalo tuhan itu menurut sejauhmana pengertian tentang Tuhan pada tiap-tiap orang maka tiap orang punya tuhan sendiri-sendiri menurut sejauh mana pemikiran dan pengetahuannya tentang tuhan. jadi ya gimana kita akan bisa mengenal dan dekat dgn tuhan kalau pengetahuan kita dikit. tuhan itu tunggal,tanpa awal dan akhir,semua berasal dariNya dan akan kembali pada diriNya,jadi ya siapa sebenarnya tuhan itu, baru kita nanti mengerti rosul SAW dan diri kita sendiri atau kita balik kita tahu siapa diri kita maka akan tahu rosul SAW dan ALLAH SWT.( kata Gus DUR, gitu aja kok repot).dari mursid tarikat, sebenar siapa Allah itu ada di pengertian ayat teragung(ayat kursi).di situ udah jelas Allah itu siapa.biar ngak kesasar kita memaknai dan mengerti tuhan kita sebenarnya.

  155. aburahat said

    @surya
    Saya ingin memberikan sedikit masukan untuk anda agar menjadi bahan pemikiran.
    Imam Ali as mengatakan: Awalluddin ma’rifatullah ( permulaan kita beragama adalah mengenal Allah). Sabda Imam Ali as ini menurut saya adalah HAQ. Bagaimana kita akan menyembah (beribadah) kalau kita tidak kenal siapa yang harus disembah.
    Keuda Imam Ali as mengatakan: Kenali dirimu maka engkau akan mengenali Tuhanmu.
    Jadi yang mula2 anda lakukamn adalah mengenali diri anda dengan menanyakan pada diri anda:
    Siapa aku, Apa tujuan hidupku, Mengapa aku harus ada. Kapan aku ada, dimana sebenarnya aku harus berada dan dimana aku sekarang berada. Bagaiamana sampai aku ada, Dari mana asal aku dan terakhir Siapa yang menyebabkan ada. Muda2an dengan sedikit informasi ini bisa membuka jalan untuk anda menuju jawaban atas pertanyaan anda. Wasalam

  156. septiyanto said

    Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan
    kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan
    menyembah sembahan lainnya selain Allah:

    Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid,
    yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan menyembah sembahan
    lainnya selain Allah:

    “Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti
    kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu
    adalah Tuhan Yang Esa”.

  157. mulade said

    menyembah dari kata dasar sembah, menyembah berarti mempersembahkan kepada Tuhan, siapa yang dipersembahkan ? Tentu diri kita. Jadi kita mempersembahkan diri kepada Tuhan. Diri kita terdiri dari elemen-elemen jiwa, raga,nyawa,ruh, hati nurani, ego, nafsu, pikiran, perasaan, batin, angan-angan dan unsur-unsur lain sebagai pelengkap sistem suatu diri manusia, termasuk yang dipikir,pikiran, yang dirasakan, perasaaan dan segala tindakan dan ucapnnya semua itu dipersembahkan untuk allah. Itulah yang disebut menyembah Allah.

  158. surya said

    ALLAH..ALLAH..ALLAH. ITU ISMU DZAT(NAMA DZAT YG MUTLAK).SEBENARNYA SIAPA ALLAH ,ADA DI AYAT KURSY(AYAT TERAGUNG AL QUR’AN)

  159. adi isa said

    mas PJ, gimana kabar?

  160. bayangangan katibina said

    Assalamu alaikum wr wb
    aBangda PJ yg slalu dirahmati Allah.

    Senang rasanya bisa berteduh dipondok abang yang adem ini brsama para salik dan salika yg ada dipondok ini…..nongkrong diblog abang PJ lebih hebat daripada nongkrong di café starbuck…hehehe….karena dipondok ini ada “suguhan” dari “cangkir” makrifat yang dzauq-Nya langsung “diracik” sendri oleh “Sang Pemilik Rasa” kemudian “disajikan” melalui tangan seorang “pengembara jiwa” yang ber zuriat dari Datuk Syekh Jamaluddin Surgi Mufti bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari … sungguh “seduhan” abang PJ begitu terasa “nikmat”.

    Mohon doa, bimbingan dan pencerahan dari abangda PJ kepada diri ini yg baru belajar berjalan….yg kadang-kadang terjatuh bahkan harus merangkak dan meraba-raba untuk mencari “jalan pulang” dari “73 persimpangan jalan” yang ada. Kalo ada sedikit petuah, kaji dan pencerahan dari Abangda PJ mohon kiranya di ”sedekahkan” ke kotak email sy.
    bayangankatibina@yahoo.co.id
    si salik kecil yang baru belajar merangkak…

    Salam buat abangda PJ sekeluarga.
    Dan seluruh salik dan salika dipondok ini.
    Wassalam

    “Sbuah saduran dari tulisan suluk bayangan sekeping cermin”.
    Disaat sakratul maut menjemput si Fulan, maka “tampaklah” sebuah gerbang dan suara yang bertanya dari balik gerbang tersebut.
    Suara dibalik gerbang: siapa kamu???
    Si Fulan: aku Fulan, tuan.
    Suara dibalik gerbang: AKU tidak tanya namamu, AKU tanya siapa kamu???
    Si Fulan: aku seorang sarjana, tuan.
    Suara dibalik gerbang: AKU tidak tanya apa titelmu, AKU tanya siapa kamu???
    Si Fulan: aku seorang anak pejabat, tuan.
    Suara dibalik gerbang: AKU tidak tanya kamu anaknya siapa, AKU tanya siapa kamu???
    Si Fulan: aku ini manusia, tuan. aku setiap Jumat pergi jumatan ke masjid dan aku pernah kasih sedekah. Setiap lebaran, aku juga puasa dan bayar zakat.”
    Suara dibalik gerbang: AKU tidak tanya apa amalanmu, AKU tanya siapa kamu???

    Si Fulan pun gagal di pintu pertama, terjegal justru oleh sebuah pertanyaan yang sungguh sederhana: siapa ”dirinya” yang sebenarnya.

    “Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Robbahu”.

  161. Mulad said

    kenapa ayat-ayat quran tertentu kalau diucapkan menimbulkan energi ysng bssar, seperti ayat kursi, yassin, alfatehah dll, mohon penjelasan ?

  162. mata elang said

    subhanalloh. . .

    “mengabdi” ini bisikikan hati saat kumerasakan tak punya siapa-siapa lagi saat aku merasakan kesepian eksistensial (SMP kelas 3.)

  163. bayangankatibina said

    assalamu alaikum…

    kajian dipondok ini makin “ramai” aj yach..

    thanks buat bang PJ sdah app sy di YM
    tpi maaf bang, sy nggak sempat pamit ato kasih salam soalnya koneksi saya waktu itu putus2…

    sy ada kirim “surat elektrotnik” ke kotak email anda tpi waktu itu sy kirim dengan nama aslandanijamal@yahoo.co.id, seputar pertanyaan saudara mustafa al dzunnun tpi maaf karena tulisannya agak berantakan…
    kalo abang PJ ada sedikit waktu luang,tolong yach email sya dibalas..

    salam buat sluruh para salik dan salika dipondok ini
    wasalam

  164. Mas PJ saya ingin bertanya,

    1.arsy dan langit ketujuh itu ada dimana?

    2.kalau allah mau memisalkan dirinya bagaimana?

    3.bagaimana dengan penyembahan dalam arti ketundukan dalam melaksanakan amanah bukankah ini sebuah penyembahan?

    4.diakah pengembara jiwa yang sering bersemayam di goa garba?

    saya Brata Sena :)

    mohon jawabannya atau saya tunggu lewat email.

    fadly@elifehack.com

    fadli

  165. maha suci engkau ya ALLAH engkau telah memberikan rahmat dan hidayah serta kefahaman kpd mas pj sehingga beliau benar benar menjadi seorang arifbillah aminnnnnn ya robal alaminnnnnnnnn

  166. ass mualaikum wr wb
    mas pj yg sangat kami dambaganilmu agamanya

    mas pj sesuai firman ALLAH SWT dlm hadits qudsi MAN ARAFAH NAFSAHU FAQOD ARAFAH ROBBAHU ( barang siapa mengenal dirinya maka dia akan kenal TUHANYA ,hakekat dari pada firman diatas ,maka kitapun harulah mengenali kebesaran kebasarannya yg ada pada diri kita ,diantara kebesrannya adalah seluruf huruf dan lafal yg terkandung di dlm diri kita,
    yg ingin saya tanyakan adalah dimana kah letaknya ke 30 huruf dan lafal yg ada didlm tubuh kita tsb mohon pencerahanya

  167. K Hadi said

    Asslm wr wb,
    kepada pengelola blog ini, salam kenal saya, saya nyaris tidak lagi bisa berkata-kata … nangis (malu saya), untuk semuanya tentu saja terutama kepada sang Nabiyyullah SAW al-fatihah

  168. K Hadi said

    Asslm wr wb,
    kepada pengelola blog ini, salam kenal saya, saya nyaris tidak lagi bisa berkata-kata … nangis (malu saya), untuk semuanya tentu saja terutama kepada sang Nabiyyullah SAW al-fatihah, ijinkan saya mengamalkan apa yang ada disini

  169. K Hadi said

    Asslm wr wb,
    Allohumma sallimna wa sallim imanana wa sallim dinana, amin

  170. syiar said

    assalam wrw wb..
    salam kenal akhi..

  171. Icang said

    Yang disembah itu Allah. Alqur’an diturunkan kep manusia dengan bahasa yang dapat dimengerti manusia (Allah dapat mengukur kemampuan akal manusia dalam menerima petunjuknya) sehingga manusia sebenarnya mampu menafsirkan al-quran. kalu tidak hilanglah fungsi alquran sebagai petunjuk bagi manusia.

  172. KangBoed said

    hahaha.. agama adalah jalan hidup.. agama adalah the way of life.. maka segala sesuatu yang berhubungan dengan jalan hidup harus keluar dari dalam diri terpancar dari dalam hatinya dan keluar dari perbuatan dan tingkah lakunya.. demikian Islam.. demikian juga penyembahan kepada ALLAH..

    Selama kita masih bernafas dan menghirup udara segar maka sadarilah waktu dan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke dalam diri masih ada dan tersedia.. sebelum kita menyadari diri sebenar diri akankah kita dapat menyembah dengan benar di hadapanNYA.. ataukah tiada kita sadari kita menyembah tuhan tuhan lainnya.. sebelum semua dihancurkan dan diratakan habis.. maka apalah arti sebuah penyembahan.. itulah perang manusia terbesar.. bukan dengan kuat dirimu.. bukan dengan kegagahanmu tetapi murni dalam penyerahan diri dalam la hawla walla quwata..

    Sesungguhnya hanya pertolongan TanganNYA yang mampu membuat kita menyembah secara aktif.. menyembah dalam pemujaan CINTA yang meliputi.. tanpa Kasih dan SayangNYA siapa dapat memasuki jalan pemurnian.. hanya ANUGERAHNYA yang menanamkan Pohon CINTA penuh Kerinduan di dalam dada anak manusia.. sehingga dapat menghadap dalam penyembahan sejati.. datang menghampiri karena CINTA dan berbekal Kerinduan yang dalam tangis penyerahan diri total kepadaNYA.. tiadalah sang diri ini yang Lemah tanpa daya upaya..

    Sesungguhnya sadarilah bahwa penyembahan tanpa CINTA adalah kosong belaka.. Penyembahan yang tidak muncul dari kerinduan kepadaNYA tiadalah mengantarkan manusia kepada sebuah Pemurnian Perjalanan.. bagi yang mengerti.. mohonkan benih Cinta itu supaya dapat bertumbuh dalam dada.. sesungguhnya saya dan semua sahabat yang ada membawa AMANAT SUCI dari ALLAH.. bukan AMANAT yang berbeda beda.. melainkan amanat yang sama.. untuk menjadi Insan Kamil.. Kholifah Bumi..

    Sadari dan renungkan.. mari kita sama sama melangkah dalam pemurnian penyembahan.. melepas segala ego dan keakuan.. memurnikan hati nurani kita.. sehingga menjadi cermin yang bersih berkilauan.. karena ada satu daging yang namanya hati jika itu bersih maka semuanya akan bersih dan jika itu buruk maka semuanya akan menjadi buruk.. pemurnian hati.. untuk menemukan kembali fitrahnya diri.. ketika saat kita datang fitrah maka kembalinya fitrah.. walau hanya sedikit yang menyadarinya.. melangkahlah dan mari bersama menemukan diri kita masing masing

    Manusia manusia yang menjaga keselarasan hubungannya kepada ALLAH, sesama manusia dan alam semesta.. sesungguhnya hanya sedikit sekali yang mau masuk dan melangkah membenahi diri.. tapi kembali semua adalah kehendakNYA.. hanya bagi yang mengerti dan mau merasa.. sekali lagi bisa merasa.. bukannya merasa bisa.. maka mereka semua akan masuk dan memilih Memurnikan Penyembahan kepada ALLAH.. mereka menyerahkan diri dan melangkah mencari Ketenangan Jiwa.. dalam Fitrah Diri.. manusia meliputi lahir dan bathin.. mari sahabatku semuanya murnikan diri kita masing masing sehingga kita menemukan arti sejatinya Manembah.. arti sejatinya penyerahan diri total kepadaNYA.. makna hidup dalam pelukan CINTA dan KASIH SAYANGNYA.. menebarkan Cinta dan Kasih Sayang terhadap sesama karena CINTA kepadaNYA..

  173. wong cilik said

    Assalamu alaikum Wr.Wb

    Salam kenal semuanya

    Saya ingin bertanya tentang haqekat dari tiap2 rukun sholat, mohon penjelasan dan pencerahan kepada Saudaraku semuanya yang ada di blog ini supaya hati ini bertambah yaqin atas apa yang didirikan mohon maaf sebelumnya
    wassalam

    • KangDudung said

      Ass…
      Sahabat, dalam sholat anggota badan berdiri tegak lurus, ini melambangkan huruf Alif (dalam asma Allah), kemudian rukuk (melambangkan huruf Lam Awal (dalam asma-Nya), sujud (melambangkan huruf Lam akhir), dan duduk diantara dua sujud (melambangkan huruf Ha dalam asma-Nya). Dalam duduk tahiyyat, kepala kita (melambangkan huruf Mim dalam asma Muhammad), dada sampai perut (melambangkan huruf Ha dalam asma Muhammad), perut sampai lutut kaki (melambangkan huruf Mim dalam asma Muhammad), dan kaki (melambangkan hurup Dal adalam asma Muhammad). Jadi Sholat itu merupakan salah satu wujud penyaksian (Musyahadah) kita akan Allah dan Nabi Muhammad). Antara Asma Allah dan Asma Muhammad ada huruf yang sama, yakni tasjid (melambangkan ruh). Jadi antara ruh Manusia (khususnya Nabi) tidak berbeda dengan Ruh Allah, karena ruh itu berasal dari “tiupan”-Nya, yang membedakan hanyalah gradasi (maqom) nafs (jiwa) kita.
      Maka, dalam sholat “ruh” kita harus berusaha dileburkan dengan “Ruh”-Nya, agar penyaksian kita sempurna.
      Wassalam….

  174. inawai said

    “…TETAPI MURNI DALAM PENYERAHAN DIRI DALAM LA HAWLA WALLA QUWATA..
    Sesungguhnya hanya pertolongan TanganNYA yang mampu membuat kita menyembah secara aktif.. menyembah dalam pemujaan CINTA yang meliputi.. tanpa Kasih dan SayangNYA siapa dapat memasuki jalan pemurnian.. hanya ANUGERAHNYA yang menanamkan Pohon CINTA penuh Kerinduan di dalam dada anak manusia.. sehingga dapat menghadap dalam penyembahan sejati.. datang menghampiri karena CINTA dan berbekal Kerinduan yang dalam tangis penyerahan diri total kepadaNYA.. tiadalah sang diri ini yang Lemah tanpa daya upaya..”

    luar biasa KangBoed,kalimat dan paragraf KangBoed itulah kesadaran rasa diri yg memungkinkan DIA mau menatap kita dan jadilah kita tersungkur sujud dan rata dengan tanah terendah atau bahkan lebih rendah lagi…

    KangBoed, saya memohon dengan segala hormat bisa disharing-kah pengalamannya ttg
    “””Penyerahan Diri Total KepadaNYA dalam La Hawla Wala Quwata…”””

    Wassalamu ‘alaikum wrm wbr
    inawai
    gmandalan@yahoo.com

    • KangBoed said

      Buat Sahabatku mas Inawai terchayank.. hehehe..wah apa yang bisa di share yaaaa.. oh ya ini alamat YM saya biar bisa copdar hehehe.. laskar.id13

      Salam Sayang Buat Semuanya

  175. inawai said

    assalamu ‘alaikum wrm wbr
    Sdr-ku mulad/mulade
    alhamdulillah kita bertemu lagi disini ya pak…
    apakah benar sdr-ku pak mulad/mulade yg tinggal di pasir koja yaa…

    salam

  176. chany said

    @all
    Ass.W.W
    Ikut berpartisipasi
    Saya sering dan hampir semua yang berkomentar mengucapkan:LAA HAWLA WA LAA QUATA ILLA BILLAH.
    Tolong jelaskan pada saya orang yang MAQAM tingkat mana yang mengucapkan kalimat tsb dan mengamalkannya.
    Dan bagaimana mengamalkannya. Wasalam

  177. Setiono said

    Assalamu ‘alaikum wr.wb.
    Salam kenal sadara/i semua mohon ijin ikut ngangsu kawruh terutama yang empunya blog Mbah PJ.

    Diatas telah panjang lebar penjelasan tentang Alloh, sholat, mi’roj dsb.

    mohon penjelasan dari saudara semua tentang tata cara ketemu Alloh kalau sholat bagaimana sacara syariat tata cara sholat yang sesuai dengan perintah Alloh dan Anjuran Rosululloh. Trimakasih semoga berkenan biar yang belum bisa dapat mempelajarinya.

    Salam Cinta slalu

    • sayyid said

      Salam,
      saudara setiono,

      Kita para muslim dan muslimat,mukminin dan mukminat, baik yg beriman maupun yg belum.
      Lihatlah sholat kita menghadap kiblat yaitu mekkah(ka’bah), kita tunduk dan sujud ke arah itu, bukankah kita seharusnya tunduk dan sujud hanya kepada Allah saja.
      sesungguhnya orang-orang yg diberikan ilmu oleh Allah mengetahui bahwa kemanapun mereka menghadap disitulah wajah Allah.
      Anda sudah mengenal sifat-sifat Allah? sebenarnya penyembahan itu sudah hak mutlak Allah semenjak manusia diciptakan, tetapi yg diinginkan oleh Allah sebenarnya adalah pendekatan diri yang mencintai dan yg dicintai yaitu dari hamba yg soleh, yang melakukan perintahNYA dengan IKHLAS.
      Jika anda mengetahui sifat Allah, sesungguhnya Allah malu untuk disembah karena Allah mustahil bersifat egois.

      Semoga anda mengerti.

      salam.

  178. DRIF said

    kita kembalikan lg pada ” inna shalati,manusuki wammah yahya wammah mati lillahi robbil alamin….” dam tujuan akhir pada yahu NURULLAH.semoga hati kita slalu bercahaya pada nurNya. Subhanallah

  179. akriettong said

    assalamu alaikum wr.wb,izinkanlah si miskin ini untuk menimba ilmu di kampus ini,salam kenal untuk PENGEMBARA JIWA,mohon bimbingan dalam memahami arti dari mengenal ALLAH,mengingat merasakan dan mencintai ALLAH untuk di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. salam kenal dari pengunjung baru dari makassar-gowa

  180. Suryow said

    Assalamu ‘alaikum wr.wb.

    Semoga tulisan tersebut tidak sesat dan menyesatkan dan tidak menimbulkan keraguan umat …Semoga Allah Swt Mengampuni kita semua atas segala salah dan dosa, karena manusia memiliki keterbatasan, termasuk keterbatasan dalam akal.

  181. saini said

    assalamu ‘alaikum wr, wb.
    mohon ijin smua saudaraku, q ikut numpang belajar…. mga rahmat n ridho Ilahi snntiasa menaungi kita semua..

  182. adie said

    mantap nich pemahamannya.sangat setuju mas PJ.

  183. Terima kasih pencerahannya Bang PJ

    Rahayu,,, _/\_

  184. gembong99 said

    Assalam mualailukm..
    Maaf kang PJ.. menggangu sebelum dan sesudahnya..
    salam kenal aja.. dan sepertinya belum hideng nih..
    tolong bantu terimkasih..
    wasalam..

  185. bajank said

    Ass,, mohon pencerahan ,, prtam x mngunjungi blog ini

  186. novi said

    Astagfirullahal ‘adziim………..
    permainan kata yang sungguh membahayakan, biasanya orang seperti ini sangat mudah meninggalkan yg berbau syari’at, hanya mengambil hakikat ataupun ma’rifat. merasa bahwa syari’at hanya tuk kalangan kelas TK.
    ambilah contoh sosok seperti Kanjeng sunan kalijogo, bukan syeh siji jenar, yang pada hakikatnya ga kalah tentang kema’rifatannya kepada Sang Haq, dibanding syeh siti jenar, tp kema’rifatannya tersimpan dalam hati, sedang dhohirnya tetap memegang teguh syari’at Nabi SAAW.

    sudahkah anda menjaga dengan baik shalat wajib 5 waktu anda
    sudahkah anda menjaga puasa dibulan romadhan
    sudahkah anda hafal juz amma

    hakikat tanpa syari’at batal
    syari’at tanpa hakikat kosong

  187. moh sateko said

    Assalamualaikum,,,
    Wah ini sangat menarik dan menimbulkan bayak pertayaan ”ini pandangan baru buat ku. lalu sareat agama yang selama ini aku jalani untuk apa,,! Bukankah itu bentuk rasa sukur atas segala nikmat yang diturunkan pada hambanya/persembahan,,! Bukankah setiap amalan diharuskan hanya karna alloh,,! Lalu ada apa hubunganya dengan KESADARAN,
    Dan dalam menjalankan sareat islam di posisi kemana hati ini,,?mohon penjelasanya,,,trimakasih wassalam,,,

  188. Allah tidak butuh penyembahan manusia, demikian pula Allah tidak butuh pujian manusia.. dan Allah bukan person…Kita Tahu adanya Allah hanya dengan risalah yang disampaikan Pada Nabi Muhammad Rasulullah SAW, jadi yang kita Tahu adalah ajarannya dalam bentuk Ilmu ( al Bayan- Al Qur,an ) untuk mengarungi Hidup didunia dan nanti di hari setelah kematiannya.. subhanallah

  189. Assalamualaikum W.Wb. PJ yang di kasihi, saya ingin menanyakan berhubung perkataan menyembah Allah seperti yang umum nya di ketahui dalam perkataan solat yang sudah di jelaskan di atas. Bagaimana pula terjemahan dalam ayat ke empat (4) Surah Al Fatihah iaitu “Iyya kanakbudu” yang umum nya di terjemahkan sebagai “Hanya kepada Allah kami sembah “. Bagaimana pula terjemahan yang benar dalam ayat “Hallaktu jinni wal insan illa liyakbudun ” . Mohon pencerahan nya PJ.
    Wassalam.

  190. Satria said

    Assalamualaikum wr wb.. salam kenal buat semuanya….

  191. Raden Soko Gumintang said

    ASS. IYA KANA’ BUDU klo diartikan sebagai menyembah Allah, apakah Allah butuh disembah? tujuan manusia diciptakan untuk dijadikan Kholifah dimuka bumi untuk mengabdi kepada Zat wajibul MutlaK, yang berupa Nur, yang bernama ALLAH dengan tugas mengabdi kepada ALLah Hu Akbar (Allah Maha ZAT) untuk mengharapkan Ridho Allah semata-mata, yang mendahulukan kehendak Allah dari pada Kehendak EGO maupun kehendak Hawa nafsu dan untuk mendapatkan Ridho dalam lisan dan perbuatan kita manusia hendaknya berusaha untuk senantiasa menyatukan RUH dengan JIWA (Zat Allah dengan Sifat) dengan cara Zikrullah (mengingat Allah) baik dalam keadaan duduk, berbaring dan berdiri (Pagi, siang, Sore dan malam), penyatuan Zat dengan Sifat inilah yang dikenal dengan Istilah “Manunggaling Kawula Gusti”, kalau kita sudah dapat menyatukan zat-Nur Allah (ruh) dengan sifat-Nur Muhammad (jiwa/Nyawa) maka apapun yang kita perbuat dan kata-kata apapun yang keluar dari mulut kita… Insya Allah bersumber dari Allah (Allah yang berbuat dan Allahlah yang berkata-kata) buka perbuatan atau kata-kata dari hawa nafsu ataupun dari EGo diri rendah kita………Amien….

    Mohon tanggapannya………salam kenal dari R. Soko Gumintang.

  192. Raden Soko Gumintang said

    wama khola’tu jinna wal insya illa liya’ budu artinya tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah/beribadah/mengabdi/berbakti kepada-Ku. apakah perbuatan menyembah/beribadah/mengabdi/berbakti kepada Allah cuma diwajibkan kepada bangsa Jin dan bangsa Manusia saja? jawabnya tentu tidak Bangsa Malaikat, Bangsa hewan, matahari, bintang-bintang dan alam semesta ini semua mengabdi/menyembah/beribadah kepada Allah, dengan caranya masing-masing, bahkan roti yang akan kita makanpun mengucapkan tasbihnya kepada Allah.

  193. Raden Soko Gumintang said

    “……………………………….maka mengabdilah kepadaKU dan dirikanlah Sholat untuk Mengingat Aku (QS.Thaha:14) “mengabdi kepadaKU” merupakan Hablu minannas = hubungan manusia dengan sesama dengan dilandasi sifat Kasih terhadap sesama dan alam (Sifat Rohman) “dirikan Sholat untuk mengingatku” maksudnya menyatukan hati dengan perbuatan dan menyatukan hati dengan lisan” dengan kata lain Laila ha ilallah itu diucapkan dengan lisan (syariat), diyakini dalam hati (zikir) dan diamalkan dengan perbuatan (amal)…. itulah Iman.

  194. suratman said

    Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    saya tidak pandai berhadist dan tidak pula pandai berkata,panjang dan lebar,yang saya ketahui dengan membaca kalimat diatas,tidak saya pungkuri,bahwa inilah pengetahuan yang sebenar2nya,tentang ISLAM.
    Pedoman saya hanya ada dua kata;bila ada Dzat pasti ada wujud,bila ada allah ada muhammad….inilah, sumber segala sumber,yang bisa membuat manusia mengenali dirinya.
    dan niscaya manusia itu akan insya allah bisa mengetahui siapa dirinya yg sebenar2nya.
    mohon maaf bila saya ada salah menuliskan kata2 dikalimat ini.

  195. Cah Angon said

    Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    dengan segala kerendahan hati dan minimnya pengetahuan saya,saya coba ingin ikut berdiskusi diforum ini.
    berbicara mengenai ‘menyembah’ menurut saya adalah berhubungan dengan pengakuan kepada sesuatu zat dengan segala sifat2-Nya, jadi menyembah Allah berarti mengakui Allah dengan segala sifat2 Allah, Allah tidak butuh untuk disembah tetapi karena kita mengakui-Nya maka kita menyembah-Nya.
    Buktinya orang diluar islam tidak menyembah Allah karena mereka tidak mengakui, karena mengakui itulah maka kita menyembah, kalau kita bertanya apakah kita perlu menyembah Allah maka jawabannya mengakui Allah apa ga?………

    mohon koreksi biala ada kesalahan karena semua datangnya dari Allah dan ku kembalikan kepada Allah jua

    salam cinta yang tak bertepikan………

    wassalam………….

  196. Assalamuaikum Wr.. Wb…

    mohon ijin kepada Mas PJ dan semua yang berada di Pondok ini dapatkah kiranya menuntun dan membimbing saya yang masih terasa gelap untuk menuju kepada jalan yang di ridhoi oleh Nya.. melalui Email : Pencarisuaka@yahoo.co.id. besar harapan diri ini akan nasihat, bimbingan dan petunjuk dari semua… Terima kasih

  197. Aalamu’alaikum ww
    bagus betul artikelnya Kang, izin copas ya..semoga bermanfaat untuk teman2 saya

  198. Mohamad Effendy said

    saya ambil petilan inti permasalahannya : “Melihat ataupun tidak melihat akan yang di SEMBAH, tetap saja bertentangan dengan TAUHID yang sebenarnya. Karena TAUHID itu, bukan PENYEMBAHAN melainkan KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt.

    tingkatan pertumbuhan kompetensi rakhmat dan hidayatullah setiap org ttg hakikat TAUHID tdklah sama jadi bagaimanapun cara dan pengetahuan masing hamba semuanya sama2 dihitung, diterima, diperhitungkan shg kita sesama hamba tdklah perlu dipersoalkan atu saling mempersalahkan krn ada ukuran penilaiannya masing2nya sendiri2 dari Allah Yang Maha Canggih dan Maha Cermat atas segala sesuatu, ilustrasinya bagi yg merasa sdh tingkat alangkah Profesor, S1 misalnya, alangkah baiknya tdk menghakimi buruk dan rendah kpd yg masih di SMA atau di bawahnya, krn pemahaman ttg hakikat Tauhid dari Allah SWT tdk bisa diajarkan atau dipaksakan, Insha Allah Amin …

  199. Mohamad Effendy said

    TAMBAHAN opiniku : justru pengetahuan dan pemahaman kesadaran ttg Hakikat keESAan Allah SWT itulah dipakai deterapkan dlm MENYEMBAH SHOLAT kpd Allah SWT sejak Takbiratul Ihram …

  200. junaid said

    subhanallah

  201. petruk said

    mas bro aku………..ngefans angka 10 karena terdiri dari dari angka 1 dan 0……

  202. arka dewe said

    hati hati buat semuanya,,
    banyak golongan yang mengatasnamakan muslim,,
    tapi sebenarnya ingin menghancurkan umat muslim,,
    muslim terbagi dalam 4 tingkatan,,
    syari’at,,thoriqod,,ma’rifat,,dan hakekat,,

    mungkin saudara admin sudah mencapai tinggkatan ma’rifat,,
    saran aku kebanyakan umat muslim masih dalam tahap syari’at,,,
    jadi jangan postingnya kalau bisa jangan terlalu ma’rifat,,
    agar tak membingungkan ataupun bisa membuat orang menjadi musrik ataupun murtad,,
    kerana muslim tingkatan syari’at itu jasmaninya/raganya sholat tetapi jiwanya mengembara,,
    bila ada kata yang kurang berkenan dihati,,
    tak lupa aku meminta maaf yang sebesar besarnya,,

    sekian terimaksih,,
    assalamu’alaikum

  203. shofi said

    Awaluddin marifatullah
    Benar … benar, tiada berhuruf, tiada bersuara.
    hanya satu, tidak ada dua, tiga, dst
    hanya dia yang dapat mengenal dia
    kalau sudah ada yang nyata mengapa harus taat kepada yang sangka

  204. Attul said

    Kalau Saya Boleh Nanya.?
    Apa Kesimpulan Sebenarnya Dari Al-Qur’an…

  205. gus rizal said

    syukur alhamdulillah tp hendaklah manusia blajar (ngaji) kepada mursyid dengan istiqomah byar tau dan faham tentang semua ini secara bertahap dan tidak meninggalkan thap2 yg sudah2,.. karna istiqomah lebih hebat dari 1000 karomah jadi PESAN bgi para pengembara yg sudah mengenal ilmu nma.a makrifat dan hakikat jgan dlupakan syariatnya dan toriqotnya, byar tidak jadi manusia yg merasa benar,pintar,berilmu tapi sebenarnya NOL,. (allah tidak jauh tp allah itu maha tinggi dan Dia lebih dekat dari urat nadi leher, allah tidak manunggal dengan makhluknya tp dia selalu bersama dengan makhlukmya).

  206. taklehangkat said

    Assa’alammualaikum! Mas,mau nanya didalam surah Az-Zumar,ayat6,apakah maksud atau nama binatang2 ternak yg Allah maksudkan buat manusia.sudah sekian lama sy mencari2 jawapannya tapi tak 1 pun yg cocok.

  207. nashalwie said

    Orang yg tahu adalah Orang bodoh

  208. menurut saya anda terlalu cepat menafsirkan sgala sesuatu tnpa melihat seisi qur’an..
    kalo pndapat anda sperti itu,, sya ingin tahu apa pndapat anda tntang surah az zariyat ayat 56-58 yang artinya sperti ini
    dan (ingatlah) aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadah kepadaku ? ?

    MOHON PENJELASANNYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 121 pengikut lainnya.