<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: SIAPKAH MENGHADAPI KEMATIAN….?</title>
	<atom:link href="http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/</link>
	<description>Menemukan Cahaya Abadi di dalam Lautan Tauhid dan Tasawuf</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Dec 2009 04:02:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: siliwangi</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2930</link>
		<dc:creator>siliwangi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 04:49:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2930</guid>
		<description>He..he..he...apa yang ditulis saudaraku Alam Rasa tentang Alam Kematian Benar Adanya semoga apa apa yang dipaparkan diatas bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua bahwa sesungguhnya alam kematian sangat sangat mengkhawatirkan jika selama kita hidup tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan RosulNya.

Semoga jiwa jiwa yang belum tenang dialam kematian mendapatkan pertolongan/keringanan dari Allah SWT melalui Do&#039;a anak dan keturunannya yang saleh....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>He..he..he&#8230;apa yang ditulis saudaraku Alam Rasa tentang Alam Kematian Benar Adanya semoga apa apa yang dipaparkan diatas bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua bahwa sesungguhnya alam kematian sangat sangat mengkhawatirkan jika selama kita hidup tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan RosulNya.</p>
<p>Semoga jiwa jiwa yang belum tenang dialam kematian mendapatkan pertolongan/keringanan dari Allah SWT melalui Do&#8217;a anak dan keturunannya yang saleh&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: SIAPKAH MENGHADAPI KEMATIAN….?</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2929</link>
		<dc:creator>SIAPKAH MENGHADAPI KEMATIAN….?</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 15:54:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2929</guid>
		<description>[...] sumber AKPC_IDS += &quot;312,&quot;;Popularity: unranked [?]   Share and Enjoy: [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] sumber AKPC_IDS += &quot;312,&quot;;Popularity: unranked [?]   Share and Enjoy: [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Alam Rasa</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2083</link>
		<dc:creator>Alam Rasa</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 10:36:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2083</guid>
		<description>Wa &#039;alaikum salam wr.wb
Salam Kasih
@ Novaliris

Tulisan di atas, aku ringkas dari tulisan Guruku, dimana semuanya ditulis berdasarkan pengalaman beliau. Bila ada kemiripan dengan Celestine Prophecy, ya mungkin saja.

Mengenai neraka dan surga itu bukan hanya kondisi psikologis saja. Tapi memang ada alam surga dan alam neraka, masing-masing 7 (tujuh) tingkat/lapis. Tulisan di atas bukan tentang surga dan neraka tapi tentang keadaan Alam Kematian atau yang sering disebut Alam Kubur.

Sesungguhnya yang tertulis dalam Al Qur&#039;an adalah kebenaran semata. Sebagian tersurat dan sebagian lagi tersirat. Sebagian adalah makna sesungguhnya, sebagian lagi makna kiasan. Hanya orang yang telah diberi hidayah oleh-Nya yang dapat memahaminya.

Wassalam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wa &#8216;alaikum salam wr.wb<br />
Salam Kasih<br />
@ Novaliris</p>
<p>Tulisan di atas, aku ringkas dari tulisan Guruku, dimana semuanya ditulis berdasarkan pengalaman beliau. Bila ada kemiripan dengan Celestine Prophecy, ya mungkin saja.</p>
<p>Mengenai neraka dan surga itu bukan hanya kondisi psikologis saja. Tapi memang ada alam surga dan alam neraka, masing-masing 7 (tujuh) tingkat/lapis. Tulisan di atas bukan tentang surga dan neraka tapi tentang keadaan Alam Kematian atau yang sering disebut Alam Kubur.</p>
<p>Sesungguhnya yang tertulis dalam Al Qur&#8217;an adalah kebenaran semata. Sebagian tersurat dan sebagian lagi tersirat. Sebagian adalah makna sesungguhnya, sebagian lagi makna kiasan. Hanya orang yang telah diberi hidayah oleh-Nya yang dapat memahaminya.</p>
<p>Wassalam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: novalisiris</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2075</link>
		<dc:creator>novalisiris</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 03:39:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2075</guid>
		<description>asalamualaikum, sepertinya saya pernah membaca hal ini di Celestine Prophecy (tidak persis cuma mirip). apa benar neraka dan surga itu kondisi psikologis saja? Mohon penjelasannya. terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>asalamualaikum, sepertinya saya pernah membaca hal ini di Celestine Prophecy (tidak persis cuma mirip). apa benar neraka dan surga itu kondisi psikologis saja? Mohon penjelasannya. terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Alam Rasa</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2071</link>
		<dc:creator>Alam Rasa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 15:51:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2071</guid>
		<description>(Sambungan...)

KELOMPOK KE-3 adalah orang yang tidak membuka hatinya. Yang dapat dikatakan kelompok yang keadaannya cukup ringan. Banyak sekali jiwa-jiwa yang keadaannya seperti ini. Karena masih belum dapat membuka hatinya, jiwanya menjadi terhambat dan tidak dapat mencapai tempat yang seharusnya. Bagi seseorang yang meninggalnya tidak penasaran, dan tidak mempunyai ikatan duniawi yang berlebihan. Apa yang terjadi pada jiwanya setelah dia meninggal? Biasanya dia tahu, tetapi tidak sadar telah meninggal. Anda tentu bingung, bagaima seseorang tahu tapi tidak sadar telah meninggal. Apa bedanya?

Cobalah lihat pada diri anda sendiri. Kebanyakan dari anda tahu bahwa suatu saat akan meninggal, tetapi masih belum menyadarinya. Cobalah renungkan perbuatan-perbuatan anda selama ini. Siapkah anda untuk berada di hadapan-Nya untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatan anda? Kalau anda belum merasa siap, berarti anda belum sadar. Kalau anda sadar, tentu segala perbuatan, pikiran dan perkataan anda akan dilakukan sedemikian rupa untuk mempersiapkan diri anda sebaik-baiknya, agar dapat mempertanggung-jawabkan semua perbuatan anda di hadapan Allah SWT.

Menyerupai keadaan anda di Bumi saat ini, demikian pulalah keadaan jiwa-jiwa yang masih belum dapat membuka hatinya. Mereka tahu sudah tidak mempunyai tubuh fisik lagi, dan juga tahu sudah pindah ke alam baka. Tetapi karena belum sadar, emosi, ambisi dan sebagian dari nafsu mereka masih diikuti seperti ketika masih di bumi. Karena itu, jiwa-jiwa seperti ini masih membutuhkan makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya seperti ketika masih hidup di bumi, walaupun tidak persis sama. Jiwa-jiwa seperti ini masih terikat dalam suatu lingkungan yang dapat kita sebut kembaran eteriknya bumi. Di sana uang suap, sogok menyogok dsb. masih tetap ada. Apabila jiwa-jiwa seperti ini tidak memperoleh kebutuhan-kebutuhan mereka, mereka mungkin memperoleh masalah, karena kebutuhan yang diciptakan oleh fikiran non-fisik mereka sendiri atau jiwa-jiwa lainnya yang lebih “berkuasa” di sana.

KELOMPOK KE-4, adalah jiwa orang yang tidak pasrah kepada Allah SWT ketika meninggal. Dalam hal ini, memang jiwanya sudah sadar bahwa dia telah meninggal, namun sebagai manusia yang tidak murni, biasanya dia masih mempunyai sedikit ikatan ataupun emosi yang belum dilepaskan secara utuh. Masalahnya, setiap ikatan ataupun emosi yang masih ada setelah seorang meninggal, akan berubah menjadi seperti sebuah tali yang menahan dan menarik jiwa yang bersangkutan ke bawah. Hanya dengan mengandalkan kepasrahan kepada Allah SWT, jiwa seseorang dapat lepas. Hanya rahmat Allah SWT, yang dapat menarik jiwa seseorang lepas dari semua ikatan.

SESEORANG HARUSLAH DAPAT MEMBUKA HATI SEBELUM DAPAT MEMASRAHKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT. Tanpa membuka hati, kepasrahan hanyalah datang dari otak, dan kepasrahan dari otak hanyalah teoritis semata dan tidak berarti. Sebaliknya walaupun telah dapat membuka hati, belum tentu orang tsb. dapat memasrahkan diri kepada Tuhan. Hal ini biasanya terjadi pada orang-orang yang belum membuka hati cukup baik pada Allah SWT.

Bagaimana dengan orang-orang yang selama hidupnya rajin berdoa dengan sepenuh hati, penuh kasih dan berbuat baik kepada sesama? Jiwa dari orang-orang seperti ini mungkin saja belum suci murni secara total. Apabila jiwanya tidak dapat memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, masih akan ada beban yang menahan jiwanya. Tetapi biasanya jiwanya tidak gentayangan, dan biasanya jiwanya akan dibawa ke “tempat” untuk menunggu bantuan hingga dapat lebih memasrahkan diri dan lepas dari semua ikatan duniawi yang masih tersisa.

Demikianlah, aku akhiri penjelasan tentang kematian ini. Semoga ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan kita semua, serta mengingatkan kita tentang pentingnya persiapan untuk menghadapinya. Semoga Allah SWT, memberikan bimbingan dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amien.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Sambungan&#8230;)</p>
<p>KELOMPOK KE-3 adalah orang yang tidak membuka hatinya. Yang dapat dikatakan kelompok yang keadaannya cukup ringan. Banyak sekali jiwa-jiwa yang keadaannya seperti ini. Karena masih belum dapat membuka hatinya, jiwanya menjadi terhambat dan tidak dapat mencapai tempat yang seharusnya. Bagi seseorang yang meninggalnya tidak penasaran, dan tidak mempunyai ikatan duniawi yang berlebihan. Apa yang terjadi pada jiwanya setelah dia meninggal? Biasanya dia tahu, tetapi tidak sadar telah meninggal. Anda tentu bingung, bagaima seseorang tahu tapi tidak sadar telah meninggal. Apa bedanya?</p>
<p>Cobalah lihat pada diri anda sendiri. Kebanyakan dari anda tahu bahwa suatu saat akan meninggal, tetapi masih belum menyadarinya. Cobalah renungkan perbuatan-perbuatan anda selama ini. Siapkah anda untuk berada di hadapan-Nya untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatan anda? Kalau anda belum merasa siap, berarti anda belum sadar. Kalau anda sadar, tentu segala perbuatan, pikiran dan perkataan anda akan dilakukan sedemikian rupa untuk mempersiapkan diri anda sebaik-baiknya, agar dapat mempertanggung-jawabkan semua perbuatan anda di hadapan Allah SWT.</p>
<p>Menyerupai keadaan anda di Bumi saat ini, demikian pulalah keadaan jiwa-jiwa yang masih belum dapat membuka hatinya. Mereka tahu sudah tidak mempunyai tubuh fisik lagi, dan juga tahu sudah pindah ke alam baka. Tetapi karena belum sadar, emosi, ambisi dan sebagian dari nafsu mereka masih diikuti seperti ketika masih di bumi. Karena itu, jiwa-jiwa seperti ini masih membutuhkan makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya seperti ketika masih hidup di bumi, walaupun tidak persis sama. Jiwa-jiwa seperti ini masih terikat dalam suatu lingkungan yang dapat kita sebut kembaran eteriknya bumi. Di sana uang suap, sogok menyogok dsb. masih tetap ada. Apabila jiwa-jiwa seperti ini tidak memperoleh kebutuhan-kebutuhan mereka, mereka mungkin memperoleh masalah, karena kebutuhan yang diciptakan oleh fikiran non-fisik mereka sendiri atau jiwa-jiwa lainnya yang lebih “berkuasa” di sana.</p>
<p>KELOMPOK KE-4, adalah jiwa orang yang tidak pasrah kepada Allah SWT ketika meninggal. Dalam hal ini, memang jiwanya sudah sadar bahwa dia telah meninggal, namun sebagai manusia yang tidak murni, biasanya dia masih mempunyai sedikit ikatan ataupun emosi yang belum dilepaskan secara utuh. Masalahnya, setiap ikatan ataupun emosi yang masih ada setelah seorang meninggal, akan berubah menjadi seperti sebuah tali yang menahan dan menarik jiwa yang bersangkutan ke bawah. Hanya dengan mengandalkan kepasrahan kepada Allah SWT, jiwa seseorang dapat lepas. Hanya rahmat Allah SWT, yang dapat menarik jiwa seseorang lepas dari semua ikatan.</p>
<p>SESEORANG HARUSLAH DAPAT MEMBUKA HATI SEBELUM DAPAT MEMASRAHKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT. Tanpa membuka hati, kepasrahan hanyalah datang dari otak, dan kepasrahan dari otak hanyalah teoritis semata dan tidak berarti. Sebaliknya walaupun telah dapat membuka hati, belum tentu orang tsb. dapat memasrahkan diri kepada Tuhan. Hal ini biasanya terjadi pada orang-orang yang belum membuka hati cukup baik pada Allah SWT.</p>
<p>Bagaimana dengan orang-orang yang selama hidupnya rajin berdoa dengan sepenuh hati, penuh kasih dan berbuat baik kepada sesama? Jiwa dari orang-orang seperti ini mungkin saja belum suci murni secara total. Apabila jiwanya tidak dapat memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, masih akan ada beban yang menahan jiwanya. Tetapi biasanya jiwanya tidak gentayangan, dan biasanya jiwanya akan dibawa ke “tempat” untuk menunggu bantuan hingga dapat lebih memasrahkan diri dan lepas dari semua ikatan duniawi yang masih tersisa.</p>
<p>Demikianlah, aku akhiri penjelasan tentang kematian ini. Semoga ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan kita semua, serta mengingatkan kita tentang pentingnya persiapan untuk menghadapinya. Semoga Allah SWT, memberikan bimbingan dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amien.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Alam Rasa</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2070</link>
		<dc:creator>Alam Rasa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 14:51:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2070</guid>
		<description>MENINGGAL DENGAN MASIH MEMPUNYAI IKATAN DAN BEBAN (Bag.2)

Memang kesempatan untuk beramal ibadah biasanya ada ketika seseorang masih hidup. Tetapi sebenarnya KETERBUKAAN DAN KEPASRAHARAN HATI TIDAK HANYA PENTING PADA SAAT SESEORANG MASIH HIDUP. SETELAH MENINGGALPUN, KETERBUKAAN DAN KEPASRAHAN HATI MASIH MEMEGANG PERANAN YANG SANGAT BESAR dalam mempengaruhi kelancaran perjalanan di Alam Baka. Bagi yang tidak membuka hati dan memasrahkan diri, akan timbul masalah.

Secara garis besar, keadaan jiwa orang yang telah meninggal dan masih mempunyai ikatan dan beban, dapat dibagi dalam 4 kelompok:
a. Yang sangat Penasaran
b. Yang tidak dapat membuka hati dan masih mempunyai ikatan duniawi secara berlebihan
c. Yang tidak membuka hatinya
d. Yang tidak pasrah kepada Tuhan

YANG SANGAT PENASARAN, adalah jiwa orang yang tidak dapat membuka hati sama sekali dan sangat terikat dengan emosi negatifnya. Orang seperti ini sangat tidak rela untuk meninggal. Saat seseorang meninggal, seharusnya tubuh kembaran eteriknya ikut membuyar, yang biasanya terlihat seperti kabut tipis. Tetapi, pada orang-orang yang sangat tidak rela untuk meninggal, biasanya tubuh kembaran eteriknya tidak buyar, sehingga menjadi apa yang biasa disebut dengan hantu. Memang kasus ini tidak sering terjadi, tetapi hantu-hantu ini dapat dikatakan sebagai jiwa-jiwa yang paling menderita.

KELOMPOK KE-2, tidak seburuk kelompok pertama. Saat meninggal, tubuh kembaran eterik mereka buyar, tetapi jiwanya masih belum tenang. Jiwa-jiwa seperti inilah yang sering menyurupi orang lain. Ikatan yang paling sering menimbulkan masalah kepada jiwa-jiwa setelah meninggal dalam kelompok ini adalah:
a. Ilmunya dianggap sedemikian tinggi sampai si empunya tidak rela hilang begitu saja dan ingin mewariskan kepada keturunannya, hingga terkadang ybs. menunggu sampai 10 generasi lebih, karena masih belum menemukan orang yang tepat.
b. Seorang bayi atau anak kecil yang saat meninggal jauh dari orang tua dan sangat ingin menemui orang tuanya.
c. Seorang yang mempunyai kebencian atau dendam atau sakit hati.
d. Seorang kekasih yang menunggu kekasihnya untuk kembali dari sebuah perjalanan yang lama, dan masih belum kembali sampai saat dia meninggal
e. Seorang yang menderita sakit parah dan masih ketakutan saat meninggalnya
f. dsb.

Untuk jiwa yang terikat karena kebencian, dendam, atau sakit hati, tentu anda mengatakan bahwa hal-hal seperti itu harusnya dapat dilepaskan secepat seseorang meninggal. Masalahnya tidak sesederhana itu. Bukankan banyak dari kita yang mempunyai emosi negatif, seperti kebencian, dendam, sakit hati atau ketidak puasan terhadap orang lain? Dapatkan kita memaafkan semua orang dengan setulus-tulusnya setiap saat? Walaupun seharusnya kita saling memaafkan, pada kenyataannya banyak di antara kita yang belum dapat memaafkan dengan tulus. APABILA EMOSI NEGATIF INI TIDAK KITA LEPASKAN SEKARANG, APA YANG DAPAT MENJAMIN BAHWA KITA DAPAT MELEPASKANNYA SETELAH MENINGGAL?

Setelah meninggalpun, anda masih tetap diri anda yang sama. Memang anda sudah tidak mempunyai tubuh fisik dan otak lagi, tetapi pandangan dan kesadaran anda masih sama. Apabila selama masih hidup saja, anda tidak dapat membuang emosi-emosi negatif pada diri anda, jangan harap bahwa pada saat meninggal anda dapat membuangnya seketika.

Setelah meninggal akan lebih sulit lagi bagi anda untuk membuangnya. Pertama, karena pandangan, pengertian dan kesadaran anda masih sama. Kedua, anda sudah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Jika selagi hidup, anda masih melakukan ibadah secara rutin, mendengarkan khotbah dan nasihat dari Kiyai atau Ustadz yang masih dapat mengingatkan anda untuk mendekatkan diri dan pasrah kepada Allah SWT. Setelah meninggal, anda akan lebih terbelenggu oleh emosi yang paling kuat pada diri anda. Apabila yang paling kuat adalah kebencian, maka hampir seluruh waktu anda hanya akan dipenuhi oleh kebencian itu. Dengan demikian, kesempatan anda untuk sadar akan jauh lebih kecil dibandingkan saat anda masih hidup.

Oleh karena itu, BUANGLAH SEGALA BENTUK EMOSI NEGATIF ANDA SEKARANG!! Jangan menunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah umur kita sampai besok, atau sebulan lagi. MULAILAH BELAJAR UNTUK MEMASRAHKAN DIRI SEPENUHNYA DAN HANYA MENGANDALKAN KASIH ALLAH SWT, DAN HANYA DENGAN RAHMAT DAN KASIHNYA JUGA HATI KITA DAPAT TERBUKA. Insya Allah, kita akan selalu mendapat bimbingan dan hidayah-Nya. Dan Insya Allah, bila sudah waktunya kita akan dapat meninggal dengan benar, dengan tenang...khusnul khotimah. Amien.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>MENINGGAL DENGAN MASIH MEMPUNYAI IKATAN DAN BEBAN (Bag.2)</p>
<p>Memang kesempatan untuk beramal ibadah biasanya ada ketika seseorang masih hidup. Tetapi sebenarnya KETERBUKAAN DAN KEPASRAHARAN HATI TIDAK HANYA PENTING PADA SAAT SESEORANG MASIH HIDUP. SETELAH MENINGGALPUN, KETERBUKAAN DAN KEPASRAHAN HATI MASIH MEMEGANG PERANAN YANG SANGAT BESAR dalam mempengaruhi kelancaran perjalanan di Alam Baka. Bagi yang tidak membuka hati dan memasrahkan diri, akan timbul masalah.</p>
<p>Secara garis besar, keadaan jiwa orang yang telah meninggal dan masih mempunyai ikatan dan beban, dapat dibagi dalam 4 kelompok:<br />
a. Yang sangat Penasaran<br />
b. Yang tidak dapat membuka hati dan masih mempunyai ikatan duniawi secara berlebihan<br />
c. Yang tidak membuka hatinya<br />
d. Yang tidak pasrah kepada Tuhan</p>
<p>YANG SANGAT PENASARAN, adalah jiwa orang yang tidak dapat membuka hati sama sekali dan sangat terikat dengan emosi negatifnya. Orang seperti ini sangat tidak rela untuk meninggal. Saat seseorang meninggal, seharusnya tubuh kembaran eteriknya ikut membuyar, yang biasanya terlihat seperti kabut tipis. Tetapi, pada orang-orang yang sangat tidak rela untuk meninggal, biasanya tubuh kembaran eteriknya tidak buyar, sehingga menjadi apa yang biasa disebut dengan hantu. Memang kasus ini tidak sering terjadi, tetapi hantu-hantu ini dapat dikatakan sebagai jiwa-jiwa yang paling menderita.</p>
<p>KELOMPOK KE-2, tidak seburuk kelompok pertama. Saat meninggal, tubuh kembaran eterik mereka buyar, tetapi jiwanya masih belum tenang. Jiwa-jiwa seperti inilah yang sering menyurupi orang lain. Ikatan yang paling sering menimbulkan masalah kepada jiwa-jiwa setelah meninggal dalam kelompok ini adalah:<br />
a. Ilmunya dianggap sedemikian tinggi sampai si empunya tidak rela hilang begitu saja dan ingin mewariskan kepada keturunannya, hingga terkadang ybs. menunggu sampai 10 generasi lebih, karena masih belum menemukan orang yang tepat.<br />
b. Seorang bayi atau anak kecil yang saat meninggal jauh dari orang tua dan sangat ingin menemui orang tuanya.<br />
c. Seorang yang mempunyai kebencian atau dendam atau sakit hati.<br />
d. Seorang kekasih yang menunggu kekasihnya untuk kembali dari sebuah perjalanan yang lama, dan masih belum kembali sampai saat dia meninggal<br />
e. Seorang yang menderita sakit parah dan masih ketakutan saat meninggalnya<br />
f. dsb.</p>
<p>Untuk jiwa yang terikat karena kebencian, dendam, atau sakit hati, tentu anda mengatakan bahwa hal-hal seperti itu harusnya dapat dilepaskan secepat seseorang meninggal. Masalahnya tidak sesederhana itu. Bukankan banyak dari kita yang mempunyai emosi negatif, seperti kebencian, dendam, sakit hati atau ketidak puasan terhadap orang lain? Dapatkan kita memaafkan semua orang dengan setulus-tulusnya setiap saat? Walaupun seharusnya kita saling memaafkan, pada kenyataannya banyak di antara kita yang belum dapat memaafkan dengan tulus. APABILA EMOSI NEGATIF INI TIDAK KITA LEPASKAN SEKARANG, APA YANG DAPAT MENJAMIN BAHWA KITA DAPAT MELEPASKANNYA SETELAH MENINGGAL?</p>
<p>Setelah meninggalpun, anda masih tetap diri anda yang sama. Memang anda sudah tidak mempunyai tubuh fisik dan otak lagi, tetapi pandangan dan kesadaran anda masih sama. Apabila selama masih hidup saja, anda tidak dapat membuang emosi-emosi negatif pada diri anda, jangan harap bahwa pada saat meninggal anda dapat membuangnya seketika.</p>
<p>Setelah meninggal akan lebih sulit lagi bagi anda untuk membuangnya. Pertama, karena pandangan, pengertian dan kesadaran anda masih sama. Kedua, anda sudah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Jika selagi hidup, anda masih melakukan ibadah secara rutin, mendengarkan khotbah dan nasihat dari Kiyai atau Ustadz yang masih dapat mengingatkan anda untuk mendekatkan diri dan pasrah kepada Allah SWT. Setelah meninggal, anda akan lebih terbelenggu oleh emosi yang paling kuat pada diri anda. Apabila yang paling kuat adalah kebencian, maka hampir seluruh waktu anda hanya akan dipenuhi oleh kebencian itu. Dengan demikian, kesempatan anda untuk sadar akan jauh lebih kecil dibandingkan saat anda masih hidup.</p>
<p>Oleh karena itu, BUANGLAH SEGALA BENTUK EMOSI NEGATIF ANDA SEKARANG!! Jangan menunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah umur kita sampai besok, atau sebulan lagi. MULAILAH BELAJAR UNTUK MEMASRAHKAN DIRI SEPENUHNYA DAN HANYA MENGANDALKAN KASIH ALLAH SWT, DAN HANYA DENGAN RAHMAT DAN KASIHNYA JUGA HATI KITA DAPAT TERBUKA. Insya Allah, kita akan selalu mendapat bimbingan dan hidayah-Nya. Dan Insya Allah, bila sudah waktunya kita akan dapat meninggal dengan benar, dengan tenang&#8230;khusnul khotimah. Amien.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Alam Rasa</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2068</link>
		<dc:creator>Alam Rasa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 12:52:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2068</guid>
		<description>MENINGGAL SEBELUM WAKTUNYA (Bag.-2)

Aku percaya dan yakin sepenuhnya bahwa Allah SWT Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bila kita bicara mengenai Kebesaran dan Kekuasaan Tuhan, aku hanya mengatakan bahwa manusia harus sadar bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menyadari kebesaran, kekuasaaan ataupun keesaan Tuhan, karena jauh melebihi semua imajinasi manusia manapun.

Kasih Allah SWT kepada kita semua, jauh melebihi kasih orang tua terhadap anak-anaknya. Rahmat dan Kasih Allah SWT sebenarnya sangat luar biasa, dan dapat memberikan kita kesempurnaan secara seketika. Namun, masalahnya hanya satu, kitalah yang tidak membuka hati dan diri kita kepada Tuhan. Kitalah yang menutup diri dan tidak membiarkan rahmat Allah SWT bekerja secara maksimal atas hati dan diri kita.

Dengan demikian, karena kita menutup hati dan diri kita kepada Allah SWT, sesuatu yang jelek dapat terjadi pada diri kita. Sesuatu yang jelek ini tidak terjadi, karena Allah kurang berkuasa atau kurang mengasihi.kita, tetapi karena kesalahan kita sendiri yang menjauhkan diri dari Allah SWT.

Sesuatu yang jelek ini dapat saja berupa KEMATIAN SEBELUM WAKTUNYA. Dalam banyak kasus, orang-orang yang meninggal karena kecelakaan yang tidak alami dan karena tindak kejahatan adalah orang-orang yang meninggal sebelum waktunya. Mengapa dikatakan dalam banyak kasus? Karena memang ADA KASUS-KASUS DIMANA KECELAKAAN ATAUPUN TINDAK KEJAHATAN INI ADALAH RANCANGAN KHUSUS,  atau dapat dikatakan bahwa orang tsb. memang sudah sampai pada waktunya. 

Pada orang-orang yang meninggal sebelum waktunya. Biasanya akan banyak sekali ikatan dan beban emosi yang ada setelah ybs. meninggal. Ikatan dan beban yang ada, secara umum dapat dibagi atas 3 kelompok:
a. karena masih terfokus pada kesibukan duniawinya.
b. karena belum sempat membuat persiapan-persiapan
c. karena penyebab kematiannya sendiri, bila ybs. meninggal karena dibunuh atau kecelakaan.

Kita semua memang berharap agar Allah SWT melindungi dan merahmati kita, agar kita selalu sehat wal&#039;afiat, panjang umur dan dapat meninggal dengan tenang. Tetapi kita juga harus ingat bahwa kita hanyalah manusia. Memastikan bahwa kita masih hidup bulan depan adalah suatu kesombongan. Bukankan segala sesuatu, termasuk nyawa kita sepenuhnya di tangan Allah SWT? Yang perlu kita lakukan hanyalah memasrahkan diri kita kepada Allah SWT, dan selalu yakin bahwa Tuhan YME selalu mengasihi kita dan memberi kita yang terbaik.

Dengan ini, Insya Allah kita akan selalu dilindungi Allah SWT, dan mudah-mudahan kita dapat meninggal dengan tenang, dimana biasanya KITA AKAN DIBERI PERTANDA sebelum waktunya tiba. 

2. MENINGGAL DENGAN MASIH MEMPUNYAI IKATAN DAN BEBAN

Ikatan dan beban emosi negatif yang berlebihan hanya mengakibatkan satu hal, yaitu mengotori hati kita, sehingga kita sulit untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Hati memegang peranan penting dalam hubungan kita dengan Tuhan. Hati kita adalah kunci dalam hubungan kita dengan Tuhan, selama masih hidup, maupun setelah meninggal.

Biasanya dikatakan bahwa setelah seorang meninggal, segalanya sudah terlambat baginya. Hal ini tidaklah benar sepenuhnya.

(Bersambung......)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>MENINGGAL SEBELUM WAKTUNYA (Bag.-2)</p>
<p>Aku percaya dan yakin sepenuhnya bahwa Allah SWT Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bila kita bicara mengenai Kebesaran dan Kekuasaan Tuhan, aku hanya mengatakan bahwa manusia harus sadar bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menyadari kebesaran, kekuasaaan ataupun keesaan Tuhan, karena jauh melebihi semua imajinasi manusia manapun.</p>
<p>Kasih Allah SWT kepada kita semua, jauh melebihi kasih orang tua terhadap anak-anaknya. Rahmat dan Kasih Allah SWT sebenarnya sangat luar biasa, dan dapat memberikan kita kesempurnaan secara seketika. Namun, masalahnya hanya satu, kitalah yang tidak membuka hati dan diri kita kepada Tuhan. Kitalah yang menutup diri dan tidak membiarkan rahmat Allah SWT bekerja secara maksimal atas hati dan diri kita.</p>
<p>Dengan demikian, karena kita menutup hati dan diri kita kepada Allah SWT, sesuatu yang jelek dapat terjadi pada diri kita. Sesuatu yang jelek ini tidak terjadi, karena Allah kurang berkuasa atau kurang mengasihi.kita, tetapi karena kesalahan kita sendiri yang menjauhkan diri dari Allah SWT.</p>
<p>Sesuatu yang jelek ini dapat saja berupa KEMATIAN SEBELUM WAKTUNYA. Dalam banyak kasus, orang-orang yang meninggal karena kecelakaan yang tidak alami dan karena tindak kejahatan adalah orang-orang yang meninggal sebelum waktunya. Mengapa dikatakan dalam banyak kasus? Karena memang ADA KASUS-KASUS DIMANA KECELAKAAN ATAUPUN TINDAK KEJAHATAN INI ADALAH RANCANGAN KHUSUS,  atau dapat dikatakan bahwa orang tsb. memang sudah sampai pada waktunya. </p>
<p>Pada orang-orang yang meninggal sebelum waktunya. Biasanya akan banyak sekali ikatan dan beban emosi yang ada setelah ybs. meninggal. Ikatan dan beban yang ada, secara umum dapat dibagi atas 3 kelompok:<br />
a. karena masih terfokus pada kesibukan duniawinya.<br />
b. karena belum sempat membuat persiapan-persiapan<br />
c. karena penyebab kematiannya sendiri, bila ybs. meninggal karena dibunuh atau kecelakaan.</p>
<p>Kita semua memang berharap agar Allah SWT melindungi dan merahmati kita, agar kita selalu sehat wal&#8217;afiat, panjang umur dan dapat meninggal dengan tenang. Tetapi kita juga harus ingat bahwa kita hanyalah manusia. Memastikan bahwa kita masih hidup bulan depan adalah suatu kesombongan. Bukankan segala sesuatu, termasuk nyawa kita sepenuhnya di tangan Allah SWT? Yang perlu kita lakukan hanyalah memasrahkan diri kita kepada Allah SWT, dan selalu yakin bahwa Tuhan YME selalu mengasihi kita dan memberi kita yang terbaik.</p>
<p>Dengan ini, Insya Allah kita akan selalu dilindungi Allah SWT, dan mudah-mudahan kita dapat meninggal dengan tenang, dimana biasanya KITA AKAN DIBERI PERTANDA sebelum waktunya tiba. </p>
<p>2. MENINGGAL DENGAN MASIH MEMPUNYAI IKATAN DAN BEBAN</p>
<p>Ikatan dan beban emosi negatif yang berlebihan hanya mengakibatkan satu hal, yaitu mengotori hati kita, sehingga kita sulit untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Hati memegang peranan penting dalam hubungan kita dengan Tuhan. Hati kita adalah kunci dalam hubungan kita dengan Tuhan, selama masih hidup, maupun setelah meninggal.</p>
<p>Biasanya dikatakan bahwa setelah seorang meninggal, segalanya sudah terlambat baginya. Hal ini tidaklah benar sepenuhnya.</p>
<p>(Bersambung&#8230;&#8230;)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lor Muria</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2065</link>
		<dc:creator>lor Muria</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 00:37:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2065</guid>
		<description>Ditunggu  lho mas sambungannya....
Salam Kasih dalam Berkah dan RahmatNYA
Salam Sejati buat Pemilik Pondok ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ditunggu  lho mas sambungannya&#8230;.<br />
Salam Kasih dalam Berkah dan RahmatNYA<br />
Salam Sejati buat Pemilik Pondok ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Alam Rasa</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2064</link>
		<dc:creator>Alam Rasa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 00:08:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2064</guid>
		<description>Dalam topik Kematian ini, tentunya kita perlu memahami makna dari MENINGGAL DENGAN BENAR.

Benar, mengingat dan menyebut nama Allah SWT pada saat akhir kita sangatlah penting. Tetapi tentu saja kita sebaiknya selalu mengingat, menyebut, dan memuji kebesaran Allah sesering mungkin. Apabila selama hidup kita tidak pernah mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak mudah bagi kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya hanya beberapa saat sebelum kita meninggal. Tanpa persiapan yang baik, seseorang tidak mudah untuk memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, walaupun telah menyebut nama-Nya sesaat sebelum meninggal.

Kemudian, apa yang terjadi apabila seseorang tidak dapat memasrahkan dirinya kepada Allah SWT saat meninggal? Jiwanya akan tersiksa oleh semua ikatan dan beban yang masih ada pada dirinya.
Apabila selama hidup, tubuh fisik bertindak sebagai selubung yang menutupi semua ikatan dan beban yang ada dalam hati, maka secepat seorang meninggal, semua bebannya akan muncul. Dengan sudah tidak adanya otak, maka yang tinggal hanyalah perasaannya saja. Sebagai contoh: Apabila kita sedang kesal atau marah, kita mengunci diri di kamar. Kemudian beberapa jam kemudian, tubuh fisik kita merasa lapar. Maka perasaan kesal, marah ini dapat ditekan, bahkan jadi lupa karena lapar. Tapi tidak demikian, bila pada saat marah itu kita tiba-tiba meninggal. Maka perasaan marah ini akan jadi lebih kuat, berlangsung lama, dan menjadi beban pada jiwa dari orang yang telah meninggal.

Secara garis besar, beban dan ikatan yang mengganggu jiwa seseorang yang telah meninggal dan tidak dapat memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, dapat dibagi 2 kelompok:
1. Meninggal sebelum waktunya
2. Masih mempunyai ikatan dan beban emosional, seperti: dendam, benci, tidak puas, atau emosi lainnya yang kuat terhadap orang lain atau ikatan terhadap hal-hal duniawi.

1) MENINGGAL SEBELUM WAKTUNYA

Bagiku, Allah SWT adalah sumber dari segala sesuatu yang baik. Jadi tidak ada hal yang jelek berasal dari Tuhan. Semua yang jelek biasanya terjadi karena ego dari manusia itu sendiri, atau pengaruh dari kegelapan yang biasa juga kita sebut Iblis. Kemudian, mengapa hal-hal yang jelek dapat menimpa kita? Ada dua penyebab, yaitu:
a. Itu adalah bagian dari pelajaran kita.
b. Karena kita tidak dilindungi oleh Allah SWT.

Anda mungkin dapat menerima penyebab pertama, yaitu sesuatu yang jelek dapat terjadi, karena hal ini adalah bagian dari pelajaran kita. Karena itu, kita sering mencari hikmah dari suatu hal, suatu peristiwa, untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Namun sebagian dari anda mungkin tidak setuju dengan penyebab ke-dua. Bukankan Allah Maha Kuasa, Maha Pengasih? Mana mungkin Allah tidak dapat melindungi seseorang? Mana mungkin Allah membiarkan sesuatu yang tidak baik terjadi pada seseorang?

(Bersambung..)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam topik Kematian ini, tentunya kita perlu memahami makna dari MENINGGAL DENGAN BENAR.</p>
<p>Benar, mengingat dan menyebut nama Allah SWT pada saat akhir kita sangatlah penting. Tetapi tentu saja kita sebaiknya selalu mengingat, menyebut, dan memuji kebesaran Allah sesering mungkin. Apabila selama hidup kita tidak pernah mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak mudah bagi kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya hanya beberapa saat sebelum kita meninggal. Tanpa persiapan yang baik, seseorang tidak mudah untuk memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, walaupun telah menyebut nama-Nya sesaat sebelum meninggal.</p>
<p>Kemudian, apa yang terjadi apabila seseorang tidak dapat memasrahkan dirinya kepada Allah SWT saat meninggal? Jiwanya akan tersiksa oleh semua ikatan dan beban yang masih ada pada dirinya.<br />
Apabila selama hidup, tubuh fisik bertindak sebagai selubung yang menutupi semua ikatan dan beban yang ada dalam hati, maka secepat seorang meninggal, semua bebannya akan muncul. Dengan sudah tidak adanya otak, maka yang tinggal hanyalah perasaannya saja. Sebagai contoh: Apabila kita sedang kesal atau marah, kita mengunci diri di kamar. Kemudian beberapa jam kemudian, tubuh fisik kita merasa lapar. Maka perasaan kesal, marah ini dapat ditekan, bahkan jadi lupa karena lapar. Tapi tidak demikian, bila pada saat marah itu kita tiba-tiba meninggal. Maka perasaan marah ini akan jadi lebih kuat, berlangsung lama, dan menjadi beban pada jiwa dari orang yang telah meninggal.</p>
<p>Secara garis besar, beban dan ikatan yang mengganggu jiwa seseorang yang telah meninggal dan tidak dapat memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, dapat dibagi 2 kelompok:<br />
1. Meninggal sebelum waktunya<br />
2. Masih mempunyai ikatan dan beban emosional, seperti: dendam, benci, tidak puas, atau emosi lainnya yang kuat terhadap orang lain atau ikatan terhadap hal-hal duniawi.</p>
<p>1) MENINGGAL SEBELUM WAKTUNYA</p>
<p>Bagiku, Allah SWT adalah sumber dari segala sesuatu yang baik. Jadi tidak ada hal yang jelek berasal dari Tuhan. Semua yang jelek biasanya terjadi karena ego dari manusia itu sendiri, atau pengaruh dari kegelapan yang biasa juga kita sebut Iblis. Kemudian, mengapa hal-hal yang jelek dapat menimpa kita? Ada dua penyebab, yaitu:<br />
a. Itu adalah bagian dari pelajaran kita.<br />
b. Karena kita tidak dilindungi oleh Allah SWT.</p>
<p>Anda mungkin dapat menerima penyebab pertama, yaitu sesuatu yang jelek dapat terjadi, karena hal ini adalah bagian dari pelajaran kita. Karena itu, kita sering mencari hikmah dari suatu hal, suatu peristiwa, untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.</p>
<p>Namun sebagian dari anda mungkin tidak setuju dengan penyebab ke-dua. Bukankan Allah Maha Kuasa, Maha Pengasih? Mana mungkin Allah tidak dapat melindungi seseorang? Mana mungkin Allah membiarkan sesuatu yang tidak baik terjadi pada seseorang?</p>
<p>(Bersambung..)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Kang Usup Supriyadi</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/10/27/siapkah-menghadapi-kematian%e2%80%a6/#comment-2058</link>
		<dc:creator>Kang Usup Supriyadi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 04:40:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=183#comment-2058</guid>
		<description>satuju pisan sareng kang Tigaw....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>satuju pisan sareng kang Tigaw&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
