JALAN MENUJU MA’RIFATULLAH
Ditulis oleh pengembarajiwa di/pada September 26, 2008
Di dalam suatu dalil dikatakan bahwa :
“Awwaluddin Ma’rifatullah” (Awal mula seseorang itu beragama, ialah mengenal akan Allah)”.
Dimana seseorang itu wajib hukumnya untuk mengenal akan Allah sebagai langkah awal menuju kesempurnaan beragama. Tanpa mengenal Allah maka Ibadah apapun yang dilakukan bagaimana mungkin bisa dikatakan sampai sedangkan Tujuan nya saja tidak diketahui. Karena itu sangatlah penting sekali pengenalan akan Allah itu di dalam kehidupan ini. Dengan Mengenal akan Allah maka akan dirasakannya Manis Lezatnya ke imanan, dirasakan khusyuknya dalam Amal Ibadah serta Ketenangan Jiwa akan mengalir di dalam dirinya. Menjadikan Pribadi yang ikhlas, sabar, tawakkal serta Ridho dalam menjalani Hidup. Tentu tiada kebahagiaan yang melebihi daripada kebahagiaan para Arif billah/orang yang mengenal akan Allah
Seandainya Allah Swt membukakan akan rahasia keagungan para Arif billah, maka niscaya orang-orang akan tercengang dan terheran-heran serta takjub dibuatnya. Karena Nur yang meliputi diri para Arif billah itu akan memancar menembus sampai ke langit ketujuh. Karena itu lah Allah menutup akan diri para kekasih-kekasihNya itu, sehingga tidak ada yang mengetahui tentang dirinya melainkan hanya Allah dan mereka-mereka yang sama-sama telah sampai pada maqom Ma’rifatullah tsb.
Adapun Manusia-manusia itu untuk sampai kepada pengenalan akan Allah (Ma’rifatullah) maka terlebih dahulu ia haruslah mengenal dirinya yang sebenar-benarnya.
“Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Robbahu” (Barang siapa yang mengenal akan dirinya yang sebenarnya niscaya kenal lah ia akan Allah).
Dan tahapan-tahapan yang harus dilalui adalah :
- Menundukkan Hawa Nafsu dengan memerangi kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, kefasikan dan kemurtadan yang ada di dalam diri dengan menjauhi kesombongan, keingkaran terhadap kebenaran, kebodohan dan ketidak pedulian tentang kebenaran.
- Apabila ia telah berhasil di dalam memerangi Hawa Nafsunya tadi maka ia akan di anugrahi Hidayah/petunjuk kepada jalan yang di Ridhoi Allah Swt yaitu jalan menuju kepada Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw, serta dilengkapi ia dengan sifat-sifat Muhammad Rosulullah Saw yaitu Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah serta menjadikan ia Sami’na wa atho’na.
- Apabila ia tetap Istiqomah pada tahapan ke-1 dan ke-2 itu maka ia akan disesuaikan oleh Allah Swt dengan Hukum Sunatullah yang berlaku di dalam kehidupan ini. Maka tetapkanlah kesabaranmu di dalam Hukum Allah Swt itu. (Tawakkal/berserah diri kepada Allah dengan meyakini bahwa apa yang terjadi atas dirinya, itu semua Qudrat Iradat Allah Swt semata). Bersabarlah! Dan pasrahkanlah dengan sebenar-benarnya, dan berlaku kasih sayanglah kepada sesama Saudara Mu’min serta menjadilah Rahmat bagi Makhluk Allah Swt yang lain. Tetapi ingatlah!!!, sesungguhnya banyak di antara orang Mu’min Hamba-hamba Allah itu yang terlena di dalam tahapan ini, artinya mereka yang takjub dan hilang kesadaran dirinya karena sangat mempesonanya keindahan-keindahan dan kemuliaan-kemuliaan Allah Swt yang dinyatakan/ditampakkan oleh Allah berupa karomah-karomah membuat ia lupa akan Allah Swt yang menganugrahkan kelebihan-kelebihan itu sehinggan Karomah itulah yang menjadi maksud dan tujuannya. Lalu lupa ia kepada tujuan yang sebenarnya yaitu Allah Swt yang menurunkan Karomah itu. Maka jatuhlah ia kepada jurang kefasikan, kembali dikuasai oleh Hawa Nafsunya. “Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah………….”. Berhati-hatilah di dalam tahapan ini!!!!, tidak ada seorangpun yang selamat dalam tahapan ini melainkan mereka yang benar di dalam memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah Swt, sehingga jadilah Allah sebagai penolongnya dan hanya Allah lah sebaik-baik penolong bagi orang-orang Mu’min.
- Kemudian apabila ia telah sampai kepada tahapan itu dengan selamat dan ia senantiasa di dalam kesabaran serta selalu berhati-hati di dalam Musyahadahnya (Penyaksiannya), maka akan tersingkaplah segala Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw dengan sendirinya tanpa ia memaksakan kehendaknya untuk menyingkap tirai itu. Artinya ; Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw itu sendiri yang akan datang menjemputnya untuk di bawa naik (Mi’raj) menuju Alam yang tiada Batas dan dihampirkannnya kepada Kebenaran yang membawa Rahmat yaitu Nurun Ala Nurin sumber segala hakikat-hakikat yang ada termasuk Hakikat Diri atau Hakikat Muhammad. Lalu timbul lah kecintaan yang amat sangat dalam kepada Muhammad Rosulullah Saw, rindu yang tiada habis-habisnya dan diwujudkannya di dalam gerak dan diamnya dengan Sholawat dan puji-pujian kepada Rosulullah Saw. Kecintaannya yang sangat dalam kepada Rosulullah Saw terasa nikmat sekali dirasakannya, sehingga tiada nikmat apapun yang dapat menyamai kenikmatan cinta Rosulullah Saw. Racun kerinduan rela dan ikhlas diminumnya karena kemabukkannya tiada bandingannya. Kemabukkan cinta itulah yang mengahantarkan dirinya kepada Robbul Izzati untuk berkasih-kasihan memadu cinta yang telah lama terpendam.
Dengan tahapan-tahapan itu akan sampai lah ia kepada Memandang Zat Maha Mutlak yang tiada tara keagungan dan kebesaran-Nya, yang Esa dalam ke Esa annya, dimana segala sesuatu bergantung kepada-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tiada satupun yang menyamai-Nya.
Ketika para Pecinta Allah sudah asyik di dalam pandang memandang, maka Allah akan mendudukan ia pada “Maqom Muroqobah” sebagai jalan terbukanya Tirai “Kebenaran Hakiki/Mukassyafaturrobbani”. Itulah Akhir dari pada pengembaraan dan perjalanan dan Itulah Puncak segala Puncak kenikmatan dan kebahagiaan.
Maka sampailah ia kepada Hakikat di atas Hakikat yaitu Zat Maha Mutlak yang tidak bisa di ganggu gugat dari segala apa pun tentang diri-Nya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu Anlaa ilaa ha illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadurrosulullah.


Maulana berkata
Assalamu’alaikum…..
Salam Kenal buat Pengembara Jiwa.
Sungguh, Tulisan yang sangat menarik sekali jika dihayati dan ditela’ah. Anda benar-benar paham tentang jalan ke arah sana, semoga tulisan di blog Pengembara Jiwa bisa bermanfa’at buat mereka2 yang membacanya.
Terimakasih atas pencerahannya………….
Salam Dari Palembang
sufimuda berkata
Inilah terkadang dilupakan orang…
banyak oang disibukkan menuntut berbagai ilmu tapi melupakan hal yang paling pokok dalam agama yaitu “MAKRIFATULLAH”
pengembarajiwa berkata
Wa’alaikum salam Wr.Wb
Salam Kenal kembali buat Maulana
asep berkata
Ass. Wr. Wb.
Salam kenal semuanya,
Syariat, Thariqat, Hakikat dan Makrifat haruslah dipahami semuanya dengan ilmu tahap demi tahap, kerena semuanya saling berhubungan. Siapa orang yang berilmu yg sudah mencapai Ihsan Kamil Mukamil ? seperti dalam hadist dikatakan ” Nabi kota ilmu, Ali adalah pintu gerbangnya ” yah kesitu lagi…sudah ah. Memang kesitu lagi, karena tasawuf bermuara ke Sayyidina Ali Ra.
Jadi saya ikut mengembara juga, mumpung ada waktu. Thanks utk Pengembarajiwa utk bisa berbagi ilmu.
Wass. Wr. Wb.
pengembarajiwa berkata
@Asep
Semoga dirahmati Allah
warmansaja berkata
banyak orang yang ingin ber-makrifatullah.
cuma terkadang pintu hidayah belum terbuka bagi diri,
walau berbagai ilmu telah di pelajari.
kadang kita menyadarinya tapi pelaksanaannya tak sanggup.
semoga Allah selalu memberi kekuatan pada kita agar kita tidak futur.
dan kebahagiaan yang hakiki dapat kita capai, sesuai dengan petunjuk-Nya.
Aamiin..
pkus berkata
benar sekali, itu terjadi pada saya, ketika saya ingin mencoba meretas makrifatullah, tapi sulit, mungkin belum mendapatkan Hidayah-Nya. namun, saya sadar bahwa hidayah itu harus dipinta kepada sang pemilik hidayah. ya, semoga kita tetap dalam limpahan hidayah-Nya. amin
roni berkata
Dengan anda mengatakan demikian dan anda menyadarinya, maka sesungguhnya anda sudah ber-Ma’rifatullah.
aan berkata
ngambil dari lagu raihan.. :
dimulakan dengan bismillah, disudahi dengan alhamdulillah…
begitulah sehari-hari dalam hidup kita smoga Rasullah SAW merahmati kita semua… amin…
pengembarajiwa berkata
@Warmansaja
————
Aamiin…. Aamiin…Aamiin… Yaa Robbal Aalamiin..
Salam Kenal Mas, Selamat Datang di Pondok PJ (Pengembara Jiwa)
Herman berkata
Assalamualaikum Wr, Wb
Benar sekali menurut saudara warmansaja “cuma terkadang pintu hidayah belum terbuka bagi diri” dan bagi saya dengan memasuki pondok pengembarajiwa, sufimuda dan yang lainnya merupakan salah satu pintu hidayah yang telah ditunjukan Allah, tinggal kita bersangka baik lagi akan segala sesuatu seperti tausiyah bapak gozali.
Insyaallah dari pintu ini adalah permulaan untuk terbukanya pintu2 yang lain hingga pintu yang terakhir……amin3x
wassalam,
herman
PPT berkata
Ass.wr.wb
Mohon maaf sebelumnya,
Menurut saya pintu hidayah bukan belum terbuka tapi kita yang masih bertahan untuk menutupnya.
Untuk berani membuka pintu ini diperlukan niat,tenaga kekuatan yang luarbiasa besar,karna yang berusaha untuk menutupnya pun luar biasa kuat.
Disinilah menurut saya yang dinamakan jihad,karna perjuangannya sungguh amat berat..
Sedikit saja kita lengah “gangguan” siap menerkam kita,semua hal yang memberatkan langkah kita adalah “gangguan (syaitan).
si gangguan sangat tau dimana titik terlemah dari kita yang kadang kita sendiripun tidak tahu,
Di jaman modern seperti inipun “dia” tau cara untuk melewatinya dengan cara cara yang juga berbasis teknologi.
Jadi menurut saya janganlah kita terlena dengan perkataan belum terbuka,karna itu akan membuat kita menjadi lemah.
Kita hanya bisa berusaha nanti setelahnya Allah yang menentukan…..
salam
pkus berkata
setuju….
PPT berkata
ass.wr.wb
@mas PJ
Ada yang saya ingin tanyakan ke mas PJ,
Didalam tahapan-tahapan menuju marifat sudah pasti rintangan begitu banyak,pertanyaannya adalah:
1. Setelah tahap pembersihan diri (membuat diri menjadi nol),salik masuk ketahap berikutnya yang membuat dirinya mendapat bermacam pengetahuan.pada tahapan ini mas PJ bilang kemungkinan dapat tergelincir kembali,mengapa bisa terjadi?apakah karna tahapan pertama tidak dilaksanakan kembali sehingga diri sudah tidak bersih?tapi apabila diri sudah tidak bersih seharusnya tahapan setelah itu menjadi jatuh juga,mohon mas PJ terangkan ke saya.
2. Dalam proses2 tersebut sehingga sang salik tergelincir dimanakah peranan sang Mursyid,apakah Beliau ikut mengingatkan/menegur/membantu secara ruhaniah dan juga zahiriah?
3. Bagaimanakah kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan/suluk tersebut adalah benar adanya,selain dari silsilah/wasilah dari Mursyid?,karna silsilah tersebut sangat panjang,sedangkan apa yang diceritakan dan langkah2 dan perasaan dari seorang salik hampir sama disemua tarekat.
Terima kasih banyak
salam
pengembarajiwa berkata
@warmansaja dan @Herman
————————-
Benar Apa yang dikatakan oleh Saudara kita PPT bahwa Pintu Hidayah bukan belum terbuka tapi kita yang masih bertahan untuk menutupnya, dst…dst…dst
Jika Saya boleh menambahkan sedikit saja….
Sesungguhnya Allah itu Arrohmanirrohiim dan Maha Nyata atas tiap2 segala sesuatu. Dan di dalam cinta kasih-Nya itu, Allah selalu membuka pintu Hidayah-Nya kepada siapa saja (tidak pernah tertutup). Tetapi dikarenakan dirinya terlena oleh hawa nafsu/ke-Ego-an maka ia tidak menyadari Hidayah itu selalu ada. Ibarat Matahari yang selalu bersinar dan tidak akan mungkin tidak bersinar tetapi dikarenakan Awan hitam menggumpal (hawa nafsu/ke-Ego-an) maka menjadi lah dinding untuk sampai cahaya itu kepada dirinya. Saya teringat kisah yang disampaikan oleh Guru Saya.
Beliau bercerita : Bahwa diceritakan Sang Sufi Jalaluddin Ar Rummi melintas melewati sebuah pengajian Syekh Sufi lalu dari kejauhan Jalaluddin Ar Rummi mendengar si Syekh mengatakan, semoga Allah membukakan pintu Hidayah-Nya kepada kalian. Lalu kemudian Jalaluddin Ar Rummi mendatangi pondok pengajian tsb dan mengatakan kepada si Syekh tadi “Bagaimana mungkin Pintu Hidayah Allah akan terbuka sedangkan Pintu Hidayah Allah tidak pernah tertutup!”
Jadi letak tertutup atau terbukanya pintu Hidayah Allah itu ada pada Hawa Nafsu yang selalu berprasangka. Menyangka tertutup maka tertutuplah ia. “Aku menurut sangka2 Hamba-KU, jika menyangka baik maka baiklah jadinya. Jika menyagka buruk maka buruklah jadinya”.
Karenanya selalu lah berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah Maha Pengasih dan maha Penyayang dan tidak akan mungkin Allah mengecewakan Hamba-Nya. Itulah yang perlu kita sadari………..
Sebagaimana Rosul Saw pernah mengatakan :”Bahwa Aku Hamba dan Rosul-Nya, tidak akan mungkin Allah mengecewakan-Ku”
pengembarajiwa berkata
@PPT
—–
Wa’alaikum salam Wr,Wb
==================================================
1. Setelah tahap pembersihan diri (membuat diri menjadi nol),salik masuk ketahap berikutnya yang membuat dirinya mendapat bermacam pengetahuan.pada tahapan ini mas PJ bilang kemungkinan dapat tergelincir kembali,mengapa bisa terjadi?apakah karna tahapan pertama tidak dilaksanakan kembali sehingga diri sudah tidak bersih?tapi apabila diri sudah tidak bersih seharusnya tahapan setelah itu menjadi jatuh juga,mohon mas PJ terangkan ke saya.
==================================================
Berhasil atau tidak nya seorang salik untuk sampai kepada Zat Maha Mutlak, itu tergantung dari pada tawakkalnya/berserah dirinya kepada yang Maha Mengatur segala sesuatu Urusan.
“Wamanyattawakkal alallah fa Huwa Hasbuh”/Dan barangsiapa yang bertawakkal/berserah diri kepada Allah, maka Dia(Allah) akan menjamin Hidupnya/menolongnya).
Bukankah hanya Allah semata pemilik segala sesuatu urusan? dan kepada-Nya kembali segala sesuatu urusan itu? Dan Allah lah sebaik2 penolong?
Jika demikian! Bertawakkal lah/berserah diri lah atas tiap2 segala sesuatu urusan, maka Allah Ta’ala sendiri yang akan menolong dan menjamin orang2 yang bertawakkal.
Jadi letak ketergelinciran nya di dalam perjalanan itu di karenakan kurangnya pengetahuan tentang tawakkal yang sebenarnya sehingga ia berlaku dalam menempuh jalan Spiritual tsb atas dasar dirinya sendiri (merasa aku yang melakukan, aku yang berbuat, aku yang beribadah, aku yang beramal, aku yang berjalan dsb).
Dalam tahapan ke-1 masih diperbolehkan dengan pemahaman demikian, karena memang diperlukan Jihad atau Mujahadah dalam melewatinya. Karena Mujahadahnya itulah Allah menganugrahkan tahapan ke-2 berupa : Hidayah/petunjuk kepada jalan yang di Ridhoi Allah Swt yaitu jalan menuju kepada Kebenaran Hakikat Muhammad Rosulullah Saw, serta dilengkapi ia dengan sifat-sifat Muhammad Rosulullah Saw yaitu Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah serta menjadikan ia Sami’na wa atho’na.
jika salik tetap Istiqomah pada tahapan ke-1 dan ke-2 itu maka ia akan disesuaikan oleh Allah Swt dengan Hukum Sunatullah yang berlaku di dalam kehidupan ini yaitu diperlihatkan kepada mereka keindahan-keindahan dan kemuliaan-kemuliaan Allah Swt yang dinyatakan/ditampakkan oleh Allah berupa karomah-karomah, kelebihan2 seperti bisa melihat alam gaib, bisa mengetahui rahasia yang tersirat, bisa mengobati orang, jalan di atas air, sholat di makkah dll. yang itu semua adalah berkah dari pada ke Istiqomahannya tadi. Akan tetapi jika mulai tahapan ke-1 sampai tahapan ke-3 ini ia masih belum menyadari atau belum mengerti dengan tawakkal yang sebenar2nya maka hanya sampai disini sajalah kedudukannya dan belum bisa naik ketahapan selanjutnya. Dan dikarenakan ia masih merasa aku yang berlaku, aku yang berbuat, aku yang bisa ini dan itu…..dsb, maka itulah yang dikatakan dari segi “Ilmu Tauhid”, ia telah tergelincir dikarnakan takjub oleh keindahan2 dan keagungan2 Allah yang dinyatakan dengan karomah dan kelebihan itu tadi. Jika ia terpana dan tidak menyadari Bahwa Allahlah yang berlaku di balik itu semua di dalam Qudrat dan Iradat-Nya maka dari segi “Ilmu Tauhid” ia telah Fasik.
tidak ada seorangpun yang selamat dalam tahapan ini/tidak bisa melanjutkan perjalanan berikutnya melainkan mereka yang benar di dalam memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah Swt (mengerti dengan tawakkal yang sebenar2nya) sehingga jadilah Allah sebagai penolongnya dan hanya Allah lah sebaik-baik penolong bagi orang-orang Mu’min.
Hanya mereka si salik yang ditolong Allah lah (karena mengerti tawakkal yang sebenar2nya) yang bisa melanjutkan tahapan2 berikutnya.
====================================================
2. Dalam proses2 tersebut sehingga sang salik tergelincir dimanakah peranan sang Mursyid,apakah Beliau ikut mengingatkan/menegur/membantu secara ruhaniah dan juga zahiriah?
====================================================
Mursyid berperan senantiasa membantu dan membimbing si salik dalam penempuhan spiritual akan tetapi Mursyid tidak bisa menjamin seseorang itu sampai atau tidaknya dalam mencapai tujuan karena Hanya Allahlah sebaik2 penolong dan penjamin.
Bukankah banyak para Sahabat yang berbai’at kepada Rosulullah dan menyatakan Sami’na wa A’To’na ? akan tetapi banyak pula mereka yang telah berbai’at itu berpaling dari Allah dan Rosul-Nya.
Mursyid hanya bisa membimbing dan membantu secara Ruhaniyyah dan Lahiriah hanya sebatas tahapan ke-1 sampai ke-3. Dan tahapan ke-4 sampai ke-5 dan seterusnya sampai kepada Hakikat di atas Hakikat/Zat Maha Mutlak adalah wewenang Allah Swt sendiri.
=============================================
3. Bagaimanakah kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan/suluk tersebut adalah benar adanya,selain dari silsilah/wasilah dari Mursyid?,karna silsilah tersebut sangat panjang,sedangkan apa yang diceritakan dan langkah2 dan perasaan dari seorang salik hampir sama disemua tarekat.
=============================================
Kebenaran itu Mutlak hanyalah bagi Allah dan Milik Allah “Haqqullah Haqqul Haqiqi”. untuk mengetahuinya silahkan konsultasikan ke- http://www.pengembarajiwa313@yahoo.co.id
Tidak ada rahasia bagi Allah, karena Allah tidak merahasiakan sesuatu kepada Hamba-Nya (Ingatlah!!! Allah itu Arrohmaanirrohiim).
Dikarenakan dirinya terhijab oleh dirinya sendirilah maka menjadi Rahasia kebenaran Allah Swt itu.
Wass,Wr,Wb
PJ(Pengmbara Jiwa)
Herman berkata
Assalamualaikum Wr, Wb
Untuk sementara saya yang bodoh ini berusaha untuk menyimpulkan bahwa segala sesuatunya “semata-mata atas karunia dan hidayah Allah” karena kita ‘La haula wala kuata illa billah’ seperti yang sering disebutkan oleh pengembarajiwa………cuman yang masih berkecamuk didalam pikiran saya ini mengenai ini :
“Menurut saya pintu hidayah bukan belum terbuka tapi kita yang masih bertahan untuk menutupnya.
Untuk berani membuka pintu ini diperlukan niat,tenaga kekuatan yang luarbiasa besar,karna yang berusaha untuk menutupnya pun luar biasa kuat.
Disinilah menurut saya yang dinamakan jihad,karna perjuangannya sungguh amat berat..”
yang jadi pemikiran saya yang bodoh ini adalah “apakah ada kekuatan lain yang melebihi kekuatan Allah” demikian juga dengan masalah jihad, ringan atau beratnya juga karena Allah.
demikian pemikiran saya yang bodoh ini.
wassalam,
herman.
pengembarajiwa berkata
Wa’alaikum Salam Wr,Wb.
@Herman
Tetaplah jalani apa yang pernah anda dapatkan tausiyah dari Bapak Gozali dan bertawakkallah di dalam kesadaran Laa Haw Laa Wa Laa Quwwata Illaa Billah…… JANGAN LEPASKAN ITU…!!!!
“Wa manyyattawakkal alallah fa Huwa Hasbuh” Dan barang siapa yang bertawakkal/berserah diri/menyadari fitrah diri Lahawla wala Quwwata…. Maka Allah akan menjamin dan Menolong Hidupnya.
Itu menurut Pandangan saya terlebih baik dan terlebih cepat menyampaikan maksud dan tujuan Anda untuk mengenal dan berjumpa dengan Allah Swt.
Wassalam
ppt berkata
Ass.wr.wb,
Terima kasih mas PJ,nanti saya Insya Allah bertamu ke email diatas.
salam
wawu ndombleh berkata
ini perjanjianku dengan Tuhan di alam Adam Makdum
sekaligus gugurlah perjanjian Muhammad dengan Tuhan pada diriku
dan kamu sekalian jangan ngiri yeeeee
Gue SEWON SAWIJI – Oktober 27, 2007
bis mil lah hir rah man nir rah him
alif… lam… mim… ta… ro…
kae apa-apa ala
ROBBB……………………………………..BUKA!
by
ashabul GAJAH
ya… ibundaku IBU PERTIWI
diriku tak bisa membawakan syurga
bukan sekedar impian
bukan sekedar cita-cita
aku bersujud padamu
untuk mempersembahkan…
NEGERI 1001
SEPANJANG SIANG
SEPANJANG MALAM
SEPANJANG ZAMAN
sang siwi
KOLONYONGE’ ……….. KON NYOLONG TEMPENE MBOKE’
sangking alas wingit kepati-pati gawat kaliwat-liwat
HO NO CA RA KO
DO TO SA WA LO
PO DHO JA YA NYO
MO GO BA THA NGO
si buta saka goa
asep berkata
Ass. Wr. Wb
@Pengembarajiwa
“Awwaluddin Ma’rifatullah” (Awal mula seseorang itu beragama, ialah mengenal akan Allah)”.
Benar sekali apa yang dikatakan PJ spt tsb diatas, karena seseorang apabila masuk agama Islam wajib mengucapkan kalimat Syahadat ” Saya bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah dan saya bersaksi Muhammad itu utusan Allah ”
Menurut pemahaman saya yang awam yaitu setelah mengucapkan Syahadat tsb, tahap selanjutnya sbb :
1. Ilmu adalah ikhtiar / usaha manusia dengan akal dan fikiran yang merupakan fitrah untuk mencapai segala macam kebutuhannya, baik lahir maupun bathin.
2. Iman adalah meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkannya dengan perbuatan.
3. Taqwa adalah menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
4. Istiqomah adalah berpegang teguh dengan apa yang dikatakan/dituliskan dalam Al Qur’an dan Hadist.
5. Qona’ah adalah menerima apa adanya sesuai kehendak Allah Swt “Tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah Swt ”
6. Amar Ma’ruf Nahi Mun’kar adalah mengajak kepada kebenaran dan mencegah segala kemunkaran.
Apabila tahap-tahap tsb diatas telah terpenuhi maka hidayah Allah Swt akan terbuka, sehingga mencapai ma’rifatullah yaitu dia akan mengenal dirinya dan Allah Swt dan menemukan kebenaran yang hakiki, seperti mas PJ tuliskan :
“Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Robbahu” (Barang siapa yang mengenal akan dirinya yang sebenarnya niscaya kenal lah ia akan Allah).
Yang menjadi pertanyaan adalah pada tahap amal ma’ruf nahi munkar. Mungkin saya pernah menyinggung masalah tsb, tapi masPJ menjawabya hanya selintas saja dan saya tidak bertanya lagi. Dalam kesempatan ini saya ingin bertanya,
Bagaimana caranya dalam menghadapi umat Islam yang pemahamannya / golongannya berbeda-beda dalam hubungannya dengan amal ma’ruf nahi munkar ? supaya umat Islam bersatu utnuk menghadapi berbagai macam ujian/cobaan di dunia ini ?
Demikian, mohon penjelasannya.
Wass. Wr. Wb.
pengembarajiwa berkata
Wa’alaikum salam Wr,Wb
@Asep
——
Jika pertanyaan Mas Asep dipertanyakan kepada Diri Mas Asep sendiri, lalu apa yang akan Mas Asep perbuat untuk menghadapi Umat Islam saat ini yang sudah terpecah belah menjadi beberapa golongan, agar bisa bersatu kembali……
Ma’af..! Saya hanya menanyakan pendapat Anda, siapa tahu kita sejalan….
Terimakasih….
asep berkata
Ass. Wr.Wb
@Pengembarajiwa
Pada tahap amal ma’ruf nahi munkar yang harus dilakukan adalah menyeru atau mengajak semua kaum muslimin agar kembali kepada ajaran yang murni yaitu ajaran Ahlulbait Nabi Muhammad Saw, yang mengajarkan bahwa garis Imamah sesudah Rasulullah Saw dilanjutkan oleh para Imam dari Ahlulbait Nabi Saw untuk setiap masa, sampai kehadiran Imam Mahdi Afs yang dinantikan / dijanjikan, diantara jin dan manusia.
Karena secara ikhlas dan ridho ataupun terpaksa kaum muslimin / umat manusia akan kembali lagi kepada fitrahnya yang menginginkan kesempurnaan yaitu mendambakan seorang yang bisa memimpin umat manusia di akhir zaman dan yang akan mendirikan pemerintahan Ilahi yang adil. Sehingga mampu merealisasikan kebahagiaan bagi umat manusia seluruhnya.
Saya menyadari dan memahami pada tahap inilah yang paling sulit direalisasikan / disosialisasikan, karena umat Islam setelah Rasululullah Saw wafat dalam perjalanan sejarahnya, begitu banyaknya hadist-hadist yang sudah terkontaminasi / terkotori oleh penguasa thagut dengan memperalat para ahli hadist untuk membuat ribuan hadist palsu untuk kepentingan kekuasaannya, sehingga menyebar keberbagai ranah ilmu: syariat, tharikat, hakikat dan ma’rifat. Tentu saja sangatlah tidak mudah untuk membedakannya mana hadist yang benar atau yang palsu ?
Dengan kembalinya lagi kedalam ajaran Ahlulbait Nabi Saw, mudah-mudahan seluruh umat Islam akan menyadari segala kekhilafannya dimasa yang lalu. Kadang saya selalu berfikir akan hal ini, apakah pantas untuk dikemukakan kepermukaan yang nota bene mayoritas di negeri ini, penganut ajaran Sunni ? Kebenaran apapun resikonya haruslah disampaikan kepada seluruh umat Islam. Karena ada nash yang mengatakan “Sampaikanlah walau satu ayat” yang tentu saja segala perkataan dan perbuatan saya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Swt dunia maupun akhirat.
Mungkin mas SP juga sering berkunjung ke blognya mas Sufimuda ( silahkan baca deh komentar-komentar saya )
Kalau menurut anda bagaimana ?
Was. Wr. Wb.
aburahat berkata
@PJ
Mas PJ nama yg mas ambil pengembarajiwa sesuai dg tingkat yg mas sdg dalami. Saya cuma ingin beri saran mas: Utk mencapai tingkat ma’rifat adalah hadiah Allah atas ketekunan dan keikhlasan melaksanakan Syariat dlm hal ini Firman2 Allah. Banyak mereka yg menekuni Tharikah sbg jl pintas utk mencapai Ma’rifat.
Saran saya jgn kita mengharapkan tingkat ma’rifat tapi yg ingin dicapai adalah Hakekat. Kalau saya bisa umpakan: Sayariat adalah rambu2 dlm pengembaraan kita menuju Hakekat. Hakekat adalah terbukanya sifat2 Allah Sedangkan Thariqah merepakan jalan yg kita lalui. Dlm pengembaraan kita (Tharigah)ada rambu2 mana yg hrs kita lalui dan mana yg tdk boleh dilalui. klu kita tdk mengenal dan pahami rambvu2 ini, maka kita bisa tersesat. Oleh karena itu pahami dulu rambu2 jln mau kita berjalan. Bagaimana kita bisa mengenal diri kita klu masih mengkufurkan firman Allah atau bagaimana kita bisa selamat sampai tujuan klu kita mengkufurkan rambu2 yg ditetapkan. Salah satu contoh Allah melarang kita menyombongkan diri dan Iblis menganjurkan kita sombong. Kita menuruti perintah Iblis dan mengabaikan perintah Allah. Mana Laa ilaha illallah yg kita ikrarkan. Padahal kita
setiap detik mendpt petunjuk dari Allah utk mengingatnya tp selalu kita abaikan. Kemudian kita katakan blm mendapat hidayah. kata2 ini terucap krn kita blm mengenal diri kita. Kita blm mengenal diri kita krn kita mengabaikan syariat Kita mengamaikan Syariat krn kita tdk mau berfikir. Kita tdk mau berfikir krn kita Taglid. Kita Taglid krn fanatik. Kita fanatik krn malas mendalami ilmu. Wasalam
pengembarajiwa berkata
Wa’alaikum salam Wr,Wb
@Asep
———-
Jujur, Saya sependapat dengan Mas Asep, bahwa tampuk kepemimpinan Islam akan diwariskan turun temurun melalui Ahlul BAit Nabi sampai akhirnya akan dipimpin oleh seseorang yang bergelar “Imam al-Mahdi” dan Beliaupun Zuriat dari pada Rosulullah Saw dari Sayyidina Husein ra. Beliaulah (Al-Mahdi) yang nantinya akan mempersatukan Umat Islam di bawah bendera “LAA ILAA HA ILLALLAH MUHAMMADARROSULULLH”. Dan dari Beliaulah Nantinya akan dikenali manakah yang benar sesuai tuntunan Rosulullah Saw, diantara 73 golongan yang terpecah belah.
Sangat Banyak Hadits2 yang shoheh yang menerangkan tentang siapakah Al-Mahdi itu, yang akan memimpin Umat Islam bersatu dalam kesatuan Tauhid.
Akan tetapi terlepas dari pada itu, ttng Ketauhidan itu Mutlak di di wajibkan oleh setiap Muslim walau mazhab apapun yang dikuti, walau tarikat apapun yang di anutnya, walau Golongan apapun yang menjadi pegangannya. Tauhid itu adalah “WAJIB”.
Kemudian untuk lebih sempurnanya dalam ke tauhidan itu maka mereka haruslah berimam kepada Khalifah yang di tunjuk sebagai Khalifah Umat Islam agar Islam itu menjadi satu kesatuan. Khalifah yang di maksud itu adalah Para Imam2 yang telah di lihat Nabi pada Saat Mi’roj yaitu ada 12 cahaya. dan 12 cahaya itu adalah Imam2 Islam dari keturunan Nabi Muhammad Saw. Dan Imam yang akan menyatukan Umat Muslim se Dunia adalah Imam yang di nantikan kedatangannya yaitu Imam Al-Mahdi.
Bagi Saya : Silahkan kalian menuntut Ilmu kepada Mursyid manapun karena Menuntut Ilmu itu Wajib Hukumnya, akan tetapi jangan lah menjadi seseorang yang Fanatik dengan Mursyid yang di ikuti, karena siapapun ia (Mursyid) itu, tidak lain hanyalah seorang penyampai untuk menyampaikan kebenaran Allah melalui Ketauhidan dan ke Ma’rifatan. Cintai ia (Mursyid) itu layaknya orang tua sendiri sampai datangnya Imam yang di tunggu2 kedatangannya.
Sungguh, ke Fanatik kan itulah yang akan memperuncing dari pada perpecahan Islam, karena itu bersatulah dalam Cinta KAsih Allah walau dimanapun ia menuntut Ilmu, walau berlainan Mursyid yang di ikuti, walau tarikat apapun yang di anut, walau mazhab apapun yang di ikuti, walau golongan apapun yang menjadi pegangannya. Intinya/Kuncinya hanya Satu “LAA ILAA HA ILLALLAH MUHAMMADURROSULULLAH” Peganglah itu dan jangan lihat perbedaan di dalamnya. jika mereka pun memegang “kunci” itu, berarti mereka adalah saudara bagi kita. Soal perbedaan di dalam golongan tsb, serahkan kepada Allah. Cukup lah Allah sebagai saksi dari apa yang kita perselisihkan”
Jika kita menghimbau ttng Ahlul Bait, maka itu adalah suatu kelayakkan yang harus di sampaikan, akan tetapi di perlukan kebijaksanaan agar tidak menambah perselisihan yang baru.
Saya Sangat senang dengan komentar2 Asep tentang “Ahlul BAit”, baik di Pengembara Jiwa, Sufi Muda, Mujahidah Wanita maupun mungkin di Blog2 yang lain, terlepas dari pada “Apakah saya termasuk Ahlul Bait ataupun bukan”. Yang jelas siapapun kita Ahlul BAitkah atau bukankah tetap Umat Muslim harus mencintai Ahlul Bait Nabi Saw, sebagaimana yang telah di nyatakan Nabi bahwa Para Ahlul BAit ku akan memimpin Islam kepada kejayaan. Ingatlah ! Bahwa Ahlul Bait adalah yang memimpin dengan penuh keadilan dan kebijaksanaan, sedangkan Mursyid adalah yang membimbing si Salik untuk bisa mentauhidkan Tuhannya.
Mursyid adalah pembimbing bukan khalifah/pemimpin Islam, akan tetapi Ahlul Bait Nabi Saw adalah Khalifah/Pemimpin Islam dan bisa jadi ia juga seorang Mursyid jika Allah menghendaki dan menurunkan Ilmu-Nya untuk membimbing.
Karena itu jangan lah tentang kepemimpinan Islam itu menjadi suatu perdebatan, tetapi marilah kita bersama menunggu kedatangan seorang pemimpin Islam itu yaitu “AL-MAHDI”.
Dan tuntutlah Ilmu tentang Ma’rifat dan Tauhid itu kepada Siapa saja yang di berikan Anugrah oleh Allah untuk bisa membimbing kita ke arah sana.
Wallahu’alam Bishowab
aburahat berkata
@PJ
Dengan komentar mas terhadap sdr Asep saya disini dgn sepenuh hati dan ikhlas mengucapkan ALHAMDULILLAH berarti mas berada dlm kelompok Syyidah Fatimah.Mas Allah memberikan nama utk anak Rasulullah FATIMAH krn berarti pemeisah sorga dan Neraka. Wasalam
pengembarajiwa berkata
@aburahat
————-
Terimakasih atas Saran dan Masukkan yang mencerahkan……
Semoga bermanfaat untuk Umat Islam yang membacanya….
Wassalam
m. hanafi berkata
ass.ww
Mas pj tulisan anda sangat2 membantu saya dalam mencari TUHAN, terasa sekali dalam pencerahan jiwa saya yang saat ini kering yang haus akan siraman2 rohani seperti ini.
makasih banget mas Pj
asep berkata
Ass. Wr. Wb.
@Pengembarajiwa
Subhanallah…Alhamdulillah…Allahu Akbar, Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah … kita dipertemukan disini, semoga tali silaturakhmi ini kekal sampai akhir zaman, dunia maupun akhitat. Juga kepada @Aburahat. @M. Hanafi dan semuanya.
Ya Rasulullah, salam atasmu
Wahai Pelenyap kebatilan
Wahai Yang Mulya kedudukannya
Ahlil Bait Nabi yang Suci
Merekalah !
Lambang kemulyaan, keagungan dan kasih
Para Imam, pewaris Rasul
yang dikenal dengan kemuliaan
serta tingginya kedudukannya
Tidak sejenakpun hati mereka tertuju
kecuali kepada Allah dihadapkan
bersama Al Qur’an mereka senantiasa
kebersamaan yang tidak akan pernah terpisahkan
Ahlil Bait Nabi yang Suci
merekalah Penyelamat Bumi (berpeganglah pada mereka)
Mereka Bahtera Penyelamat
dalam kekhawatiranmu menghadapi badai
dari segala godaan kehidupan
Yaa Allah karuniakanlah kami barokah mereka
serta petunjuk kebenaran demi keutamaan mereka
Yaa Allah matikanlah kami dijalan mereka dan
perlindungan dari segala fitnah
Yaa Allah,
sampaikanlah sholawat dan salam
kepada Muhammad dan keluarganya yg suci,
dengan sebanyak-banyaknya dan
tiada henti-hentinya
tak terbilang banyaknya…Yaa Allah
Abuharat berkata
@Asep
Sungguh indah dan menggugah jiwa pembaca pelepasan kerinduan dgn puisi mas. Insya Allah pelepasan kerinduan mas menjadi shirat menuju Rasul dgn Ahlulnaitnya Amin. Wasalam
pengembarajiwa berkata
@m. hanafi
——————
Wa’alaikum Salam Wr,Wb
Terimakasih kembali dan Selamat Datang di Pondok Pengembara Jiwa
@asep & @Abuharat
—————————-
Wa’alaikum Salam Wr, Wb
Allah senantiasa beserta kita, dan semoga dikumpulkannya kita di dalam Majelis Rosulullah Saw yang penuh dengan Rahmat dan Berkah. Aamiin.
dicksone berkata
Ass wr wb.
Mas-mas yang budiman, sekadar saling share/mengingatkan bahwa jalan untuk mencapai jenjang yang sangat tinggi lagi halus tersebut haruslah dibimbing oleh Guru (“WaliyamMursyida”=Al Kahfi-17) yang benar-benar telah sampai (lulus) dan berpredikat Insan Kamil Mukamil. Semakin tinggi level seorang Guri Wali-Mursyid akan semakin samar (disamarkan Allah SWT) dihadapan orang awam. Tanpa bimbingan seorang Wali-Mursyid, niscaya ada voluntir yang sigap membimbing, yaitu sparing partner manusia (Iblis). Sampainya tentu bukan keHadiratNya, melainkan terminal-terminal lain.
Bagaimana cara mencari/menemui Waliyammursyida ini… petunjuknya ada di dalam diri mas masing-masing… yaitu dengan menjaga serta meningkatkan keimanan; lalu ketakwaan/taat dan terus wabtagu (Al Maidah-35) ilaihil wasilah = Nurun AlaNur (AnNur-35).
Selamat melanjutkan pencaharian = salik ..
Wass wr wb.
nagabOnar berkata
Alhamdulillah akhirnya ada juga persinggahan yang adem ayem…
Salam kenal kepada sang Pengembara Jiwa…
Bolehkan saya bergabung dengan komunitas anda ini…
Artikel2nya membuat jiwa menjadi tenang tentram …
pengembarajiwa berkata
DickSone
Wa’alaikum salam Wr,Wb
Alhamdulillahirobbil’aalamiin…
Insya Allah, Anda sangat benar sekali…….
Selamat datang di Pondok Pengembara Jiwa ini….dan salam kenal…
Wassalam
Pengembara Jiwa
NagabOnar
Salam kenal kembali untuk Anda, dan silahkan bergabung di Pondok PJ (Pengembara Jiwa ini)
Semoga bermanfa’at dari apa2 yang termuat di dalam Pondok ini….
Allah beserta kita…
Wassalam
hinakelana berkata
Menghayati ALLAH Dalam Kehidupan
Kalau pengaruh kebesaran ALLAH sudah sangat terasa dalam jiwa kita, maka ketika kita berbuat apa saja selalu teringat dengan ALLAH. Misalnya bila kita sedang makan tiba-tiba ada harimau, apakah rasa ingin makan masih ada? Tentu rasa takut pada harimau lebih besar mempengaruhi jiwa kita daripada rasa ingin makan. Contoh lain, bila kita sayang dengan anak bungsu tiba-tiba dipisahkan tentu akan terkenang selalu. Begitu juga sang anak, bila ibunya di rumah sakit, walaupun dia berada di rumah tentu hatinya teringat dengan ibunya.
Kalau ingat ALLAH itu masih diakal, ketika kita berpikir lain, maka ingatan akan ALLAH akan hilang. Sebab itu ALLAH mesti dirasakan dengan hati, sehingga walaupun akal berpikir, hati selalu terkenang dengan ALLAH, hingga tidur pun masih terbawa rasa berTuhan. Walaupun fisiknya tidur, tapi ruhnya bekerja. Seperti seorang wali ALLAH, dalam tidur dia bertahlil.
Sebab itu dalam hadist disebutkan jangan minta kewalian tapi mintalah istiqomah. Istqomah adalah ciri kewalian. Lebih-lebih lagi istiqamah dalam menghayati ALLAH.
Supaya rasa berTuhan dan rasa kehambaan ini tidak padam, tidak pudar, maka bermacam-macam jalan dapat ditempuh, seperti melihat alam terasa kebesaran ALLAH, melihat orang sakit teringat kuasaNya, melihat rezeki teingat nikmat dan rahmatNya. Telebih lagi membaca Quran, dimana Quran itu membangun jiwa. Tapi membaca dengan faham dan dihayati.
Selain mengingat mati, banyak hal lain yang membuat kita ingat ALLAH. Sepatutnya ketika kita ingin makan, minum, berkendaraan berpakaian, selalu ingat itu pemberian ALLAH. ALLAH yang memberi. Baru disusul dengan syukur. Jadi kalau kita ingat itu dari ALLAH timbul rasa malu. Barulah akal kita dapat berfikir, “Aku tidak layak dengan ini ALLAH, janganlah engkau memberi ini dengan istidraj, berilah dengan keridhaanMu.”
Misalnya ketika melihat makanan, kita terfikir dua hal, pertama teringat ALLAH yang mempunyainya, jangan-jangan Dia memberi dengan istidraj atau dengan dengan murka. Kemudian teringat dengan manusia lain. Berapa ribu orang yang mengusahakan dan terlibat di dalamnya mengusahakan makanan ini. Jangan-jangan orang yang mengusahakan itu miskin dan papa, tidak makan. Kita goyang-goyang kaki dapat makan. Berapa banyak orang miskin yang mengusahakannya, buahnya kita dapat. Apakah kita tidak malu? Jadi kalau kita hidup, doakanlah mereka. Mudah-mudahan meraka dapat hidayah. Doa tak perlu angkat tangan, “Ya ALLAH berilah mereka itu petunjuk, murahkan rezeki mereka, ampunkan mereka.” Jadilah makanan itu berkah.
yayat.hendrayana berkata
belum mengerti terangkan apa yang harus dilakukan jika diri selalu kehausan…dengan ilmu makrifat…..membayangkan kah? berimajinasikah atau keduanya ataukah ada keyakinankah? keyakinan seperti apa sebab orang awam seperti saya belum ngerti apakah keyakinan itu dari allah ataukah egoisme kita ataukah tiiupan syaiton yang sengaja memanja kita untuk membenarkan apa yang tersirat dalam diri kita///bagaimana pula membedakan antara itu pikiran dan itu bisikan hati suci?
terimaksih
Aburahat berkata
@Yayat
Soal ma’rifat jangan anda bayangkan atau berimajinasi. Tapi selalu bersyukur walaupun sekecil apa hidayah yang Allah berikan pada anda.
Mengenai keyakinan. Benar apa yang anda katakan apakah sesuatu yang datang merupakan bisikan GALBU adalah dari petunjuk Allah atau Syaitan (IBLIS). Saya pernah berkomentar bahwa untuk mencapai tingkat ma’rifat bukan dari usaha kita sendiri tapi RAKHMAT Allah. Karena Allah mau memperkenalkan diriNya pada kita apabila kita telah mengikuti segala persyaratan yang ditentukan Allah. Dan apabila kita telah melaksanakan persyaratan yang telah ditentukan Allah maka masih mengalami tahapan paling berat. Yakni dicoba dan diuji. Untuk itu agar kita bisa menerima segala cobaan dan uijian tsb kita harus mengenal HAKEKAT ALAH dan RASULNYA serta FIRMAN2NYA. Wasalam
yayat.hendrayana berkata
persyaratan itu seperti apa? apakah jika sudah mengikuti persyaratan itu sudah dikatakan bertaqwa? terus bagaimana dengan dzikirnya?apa saja dzikirnya?maukah beraagi? bisakah seseorang dilihat dimanakah maqom dia dalam perjalanan menuju makrifat?.kira kira saya dimana ?terimaksih
Aburahat berkata
@Yayat
Anda diciptakan oleh Allah untuk apa?
Untuk beribadah kepadaNya kan. Dan anda beribadah dengan benar. Sudahkah anda laksanakan. Mas, semua tindakan kita harus melalui prosedur. Anda tidak bisa langsung dari bawah terus mencapai puncak. Anda harus melalui tangga2 yang telah Allah tentukan dalam Alqur’an. Contoh umum. Pertama anda Islam lalu beriman kemudian menjadi orang yang bertaqwa.
Beditu juga jika anda ingin mencapai maqam ma’rifat anda harus melalui jenjang syariat, kemudian apabila anda sdh berada dijalan yang benar (thariqah) anda menuju kejenjang berikutnya Hakekat. Apabila anda betul2 mengenal Hakekat. Kemudian Allah yang menentukan sudah waktunya Allah memperkenalkan diriNya pada anda atau belum. Wasalam
#1 berkata
Assalamu’alaikum
Mas yayat yang di rahmati Allah, sepertinya mas yayat harus mencari seorang guru yang mursyid sehingga mas yayat bisa di arahkan jika mas yayat betul2 hendak mendalami ilmu Haq ,seandainya sekarang mas yayat ada di wilayah kalimantan timur mungkin kami berani manunjukkan mana guru yang mursyid yang benar-benar mendapatkan mandat dari Allah swt, dijaman seperti sekarang ini sulit rasanya untuk mencari guru yang mursyid,insya’allah dengan ridho Allah urutan-urutan maqom itu akan kita dapat di ajaran kami..
semoga Allah memberikan ridho Nya untuk kita semua
Amiin
Wassalam…
Musafir Gendeng berkata
@ yayat
Apabila Allah berkehendak membukakan wijhah hatimu untuk menerima ma’rifat, maka tidak peduli lagi walau amalmu sedikit. Karena bila Allah membuka hatimu semata-mata karena berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepadamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ma’rifat itu didatangkan untukmu dan amalmu adalah persembahan untuk-Nya, mana yang lebih tinggi nilainya bagimu, apa yang datang darimu atau apa yang didatangkan kepadamu?
Untuk mencapai ma’rifatullah. Secara teori, seorang hamba akan diperjalankan oleh tarbiyah Allah s.w.t dengan dua cara:
1. Kehendak yang datangnya dari atas ke bawah. Artinya, semata-mata wijhah yang ada di dalam hati—yang asalnya tertutup—dibuka oleh Allah s.w.t. Hijab-hijab matahati dihapuskan. Penutup pintu rahasia dibukakan. Seperti orang menyalakan lampu, maka yang asalnya gelap menjadi terang, yang asalnya tidak kenal kemudian menjadi kenal. Bagaikan mendung ketika sirna, matahari kemudian berada di atas kepala. Hal itu karena Allah s.w.t memang berkehendak mengenalkan diri kepada hamba-Nya, tidak dengan sebab yang lain, tidak dengan sebab amal ibadah yang sudah dikerjakan. Yakni, seorang hamba menjadi mengenal kepada-Nya semata-mata karena Allah s.w.t adalah Dzat Yang Maujud:
قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
“Katakanlah : “Allah-lah” kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. al-An’am; 6/91).
2. Kehendak dari bawah kemudian ke atas. Artinya terlebih dahulu seorang hamba dikenalkan kepada makhluk-makhluk-Nya baru kemudian dikenalkan kepada Al-Khalik (penciptanya), Sebagaimana firman Allah s.w.t:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. 2; 164)
Pengenalan seorang hamba kepada Sang Pencipta langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar serta kemanfaatan-kemanfaatan yang dapat dimanfaatkan bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah s.w.t hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.
Perhatian dan penelitian seorang hamba terhadap semua itu menghasilkan suatu kesimpulan bahwa betapa Allah s.w.t telah banyak berbuat baik kepada umat manusia dan betapa sangat banyak manusia yang tidak mengetahui dan tidak menyadarinya dan bahkan kafir kepada-Nya. Pemahaman tersebut kemudian menjadikan tumbuhnya rasa kecintaan yang mendalam kepada-Nya. Hasilnya, mendorong dirinya untuk bertaubat dengan taubatan nasuha dan meningkatkan diri dalam melaksanakan pengabdian kepada Allah s.w.t.
Ma’rifat yang pertama adalah ma’rifat yang langsung memancar dari hati dan ruh (spiritual) yang kemudian dipancarkan lagi di dalam akal dan fikir (rasional ilmiah) yang selanjutnya dapat teraktualisasikan melalui akhlak dan perbuatan. Itu bisa terjadi karena seorang hamba memang telah terlebih dahulu dicintai Allah kemudian ia mencintainya. Ma’rifat yang pertama ini lebih kuat daripada ma’rifat yang kedua karena ia lebih hakiki adanya dan karena sesungguhnya letak ma’rifat itu adalah di dalam hati.
Ma’rifat yang kedua adalah ma’rifat hati (spiritual) juga, akan tetapi masuknya terlebih dahulu melalui akal dan fikir (rasional). Yakni pengenalan seorang hamba kepada kejadian-kejadian yang ada di bumi dan di langit menjadikannya mengenal kepada Sang Pencipta. Seperti orang yang mengenal buah karya tulis, ketika semakin dalam pengenalannya akhirnya ia ingin mengenal penulisnya.
Walau jalan masuknya ma’rifat yang kedua ini melalui rasional, akan tetapi ketika masuk ke dalam spiritual (hati), masuknya ma’rifat itu semata kehendak Allah. Hanya saja kehendak itu telah didahului oleh kehendak-kehendak yang sebelumnya—sebagai sebab-sebab yang tersusun tertib untuk mendapatkan akibat yang baik,—yaitu pahala dari amal ibadah yang sudah dilakukan.
Bukan karena semata-mata amal ibadah yang dapat menjadikan seorang hamba berma’rifat kepada Allah s.w.t, akan tetapi sesungguhnya amal ibadah tersebut terlebih dahulu dijadikan sebab-sebab untuk bisa terpenuhi suatu proses pematangan ilmu pengetahuan secara rasional. Yakni supaya sampai kepada suatu akibat yang baik, yaitu pendewasaan ilmu dan akhlak secara spiritual.
Amal ibadah adalah persembahan seorang hamba kepada Tuhannya sedangkan ma’rifat adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya, manakah yang lebih tinggi nilainya? Oleh karena itu, apabila Allah s.w.t berkehendak membukakan pintu wijhah hati seorang hamba untuk menerima Nur Ma’rifat, tidak peduli walau hamba-Nya itu sedang lemah dan sedikit amal ibadahnya. (malfiali)
pengembarajiwa berkata
yayat.hendrayana
Salam kenal buat Saudaraku Yayat….. yang senantiasa dalam bimbingan Allah sehingga menemukan Pondok PJ ini, dan Siapapun yang telah berkunjung ke Pondok ini, semoga Allah senantiasa memberkati dalam Kasih dan Sayang-Nya. Aaaaamiiiiin…..
Saudaraku…..
Jika pada Hati anda telah tertanam untuk mengenal kepada Allah di karenakan sungguh2 dalam kerinduan yang dalam, maka itu semua Karunia dan hidayah dari pada Allah. Dan ketahuilah bahwa itu sudah termasuk di dalam bimbingan Allah….. semoga di tetapkan dalam martabat itu sampai Allah menurunkan Anugrah berupa Ma’rifatnya kepada-Mu.
Saudaraku….
Setelah Qolb mu disinari dengan kerinduan yang dalam untuk berjalan dalam mengenal kepada Allah, maka bertawakkal dan bersabarlah selalu…… dan carilah seorang Guru Mursyid yang bisa membimbing Anda untuk ke arah sana.. Tetapi carilah seorang Guru Mursyid yang di berikan ke ahlian oleh Allah dalam mengenal akan Allah maka Allah pun akan membimbing anda untuk mendapatkan Ma’rifat itu melalui Mursyid tadi. Semoga Allah meridhoi anda…..
Dan Allah beserta Anda dan kita semua…. dan yakinlah bahwa Allah tidak akan mengecewakan Hamba-Nya
Aburahat dan #1 dan Musafir G
Terimakasih…., atas masukan2 anda yang sangat mencerahkan. Semoga itu semua bisa membawa rahmat dan manfa’at kepada SAudara2 kita yang lain……
Ya… Allah Ya…. Robbi’ sungguh, Engkau menyaksikan atas diri2 kami dalam berbagi pengetahuan tentang jalan mengenal kepada Engkau. DAn semoga itu semua menjadi sebuah Do’a bagi Hamba2 Engkau yang lain yang membutuhkan pengetahuan tsb agar terbuka baginya pemahaman Ilmu dan Keyakinan kepada Engkau sehingga menjadikan mereka dekat dan cinta kepada Engkau…..
Aaamiiin….Ya… Robbal Aalamiin..
yayat.hendrayana berkata
@Aburahat dan #1 dan Musafir G
dan juga PJ.
terimaksih atas saran dan do’anya jika diantara kalian yang mau bebagi alamat tentang guru musrsid tolong di e-mailkan ke alamat saya yayat.hendrayana@gmail.com
ditunggu e-mailnya mas-mas sekalian
.??? berkata
Abang PJ yg saya rindu ,
Membaca isi blog Abang yang menyejukkan ini, dan juga seluruh tanggapan dari pengunjung, akan terasa lebih lezat dan tercerahkan bila kita sudah dianugerahi modal arofa nafsahu.
Bagi yg masih gelap ttg “pengenalan diri sejatinya” seperti saya, mungkin akan terbengong-bengong dan celegukan membaca isi blog ini dengan seluruh tanggapan2nya.
Untuk bisa mengenal Allah, maka harus mengenal diri kita yg sebenar-benarnya dg melalui tahapan2 tsb diatas.
Tahapan pertama adalah menundukkan hawa nafsu,
kalau Abang ada waktu, bolehlah diperjelas lagi kira2 detilnya lelaku apa dan seperti apa yang harus saya jalani untuk bisa melampaui tahapan pertama tsb ?
Terima ksh Bang PJ, mohon tausiah, dukungan dan doanya agar kami di karuniai cahaya & dibukakan hati, dari kegelapan ini.
Wsm wrm wbr
gmandalan@yahoo.com
pengembarajiwa berkata
@Yayat.Hendrayana
Mas Yayat berdomisili dimana……?
@.???
Insya Allah, saya akan balas Komentar Anda ke E-mail Anda……
Akan tetapi yang perlu anda sadari adalah…..
“Jika Anda sudah tertanam dalam diri anda kesungguhan dalam menemukan kebenaran yaitu kesempurnaan Amal Ibadah dengan Ma’rifatullah (Mengenal akan Allah) maka ketahuilah bahwa Allah tidak akan membiarkan Hamba-Nya yang bersungguh2 itu sehingga akan di bukakannya dan dicahayainya dengan Nur-Nya pada dirinya. Karena itu bersabarlah selalu dan tetaplah Istoqomah dalam pencarian itu…. Insya Allah, akhirnya nanti anda akan menemukannya…..”
Wassalam
Pungki Ninaber berkata
Assalamualikum Wr. Wb.
الحَمْدُ للهِ
Terang ama adem qalbu ini setelah baca artikel di atas.
Terima kasih Pengembarajiwa,
Jazakallahu khairan…
Wassalamuallaikum Wr. Wb.
asep berkata
Selamat hari raya Iedul Adha, mohon ma’af lahir dan bathin.
pengembarajiwa berkata
Saudaraku semuanya dan pengunjung setia Pondok PJ
truthseeker08 berkata
All
Saya ucapkan Selamat Hari Raya Iedul Adha.
Mohon Maaf Lahir & Batin
Wassalam
sufigokil...kill...dekil berkata
Allah s.w.t Berdiri Dengan Sendiri. Dia tidak memerlukan sifat Wujud untuk kewujudan-Nya. Dia tidak memerlukan sifat Hidup untuk membuat-Nya Hidup. Dia tidak memerlukan sifat Mendengar untuk menjadikan-Nya mempunyai Pendengaran. Dia tidak memerlukan sifat Melihat untuk Penglihatan-Nya. Dia tidak memerlukan sifat Berkata-kata untuk mengadakan Kalam-Nya. Dia tidak memerlukan sifat Iradat untuk Dia berkehendak. Dia tidak memerlukan sifat Ilmu untuk pengetahuan-Nya. Dia serba cukup. Dia Wujud sendiri-Nya, Melihat sendiri-Nya, Mendengar sendiri-Nya, Hidup sendiri-Nya, Berkehendak sendiri-Nya, Mengetahui sendiri-Nya, Berkata-kata sendiri-Nya dan apa jua pun adalah sendiri-Nya tanpa bersandar kepada sebarang sifat. Dia tidak memerlukan sifat atau nilai-nilai tambahan untuk Kesempurnaan-Nya. Dia Berkuasa tanpa bersandar kepada sifat Berkuasa. Dia Mencipta tanpa memerlukan sifat Berkuasa Mencipta. Allah s.w.t serba cukup dengan Diri-Nya sendiri, dengan keesaan-Nya tanpa memerlukan sokongan sifat dan alat.
pengembarajiwa berkata
@sufigokil…kill…dekil
Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin……
Sebelum ada apa2, segalanya belum ada….. yang ada pada saat itu hanyalah Zat Maha Mutlak yang berdiri dengan sendirinya tanpa ada yang mendirikannya…
Dan sungguh2 Zat Maha Mutlak itulah yang bernama Allah Swt, yang mencipta sesuatu tanpa ada sekutu mencipta dengan sendirinya dengan diri-Nya sendiri.
Ia tidak terikat oleh sesuatu apapun juga bahkan sifat itu datang dari padanya sedangkan Ia tidak bergantung kepada Sifat. Maha Benar Allah Swt dengan Kebenaran Zat-Nya sendiri yang tidak ada satu pun yang menyamainya….
“Al-Insanu Sirrii…Wa Sirrii Sifatii… Wa Sifatii La Ghoirihi….” (Insan itu Rahasia-Ku, Rahasia-Ku ialah Sifat-Ku, Sifat-Ku itu tiada lain dari pada-Ku)
sufigokil...kill...dekil berkata
Alhamdulillah….
Segenap puji2an yang sebesar2nya kepada Allah..Ta’ala
Benar sekali “Al-Insany sirri…dst” setiap manusia punya rahasia tersendiri dengan Tuhannya, hanya dirinya dan Allah yang tahu…
Teman2 ada tempat yang bagus tentang persamaan cakra2 tubuh,dan lataif2 tubuh silahkan kunjungi..http://irdy74.multiply.com/
Wasallam…sallam..sallamun qaulam mirrobirohim
sufigokil...kill...dekil berkata
Alhamdulillah….
Segenap puji2an yang sebesar2nya kepada Allah..Ta’ala
Benar sekali “Al-Insany sirri…dst” setiap manusia punya rahasia tersendiri dengan Tuhannya, hanya dirinya dan Allah yang tahu…
Teman2 ada tempat yang bagus tentang persamaan cakra2 tubuh,dan lataif2 tubuh silahkan kunjungi..
http://irdy74.multiply.com/
Wasallam…sallam..sallamun qaulam mirrobirohim
pengembarajiwa berkata
@sufigokil…kill…dekil
Alhamdulillah…………….
Semoga bermanfa’at situs yang anda taut kan di sini………..
Kemana aja….. lama nggak kelihatan…….
Wassalam
sufigokil...kill...dekil berkata
Abiiis ngembaraaaa menjelajah….bertualang kecil2an kedalam samudera jiwa dan hati…terusnya jalan2…kemana aja….suka2nya hati….hati…hati2 perhatikan rambu2 Allah…Insya Allah…merdeka
tul ga Maaaas PJ..yang terhormat..
Gimana neeeh kabarnya mas PJ tercintaaaa..Semoga selalu dalam rahmat dan Ridho-Nya
pengembarajiwa berkata
@sufigokil…kill…dekil
Wah…. benar sekali saudaraku….. Rambu2 Allah sangat2 lah penting sekali, dan yang terlebih sangat…..sangat…..sangat…..sangat….. penting lagi tidak hanya memperhatikan Rambu2-Nya melainkan juga mengenal dan cinta terlebih dahulu dengan yang memiliki Rambu2 tsb. sehingga jika kita kenal dan cinta, maka Allah lah yang akan memelihara kita untuk tetap dalam Rambu2 yang telah di tetapkan….
Alhamdulillah………. kabar saya Baik dan Sehat selalu karena pertolongan Allah semata, dan bagaimana dengan kabarmu? lama nggak datang ke “Rumah Email” saya
andriadi berkata
Assalamualaikum wr wb.
Alhamdulillah ulun tedapat web ini, mudah2an berataan kita tedapat…
Amin…
pengembarajiwa berkata
Wa’alaikum salam Wr,Wb
Alhamdulillah…….. Allah Swt nang mempertemukan kita di sini. Mudah2an lah…. kita sabarataan tamasuk urang2 nang di Bari Petunjuk oleh-Nya.
Aaaamiiin.
Wassalam
Pengembara Jiwa
kangBoed berkata
Pengembara Jiwa berkata
Desember 26, 2008 pada 9:32 am
Wah…. benar sekali saudaraku….. Rambu2 Allah sangat2 lah penting sekali, dan yang terlebih sangat…..sangat…..sangat…..sangat….. penting lagi tidak hanya memperhatikan Rambu2-Nya melainkan juga mengenal dan cinta terlebih dahulu dengan yang memiliki Rambu2 tsb. sehingga jika kita kenal dan cinta, maka Allah lah yang akan memelihara kita untuk tetap dalam Rambu2 yang telah di tetapkan….
——————————————————————
Mas PJ sungguh halus dan sarat makna terlihat dua jalan yang berbeda walau samar yang satu keluar diri mencari rambu rambu Allah dan berusaha sekuat tenaganya untuk berjalan tanpa melanggar rambu rambu Allah, walau akhirnya biasanya rambu rambu dibuat itu untuk di langgar he he he
jalan yang satu masuk kedalam dirinya dan menyerahkan diri secara bulat bulat dalam jalur cinta jalur kepasrahan dan dengan bantuan sang Kekasih tanpa disadari oleh sang diri walaupun dia tak tahu rambu dia sudah bergerak secara otomatis menjadi rambu rambu, karena setiap sel syarafnya sudah bekerja he he he
Jalan keluar adalah jalan yang paling banyak ditempuh orang tanpa mereka sadari mereka sedang melatih diri, akhirnya sang diri merasa paling ….. tak sadar Allah nya semakin jauh tertinggal, sebaliknya jalan masuk kedalam hanya sedikit sekali orang yang mau menempuhnya adalah jalan melatih KEPASRAHAN diri sehingga sang diri semakin lemah semakin kecil dan semakin lenyap sehingga tanpa disadarinya tampuk kekuasaan sang jiwa telah beralih dipegang oleh sang DIRI SEJATI he he he mungkin itu gamblangnya yach Mas PJ
Matur Nuwun
pengembarajiwa berkata
@KangBoed
Hmm…. Ya….Ya… Ya…. Islam itu Indah, dan Islam untuk seluruh Umat Manusia dan Islam itu Rahmatan lil ‘Aalamiin.
Lambang berkata
Salam kenal untuk Mas PJ.
Saya hanya ingin mohon penjelasan lebih lanjut untuk tahapan yang no 1 saja. Yang no 2, 3 dan 4 kelihatannya sudah masuk ke level advanced dan tak tersentuh. Saya ngga’ mudeng.
Di tahapan ke 1, disebutkan tentang menjauhi kesombongan dan keingkaran terhadap kebenaran.
Menjauhi kesombongan ini bukan hal yang mudah. Kita ketawa ngakak aja udah termasuk kesombongan. Berjalan sambil mendongakkan kepala juga sama. Beli rokok ngga’ pakai terima kasih ya sama juga. Ngomong di HP keras-keras juga sama (kecuali kalau memang budeg).
Kemudian tentang keingkaran kebenaran. Apakah yang dianggap benar itu yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist atau berdasarkan logika, hati, empati dan kemanusiaan ?
FPI, JIL, Wahabi, Salafi, Syi’ah, Sunni pasti merasa dirinya benar, karena ada referensi-nya ke Qur’an dan Hadist.
Jadi, yang mana yang benar ?
Kalau merujuk ke Ihya Ulumuddin, Al Munqizu Minadhalal, Al-Hikam, Tanwiril Qulub dll, ya sama saja mas, sudah level advanced semua. Buat yang masih basic seperti saya ya malah mumet.
Barangkali ada petunjuk praktisnya, boleh dong di-share…
Salam.
pengembarajiwa berkata
@Lambang
Salam Kenal Kembali untuk Anda…….
Semoga hari2mu dalam bimbingan dan tuntunan Allah, sehingga di berikan kekuatan untuk mangarungi Hidup ini dalam Kebaikan2 yang membawa Rahmat kepada siapa saja.
Banyak diantara manusia yang tiada menyadari bahwa hari2 yang telah dilaluinya diliputi oleh kesombongan2 dan keangkuhan. Dan bermula Kesombongan itu terbit dari pada Hati yang tidak mengenal dan tidak mengerti akan Allah, sehingga disetiap waktunya dari buka mata sampai tutup mata kembali merasa bisa berbuat, berlaku, dan berusaha. Bahkan ada juga yang tidak menyadari bahwa apa saja yang ada pada dirinya itu adalah miliknya. Harta kekayaan adalah miliknya, Tanah yang luas berhektar2 juga miliknya belum lagi apartemen2 yang menjulang tingi itu pun diakui adalah miliknya. semua apa saja yang ada di dirinya di akuinya adalah miliknya. Tanpa sadar….!!!!!!, sesungguhnya ia telah mengakui apa saja yang sebenarnya itu bukanlah miliknya. Lho…Kenapa bisa demikian….., bukankah Aku yang mendapatkan itu semua karena usaha dan ikhtiarku, karena kemampuanku dalam bekerja keras banting tulang peras keringat dan bahkan itu di karenakan Ilmu yang telah Aku tuntut selama puluhan tahun bahkan sampai sekarang aku memiliki titel ini… dan itu… belum lagi Aku sekolah sampai ke Luar Negeri. Itu semua Aku dapatkan karena memang aku adalah orang yang ber ilmu dan pandai serta pekerja Keras. Wajar Dooong…, jika Aku menikmati hasil jerih payahku…. karena itu semua adalah milikku! “Katanya demikian…..!”
Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaa billaahil ‘Aliyyil Adziim……..
Sungguh….! mereka yang demikian itu adalah Kawan bagi si Qorun yang hidup pada zaman Nabi Musa as
Ingatlah…..!
Jika bukan karena Allah maka siapapun dimuka bumi ini bukanlah siapa2dan tidak bisa apa2, hanya dengan Qudrat dan Iradat-Nya lah seseorang itu bisa berkehendak, bisa berusaha, berikhtiar, berilmu dan pada akhirnya mendapatkan Manfa’at dari apa2 yang telah di capainya karena Allah dan dengan Allah
Lalu siapakah yang menyombongkan dirinya……. di hadapan Allah???
Yaitu mereka2 yang tiada menyadari bahwa hanya di karenakan Allah lah mereka itu bisa bergerak, berlaku, berusaha, berikhtiar dan berilmu.
Dan dengan tidak menyadari hal demikian itu maka membiaslah kesombongan hatinya kepada siapa2 yang di luar dirinya.
Jika kesombongan di diri sudah tertanam maka sudah pasti mereka itu ingkar terhadap kebenaran Allah, bahwa Allah lah yang menghendaki atas Qudrat Iradat-Nya sehingga ia bisa berlaku, bergerak, berusaha, berikhtiar dan berilmu. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang membantah setelah datang keterangan yang nyata kepadanya lalu kemudian “membahas serta mendebatnya dengan mengemukakan dalil dalil dan ayat2″. Maka Siapakah yang mendustakan Ayat2 Allah…??? Selain mereka yang telah mengingkari kebenaran dan keterangan yang nyata yang sudah datang kepadanya.
Merekalah yang tidak mau tahu akan kebenaran itu adalah orang2 yang Bodoh. Maka samakah orang yang buta dengan yang melihat….????, dengan kebodohan itu karena tidak melihat akan kebenaran yang nyata yang telah ditunjukkan Allah atasnya, maka mereka tidak akan perduli dengan orang2 yang telah menyampaikan kebenaran kepadanya.
Sungguh…..!!!!, Ma’rifat itu adalah Ilmu Hati, Ilmu Rasa dan Ilmu Kesadaran. Hanya dengan melihat kenyataan Hidup lah dan mencermati serta memikirkannya lalu introsfeksi/ber Musyahadah diri dengan itulah Hati, Rasa dan Kesadaran akan bergetar karena sangat Terangnya Nur Allah yang meliputi akan dirinya. Dan jika di sebutkan nama Allah maka akan bergetarlah jiwanya……….
Lalu setelah Getaran2 itu mengalir kesetiap sendi kehidupannya menyebabkan ia tersungkur dalam ketidak berdayaannya di Hadapan Allahu Robbi… dan Hikmah Allah akan turun kepadanya sehingga sesuai lah dirinya dengan Batinnya Al-Qur’an dan Batinnya Al-Hadits.
Semoga Allah membimbing Anda untuk memahami apa2 yang telah terurai dari penjelasan ini……..
Wassalam
@KangBoed
Terimakasih Saudaraku KangBoed sudah menambahkannya… dan semoga akan semakin lengkap bekal untuk kita semuanya termasuk saya sendiri untuk melangkah berjalan menuju kesempurnaan dalam Ma’rifat hingga beroleh Cinta Kasih Tuhan.
Salam Sejati untukmu Saudaraku KangBoed sekeluarga
@Inawai
Teruslah belajar dalam memahami sesuatu yang terjadi di balik tiap2 kejadian, dan sering2lah menyimak dari pada Komentar saudara2 yang lain di Pondok ini, semoga akan menambah dari pada pemahaman Anda tentang Kebenaran dalam Ma’rifatullah.
Allah memberkahi kehidupanmu dan membimbing Langkah2mu dalam menuntut Ilmu. Dan sekali2 Allah tidak akan meninggalkanmu dan akan tetap besertamu dimana engkau berada.
Salam Kerinduanku untukmu….
Pengembara Jiwa
@Rabaniah
Laluilah Hidup ini dengan penuh senyum dan ceria, karena sesungguhnya apapun yang terjadi dalam hidup ini itu semua pada hakikatnya adalah tanda dan perlambang dari pada Cinta Kasih Tuhan. Walau terkadang pahit di rasakan dan sakit menyayat2, menusuk2 hati….. ketahuilah….. Itu adalah tempaan2 yang datang dari pada Allah untuk mengokohkan Jiwa agar tetap tegar dalam menjalani hidup di masa akan datang.
Jika Engkau telah menyadari bahwa Kesadaran itu adalah Kunci untuk menuju kepada Allah lalu kemudian engkaupun menyadari bahwa fitrah diri ini adalah Laa Haw Laa Wa Laa Quwwata……. maka janganlah engkau berkecil hati tetaplah Istiqomah dalam kesadaran itu dan jangan lah takut akan ke EGO an itu karena EGO itu pun datang dari pada Allah dan milik Allah. Sedangkan engkau telah menyadari dan menyerahkan dirimu kepada Allah maka pastilah Allah akan memerintahkan EGO itu yang ada pada dirimu untuk menempa dirimu dalam kebaikan menurut pandangan Allah dan bukan lagi untuk mencelakakan dirimu.
Itu adalah salah satu proses dan Fase dari beberapa Fase bagi Sang Pecinta Tuhan. Allah berikan kembali EGO itu pada dirinya tetapi bukan untuk mencelakakan melainkan untuk menjadi rahmat bagi dirinya.
Karenanya tetaplah jalani hidup ini dengan kepasrahan total kepada Allah, dan janganlah berserah diri setelah ada sesuatu sebab dan musabab tetapi sadarilah sesadar sadarnya bahwa memang Fitrah Manusia itu dari dulu sebelum dilahirkan sampai sekarang dan sampai akan datang berpulang ke Rahmatullah setiap harinya setiap detiknya dari buka mata sampai tutup mata kembali berada dalam Laa Haw Laa Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil Adziim.
Tersenyumlah…….. dan gembirakanlah dirimu dengan keyakinan dan kesadaran Bahwa sekali2 Allah tidak akan pernah meninggalkanmu karena Allah senantiasa menyertaimu dimanapun engkau berada, dekat sekali bahkan lebih dekat dari pada urat lehermu dan meliputi dirimu zahir dan Batin.
Damaikanlah…. dan Tenangkanlah dirimu dengan keyakinan dan kesadaran Bahwa kejadian2 yang menimpa dirimu setiap harinya setiap waktunya dari buka mata sampai tutup mata kembali…., itu semua adalah Rahmat Allah atasmu yang menunjukkan bahwa Allah sangat Cinta Kasih dan Sayang kepadamu. Walaupun menurut perkiraanmu kejadian2 yang terjadi itu adalah pahit dan menyakitkan, buang jauh2 prasangka itu, karena prasangka itu adalah perangkap dari pada Iblis dan Syetan untuk menjerat dirimu agar engkau tidak mendekat kepada Allah melainkan menjauh dari pada Allah.
Allah memelihara dirimu dalam Cinta kasih-Nya
Allah memberkati dirimu dalam Rahmat dan Anugrah-Nya
Allah meliputi dirimu Zahir dan Batin dengan Ilmu-Nya.
kangBoed berkata
Ma’rifatullah
Mengenal Allah
Sungguh mudah tapi sulit
Sungguh sulit tapi mudah
Selama kita berjalan dengan kekuatan diri
Selama kita mencari dengan kesombongan diri
Selama kita bertempur dengan kemampuan diri
Selama kita berlandaskan sang diri
Sungguh sungguh sulit sekali
Seakan jalan tak berujung pangkal
Entah kapan kita akan sampainya
Mustahil oh sungguhlah mustahil……
Tetapi ketika kita menghampirinya dalam kelemahan
Tetapi ketika kita berhasil membuang semua kesombongan
Tetapi ketika masuk dengan tangis ketak berdayaan
Berlandaskan pernyerahan diri bulat bulat
Masuk dalam pusaranNYA
Masuk dalam rengkuhanNYA
Masuk dalam tarikanNYA
Maka biarkanlah ia membuka diriNYA
Mudah sungguh mudah
jalan itu terbuka dengan sendirinya
hanya dalam Laa Hwalla walla quwwata
Tiba tiba tak kau sadari engkau sudah dekat
Dekaaaaat sekali
Monggo Maaaas
Numpang lewat
inawai berkata
sekali lagi matur suwun KangBoed ,
sharingnya sungguh menambah semangat dan kerinduan
Salam
Rabaniah berkata
Terkadang Iman ku bagai sebuah roda yang berputar…
Tarkadang ada di atas dan terkadang ada di bawah…
Dan terkadang diri ini tidak menyadari, bahwa diri ini sedang bermain-main dengan keEgoan..
Bercanda, bernyanyi, menari, bahkan bercumbu rayu dengannya
diri ini begitu hina, ah…seandainya saja
Ke Egoaan ini tidak berada di dalam diri ini, pasti sudah kubuang jauh-jauh….
Tetapi sayang ia selalu ada dalam diriku, dan aku hampir tidak berdaya di buatnya, banyak sekali tipu muslihatnya….
Wahai yang memiliki diriku, tolonglah aku yang tidak berdaya ini, dengan Wajah Engkau yang teramat Mulia. Jangan biarkan ia(Ke Egoan)menyatu menjadi darah daging ditubuhku…
Diri ini tau bahwa kuncinya selalu ada di dalam kesadaran, Ya selalu di dalam kesadaran…
Tetapi mengapa masih saja ia(ke Egoan)itu beramin-main berasama ku…
Wahai Zat Maha Mutlak, sempurnakanlah KESADARAN dalam diriku…, karena tanpaMU aku tidak bisa apa-apa, hamba hanya mahluk Engkau yang amat lemah, tidak berdaya tanpa kekuatan Engkau…
Salam Mas PJ dan pengunjung di pondok ini, izinkan saya si lemah ini mencari cahaya sejati…
Terimakasih…
kangBoed berkata
Hmmmmmmm…………..
Perjalanan pulang kepadaNYA dalam cinta
Hanyalah satu garis yang lurus bukan berliku ataupun berbelok
Kepasrahan dalam penyerahan diri sejatilah yang utama
Sungguh indah dan anehnya jalan itu …. luar biasa
Kadang aku merasa dipermainkan tanpa mampu berdaya apapun
Kadang aku merasakan kehangatan dekapan pelukan hangatNYA
Kadang aku direngkuh sedemikian kencangnya sehingga tak mampu tubuh ini menahan getaran kehadiranNYA
Kadang aku merasa dicampakanNYA begitu jauh dalam keputus asaan
Tapi tetap kuberusaha menyadari garis itu linier
Kupasrahkan semua yang ada dalam diriku semakin bulat dan bulat
Tanpa sedikit dayapun seakan kuterombang ambing dalam kebodohanku
Tanpa ku mampu untuk bertahan apalagi bertanya padaNYA
Apakah yang sedang terjadi menimpa diriku saat ini
Mengapa aku selalu terbuai seakan semakin terbuai dalam keputus asaan tak bertepi
Apakah salahku ini Tuhan mengapa ?? mengapa ??
Aku sudah menyerah aku sudah tak berdaya dalam Engkau
Dalam kebodohan dan keputus asaanku hampir kuberhenti untuk melangkah.. dan melangkah terus
Hanya penyangkalan dan keputusasaan yang keluar dari mulutku ini
Tapi di satu waktu disatu saat yang sudah Dia tentukan
Jawaban itu muncul begitu saja begitu dekatnya seakan tiada berjarak
Masuuuuuk… Masuuuuk…. Masuklah anakKu
Lebih dalam.. lebih dalaaam… Lebih dalaaaam lagi
Rasakaaaan.. Rasakaaaan …. rasakan lebih dari sebelumnya
Seakan kuterhenyak dan terbangun dari mimpi buruk ku
Secepatnya ku ambil air untuk mandi dan mengingat arti dari jawaban itu
Dalam siraman air kucuran shower tiba tiba ku menangis…
Menangis sediiih sekaliguuuus gembira tak terkirakan
Yaaaaa Allaaaaaaaaaaaah sungguh jawaban yang indah
Kemudian kuterduduk diam dipojokkan kamar
Kucoba kumainkan rasaaaaku lebih dalam lagi
Ternyata kutemukan ke tidak berdayaan yang luar biasa
Sungguh keadaan kelemahan yang sangat … sangat …
Menangis ku dihadapanNYA
Tergetar seluruh tubuh ku dalam haribaanNYA
Ternyata masih ada kelemahan dan ketidak berdayaan yang sangat
Jauh dari segala yang pernah kurasakan dan ku bayangkan
La hwalla wallaaaaa quwwataaaaa
Kutertunduk lebih dalam dan dalam lagi
Kusemakin tak berdaya lemah… lemah… dan semakin lemah
Ku tersungkur Yaaa Alllaaaah terimakasih atas segala hikmah yang kau berikan sehingga kusemakin tunduk dihadapanMU
Salam Mas PJ & Mbak YUneeeeeeeeeeeeeeee
Bikin Hiuduup Lebih Hiduuuup
Lamunan si botool kosooong ooooooooooooooon
truthseeker08 berkata
Benar sekali saudaraku. Sangat terasa kita membutuhkan “pengawal” agar tetap sadar dan ingat akan hal2 tsb. Pengenalan diri, ma’rifatullah, tafakur dan dzikir yang tanpa putus.
Alhamdulillah begitu ringkas yang disampaikan saudara PJ namun begitu mengena dan bermanfaat.
Sangat dahsyat dan dalam ketika kita memahami konsep bahwa tidak ada yang kebetulan.</i
Allah Maha Sempurna dan semua yang terjadi/ciptaan adalah sarat makna/himah. Semua yang Allah ijinkan kita untuk mengetahuinya (mendengar, membaca, melihat mengalami, pelajari, rasakan) semuanya merupakan pesan dan pengajaran Allah kepada kita.
Alhamdulillah Allah menjadikan blog ini sebagai perantara.
Sungguh beruntung dan bahagia mereka yang sudah memiliki ini.
Terima kasih saudaraku. Betapa berartinya nasihat ini.
Betapa indahnya dan sangat membantu dalam menjalani hidup.
Iblis tidak pernah capek dan tak pernah lengah dalam memantau mereka yang sedang dalam perjalanan menuju Allah. Betapa pentingnya mengenali diri agar dapat mengenali cara kerja Iblis. Tipu muslihat Iblis begitu halus, hingga kita tak mampu membedakan benar dan salah. Iblis bahkan menipu dengan cara meniru cara Allah.
Jika Allah sedang mengkhususkan seseorang maka Iblis pun akan mengkhususkan orang tsb. Jika Allah mempersiapkan kemuliaan baginya maka Iblis pun menawarkan “kemuliaan” padanya.
Sehingga pesan bagi para pengembara dan para pencari adalah agar tetap dalam “kesadaran” kesiagaan dan kewaspadaan. Jika Iblis tak pernah lengah seyogyanya kita juga tidak lengah. Jika Iblis telah menyatakan perang maka jangan kita naif menyangka Iblis tidur.
Alhamdulillah telah dikabarkan bahwa semuanya menjadi “mudah” ketika kita Sabar (yang ikhlas), ikhlas dan berserah (yang ikhlas).
Hanya milik Allah lah segala sesuatu.
Wassalam
kangBoed berkata
Salam Damai dan Cinta Kasih
Para pecinta dan pencari kebenaran sejati
Hidup adalah satu perjalanan dalam pencarian
Sadar maupun tidak sadar setiap jiwa ini dituntun kesana
Ya ya pencarian, pencarian akan hakikat hidup
Kedamaian, Kesadaran dan Kebenaran yang sejati
Salah dan benar hanyalah sebuah perjalanan
Perjalanan mencari sesuatu yang telah lama hilang
Sesuatu yang sangat dirindukan setelah sekian lama
Ya dulu kita berkumpul dan bersatu dalam HaribaanNYA
Alangkah lebih baiknya jika sang diri mulai menyadari akan pencariannya
Meninggalkan batasan dan ukuran yang selama ini dipakai
Ya sadarilah pencarian itu tidaklah akan pernah berakhir
Sampai akhirnya waktu pun sudahlah habis terbuang percuma
Panca indera bukanlah patokan maupun ukuran kita
Ingat panca indera hanya untuk perlengkapan di sini
Ya panca indera hanyalah barang baru yang akan hancur termakan waktu
Tiada sedikitpun kekekalan dan keabadiannya
Apa yang kita lihat, Apa yang kita dengar
Apa yang kita tangkap dari luar diri kita
hanyalah menimbulkan ilusi dan kepalsuan
Akal pikiran, logika, Angan angan itulah dunia kepalsuan
Tetapi ternyata di dalam diri kita ada sesuatu bagian yang lama sekali
Dia kekal dan abadi dan selalu merindukan jalan pulang
Dia sebuah daging yang bernama hati Nurani yang terdalam
Sebagai pancaran dari ruh kita yang kekal abadi
Ya Hati ini ternyata sungguh dahsyat dan luar biasa
Disanalah letaknya kedamaian
Disanalah munculnya cinta dan kasih sayang
Disanalah terbitnya keikhlasa dan ketulusan
Sekali lagi hatii, adalah ladang kita yang harus kita bersihkan
Kita cabuti rumput dan semak belukar yang tumbuh disana
Bersihkan dengan sungguh sungguh pertobatan
Sehingga ketika benih cinta kepada Allah ditanamkan maka benih itu akan tumbuh subur
Benih itu akan tumbuh dan tumbuh menjadi sebuah pohon
Belajar berbunga dan belajar berbuah walaupun buahnya masih masam
Kemudian buah itu semakin mengkal dan akhirnya berbuah lebat dan sangat manis sekali
Berguna bagi semua orang tanpa kecuali ….
Ya hanya dari sebuah hati yang sudah dibangkitkan dari kematiannya
Hati yang sudah hidup dan memancarkan sinar kehidupan
Hati yang terdalam sungguh suatu ukuran yang nyata dalam perjalanan kita
Yaaaa hati yang hiduuup makin hiduup dan tambah hiduuup
Salam sayang Mas PJ dan mBakYUneeee
botole kosong
njeblik's berkata
Boleh ndak q ikut nyicipi buahnya? agar aku ikut bisa ngomong oooooooooooooooooooo alhamdulillah rasanya manis jatah yang aku dapatkan ini. dan bisa berbagi sesama yang sudah mencicipi….
karena yang belum mencicipi tapi banyak omong mungkin itu sebuah kebohongan yang mereka ucapkan.
MAUTAU APAAN INI? RASAIN DULU…….
KALO DAH…..NDAK PERLU BANYAK NANYA…..
GITU TO KANG…….?
SALAM SILAHTUROHIM BWT SEMUANYA WABIL KHUSUS SYECH PJ
pengembarajiwa berkata
@Njeblik’s
Selamat datang ku ucapkan kepadamu wahai Saudaraku……..
Dan terimakasih telah memberikan sumbangsihnya berupa Petuah yang sangat singkat dan padat namun bermakna sangat dalam sekali.
Semoga Allah senantiasa menganugrahkan kepadamu Rahmat dan Berkah di setiap waktumu.
Wassalam
Pengembara Jiwa yang masih dalam Pengembaraan
@Asep
Ya…..Kang Asep!,
Semoga Allah memberkati langkah2 Anda dalam meniti Cinta Ilahi dengan berwasilahkan Rosulullah Saw dan para Ahlul Bait.
Salam Kangen dan rindu Dariku untukmu Saudaraku yang sudah lama tidak berkunjung kemari.
@SabdaLangit
Ketahuilah Saudaraku “serahsa sejati”, bahwa sayapun sedang belajar dengan Anda di Blog Anda.
Jika ada komentar2 saya yang terlalu berlebihan dan tidak menjadikan Rahmat atau bahkan malah memperkeruh Blog Anda saudaraku, ma’af kan saya yang sebesar2nya.
Dan semoga Anda dan Keluarga juga senantiasa dalam pemeliharaan dan Kasih Sayang-Nya. Aaaamiiiin
O ya Saudaraku, SMS Anda beberapa waktu yang lalu sudah saya balas! semoga Anda, Keluarga, dan juga tidak lupa Salam Hormat ku untuk YM Raja Teungku Putri, semoga senantiasa dalam bimbingan dan Ridho Allah Swt.
Salam Sejati
Saudara serahsa Sejatimu
Pengembara Jiwa
asep berkata
Salam
Saya hanya ingin menambahkan dan mengingatkan saja bahwa dalam berma’rifat kepada Allah swt harus disertai dengan berwilayah kepada cahaya Imam Ahlulbait Nabi saw, karena tidak syah shalat seseorang tanpa mengucapkan shalawat. Sesungguhnya shalawat adalah manifestasi kekuasaan dan kekuatan Allah swt didunia dan akhirat.
Wassalam
mujahidahwanita berkata
Assalamu’alaikum Wr, Wb….
Apa kabar kang asep?
Lama nggak kelihatan…., kemana aja kang selama ini….???
asep berkata
Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
Alhamdulillah…saya baik-baik saja. Saya lagi merenung dan bertafakur atas fenomena yang terjadi di alam nyata dan di alam maya dalam berma’rifat kepada Allah swt.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
sabdalangit berkata
Saudaraku Pengembara Jiwa yang mendapat kemuliaan agung dari Gusti Allah Yang Mahamulia.
saya mencatat satu alinea “emas” di bawah ini, dan saya paham sekali Anda salah seorang yg dikategorikan di dalam kalimat di bawah ini.
…”Seandainya Allah Swt membukakan akan rahasia keagungan para Arif billah, maka niscaya orang-orang akan tercengang dan terheran-heran serta takjub dibuatnya. Karena Nur yang meliputi diri para Arif billah itu akan memancar menembus sampai ke langit ketujuh. Karena itu lah Allah menutup akan diri para kekasih-kekasihNya itu, sehingga tidak ada yang mengetahui tentang dirinya melainkan hanya Allah dan mereka-mereka yang sama-sama telah sampai pada maqom Ma’rifatullah tsb”…
Maka tak ada alasan lain, dalam persaudaraan “rahsa sejati” ini, kecuali saya harus banyak belajar kepada Anda yang arif dan ihsan akan keMaha-luasan ilmu Tuhan. Setiap waktu bergulir, sepanjang Pengembaraan, Anda selalu menemukan pralampita, yang mengungkap makna di balik tanda-tanda keagungan Zat Yang Mahatunggal, yang tak sembarang orang mampu menterjemahkannya.
salam sejati Saudaraku Pengembara Jiwa dan Mujahidah Wanita
Gusti Allah selalu menyirammu dengan segala ketentraman di alam sajjaratul ma’rifat, alam awang-uwung “sastra jendra hayuningrat”, alam nirvana.
rahayu
Lambang berkata
Mas PJ,
Maaf numpang komen untuk mujahidahwanita.
@mujahidahwanita:
Salam.
sabdalangit berkata
Ya memang betul, sedih lembaran ilmu berkurang satu saudaraku Mujahidahwanita.wordpress
semoga tiada kabar yg kurang baik.
Saya berdoa semoga Gusti Allah selalu memberi keselamatan, perlindungan dan anugrah kepadamu dan keluarga.
salam sejati
Eddy berkata
Ass Wr Wb
Pj, mohon petunjuk apakah dalam menundukkan hawa nafsu akan lebih efektif bila dilakukan bersama dengan puasa senin kamis, pertengahan bulan, atau dengan puasa dawud ? dan apakah semua puasa itu harus dengan mursyid ? Jazakumullah
pengembarajiwa berkata
@Eddy Purwanto
Wa’alaikum salam Wr,Wb
Puasa adalah melatih diri dalam mengendalikan Hawa Nafsu. Karenanya sangatlah baik sekali jika ingin lebih Efektif di sertai dengan Puasa. Dan Puasa apa saja itu semua baik dan bermanfa’at semuanya tergantung dari pada Niat. Akan tetapi hendaknya berpuasa sesuai dengan tuntunan yang di ajarkan oleh Rosulullah Saw.
Dan adapun Puasa itu tidak harus dengan Mursyid, karena Puasa itu hanya Bagi Allah semata. Sehingga silahkan berpuasa dengan Niat yang benar dan di Ridhoi Allah Swt. Semoga Allah memberkati dan Meridhoi Anda.
Wassalam
Pengembara Jiwa
Purnomo berkata
salam kenal wahai saudaraku PJ !!!!!!!!!!! mohon penjelasan apakah orang yang menjalani rukun islam lagi ( sholat, zakat, puasa dan haji )?
Purnomo berkata
Ralat :
maksud saya apakah orang yang berma`rifat tidak perlu lagi menjalani rukun islam seperti sholat 5 waktu, zakat, puasa dan haji ?
kalo anda di borneo dimanakah posisi anda ?
mohon pencerahannya !!!!!!!!!!!
pengembarajiwa berkata
@Purnomo
Saudaraku……
Ma’rifat itu adalah salah satu pengetahuan Ilmu dari pada Ilmu Allah Ta’ala yang di dalam Islam di sebut dengan AROFA (Kenal). Sehingga Ma’rifat itu berarti suatu pengetahuan Ilmu dalam Mengenal akan Allah. Adapun Rukun Islam itu adalah Ibadah dalam pengabdian seseorang kepada Allah, dan itu adalah suatu keharusan. Akan tetapi untuk lebih sempurnanya dalam Ibadah mengabdikan diri kepada Allah tentunya haruslah mengenal akan Allah terlebih dulu dan itu adalah MUTLAK. Bagaimana mungkin menghadap kepada Allah sementara diri tidak mengenal akan Allah, bagaimana mungkin menuju kepada Allah sedangkan tidak mengetahui jalan2 untuk menuju kepada Allah. Tentu tanpa Pengenalan akan Allah dan mengenal akan jalan2 menuju kepada Allah, Ritual/Ibadah apapun yang di lakukan akan terasa Hampa.
Tetapi begitu seseorang sudah mengenal jalan2 menuju Allah dan mengenal akan Allah tentunya rukun Islam itu akan tetap terpelihara dan bahkan lebih sempurna pemeliharaan bagi mereka yang Ariif (mengenal akan Allah) itu dari pada mereka yang semata2 menjalan kan Rukun Islam tetapi tidak mengenal akan Allah.
Jadi kesimpulannya, bagi mereka yang berma’rifat tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mematuhi Rukun Islam seperti Sholat, Puasa, Zakat dan Haji. Bahkan melebihi kepatuhan dari pada mereka yang tiada ber Ma’rifat.
Posisi saya di Borneo tepatnya di Kalimantan Timur (Balikpapan)
Terimakasih.
Wassalam
Pengembara Jiwa
Purnomo berkata
Assalamu`alaikum Wr Wb.
Selamat Pagi dan salam sejahtera Saudara!!!
Saudaraku PJ yang terhormat, dlm benak saya timbul pertanyaan yg byk dan mbulet yg sulit sekali saya pecahkan sendiri (maklum ketrbatasan saya hanyalah seorang yg bodoh dan hina), Mas PJ yg ingin saya tanyakan adalah :
1. Bagaimana menjadikan ibadah kita supaya tdk terasa berat dan terpaksa, sikap apa yg hrs ditanamkan dlm keinginan rasa agar semua ibadah yg kita jalani tdk terasa berat dan tdk selalu berharap imbalan (contohnya sembah raga yg berupa: Sholat dan puasa)???
2. Mas PJ yg terhormat yg mohon kiranya sudi menjelaskan apakah ati Sholat yg sebenarnya!!!!
3. Pertanyaan saya yg ketiga Mas PJ, saya pernah diajak teman saya menemui orang pinter dan org pinter tsb berkata ” kalau kamu sholat hanya 5 kali sehari tp sholatku 1 X 24 jam ” apa maksudnya mas PJ dan bagaimana caranya agar bisa sampai ketingkatan itu????
4. Ada sebagian org pinter berkata Sholawat = Sholat, apa maksudnya Mas PJ ????
Nuwun… Atas penjelasan njenengan, saya ucapkan byk2 trma kasih. (harap dimaklumi aja mas msh belajar mengenal diri jd kebanyakan bingungnya drpd ngertinya)
Semoga Bantuan yg mas sampaikan kpd saya dicatat oleh Allah SWT dan dijadikan karunia yg berlimpah buat anda…
Wassalam…
pengembarajiwa berkata
@Purnomo
Wa’alaikum salam Wr,Wb….
Ma’afkan saudaraku Purnomo, jika sekarang baru sempat balas komentarnya…….
Hmm……
Semoga apa yang anda pertanyakan, dapat terjawab sesuai dengan pemahaman yang ada pada diri anda…..Dan semoga Allah Swt membimbing dan memberikan kemudahan bagi saya untuk sedikit memberikan masukannya kepada Anda, sebab saya pun sama dengan Anda tidak ada pengetahuan sedikitpun melainkan semuanya kembali kepada Pengetahuannya Allah Swt.
Saudaraku Purnomo…
Jawaban dari pertanyaan Anda, adalah :
1. Di dalam Ibadah memang kebanyakan Manusia tanpa di sadari berjalan dengan didasari keterpaksaan…..walaupun sebenarnya ia sendiri tidak menyadarinya. Tetapi jika di renungkan lebih dalam dan di telaah dengan seksama maka akan ketahuan lah bahwa apa2 yang dilakukannya dalam Ibadah itu semuanya dalam keterpaksaan. Jika manusia beribadah dengan tujuan akan suatu pengharapan dan agar terbebas dari segala penderitaan/siksaan maka di pastikan itulah ibadah yang di paksakan. Karena harapan Pahala dan Surga ia beramal ibadah, maka itu adalah keterpaksaan….. karena takut akan dosa dan Neraka itupun adalah keterpaksaan….. kenapa demikian..???? karena tujuannya semata2 karena ada sesuatu di balik Amal Ibadah tsb. Seandainya….. Allah tidak menjanjikan Pahala dan Syurga, dan tidak memberikan informasi tentang Dosa dan Neraka…, apakah ia akan masih tetap beribadah..????
Jadi keutamaan amal ibadah itu adalah, apabila di dasari Pengenalan akan Allah dan tumbuhnya Mahabbah (Cinta ) kepada Tuhannya. Maka jika ini di jadikan tujuannya dalam Ibadah… maka di pastikan ia akan menjalani Amal Ibadah itu dengan senang hati dan lapang dada serta tidak protes kepada Tuhannya. Ikhlas Sabar, Tawakkal dan Ridho terhadap ketentuan2 Tuhannya. Inilah…..Ibadah dalam Hidup Nikmat dan Hidup Nikmat dalam Ibadah. Karenanya untuk masuk dalam ketulusan dalam amal ibadah bahkan juga apapun yang dilakukannya di luar amal ibadah syaratnya adalah Ma’rifatullah (mengenal akan Allah dan CINTA kepada Allah sehingga akan di jalaninya hidup ini dengan penuh suka cita dan rasa syukur karena telah di karunia Nikmat yang begitu banyak kepada dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki zahir dan batin. Maka tiada lagi baginya keterpaksaan dalam menjalani hidup meliputi amal ibadah dan di luar Amal ibadah.
2. Sholat itu banyak sekali pemahamannya…. dan yang terbanyak memahami akan Sholat artinya adalah Do’a. Padahal Sholat itu bukanlah permohonan, melainkan pengabdian diri dalam keleburan dirinya ke dalam Mahabbah (cinta)nya kepada Allah Swt. karenanya sebenar2nya Makna Sholat itu adalah….. ke lekat an/kesinambungan/kedekatan dirinya dengan Tuhannya. Dengan di dasari oleh Ma’rifatullah dan Mahabbatullah. Nah… ketika mereka Sholat, dinyatakan oleh baginda Nabi dengan sabda : “Sesungguhnya Sholat itu adalah Mi’roj orang2 mukmin. Mi’roj = Naik = berjumpa = Mahabbah = Lekat/bersatu dalam Rahsa Cinta Sejati. Itulah makna dari pada Sholat yang sebenar2nya, bukan hanya sebatas mengerjakannya karena menggugurkan kewajiban semata.
3. Yang di maksud dengan Sholat 1 x 24 jam itu adalah Sholatun Da’imuun (Sholat yang tiada putus2nya, setiap waktu dari buka mata sampai tutup mata kembali),dan itu semua akan di dapatkan sebagai Anugrah baginya jika telah memahami dan lebur di dalam Ma’rifatullah. Akan tetapi…. mereka yang telah masuk dalam Sholatun Da’imuun tadi bukan berarti mereka tidak menegakkan yang 5 waktu, mereka tetap menegakkan 5 waktu tetapi tidak dilihat oleh orang lain kalau ia telah menegakkan 5 waktu, karena bukan zahirnya yang menegakkan tetapi Batinnya lah yang menegakkan. Padahal ia senantiasa tidak ketinggalan dalam 5 waktunya….. walaupun secara Zahirnya ia kelihatannya tidak mengerjakannya. Inilah yang terkadang terjadi Polemik dalam kehidupan orang2 Ma’rifat….. karena secara mata zahir ia tidak mengerjakannya… padahal ia tetap menunaikannya bukan secara tubuh zahir tetapi secara tubuh Batinnya sehingga bagaimana orang awam bisa melihat kalau ia Sholat..????
4. Sholawat dalam bahasa Arab disebutkan dengan kata2 Shollaa/Sholluu/Shollii…/Asholaatu
Dan Sholat pun ada beberapa kalimat dalam bahasa Arab berbunyi dengan Shollii/Sholluu/Asholaatu…
Silahkan di renungkan….
Dalam Suatu Sholawat berbunyi…. ” Allahumma Shollii Ala Sayyidina Muhammad”
Dalam Niat Sholat di katakan…….. ” Ushollii…Fardhol Maghribii….. dst”
Dalam Hadits berbunyi……………… ” Sholluu kama ro’aitumuuniii Ushollii….”
Allah berfirman…tentang Sholawat… ” Innallaha wa malaa’ikatahu yu Sholluu na Alannabii… Yaa Ayyuhalladziina aamanu Sholluu alaihi wasallimuu tas liimaa…”
Dalam suatu Hadits di katakan…… ” Qif.. Yaa Muhammad, Aa lana Robbika Yu Shollaa…..”
Dalam Hadits tentang Sholat……… ” Asholaatu Mi’roojul Mu’miniiin”
Dalam Sholawat di katakan……….. ” Asholaatu wassalamu Alaa Sayyidiina… Muhammad……dst”
Kesimpulannya adalah……. Sholat itu adalah pengabdian kepada Tuhan melalui Sholawat kepada Rosulullah Saw dengan di nyatakan melalui Gerakan Sholat.
Karenanya dalam Tasawuf dinyatakan bahwa orang yang melaksanakan Sholat itu mencerminkan dari pada Sholawat kepada Rosulullah Saw sebagai Wasilah menuju Allah Swt. Buktinya ada pada Gerakan Sholat itu :
Pada Waktu Qiyam/berdiri——> melambangkan dari pada huruf “Alif”
Pada waktu Ruku’—————-> melambangkan dari pada huruf “Ha”
Pada waktu Sujud—————-> melambangkan dari pada huruf “Mim”
Pada waktu duduk Tahyat——> melambangkan dari pada huruf “Dal”
Alif———->Ha———>Mim———–>Dal *menjadi* “AHMAD”
Dan Ahmad itu adalah Batinnya Muhammad Saw, yang disebut juga dengan Nur Muhammad.
Semoga bermanfa’at baik untuk diri saya sendiri dan untuk kita semuanya….. Allah menurunkan Hidayah-Nya kepada siapa2 yang di kehendaki…. Aaamiin.
Wassalam
Pengembara Jiwa
@sally
Salam kenal kembali…..
Dalam menempuh Ma’rifat tidak hanya sekedar dengan amalan2 zikir, melainkan yang terlebih penting adalah mempelajari Ilmu tentang Pengetahuan akan Allah. tetapi Zikir2 tertentu juga bermanfa’at untuk sebagai washilah dalam pencucian Hati agar menjdi bersih dan suci sehingga lebih memudahkan dalam memahami dan memaknai Pengenalan akan Allah.
Wassalam
Pengembara Jiwa
sally berkata
salam, mas pj, apakah saya perlu mengamalkan zikir2 tertentu untuk mencapai tahap makrifat?
makasih.
pengembarajiwa berkata
@Sally
Salam kembali….
Silahkan Amal zikir apapun yang sesuai dengan Qur’an dan Al-Hadits, tetapi yang perlu di ketahui adalah.. untuk sampai kepada tahapan Makrifat itu adalah Anugrah Allah yang di dasari oleh Ikhlas, Sabar, Tawakkal dan Ridho dalam menjalan kan Amal Ibadah. Tanpa Ikhlas, Sabar, Tawakkal dan Ridho… maka bagaimana mungkin bisa mengharapkan Anugrah Allah berupa Makrifat..sedangkan Jiwa masih dalam kekotoran. Dan pembersihnya adalah Ikhlas, sabar, tawakkal dan Ridho sedangkan Alatnya adalah Zikir.
Wassalam
andri.adi berkata
Assalamualaikum wr wb…
bang tambah lagi…..
asik banar mendangarnya…
pengembarajiwa berkata
@Andri.adi
Wa’alaikum salam Wr,Wb….
Hmm…hmm…hmmm…
dedy muller berkata
Apakah ma’rifat itu dapat diperoleh diluar ajaran Islam (dicontohkan oleh Nabi Muhammad) seperti di agama semit lain atau ajaran spitual dari India (Hindu, Budha) ,cina(tao) atau ajaran lokal seperti kejawen ?
pengembarajiwa berkata
@Dedy Muller
Mas Dedy….Tentunya Allah itu adalah Tuhan yang Esa dan ke Maha Besaran-Nya meliputi sekalian Alam dan meliputi setiap Agama apapun. Allah lah yang menguasai tiap2 segala sesuatu, sehingga tiada yang mustahil bagi siapapun untuk mendapatkan Ma’rifat itu, jika Allah sudah menghendaki-Nya. Dan jika Allah menghendaki bagi seseorang untuk mendapatkan Anugrah berupa Ma’rifat, maka Allah akan menuntun serta membimbing jiwa2 mereka kepada Nur-Nya dan yang pada Akhirnya akan membenarkan serta mengimani “Islam Indallah” sebagai pedomannya….
Ya…ya…ya… “Islam Indallah” bukan “Islam Indannass”
Kangdudung berkata
Ass..
Ikut sharing,
Sepanjang pengetahuan saya, mari’fat itu bisa saja ada diluar tradisi Islam, tapi paling puncak hanya sampai sebatas alam sifat, yakni Hayah Allah yang oleh tradisi hindu disebut Atman, dalam tradisi Budha (Zen Avesta) biasa disebut Tao.Dalam tradisi2 tersebut Hayah itulah yang merupakan Dzat Allah. Sementara dalam Islam Dzat Allah adalah Yang berbeda dari segala sesuatu, dan merupakan Misteri Mutlak. Tidak terdefinisikan, tidak ada rasa, atau lebih tepatnya berbeda dengan rasa2 yang telah dan mungkin diketahui, hanya bisa diibaratkan. Yang Dzahir sekaligus Bathin, Yang Awal sekaligus Akhir, Yang Diam sekaligus Sibuk. Tidak ada kata dan…, karena kata dan menunjukkan adanya jeda, adanya jeda menunjukkan adanya jarak, adanya jarak menunjukkan adanya ruang dan waktu, padahal Allah meliputi ruang waktu.
Allah dekat nggak menempel, Jauh nggak berjarak, apa sebutannya? kebingunan mutlak ! Yang ada hanya kelu…
lorMuria berkata
@Kangdudung
Menarik sekali ulasan Panjenengan tentang Puncak Ma’rifat agama selain Islam…
Bagamana penjelasan saudara tentang Puncak Ma’rifat dikalangan kejawen yang disebut dengan istilah “SUWUNG”?? apakah sama atau beda dengan “kelu” ???
mohon pencerahannya
Salam slumun slamet
Rahayu
Salam Kasih sayang Allah untuk Mas PJ sekeluarga
semesta jiwa berkata
Burung terbang dengan dua sayap…
Ruh melayang dengan dua dzikir: jahri dan sirri
pengembarajiwa berkata
@Semesta Jiwa
Burung terbang bebas melayang merdeka tak ada ikatan
Begitupun Ruh terbang dalam kemerdekaan Robb-Nya..
herman wahin berkata
salam kenal,
Awwaludin makrifatullah, dari “Dia” kembali pada “Nya” tebungkus lautan “Cahaya diatas Cahaya” Itu sebaik-baik tempat kembali.
pengembarajiwa berkata
@Herman Wahin
Salam Kenal kembali Mas Herman…..
Silahkan….dilanjut pencerahannya Mas’,
Kangdudung berkata
Ass..
Sahabat Lor Muria,
Dalam tradisi kejawen ada istilah “papat kalima pancer”. Secara jasadiah, kita manusia itu berasal dari unsur yang empat, yakni air, api, udara, dan bumi dan pancernya adalah cahaya matahari yang meliputi keempat unsur. Secara ruh, ada empat unsur yakni, Ilmu (termasuk sama’ dan bashar), hayah, kalam, dan qudrah-iradah. Keempat sifat ini merupakan pancaran dari Dzat yang wujud, qidam, mukholafatul lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniah.
Mengenai istilah kelu, secara esensi bisa jadi mirip dengan “suwung” tapi bisa juga tidak. Namun dalam tradisi kejawen ada istilah manunggaling kawula-gusti. Dalam alam kelu tidak ada istilah itu, karena sudah tidak ada kawula, jadi tidak ada kata manunggal karena yang ada hanya Gusti. Tiada yang maujud kecuali Allah, kemanapun kamu menhgadap disitulah wajah Allah. Bagaimana mungkin sesuatu yang wujud bisa manunggal dengan yang tidak wujud?
Yang bersaksi, menyaksikan, dan sisaksikan hakekatnya Allah saja.
Sahabat Lor Muria,
Semua wacana ilmu tidak akan memberikan manfaat apapun kalau tidak diiringi dengan rasa. Makanya kita harus terus bergerak menuju samudera rasa yang berbeda sama sekali dengan rasa2 yang pernah ada. Dalam samudera rasa di alam “kelu” tidak ada rasa sakit, sehat, sedih, kecewa, senang, bahagia, baik, buruk dan rasa2 lainnya.
Saya hanya bisa mengibaratkan, air hujan yang berasal dari samudera melalui proses sublimasi dibawa angin melalui awan dan turun digunung2. Dari gunung turun ke lembah-lemabah menuju sungai yang bergerak terus melalui desa2, kota-kota, dan terminal-terminal lainnya untuk kembali ke samudera. Apakah sama rasa air hujan, gunung, sungai dengan air samudera? Tentunya berbeda kan?
Silahkan sahabat Lor muria untuk menyimaknya…
lorMuria berkata
Ass. Kangdudung
Menarik penjelasannya..
….dalam tradisi kejawen ada istilah manunggaling kawula-gusti. Dalam alam kelu tidak ada istilah itu, karena sudah tidak ada kawula, jadi tidak ada kata manunggal karena yang ada hanya Gusti. Tiada yang maujud kecuali Allah, kemanapun kamu menhgadap disitulah wajah Allah. Bagaimana mungkin sesuatu yang wujud bisa manunggal dengan yang tidak wujud?
Yang bersaksi, menyaksikan, dan sisaksikan hakekatnya Allah saja.
—————————
menurut pemahaman saya istilah manunggaling kawulo-gusti awalya ada 2 unsur yaitu kawulo dan gusti. kemudian kawulo yang melebur kedalam gusti, melebur lenyap dan manunggal. manunggal artinya hanya Tunggal, jadi yang ada hanya kaTunggal-an, ke-ESA-an, yang ada hanyalah AKU. Yang bersaksi,menyaksikan dan disaksikan hakikatnya hanya satu AKU.
sedangkan ayat: kemanapun kamu menhgadap disitulah wajah Allah…
dsini malah masih ada 2 unsur yg belum manunggal, masih ada aku dan AKU, kamu/aku (yg menghadap) Allah (yg dihadap). Baru ketika aku yang menghadap ini melebur (FANA’fillah) dalam Liputan AKU hingga lenyap dan Kekal (BAQO’billah) maka yang ada Hanyalah AKU, Yang AHAD,Yang Tunggal, YAng MAHA ESA, Yang Maujud adalah hanyalah AKU.Yang bersaksi,menyaksikan dan disaksikan hakikatnya hanya satu AKU.
Hu Allah Al-Ahad, HuwalAwwalu walakhiru wadzahiru walbatinu Al-Qodimu mukholafatul lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi…
itu pemahaman saya ttg kemanunggalan…(antara bahasa jawa dan arab)
hanya saja yang dialami tiap orang mungkin berbeda / belum sepenuhnya mencapai seperti teori tsb, dan hanya mengira-ira /mengada-ada.
kalau ada yg salah mohon pencerahannya
wassalam
Kangdudung berkata
Ass..
Sahabat Lor Muria,
Seperti yang telah saya katakan sebelumnya secara esensi, mungkin antara alam “kelu” (istilah saya aja, bukan istilah arab) dan alam “suwung” bisa jadi sama, tapi bisa juga tidak. Jadi saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan sahabat, apabila manunggal itu terjadi dalam alam ahadiyah, yang berbeda hanyalah gradasi pemahaman dan apa yang dirasakan (pengalaman).
Saya hanya ingin sharing, bahwa pencarian manusia menuju Allah, kalau dianalisa itu bergerak melalui 4 tahap.
1. Tahap hamba menuju Allah
2. Tahap hamba beserta (dengan) Allah
3. Tahap hamba dalam Allah
4. Tahap hamba atas nama Allah
Kalau berbicara mengenai istilah manunggaling itu berada dalam tahap ke 2, sedangkan “kelu” atau “suwung” berada dalam tahap ke 3.
Alam Rasa berkata
Salam Kasih
Senyum dari hati untuk saudaraku Pengembara Jiwa dan ALL
@Kang Dudung dan Lor Muria
Perkenankan aku ikut sharing dalam diskusi yang menarik ini.
Dalam pernyataan Kang Dudung dijelaskan: “Semua wacana ilmu tidak akan memberikan manfaat apapun kalau tidak diiringi dengan rasa”. Apakah rasa itu? Ada banyak rasa yang kita alami, sehingga sering ada kerancuan dalam penggunaan istilah tersebut.
Pertama, ada “rasa” dari kelima indera fisik kita. Dengan pengertian ini kita “merasakan panasnya api”. Rasa ini bukan perasaan di hati melainkan di kulit, sebagai salah satu dari lima indera fisik kita. Dengan pengertian yang sama kita “merasakan pedasnya makanan”. Rasa di sini adalah rasa dari lidah sebagai indera pengecap.
Kedua, ada “rasa” dari saraf tubuh fisik kita, sehingga kita “merasa lapar”, “merasa haus”, “merasa nyeri”. Bila kita perhatikan dengan cermat tidak ada bagian dari 5 indera fisik kita yang dapat merasakan perasaan itu. Rasa lapar dan haus dapat kita rasakan karena ada organ dan saraf perasa di dalam tubuh fisik dan di luar 5 panca indera kita. Tetapi rasa-rasa seperti ini masih tetap merupakan rasa dari tubuh fisik kita, dan bukan perasaan dari hati.
Ketiga, ada “rasa” dari pikiran sehingga kita bisa mengatakan “merasa bosan menunggu” atau “merasa tidak senang” kepada seseorang. Rasa bosan itu lebih terkait dengan pikiran kita dan bukan perasaan hati yang sebenarnya.
Keempat, “rasa” dari emosi. Itulah yang dimaksud ketika kita “merasa marah”, “merasa benci”, atau “merasa sedih”. Rasa ini juga bukan perasaan dari hati, tapi dari emosi atau dari solar plexus, atau ulu hati. Apabila cukup memperhatikan, kita dapat merasakan bahwa setiap kali kita marah, atau mempunyai emosi negatif, apalagi secara berlebihan, ulu hati kita merasa tertekan. Emosi sangat sering disalah artikan sebagai perasaan hati. Pada umumnya, emosi adalah hal-hal jelek seperti: marah, benci, sakit hati, jengkel, tidak puas, iri, dengki, dsb. Jeleknya, setiap kali kita mempunyai emosi negatif, kita juga membuat kotoran di hati. Apabila tidak dibersihkan, lama kelamaan kotoran yang ada di hati kita menjadi menumpuk.
Kelima, “rasa” dari hati yang sebenarnya, adalah hal-hal baik yang muncul dari hati, seperti: kasih tanpa pamrih (seperti kasih seorang ibu kepada anaknya), tenang, damai, indah, bahagia, dsb. Semua perasaan yang muncul dari hati akan membuat hati merasa lebih ringan, mengembang, dan bahagia. Inilah ciri khas perasaan hati. Yang meledak-ledak kebanyakan adalah emosi.
Karena hati adalah pusat perasaan-perasaan baik dan indah, maka dengan sering menggunakan hati dalam setiap kesempatan, kotoran-kotoran yang telah ditumpuk sebelumnya akan berkurang.
Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dipenuhi oleh perasaan tenang, damai, bahagia, dsb. Dan sudah tentu berdoa dan sholat akan jauh lebih khusyuk dan indah. Hanya melalui kepasrahan total, serta bimbingan dan bantuan Allah SWT, hati akan dapat terbuka sehingga dapat menerima berkat/rahmat Cahaya dan Kasih-Nya dan terhubung kepada-Nya. Selanjutnya, silakan….”no comment”.
Demikian, sedikit sharing untuk menambah wawasan tentang arti “rasa”, mudah-mudahan dapat bermanfaat. Silakan dilanjutkan diskusinya.
Salam Asih, Asah, Asuh.
pengembarajiwa berkata
@Alam Rasa
Salam Kasih kembali untuk saudaraku Alam Rasa, Berkah Allah semoga senantiasa terlimpah atasmu wahai Saudaraku yang Arif.
Monggo…..Mas, di lanjutkan… Pencerahannya…!!!
Salam Hangat,
lorMuria berkata
@Alam Rasa
Makasih mas AlamRasa atas pencerahannya….saya setuju2 aja dengan pembagian Rasa diatas…
Sedikit saya menyambung dan memperjelas aja. Kalau rasa no 4 dan 5 itu sebenarnya ada pada Hati (Qolb).Hati yang pada tataran ini disebut yang bolak-balik (Qulub)/ mempunyai SIFAT berbolak-balik antara Sifat kebenaran dan Sifat kebatilan. karena Hati disetir oleh dua Kutub, pertama Kutub Nafsu dan kedua Kutub RUH. dan semua itu secara lahir timbul di Uluhati, RUH tepatnya secara ruhani timbul di Pintu Ruhul ‘Idhofi ya di uluhati.
Ketika Hati sudah tunduk kepada Ruh maka hati akan menerima Getaran2 dan Rasa Ruhani/Ilahiah, Getaran dan Rasa dari Sifat2 Allah.Sehingga timbul Kesadaran Ruhani/Ilahiah.
Sedangkan Hati yang tunduk kepada Nafsu maka akan menerima Getaran2 dan Rasa Sifat Syaitan yang batil. sehingga Kesadaran KeTuhanan tertutupi Sifat2 Syaitan seperti mudah emosi,rasa irihati,dengki,hasud,Ujub, Sombong dll.
Maka selama masih dalam Getaran, Rasa dan kesadaran Hati, belumlah kita bisa merasa aman, karena dalam SEKEJAB hati akan ber bolak-balik mengikuti NAKODA-nya. Itulah mengapa setiap diakhir rekaat Sholat Nabi berdo’a Yaa Muqollibalqulub tzabbit qolbi ‘alaa dinik.
Raihlah kesadaran Ruh, sebagai modal awal Ma’rifatullah
http://pengembarajiwa.wordpress.com/2008/12/30/kesadaran-akan-ruh-awal-mengenal-allah/
salam salam salam
Alam Rasa berkata
@Pengembara Jiwa
Semoga berkat/rahmat Allah menjadikan kita semakin mengasihi Allah, menjadi lebih dekat lagi kepada-Nya, dan semua yang kita lakukan menjadi semakin sesuai dengan kehendak-Nya.
@Lor Muria
Dalam pemahamanku rasa dari hati dan emosi itu berbeda. Hati (Qalbu) adalah pusat perasaan halus yang tidak dapat dilihat dengan mata, namun secara lahiriah terletak di tengah-tengah dada. Sedangkan rasa emosi terletak di ulu hati (di bawah dada). Cobalah perhatikan dengan seksama, ketika kita merasa bahagia, tenang, damai, kita merasakan bahwa dada (tengah-tengah dada)kita mengembang. Cobalah sentuh tengah-tengah dada kita, ada sensasi yang lndah di situ. Sebaliknya bila kita marah perhatikanlah ulu hati kita seperti tertekan.
(QS Al Hajj:46) maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
Pada beberapa ayat dalam Al Qur’an ada disebutkan tentang “menutup hati” atau “mengunci hati”. Dalam beberapa hadits juga ada disebutkan tentang “mengotori hati”. Ini dapat diartikan bahwa yang mengotori dan menutup hati adalah sesuatu yang dari luar hati bukan dari hati itu sendiri.
Demikian pula tentang Ruh kita yang berada di dalam hati kita dan secara lahiriah berada di tengah-tengah dada, bukan di ulu hati. Walaupun secara hakikat, Ruh kita selalu berada di Alam Ruh, namun karena Ruh tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, maka Ruh kita, berada di 3 tempat secara bersamaan, yakni: di Alam Ruh, di atas kepala kita, dan di dalam hati kita.
Demikian pemahamanku saudaraku Lor Muria. Dalam pengertian tentang hati kita agak berbeda ya? Tak apa, perbedaan adalah rahmat. Tapi aku sangat setuju tentang “Raihlah kesadaran Ruh, sebagai modal awal Ma’rifatullah”.
Salam Asih, Asah, Asuh.
truthseeker08 berkata
@Lor Muria & Alam Rasa
Semakin menarik dan mencerahkan diskusi anda (LM & AR) dengan Kang Dudung (KD).
Saya ada saran untuk membantu agar pemahaman kita akan istilah yang digunakan menjadi lebih terang.
1. Saya melihat ada keterbetasan bahasa (Indonesia) dalam menjelaskan arti “rasa”, krn bahasa Indonesia tidak membedakan Rasa (taste) dengan Rasa (feeling). Saran saya ketika masuk ke problem ini gunakan bhs lain (Arab atau english).
2. Kemudian juga ketika kita bicara hati maka lagi2 bahasa Indonesia terbentur. Ada hati secara fisik/materi ada hati yang non-materi. Pada istilah hati yang meteri pun bahasa Indonesia berbeda dg bahasa2 lain. Heart = Qalb, kita salah mengartikan sebagai hati (liver). Sehingga ketika saudara AR menyebut ulu hati saya agak bingung apakah yg dimaksud adalah ulu jantung (qalb)?, dan juga apakah istilah ulu hati dikenal oleh bangsa lain (universal)?.
3. Saudara AR mencoba membedakan antara emosi dengan hati. Menurut saya penjelasan dari LM telah cukup melingkup dan menjelaskan dan membedakan peran dari Jiwa dan Ruh.
Dalam pemahaman saya Emosi dan hati adalah satu kesatuan yang disebut dengan “perasaan”, yang mana di dalamnya termasuk perasaan yang positif maupun negatif. Sesuai dengan firman Allah bhw Jiwa mempunyai potensi kebaikan dan juga keburukan. Sedangkan Ruh hanya mempunyai potensi baik/benar yang kita sebut juga dengan Fitrah/Nurani. Fitrah dan Nurani adalah kumpulan dari nilai2 kebenaran.
Semakin dalam kita mengenali diri kita maka akan semakin jelas mana yang (hati) Nurani dan mana yang Hati (perasaan).
Wassalam
Alam Rasa berkata
@Truthseeker
Terima kasih atas sarannya. Memang dalam bahasa Indonesia istilah “rasa” digunakan secara umum, tidak dibedakan antara “taste” dan “feeling” (Bhs. Inggris). Oleh karena diskusi kita dalam bahasa Indonesia, maka aku mencoba mengelompokkan istilah “rasa” berdasarkan asal dari timbulnya “rasa” tsb, agar yang membaca tidak keliru menafsirkan tentang apa yang didiskusikan. Penggunaan kata “feeling” untuk menggantikan kata “rasa” yang dimaksud (rasa dari hati) juga masih kurang tepat, karena ada yang berasal dari pikiran kita.
Benar, Hati yang didiskusikan di sini adalah bukan “liver”, tapi Hati yang berada dalam rongga dada. Bukan jantung dan tidak dapat dilihat dengan mata, namun simpul energinya dapat dirasakan di tengah-tengah dada. Cobalah sentuh tengah-tengah dada kita dengan satu atau dua jari tangan. Bagaimana rasanya?
Sedangkan tentang ulu hati yang kumaksud adalah ulu hati yang memang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari kita (bukan ulu jantung). Emosi mempunyai simpul energi di sekitar ulu hati (di bawah dada dan di atas perut, agak ke kiri). Agak sulit menjelaskannya karena perlu digambarkan.
Ok, aku sependapat bahwa Jiwa mempunyai potensi kebaikan dan keburukan. Tentang Ruh, sebenarnya Ruh kita masih belum sempurna, karena masih harus belajar untuk dapat kembali kepada Allah. Ya benar, semakin dalam kita mengenali diri kita, maka akan semakin jelas mana yang (hati) Nurani dan mana yang Hati (perasaan). Sebagaimana dinyatakan oleh Mas Lor Muria, “Raihlah kesadaran Ruh, sebagai modal awal Ma’rifatullah”.
Kalau boleh aku urutkan agar mudah dipahami, dalam rongga dada terdapat Hati, dalam Hati terdapat Ruh, dalam Ruh terdapat Sir dan Hati Nurani. Hati Nurani inilah yang merupakan bagian terdalam atau dapat dikatakan inti dari Hati itu sendiri, yang merupakan percikan dari Dzat Illahi, yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun, sehingga selalu murni.
Salam Asih, Asah, Asuh.
Kangdudung berkata
Ass..
Sahabat Alam Rasa, Lor Muria, TS 08 dan lainnya…
Paparan mengenai “rasa” tersebut memang merupakan wacana yang mencerahkan dan didalamnya terdapat mutiara2 hikmah yang amat berharga bagi yang dapat memetiknya. Terimakasih semuanya….
Ada ungkapan, Ketaatan tanpa ilmu adalah ngawur, Ilmu tanpa amal adalah hampa, Amal tanpa ikhlas fatamorgana, Ikhlas tanpa tauhid adalah keterhijaban.
Hanya renungan : “seseorang mengetahui (ma’rifat) tentang sifat-sifat gula yang putih, berbutir kecil-kecil, dan rasanya manis” dia hanya sebatas mengetahui tanpa mencicipi…. Pada suatu ketika dia dihadapkan dengan satu sendok garam… dan berdasarkan ilmunya itulah gula, karena berwarna putih dan berbutir kecil-kecil, kemudian dia mencicipinya dan ternyata menurut persepsinya “manis”. “Manis” disini bukanlah manis yang sebenarnya karena dia mencicipi garam yang asin.
Nah, rasa ma’rifat yang sebenarnya yang harus dicari dan dirasakan….., itulah mengapa saya mengatakan banyaknya wacana ilmu tanpa dibarengi dengan rasa adalah hampa… Apa bedanya dengan keledai yang membawa kitab2 dipunggungnya? tidak ada manfaat apapun, yang ada hanya jadi beban…
Ma’af ini hanya renungan nakal doang…he he he, jangan diambil hati yaa…
Wassalam…
wawansyah17 berkata
@All
Sungguh menarik sekali diskusi para Sahabat semua. Saya hanya mengingatkan saja bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :
“Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali sesuai dengan sunnahku”
Wassalamu’alaikum…
Kangdudung berkata
Ass…
Sahabat Wawansyah,
Saya sepakat sekali dengan uraiannya. Makanya, saya selalu menekankan “rasa” itu untuk mengimbangi wacana ilmu. Rasa disini harus dikejar dengan amal yang sesuai syari’ah (lahir dan bathin)Islam dan dizikir yang terus menerus tiap saat, agar rasa ma’rifat benar2 merupakan rasa yang sebenarnya. Tauhid harus dirasakan dengan penyaksian bukan hanya ucapan dan pemahaman saja.
Meskipun ma’rifat bisa dikejar dengan ilmu2 lainnya dluar Islam, tapi yakinlah bahwa itu hanya sebatas ilmu, mengenai “rasa” nya jauh berbeda, seperti kasus orang yang mencicipi gula tersebut.
Renungan : “Ada empat orang datang kepantai untuk menikmat cahaya matahari disuatu pagi. Keempat orang tsb memakai kacamata yang berbeda2, yang satu kacamata hitam, yang lainnya ada yang pakai kacamata kuning, merah, dan bening. Coba tanyakan suasana alam dipantai tsb, pasti jawabannya berbeda2 sesuai kacamata yang dipakainya. Manakah diantara semuanya yang mendekati rasa yang sebenarnya? tentunya yang berkacamata bening.”
Sahabat semua, selamat mencari rasa yang sebenarnya, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, Amin.
Wassalamu’alaikum
lorMuria berkata
Alhamdulillah…
Alam Rasa berkata
Ass.
Terima kasih untuk semua saudaraku, Truthseeker, Lor Muria, Wawansyah, dan Kang Dudung, yang telah saling mengisi dan mengingatkan dalam diskusi ini. Dan juga untuk Pengembara Jiwa yang telah menyediakan Blog yang sejuk ini untuk berbagi kasih. Semoga Allah senantiasa memmbimbing kita semua untuk semakin dekat lagi kepada-Nya. Amien.
Oya, maaf Mas TS08, aku merasa agak geli kalo Kang Dudung disingkat KD. Soalnya jadi inget artis KD yang mantan istrinya Anang itu lho. Maaf becanda..he.he.
wawansyah17 berkata
@All
Assalamu’alaikum…
Subhanallah, sungguh indah kebersamaan dalam perbedaan mengenai “rasa” yg diuraikan oleh sahabat Alam Rasa, Truthseeker, Lor Muria dan Kangdudung yang telah saling berbagi ilmu. Menurut saya apabila dihubungkan dgn rasanya gula, sudah pasti jawaban setiap orang yg sehat akan mengatakan manis rasanya, walaupun bentuknya berbeda. Demikian juga dgn rasa hati (Qalb) dlm beragama untuk mengenal Tuhannya (Ma’rifatullah) dgn jalan syari’at, tharikat dan hakikat yg bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, semestinya setiap Muslim sama pemahamannya, seperti orang sehat merasakan manisnya gula tsb. Yg membedakan pemahaman mengenai agamanya, hanyalah kwalitas ilmu dan iman seseorang.
Kangdudung, setelah saya merenung…jika pemisalan rasa diibaratkan dgn kacamata yg bermacam-macam, tentu saja setiap orang akan berbeda pandangannya. Hanya yg berkaca beninglah yg akan merasakan pandangan yg sebenarnya. Disini saya ibaratkan kaca mata yg bening adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya yg wajib dikaji dan ditelaah dgn akal yg sehat, maka akan melahirkan ilmu yg benar. Ilmu yg benar akan melahirkan pemahaman yg benar. Setelah pemahamannya benar, maka seluruh amal ibadahnya dlm memahami agama akan benar pula. Maka akan ditemukanlah kebenaran yg hakiki sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Itu hanya pendapat saya saja yg mesti dibenarkan lagi. Semoga Allah swt memberikan jalan hidayah dan petunjuk-Nya kepada saya dan semua Sahabat yg hadir di Pondok yg penuh berkah ini. Amin yaa Rabbal’alamin.
Wassalamu’alaikum…
truthseeker08 berkata
@Alam Rasa
Saudara AR, ketika juga kita bicara mengenai rasa maka kita harus pilah lagi menjadi lebih detil, yaitu ada sebagai akibat (tenang, damai, bahagia, nyaman, gembira, sedih, stress, galau, gamang, dll) ada juga sensor rasa itu sendiri.
Ternyata yang mebedakan respon rasa (akibat) bagi setiap orang bukanlah pada penyebabnya namun lebih pada respon rasa itu sendiri. Dua orang yang berbeda mengalami/melakukan hal yang sama bisa menghasilkan respon yang berbeda. Misalnya, ada yang merasa damai ketika berdzikir namun ada juga yang gelisah. Yang membedakannya keduanya adalah sensor rasa. Semakin bersih qalb/jiwa (sensor) seseorang maka semakin nyaman dia ketika diajak untuk berbuat baik & benar, dan sebaliknya mereka yang “suci” ini akan tidak nyaman ketika berbuat salah/buruk.
Ketika kita tidak memahami ini maka kita akan terjebak pada fokus yang salah. Tidak sedikit mereka yg terjebak untuk fokus pada akibat, padahal akibat hanya akan terjadi jika sebab2nya terpenuhi. Fokus pada akibat hanya akan mendatangkan kekecewaan.
Jadi semua yang dikeluarkan (produk) dari qalb adalah rasa. Sensor (qalb) yang baik (bersih) akan selalu menghasilkan rasa yang positif. Dengan begitu proses kita manusia bukanlah proses bagaimana untuk menjadi bahagia, namun lebih pada proses bagaimana supaya qalb/sensor ini bersih/bersinar bagaikan berlian yang memantulkan cahaya2 yang indah. Berlian juga selain indah, mulia, memantulkan cahaya, juga kuat. Sehingga menjadi suatu keniscayaan lah pada qalb/sensor yang berlian akan dihasilkan kebahagiaan, kedamaian, ketenangan.
PS: Semoga Kang Dudung ridha dengan KD-nya…
Wassalam
Alam Rasa berkata
@Sahabat Truthseker08
Benar sekali yang dinyatakan oleh sahabat, bahwa “akibat hanya akan terjadi jika sebab2nya terpenuhi”. Demikian pula suatu “rasa” akan timbul bila ada penyebabnya. Rasa panas timbul bila ada api, sensornya kulit, dan diterjemahkan oleh otak. Rasa lapar, haus, timbul karena “auto control” sistem pemeliharaan tubuh. Rasa bosan timbul karena ada harapan di fikiran (otak) yang belum terpenuhi. Itu semua rasa yang timbul karena adanya suatu penyebab yang diterima oleh sensor tubuh fisik dan diteruskan ke otak, dan berhenti di otak, karena otak sudah mengerti solusi dan “respond” yang harus dilakukan.
Bagaimana dengan rasa marah, benci, sakit hati, jengkel, tidak puas, iri, dengki, dan emosi negatif lainnya? Rasa ini timbul karena adanya suatu penyebab yang juga diterima oleh indera fisik kita dan diteruskan ke otak. Namun tidak berhenti hanya sampai otak, karena otak tidak mengerti, hingga harus diterjemahkan ke sensor rasa yang lebih dalam, yakni “Emosi”. Dan pusat perasaan emosi ini ada di sekitar ulu hati kita (tidak berbentuk fisik).
Bagaimana dengan perasaan tenang, cinta, damai, dan bahagia? Rasa ini timbul karena adanya dua penyebab. Pertama, yang diterima oleh indera fisik kita, diteruskan ke otak, dan diterjemahkan lagi ke sensor rasa yang lebih dalam lagi, yakni “Hati”. Hati merupakan sensor pusat perasaan halus, dan baik, yang terletak di dalam (tengah) rongga dada kita (tidak berbentuk fisik).
Kedua, rasa yang timbul berkaitan dengan “Ma’rifatullah”. Rasa ini timbul tidak melalui indera fisik dan otak kita, melainkan langsung diterima oleh “Hati” yang bersih dan terbuka lebar.
Benar sahabatku Truthseeker, yang terpenting adalah bagaimana supaya qalb/sensor ini bersih/bersinar bagaikan berlian yang memantulkan cahaya2 yang indah. Berlian juga selain indah, mulia, memantulkan cahaya, juga kuat. Sehingga menjadi suatu keniscayaan lah pada qalb/sensor yang berlian akan dihasilkan kebahagiaan, kedamaian, ketenangan.
Cara terbaik dan termudah untuk membersihkan Hati kita hanyalah dengan mengandalkan
berkat dan rahmat Allah. Jadi hanya dengan berdoa memohon kepada Allah agar hati kita diberkati dan kotoran yang ada di hati beserta sampah-sampahnya dikeluarkan dari hati kita. Sebaiknya dalam berdoa, kita mohonkan dan disebutkan satu persatu semua emosi negatif kita dan juga kesalahan-kesalahan kita, memohon ampun dengan sungguh-sungguh, dan memohon dengan setulus-tulusnya.
Disamping itu, Solat, berzikir, dan berdoa sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, menyikapi semua persoalan dalam kehidupan sehari-hari dengan keihlasan dan rasa syukur, menyadari bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik kepada kita semua, serta berbuat baik kepada sesama dan semua mahluk hidup, dlsb. Namun semua itu, memang tidak semudah kata-kata, diperlukan Ilmu yang mendalam, keinginan belajar yang terus menerus, dan yang paling penting adalah bimbingan dan hidayah-Nya.
Terima Kasih, sahabatku Truthseeker08 atas masukannya. Semoga Allah selalu membimbing kita semua dalam “Shiratal Mustaqim”. Amien.
wawansyah17 berkata
@All
Assalamu’alaikum…
Ikutan sharing,
Ma’rifatullah diluar Islam memang ada, karena setiap agama samawi yg diturunkan ke muka bumi mengajarkan tentang Tauhid. Namun dalam perkembangan sejarahnya, semua agama samawi tsb diakhiri (ditutup) dgn risalah Islam yg dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Maka dari itu, setiap agama diluar Islam semua amal-amalan para pemeluknya tentang Ma’rifatullah ibarat fatamorgana, ini ditegaskan dalam firman Allah;
“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya” (QS.An-Nuur :39)
Wassalamu’alaikum…
siliwangi berkata
pemahaman tentang Allah itu hanya dibahas sampai pada titik johar awal saja sedangkan keatasnya putus tak ada yang mengetahuinya selain Allah sendiri.Setahu saya semua ajaran memiliki jalan dalam proses mengenal Sang Pencipta Alam Semesta hanya saja memang islam diberikan kemudahan/akses dalam proses mengenal Sang Pencipta/Allah lebih cepat dari yang lain ( contoh Mi’rajnya Rosululloh SAW ).
Tak ada yang tahu sejatinya Allah karena Allah tertutup oleh Alam laesakamislihi.
Pahami sifat 20 yang melekat pada diri , setelah sifat itu terbuka maka semua rahasia akan terkuak.
Salam Hormat saya untuk semuanya
Mujahid wanita berkata
Senang rasanya melihat abang siliwangi kembali memberikan pencerahan….
Selamat datang di gubuk PJ ini bang, kami di sini menunggu pencerhan2 berikutnya dari abang….
Salam Hormat kembali…
pengembarajiwa berkata
@Siliwangi
Alhamdulillah…….
Lama tak Jumpa akhirnya Allah mempertemukan saya kembali dengan saudaraku Siliwangi.
Silahkan….., Mas Siliwangi di cicipi MENU yang telah tersedia dalam Pondok ini, dan semoga tak berkeberatan untuk berbagi pencerahan di dalamnya.
Salam Ta’zim
Salam Ta’lim
Kangdudung berkata
Ass..
Sahabat semua,
Dalam teori quantum, istilah materi sudah tergantikan dengan energi, dimana dalam struktur terkecil materi (quark) ternyata materi itu tidak terdeteksi lagi, karena ada dan tiadanya itu tergantung si pengamat. Jadi yang maujud adalah si pengamat! sementara alam semesta semuanya (musnah) hanyalah tafsiran dari penglihatan (penyaksian)si pengamat, bukan ada yang sebenarnya ada. Masalahnya siapakah yang melihat atau menyaksikan? Pada tahap awal dikatakan mata yang melihat, benarkah? bukankah kalau tak ada proses molekuler dari mata ke otak tidak akan terjadi pencerapan penglihatan? Kalau begitu otak yang melihat, benarkah? Bukankah segala simpton inderawi itu nantinya diterima oleh suatu benda di otak yang gelap? mana mungkin yang gelap bisa menafsirkan (menyaksikan) sesuatu, untuk memantulkan saja tidak akan mampu. Kalau begitu siapa yang melihat? dalam ilmu tasawuf yang melihat itu adalah siapa yang berada dibalik otak yakni hati,. Tapi benarkah hati? ternyata dengan cara yang sama seperti kasus mata dan otak di atas ada di dalam hati ada yang menyaksikan yakni ruh, di dalam ruh ada yang menyaksikan yakni sir, di dalam sir ada yang menyaksikan yakni sir al asrar… dan “mata-mata” lainnya sampai…… terbuka oh.. ternyata yang bersaksi, menyaksikan dan disaksikan hanyalah Allah semata. Tiada yang maujud kecuali Allah… ruh “Insan Kamil” hanyalah tabir (hijab) terakhir-Nya ….
Salam..
wawansyah17 berkata
Assalamu’alaikum…
Saya tertarik sharing antara sahabat Lor Muria dan Kangdudung dgn istilah tradisi kejawen ada istilah “papat kalima pancer”.
Sepengetahuan saya istilah tsb adalah panca indera manusia yg terdiri dari rasa zhahir dan bathin. Papat yaitu empat rasa zhahir diantaranya penglihatan, pendengaran, penciuman dan emosi (ego). Kalima pancer yaitu Nafs (Rukh). Dan saya menamakan hubungan ini dgn hubungan sebab akibat antara zhahir dan bathin. Zhahir yang disaksikan ini keberadaannya tegak atas dasar bathin. Dan meskipun pada dasarnya bathin juga tersaksikan, tapi kita tidak melihatnya. Ketika kita menyaksikan zhahir, bathin juga secara aktual tersaksikan oleh kita.
Jika seseorang penglihatan bathinnya terbuka, maka tidak mungkin penyaksian zhahirnya tidak membawanya pada penyaksian bathin; sebab wujud zhahir tidak lain merupakan bentuk dan gambaran dari wujud bathin. Jadi zhahir itu adalah bathin yang bertajalli dan memanifestasi. Karena itu, dengan penyaksian alam materi ini secara zhahir, maka bathin juga tersaksikan.
Zhahir adalah batasan bathin. Pada hakikatnya alam bathin terbatasi dengan alam zhahir. Jika seseorang mampu dgn mujahadah nafs memecahkan batasan ini dan tidak menghiraukannya maka dia niscaya akan menyaksikan bathin dari alam ini. Sebagaimana nafs mempunyai kesatuan dengan badan, maka di satu sisi nafs memandang dirinya adalah badan itu sendiri. Namun ketika badan dari jalan penginderaannya menyaksikan nafs maka dia menyangka dirinya terpisah dari nafs, dan ketika persangkaan ini mengambil bentuk maka nafs berhenti pada tataran badan dan melupakan tingkatannya yang tinggi. Tingkatan tinggi setiap orang adalah alam mitsal dan alam akalnya. Dan nafs, ketika melupakan suatu tingkatan dari tingkatan-tingkatannya maka dia akan melupakan juga kekhususan-kekhususan yang terkhususkan tingkatan tsb dan alam yang terkhususkan untuknya; akan tetapi pada saat yang sama dia tetap menyaksikan inniyyah dan hakikat dirinya, yakni egonya. Penyaksian ini adalah daruri dan tidak dapat terpisahkan.
Oleh karena itu, dengan terputusnya ego dari badan maka tidak terdapat lagi tirai penghalang (hijab). Berdasarkan ini, jika seseorang kembali kepada nafs dan hakikat dirinya dengan ilmu dan makrifat serta amal baik, niscaya hakikat nafs, tingkatan-tingkatannya, maujud-maujud dan rahasia-rahasia bathin alam akan dia saksikan. Demikian menurut saya, kalau ada yg salah tolong dikoreksi.
Wassalamu’alakum…
aburahat berkata
Ass. alaikum W.W
Selamat ketemu kembali. Insya Allah semua dalam keadaan sehat wal afiah dan makin mendalam pengetahuan tentang MA’RIFATULLAH.
Dalam kesempatan ini saya ingin pendapat teman2 sekalian atas masalah yang muncul dalam pembahsan PJ. Apakah saya yang bodoh atau ada pengertian lain mengenai ma’rifatullah.
Masalah muncul karena ada kata2 para arifbilal (termasuk Imam Ali as)
AWALLUDIN MA’RIFATULLAH. Yang menurut pendapat saya bahwa tidak mungkin kita menyembah Allah sebelum kita mengenalnya. Imam Ali perenah berucap: “Tidak akan kusembah Allah kalau aku tidak mengenalNya.
Kemudian dari para arifbilal juga mengatakan: KENALI DIRIMU MAKA KAMU AKAN MENGENAL ALLAH.
Jadi kalau kita ambil kronologisnya (atau matematis).
Mula2 kita harus mengenal diri kita. Setelah kita mengenal diri kita (tidak tau seberapa lama) baru kita bisa mengenal Allah.
Ini berarti selama kita belum mengenal diri kita, kita belum beragama. Tolong PJ dan teman2 jelaskan. Wasalam
Haris Safari berkata
Ass. Wr. Wb.
Salam kenal untuk semua….cuma ada satu yang paling utama di dunia ini…mengenal ALLAH
pengembarajiwa berkata
@Mas Muria
Salam Berkah Rahmat Allah dalam Cinta KasihNya semoga tercurah kepada Mas Muria sekeluarga
lorMuria berkata
amiin…Yaa Rabbal Alamin.