<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: JALAN MENUJU MA’RIFATULLAH</title>
	<atom:link href="http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/</link>
	<description>Menemukan Cahaya Abadi di dalam Lautan Tauhid dan Tasawuf</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Nov 2009 16:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Alam Rasa</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2877</link>
		<dc:creator>Alam Rasa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 13:42:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2877</guid>
		<description>@Sahabat Truthseker08

Benar sekali yang dinyatakan oleh sahabat, bahwa &quot;akibat hanya akan terjadi jika sebab2nya terpenuhi&quot;. Demikian pula suatu &quot;rasa&quot; akan timbul bila ada penyebabnya. Rasa panas timbul bila ada api, sensornya kulit, dan diterjemahkan oleh otak. Rasa lapar, haus, timbul karena &quot;auto control&quot; sistem pemeliharaan tubuh. Rasa bosan  timbul karena ada harapan di fikiran (otak) yang belum terpenuhi. Itu semua rasa yang timbul karena adanya suatu penyebab yang diterima oleh sensor tubuh fisik dan diteruskan ke otak, dan berhenti di otak, karena otak sudah mengerti solusi dan &quot;respond&quot; yang harus dilakukan.

Bagaimana dengan rasa marah, benci, sakit hati, jengkel, tidak puas, iri, dengki, dan emosi negatif lainnya? Rasa ini timbul karena adanya suatu penyebab yang juga diterima oleh indera fisik kita dan diteruskan ke otak. Namun tidak berhenti hanya sampai otak, karena otak tidak mengerti, hingga harus diterjemahkan ke sensor rasa yang lebih dalam, yakni &quot;Emosi&quot;. Dan pusat perasaan emosi ini ada di sekitar ulu hati kita (tidak berbentuk fisik).

Bagaimana dengan perasaan tenang, cinta, damai, dan bahagia? Rasa ini timbul karena adanya dua penyebab. Pertama, yang diterima oleh indera fisik kita, diteruskan ke otak, dan diterjemahkan lagi ke sensor rasa yang lebih dalam lagi, yakni &quot;Hati&quot;. Hati merupakan sensor pusat perasaan halus, dan baik, yang terletak di dalam (tengah) rongga dada kita (tidak berbentuk fisik).
Kedua, rasa yang timbul berkaitan dengan &quot;Ma&#039;rifatullah&quot;. Rasa ini timbul tidak melalui indera fisik dan otak kita, melainkan langsung diterima oleh &quot;Hati&quot; yang bersih dan terbuka lebar.

Benar sahabatku Truthseeker, yang terpenting adalah bagaimana supaya qalb/sensor ini bersih/bersinar bagaikan berlian yang memantulkan cahaya2 yang indah. Berlian juga selain indah, mulia, memantulkan cahaya, juga kuat. Sehingga menjadi suatu keniscayaan lah pada qalb/sensor yang berlian akan dihasilkan kebahagiaan, kedamaian, ketenangan.

Cara terbaik dan termudah untuk membersihkan Hati kita hanyalah dengan mengandalkan
berkat dan rahmat Allah. Jadi hanya dengan berdoa memohon kepada Allah agar hati kita diberkati dan kotoran yang ada di hati beserta sampah-sampahnya dikeluarkan dari hati kita. Sebaiknya dalam berdoa, kita mohonkan dan disebutkan satu persatu semua emosi negatif kita dan juga kesalahan-kesalahan kita, memohon ampun dengan sungguh-sungguh, dan memohon dengan setulus-tulusnya.

Disamping itu, Solat, berzikir, dan berdoa sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW,  menyikapi semua persoalan dalam kehidupan sehari-hari dengan keihlasan dan rasa syukur, menyadari bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik kepada kita semua, serta berbuat baik kepada sesama dan semua mahluk hidup, dlsb. Namun semua itu, memang tidak semudah kata-kata, diperlukan Ilmu yang mendalam, keinginan belajar yang terus menerus, dan yang paling penting adalah bimbingan dan hidayah-Nya.

Terima Kasih, sahabatku Truthseeker08 atas masukannya. Semoga Allah selalu membimbing kita semua dalam &quot;Shiratal Mustaqim&quot;. Amien.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Sahabat Truthseker08</p>
<p>Benar sekali yang dinyatakan oleh sahabat, bahwa &#8220;akibat hanya akan terjadi jika sebab2nya terpenuhi&#8221;. Demikian pula suatu &#8220;rasa&#8221; akan timbul bila ada penyebabnya. Rasa panas timbul bila ada api, sensornya kulit, dan diterjemahkan oleh otak. Rasa lapar, haus, timbul karena &#8220;auto control&#8221; sistem pemeliharaan tubuh. Rasa bosan  timbul karena ada harapan di fikiran (otak) yang belum terpenuhi. Itu semua rasa yang timbul karena adanya suatu penyebab yang diterima oleh sensor tubuh fisik dan diteruskan ke otak, dan berhenti di otak, karena otak sudah mengerti solusi dan &#8220;respond&#8221; yang harus dilakukan.</p>
<p>Bagaimana dengan rasa marah, benci, sakit hati, jengkel, tidak puas, iri, dengki, dan emosi negatif lainnya? Rasa ini timbul karena adanya suatu penyebab yang juga diterima oleh indera fisik kita dan diteruskan ke otak. Namun tidak berhenti hanya sampai otak, karena otak tidak mengerti, hingga harus diterjemahkan ke sensor rasa yang lebih dalam, yakni &#8220;Emosi&#8221;. Dan pusat perasaan emosi ini ada di sekitar ulu hati kita (tidak berbentuk fisik).</p>
<p>Bagaimana dengan perasaan tenang, cinta, damai, dan bahagia? Rasa ini timbul karena adanya dua penyebab. Pertama, yang diterima oleh indera fisik kita, diteruskan ke otak, dan diterjemahkan lagi ke sensor rasa yang lebih dalam lagi, yakni &#8220;Hati&#8221;. Hati merupakan sensor pusat perasaan halus, dan baik, yang terletak di dalam (tengah) rongga dada kita (tidak berbentuk fisik).<br />
Kedua, rasa yang timbul berkaitan dengan &#8220;Ma&#8217;rifatullah&#8221;. Rasa ini timbul tidak melalui indera fisik dan otak kita, melainkan langsung diterima oleh &#8220;Hati&#8221; yang bersih dan terbuka lebar.</p>
<p>Benar sahabatku Truthseeker, yang terpenting adalah bagaimana supaya qalb/sensor ini bersih/bersinar bagaikan berlian yang memantulkan cahaya2 yang indah. Berlian juga selain indah, mulia, memantulkan cahaya, juga kuat. Sehingga menjadi suatu keniscayaan lah pada qalb/sensor yang berlian akan dihasilkan kebahagiaan, kedamaian, ketenangan.</p>
<p>Cara terbaik dan termudah untuk membersihkan Hati kita hanyalah dengan mengandalkan<br />
berkat dan rahmat Allah. Jadi hanya dengan berdoa memohon kepada Allah agar hati kita diberkati dan kotoran yang ada di hati beserta sampah-sampahnya dikeluarkan dari hati kita. Sebaiknya dalam berdoa, kita mohonkan dan disebutkan satu persatu semua emosi negatif kita dan juga kesalahan-kesalahan kita, memohon ampun dengan sungguh-sungguh, dan memohon dengan setulus-tulusnya.</p>
<p>Disamping itu, Solat, berzikir, dan berdoa sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW,  menyikapi semua persoalan dalam kehidupan sehari-hari dengan keihlasan dan rasa syukur, menyadari bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik kepada kita semua, serta berbuat baik kepada sesama dan semua mahluk hidup, dlsb. Namun semua itu, memang tidak semudah kata-kata, diperlukan Ilmu yang mendalam, keinginan belajar yang terus menerus, dan yang paling penting adalah bimbingan dan hidayah-Nya.</p>
<p>Terima Kasih, sahabatku Truthseeker08 atas masukannya. Semoga Allah selalu membimbing kita semua dalam &#8220;Shiratal Mustaqim&#8221;. Amien.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: truthseeker08</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2876</link>
		<dc:creator>truthseeker08</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:57:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2876</guid>
		<description>&lt;b&gt;@Alam Rasa&lt;/b&gt;

Saudara AR, ketika juga kita bicara mengenai rasa maka kita harus pilah lagi menjadi lebih detil, yaitu ada sebagai akibat (tenang, damai, bahagia, nyaman, gembira, sedih, stress, galau, gamang, dll) ada juga &lt;b&gt;sensor rasa&lt;/b&gt; itu sendiri.
Ternyata yang mebedakan respon rasa (akibat) bagi setiap orang bukanlah pada penyebabnya namun lebih pada respon rasa itu sendiri. Dua orang yang berbeda mengalami/melakukan hal yang sama bisa menghasilkan respon yang berbeda. Misalnya, ada yang merasa damai ketika berdzikir namun ada juga yang gelisah. Yang membedakannya keduanya adalah sensor rasa. Semakin bersih qalb/jiwa (sensor) seseorang maka semakin nyaman dia ketika diajak untuk berbuat baik &amp; benar, dan sebaliknya mereka yang &quot;suci&quot; ini akan tidak nyaman ketika berbuat salah/buruk.
Ketika kita tidak memahami ini maka kita akan terjebak pada fokus yang salah. Tidak sedikit mereka yg terjebak untuk fokus pada akibat, padahal &lt;b&gt;&lt;i&gt;akibat hanya akan terjadi jika sebab2nya terpenuhi.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Fokus pada akibat hanya akan mendatangkan kekecewaan.
Jadi semua yang dikeluarkan (produk) dari qalb adalah rasa. Sensor (qalb) yang baik (bersih) akan selalu menghasilkan rasa yang positif. Dengan begitu proses kita manusia bukanlah proses bagaimana untuk menjadi bahagia, namun lebih pada proses bagaimana supaya qalb/sensor ini bersih/bersinar bagaikan berlian yang memantulkan cahaya2 yang indah. Berlian juga selain indah, mulia, memantulkan cahaya, juga kuat. Sehingga menjadi suatu keniscayaan lah pada qalb/sensor yang berlian akan dihasilkan kebahagiaan, kedamaian, ketenangan.

PS: Semoga Kang Dudung ridha dengan KD-nya... :mrgreen:

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>@Alam Rasa</b></p>
<p>Saudara AR, ketika juga kita bicara mengenai rasa maka kita harus pilah lagi menjadi lebih detil, yaitu ada sebagai akibat (tenang, damai, bahagia, nyaman, gembira, sedih, stress, galau, gamang, dll) ada juga <b>sensor rasa</b> itu sendiri.<br />
Ternyata yang mebedakan respon rasa (akibat) bagi setiap orang bukanlah pada penyebabnya namun lebih pada respon rasa itu sendiri. Dua orang yang berbeda mengalami/melakukan hal yang sama bisa menghasilkan respon yang berbeda. Misalnya, ada yang merasa damai ketika berdzikir namun ada juga yang gelisah. Yang membedakannya keduanya adalah sensor rasa. Semakin bersih qalb/jiwa (sensor) seseorang maka semakin nyaman dia ketika diajak untuk berbuat baik &amp; benar, dan sebaliknya mereka yang &#8220;suci&#8221; ini akan tidak nyaman ketika berbuat salah/buruk.<br />
Ketika kita tidak memahami ini maka kita akan terjebak pada fokus yang salah. Tidak sedikit mereka yg terjebak untuk fokus pada akibat, padahal <b><i>akibat hanya akan terjadi jika sebab2nya terpenuhi.</i></b> Fokus pada akibat hanya akan mendatangkan kekecewaan.<br />
Jadi semua yang dikeluarkan (produk) dari qalb adalah rasa. Sensor (qalb) yang baik (bersih) akan selalu menghasilkan rasa yang positif. Dengan begitu proses kita manusia bukanlah proses bagaimana untuk menjadi bahagia, namun lebih pada proses bagaimana supaya qalb/sensor ini bersih/bersinar bagaikan berlian yang memantulkan cahaya2 yang indah. Berlian juga selain indah, mulia, memantulkan cahaya, juga kuat. Sehingga menjadi suatu keniscayaan lah pada qalb/sensor yang berlian akan dihasilkan kebahagiaan, kedamaian, ketenangan.</p>
<p>PS: Semoga Kang Dudung ridha dengan KD-nya&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wawansyah17</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2862</link>
		<dc:creator>wawansyah17</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 14:59:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2862</guid>
		<description>@All

Assalamu’alaikum…
Subhanallah, sungguh indah kebersamaan dalam perbedaan mengenai &quot;rasa&quot; yg diuraikan oleh sahabat Alam Rasa, Truthseeker, Lor Muria dan Kangdudung yang telah saling berbagi ilmu. Menurut saya apabila dihubungkan dgn rasanya gula, sudah pasti jawaban setiap orang yg sehat akan mengatakan manis rasanya, walaupun bentuknya berbeda. Demikian juga dgn rasa hati (Qalb) dlm beragama untuk mengenal Tuhannya (Ma&#039;rifatullah) dgn jalan syari&#039;at, tharikat dan hakikat yg bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, semestinya setiap Muslim sama pemahamannya, seperti orang sehat merasakan manisnya gula tsb. Yg membedakan pemahaman mengenai agamanya, hanyalah  kwalitas ilmu dan iman seseorang. 

Kangdudung, setelah saya merenung...jika pemisalan rasa diibaratkan dgn kacamata yg bermacam-macam, tentu saja setiap orang akan berbeda pandangannya. Hanya yg berkaca beninglah yg akan merasakan pandangan yg sebenarnya. Disini saya ibaratkan kaca mata yg bening adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya yg wajib dikaji dan ditelaah dgn akal yg sehat, maka akan melahirkan ilmu yg benar. Ilmu yg benar akan melahirkan pemahaman yg benar. Setelah pemahamannya benar, maka seluruh amal ibadahnya dlm memahami agama akan benar pula. Maka akan ditemukanlah kebenaran yg hakiki sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Itu hanya pendapat saya saja yg mesti dibenarkan lagi. Semoga Allah swt memberikan jalan hidayah dan petunjuk-Nya kepada saya dan semua Sahabat yg hadir di Pondok yg penuh berkah ini. Amin yaa Rabbal&#039;alamin.

Wassalamu’alaikum…</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@All</p>
<p>Assalamu’alaikum…<br />
Subhanallah, sungguh indah kebersamaan dalam perbedaan mengenai &#8220;rasa&#8221; yg diuraikan oleh sahabat Alam Rasa, Truthseeker, Lor Muria dan Kangdudung yang telah saling berbagi ilmu. Menurut saya apabila dihubungkan dgn rasanya gula, sudah pasti jawaban setiap orang yg sehat akan mengatakan manis rasanya, walaupun bentuknya berbeda. Demikian juga dgn rasa hati (Qalb) dlm beragama untuk mengenal Tuhannya (Ma&#8217;rifatullah) dgn jalan syari&#8217;at, tharikat dan hakikat yg bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, semestinya setiap Muslim sama pemahamannya, seperti orang sehat merasakan manisnya gula tsb. Yg membedakan pemahaman mengenai agamanya, hanyalah  kwalitas ilmu dan iman seseorang. </p>
<p>Kangdudung, setelah saya merenung&#8230;jika pemisalan rasa diibaratkan dgn kacamata yg bermacam-macam, tentu saja setiap orang akan berbeda pandangannya. Hanya yg berkaca beninglah yg akan merasakan pandangan yg sebenarnya. Disini saya ibaratkan kaca mata yg bening adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya yg wajib dikaji dan ditelaah dgn akal yg sehat, maka akan melahirkan ilmu yg benar. Ilmu yg benar akan melahirkan pemahaman yg benar. Setelah pemahamannya benar, maka seluruh amal ibadahnya dlm memahami agama akan benar pula. Maka akan ditemukanlah kebenaran yg hakiki sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Itu hanya pendapat saya saja yg mesti dibenarkan lagi. Semoga Allah swt memberikan jalan hidayah dan petunjuk-Nya kepada saya dan semua Sahabat yg hadir di Pondok yg penuh berkah ini. Amin yaa Rabbal&#8217;alamin.</p>
<p>Wassalamu’alaikum…</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Alam Rasa</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2861</link>
		<dc:creator>Alam Rasa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 09:30:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2861</guid>
		<description>Ass.
Terima kasih untuk semua saudaraku, Truthseeker, Lor Muria, Wawansyah, dan Kang Dudung, yang telah saling mengisi dan mengingatkan dalam diskusi ini. Dan juga untuk Pengembara Jiwa yang telah menyediakan Blog yang sejuk ini untuk berbagi kasih. Semoga Allah senantiasa memmbimbing kita semua untuk semakin dekat lagi kepada-Nya. Amien.

Oya, maaf Mas TS08, aku merasa agak geli kalo Kang Dudung disingkat KD. Soalnya jadi inget artis KD yang mantan istrinya Anang itu lho. Maaf becanda..he.he.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass.<br />
Terima kasih untuk semua saudaraku, Truthseeker, Lor Muria, Wawansyah, dan Kang Dudung, yang telah saling mengisi dan mengingatkan dalam diskusi ini. Dan juga untuk Pengembara Jiwa yang telah menyediakan Blog yang sejuk ini untuk berbagi kasih. Semoga Allah senantiasa memmbimbing kita semua untuk semakin dekat lagi kepada-Nya. Amien.</p>
<p>Oya, maaf Mas TS08, aku merasa agak geli kalo Kang Dudung disingkat KD. Soalnya jadi inget artis KD yang mantan istrinya Anang itu lho. Maaf becanda..he.he.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lorMuria</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2859</link>
		<dc:creator>lorMuria</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 06:40:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2859</guid>
		<description>Alhamdulillah...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Kangdudung</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2858</link>
		<dc:creator>Kangdudung</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 03:33:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2858</guid>
		<description>Ass...
Sahabat Wawansyah,
Saya sepakat sekali dengan uraiannya. Makanya, saya selalu menekankan &quot;rasa&quot; itu untuk mengimbangi wacana ilmu. Rasa disini harus dikejar dengan amal yang sesuai syari&#039;ah (lahir dan bathin)Islam dan dizikir yang terus menerus tiap saat, agar rasa ma&#039;rifat benar2 merupakan rasa yang sebenarnya. Tauhid harus dirasakan dengan penyaksian bukan hanya ucapan dan pemahaman saja.
Meskipun ma&#039;rifat bisa dikejar dengan ilmu2 lainnya dluar Islam, tapi yakinlah bahwa itu hanya sebatas ilmu, mengenai &quot;rasa&quot; nya jauh berbeda, seperti kasus orang yang mencicipi gula tersebut.
Renungan : &quot;Ada empat orang datang kepantai untuk menikmat cahaya matahari disuatu pagi. Keempat orang tsb memakai kacamata yang berbeda2, yang satu kacamata hitam, yang lainnya ada yang pakai kacamata kuning, merah, dan bening. Coba tanyakan suasana alam dipantai tsb, pasti jawabannya berbeda2 sesuai kacamata yang dipakainya. Manakah diantara semuanya yang mendekati rasa yang sebenarnya? tentunya yang berkacamata bening.&quot; 
Sahabat semua, selamat mencari rasa yang sebenarnya, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, Amin.

Wassalamu&#039;alaikum</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass&#8230;<br />
Sahabat Wawansyah,<br />
Saya sepakat sekali dengan uraiannya. Makanya, saya selalu menekankan &#8220;rasa&#8221; itu untuk mengimbangi wacana ilmu. Rasa disini harus dikejar dengan amal yang sesuai syari&#8217;ah (lahir dan bathin)Islam dan dizikir yang terus menerus tiap saat, agar rasa ma&#8217;rifat benar2 merupakan rasa yang sebenarnya. Tauhid harus dirasakan dengan penyaksian bukan hanya ucapan dan pemahaman saja.<br />
Meskipun ma&#8217;rifat bisa dikejar dengan ilmu2 lainnya dluar Islam, tapi yakinlah bahwa itu hanya sebatas ilmu, mengenai &#8220;rasa&#8221; nya jauh berbeda, seperti kasus orang yang mencicipi gula tersebut.<br />
Renungan : &#8220;Ada empat orang datang kepantai untuk menikmat cahaya matahari disuatu pagi. Keempat orang tsb memakai kacamata yang berbeda2, yang satu kacamata hitam, yang lainnya ada yang pakai kacamata kuning, merah, dan bening. Coba tanyakan suasana alam dipantai tsb, pasti jawabannya berbeda2 sesuai kacamata yang dipakainya. Manakah diantara semuanya yang mendekati rasa yang sebenarnya? tentunya yang berkacamata bening.&#8221;<br />
Sahabat semua, selamat mencari rasa yang sebenarnya, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, Amin.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wawansyah17</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2855</link>
		<dc:creator>wawansyah17</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 13:56:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2855</guid>
		<description>@All

Sungguh menarik sekali diskusi para Sahabat semua. Saya hanya mengingatkan saja bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :

&quot;Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali sesuai dengan sunnahku&quot;

Wassalamu&#039;alaikum...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@All</p>
<p>Sungguh menarik sekali diskusi para Sahabat semua. Saya hanya mengingatkan saja bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :</p>
<p>&#8220;Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali sesuai dengan sunnahku&#8221;</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Kangdudung</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2853</link>
		<dc:creator>Kangdudung</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 09:55:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2853</guid>
		<description>Ass..
Sahabat Alam Rasa, Lor Muria, TS 08 dan lainnya...
Paparan mengenai &quot;rasa&quot; tersebut memang merupakan wacana yang mencerahkan dan didalamnya terdapat mutiara2 hikmah yang amat berharga bagi yang dapat memetiknya. Terimakasih semuanya....
Ada ungkapan, Ketaatan tanpa ilmu adalah ngawur, Ilmu tanpa amal adalah hampa, Amal tanpa ikhlas fatamorgana, Ikhlas tanpa tauhid adalah keterhijaban.
Hanya renungan : &quot;seseorang mengetahui (ma&#039;rifat) tentang sifat-sifat gula yang putih, berbutir kecil-kecil, dan rasanya manis&quot; dia hanya sebatas mengetahui tanpa mencicipi.... Pada suatu ketika dia dihadapkan dengan satu sendok garam... dan berdasarkan ilmunya itulah gula, karena berwarna putih dan berbutir kecil-kecil, kemudian dia mencicipinya dan ternyata menurut persepsinya &quot;manis&quot;. &quot;Manis&quot; disini bukanlah manis yang sebenarnya karena dia mencicipi garam yang asin. 
Nah, rasa ma&#039;rifat yang sebenarnya yang harus dicari dan dirasakan....., itulah mengapa saya mengatakan banyaknya wacana ilmu tanpa dibarengi dengan rasa adalah hampa... Apa bedanya dengan keledai yang membawa kitab2 dipunggungnya? tidak ada manfaat apapun, yang ada hanya jadi beban...
Ma&#039;af ini hanya renungan nakal doang...he he he, jangan diambil hati yaa...

Wassalam...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass..<br />
Sahabat Alam Rasa, Lor Muria, TS 08 dan lainnya&#8230;<br />
Paparan mengenai &#8220;rasa&#8221; tersebut memang merupakan wacana yang mencerahkan dan didalamnya terdapat mutiara2 hikmah yang amat berharga bagi yang dapat memetiknya. Terimakasih semuanya&#8230;.<br />
Ada ungkapan, Ketaatan tanpa ilmu adalah ngawur, Ilmu tanpa amal adalah hampa, Amal tanpa ikhlas fatamorgana, Ikhlas tanpa tauhid adalah keterhijaban.<br />
Hanya renungan : &#8220;seseorang mengetahui (ma&#8217;rifat) tentang sifat-sifat gula yang putih, berbutir kecil-kecil, dan rasanya manis&#8221; dia hanya sebatas mengetahui tanpa mencicipi&#8230;. Pada suatu ketika dia dihadapkan dengan satu sendok garam&#8230; dan berdasarkan ilmunya itulah gula, karena berwarna putih dan berbutir kecil-kecil, kemudian dia mencicipinya dan ternyata menurut persepsinya &#8220;manis&#8221;. &#8220;Manis&#8221; disini bukanlah manis yang sebenarnya karena dia mencicipi garam yang asin.<br />
Nah, rasa ma&#8217;rifat yang sebenarnya yang harus dicari dan dirasakan&#8230;.., itulah mengapa saya mengatakan banyaknya wacana ilmu tanpa dibarengi dengan rasa adalah hampa&#8230; Apa bedanya dengan keledai yang membawa kitab2 dipunggungnya? tidak ada manfaat apapun, yang ada hanya jadi beban&#8230;<br />
Ma&#8217;af ini hanya renungan nakal doang&#8230;he he he, jangan diambil hati yaa&#8230;</p>
<p>Wassalam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wawansyah17</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2843</link>
		<dc:creator>wawansyah17</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 11:18:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2843</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum...

Saya tertarik sharing antara sahabat Lor Muria dan Kangdudung dgn istilah tradisi kejawen ada istilah “papat kalima pancer”. 

Sepengetahuan saya istilah tsb adalah panca indera manusia yg terdiri dari rasa zhahir dan bathin. Papat yaitu empat rasa zhahir diantaranya penglihatan, pendengaran, penciuman dan emosi (ego). Kalima pancer yaitu Nafs (Rukh). Dan saya menamakan hubungan ini dgn hubungan sebab akibat antara zhahir dan bathin. Zhahir yang disaksikan ini keberadaannya tegak atas dasar bathin. Dan meskipun pada dasarnya bathin juga tersaksikan, tapi kita tidak melihatnya. Ketika kita menyaksikan zhahir, bathin juga secara aktual tersaksikan oleh kita.

Jika seseorang penglihatan bathinnya terbuka, maka tidak mungkin penyaksian zhahirnya tidak membawanya pada penyaksian bathin; sebab wujud zhahir tidak lain merupakan bentuk dan gambaran dari wujud bathin. Jadi zhahir itu adalah bathin yang bertajalli dan memanifestasi. Karena itu, dengan penyaksian alam materi ini secara zhahir, maka bathin juga tersaksikan.

Zhahir adalah batasan bathin. Pada hakikatnya alam bathin terbatasi dengan alam zhahir. Jika seseorang mampu dgn mujahadah nafs memecahkan batasan ini dan tidak menghiraukannya maka dia niscaya akan menyaksikan bathin dari alam ini. Sebagaimana nafs mempunyai kesatuan dengan badan, maka di satu sisi nafs memandang dirinya adalah badan itu sendiri. Namun ketika badan dari jalan penginderaannya menyaksikan nafs maka dia menyangka dirinya terpisah dari nafs, dan ketika persangkaan ini mengambil bentuk maka nafs berhenti pada tataran badan dan melupakan tingkatannya yang tinggi. Tingkatan tinggi setiap orang adalah alam mitsal dan alam akalnya. Dan nafs, ketika melupakan suatu tingkatan dari tingkatan-tingkatannya maka dia akan melupakan juga kekhususan-kekhususan yang terkhususkan tingkatan tsb dan alam yang terkhususkan untuknya; akan tetapi pada saat yang sama dia tetap menyaksikan inniyyah dan hakikat dirinya, yakni egonya. Penyaksian ini adalah daruri dan tidak dapat terpisahkan.

Oleh karena itu, dengan terputusnya ego dari badan maka tidak terdapat lagi tirai penghalang (hijab). Berdasarkan ini, jika seseorang kembali kepada nafs dan hakikat dirinya dengan ilmu dan makrifat serta amal baik, niscaya hakikat nafs, tingkatan-tingkatannya, maujud-maujud dan rahasia-rahasia bathin alam akan dia saksikan. Demikian menurut saya, kalau ada yg salah tolong dikoreksi.

Wassalamu’alakum…</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum&#8230;</p>
<p>Saya tertarik sharing antara sahabat Lor Muria dan Kangdudung dgn istilah tradisi kejawen ada istilah “papat kalima pancer”. </p>
<p>Sepengetahuan saya istilah tsb adalah panca indera manusia yg terdiri dari rasa zhahir dan bathin. Papat yaitu empat rasa zhahir diantaranya penglihatan, pendengaran, penciuman dan emosi (ego). Kalima pancer yaitu Nafs (Rukh). Dan saya menamakan hubungan ini dgn hubungan sebab akibat antara zhahir dan bathin. Zhahir yang disaksikan ini keberadaannya tegak atas dasar bathin. Dan meskipun pada dasarnya bathin juga tersaksikan, tapi kita tidak melihatnya. Ketika kita menyaksikan zhahir, bathin juga secara aktual tersaksikan oleh kita.</p>
<p>Jika seseorang penglihatan bathinnya terbuka, maka tidak mungkin penyaksian zhahirnya tidak membawanya pada penyaksian bathin; sebab wujud zhahir tidak lain merupakan bentuk dan gambaran dari wujud bathin. Jadi zhahir itu adalah bathin yang bertajalli dan memanifestasi. Karena itu, dengan penyaksian alam materi ini secara zhahir, maka bathin juga tersaksikan.</p>
<p>Zhahir adalah batasan bathin. Pada hakikatnya alam bathin terbatasi dengan alam zhahir. Jika seseorang mampu dgn mujahadah nafs memecahkan batasan ini dan tidak menghiraukannya maka dia niscaya akan menyaksikan bathin dari alam ini. Sebagaimana nafs mempunyai kesatuan dengan badan, maka di satu sisi nafs memandang dirinya adalah badan itu sendiri. Namun ketika badan dari jalan penginderaannya menyaksikan nafs maka dia menyangka dirinya terpisah dari nafs, dan ketika persangkaan ini mengambil bentuk maka nafs berhenti pada tataran badan dan melupakan tingkatannya yang tinggi. Tingkatan tinggi setiap orang adalah alam mitsal dan alam akalnya. Dan nafs, ketika melupakan suatu tingkatan dari tingkatan-tingkatannya maka dia akan melupakan juga kekhususan-kekhususan yang terkhususkan tingkatan tsb dan alam yang terkhususkan untuknya; akan tetapi pada saat yang sama dia tetap menyaksikan inniyyah dan hakikat dirinya, yakni egonya. Penyaksian ini adalah daruri dan tidak dapat terpisahkan.</p>
<p>Oleh karena itu, dengan terputusnya ego dari badan maka tidak terdapat lagi tirai penghalang (hijab). Berdasarkan ini, jika seseorang kembali kepada nafs dan hakikat dirinya dengan ilmu dan makrifat serta amal baik, niscaya hakikat nafs, tingkatan-tingkatannya, maujud-maujud dan rahasia-rahasia bathin alam akan dia saksikan. Demikian menurut saya, kalau ada yg salah tolong dikoreksi.</p>
<p>Wassalamu’alakum…</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Alam Rasa</title>
		<link>http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/09/26/jalan-menuju-ma%e2%80%99rifatullah/#comment-2833</link>
		<dc:creator>Alam Rasa</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 21:20:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pengembarajiwa.wordpress.com/?p=151#comment-2833</guid>
		<description>@Truthseeker

Terima kasih atas sarannya. Memang dalam bahasa Indonesia istilah &quot;rasa&quot; digunakan secara umum, tidak dibedakan antara &quot;taste&quot; dan &quot;feeling&quot; (Bhs. Inggris). Oleh karena diskusi kita dalam bahasa Indonesia, maka aku mencoba mengelompokkan istilah &quot;rasa&quot; berdasarkan asal dari timbulnya &quot;rasa&quot; tsb, agar yang membaca tidak keliru menafsirkan tentang apa yang didiskusikan. Penggunaan kata &quot;feeling&quot; untuk menggantikan kata &quot;rasa&quot; yang dimaksud (rasa dari hati) juga masih kurang tepat, karena ada yang berasal dari pikiran kita.  

Benar, Hati yang didiskusikan di sini adalah bukan &quot;liver&quot;, tapi Hati yang berada dalam rongga dada. Bukan jantung dan tidak dapat dilihat dengan mata, namun simpul energinya dapat dirasakan di tengah-tengah dada. Cobalah sentuh tengah-tengah dada kita dengan satu atau dua jari tangan. Bagaimana rasanya? 
  
Sedangkan tentang ulu hati yang kumaksud adalah ulu hati yang memang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari kita (bukan ulu jantung). Emosi mempunyai simpul energi di sekitar ulu hati (di bawah dada dan di atas perut, agak ke kiri). Agak sulit menjelaskannya karena perlu digambarkan.

Ok, aku sependapat bahwa Jiwa mempunyai potensi kebaikan dan keburukan. Tentang Ruh, sebenarnya Ruh kita masih belum sempurna, karena masih harus belajar untuk dapat kembali kepada Allah. Ya benar, semakin dalam kita mengenali diri kita, maka akan semakin jelas mana yang (hati) Nurani dan mana yang Hati (perasaan). Sebagaimana dinyatakan oleh Mas Lor Muria, &quot;Raihlah kesadaran Ruh, sebagai modal awal Ma’rifatullah”.

Kalau boleh aku urutkan agar mudah dipahami, dalam rongga dada terdapat Hati, dalam Hati terdapat Ruh, dalam Ruh terdapat Sir dan Hati Nurani. Hati Nurani inilah yang merupakan bagian terdalam atau dapat dikatakan inti dari Hati itu sendiri, yang merupakan percikan dari Dzat Illahi, yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun, sehingga selalu murni.

Salam Asih, Asah, Asuh.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Truthseeker</p>
<p>Terima kasih atas sarannya. Memang dalam bahasa Indonesia istilah &#8220;rasa&#8221; digunakan secara umum, tidak dibedakan antara &#8220;taste&#8221; dan &#8220;feeling&#8221; (Bhs. Inggris). Oleh karena diskusi kita dalam bahasa Indonesia, maka aku mencoba mengelompokkan istilah &#8220;rasa&#8221; berdasarkan asal dari timbulnya &#8220;rasa&#8221; tsb, agar yang membaca tidak keliru menafsirkan tentang apa yang didiskusikan. Penggunaan kata &#8220;feeling&#8221; untuk menggantikan kata &#8220;rasa&#8221; yang dimaksud (rasa dari hati) juga masih kurang tepat, karena ada yang berasal dari pikiran kita.  </p>
<p>Benar, Hati yang didiskusikan di sini adalah bukan &#8220;liver&#8221;, tapi Hati yang berada dalam rongga dada. Bukan jantung dan tidak dapat dilihat dengan mata, namun simpul energinya dapat dirasakan di tengah-tengah dada. Cobalah sentuh tengah-tengah dada kita dengan satu atau dua jari tangan. Bagaimana rasanya? </p>
<p>Sedangkan tentang ulu hati yang kumaksud adalah ulu hati yang memang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari kita (bukan ulu jantung). Emosi mempunyai simpul energi di sekitar ulu hati (di bawah dada dan di atas perut, agak ke kiri). Agak sulit menjelaskannya karena perlu digambarkan.</p>
<p>Ok, aku sependapat bahwa Jiwa mempunyai potensi kebaikan dan keburukan. Tentang Ruh, sebenarnya Ruh kita masih belum sempurna, karena masih harus belajar untuk dapat kembali kepada Allah. Ya benar, semakin dalam kita mengenali diri kita, maka akan semakin jelas mana yang (hati) Nurani dan mana yang Hati (perasaan). Sebagaimana dinyatakan oleh Mas Lor Muria, &#8220;Raihlah kesadaran Ruh, sebagai modal awal Ma’rifatullah”.</p>
<p>Kalau boleh aku urutkan agar mudah dipahami, dalam rongga dada terdapat Hati, dalam Hati terdapat Ruh, dalam Ruh terdapat Sir dan Hati Nurani. Hati Nurani inilah yang merupakan bagian terdalam atau dapat dikatakan inti dari Hati itu sendiri, yang merupakan percikan dari Dzat Illahi, yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun, sehingga selalu murni.</p>
<p>Salam Asih, Asah, Asuh.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
