PENGEMBARA JIWA

Menemukan Cahaya Abadi di dalam Lautan Tauhid dan Tasawuf

TASAWUF DAN BID’AH

Ditulis oleh pengembarajiwa di/pada September 4, 2008

Berbicara tentang Tasawuf sebagian orang menilai, ah…! itu ajaran sesat, itu ajaran khurafat, itu ajaran menyimpang, itu ajaran kesaktian, itu ajaran yang diada-adakan (bid’ah) dll yang menjurus kepada ajaran yang diluar dari ajaran Islam.

Sebagian lagi mengatakan Tasawuf itu ajaran yang mengajarkan tentang kesucian hati, tentang pembersih diri, tentang ikhlas, sabar, syukur dll.

Dimana-mana tidak hanya di Indonesia tetapi seluruh Dunia memandang Tasawuf itu dengan pandangan yang berbeda, satu mengatakan Negatif dan yang satu lagi mengatakan Positif.

Lalu bagaimana sih sebenarnya Tasawuf itu dan apa sih yang diajarkan dalam tasawuf itu..?

Sebenarnya Tasawuf itu sudah ada pada zaman Rosulullah Saw, bahkan Beliau sendiri yang mengajarkan kepada para Sahabat tentang Tasawuf. Tetapi pada waktu itu belum bernama “Tasawuf” melainkan “Ma’rifah/Ma’rifat (Mengenal)”. Sebagian yang disampaikan oleh Rosulullah yang berhubungan dengan Ma’rifat diantaranya :

Beliau pernah mengatakan : “Aroftu Robbii bi Robbii (Aku kenal akan Tuhanku dengan Tuhanku)”, Muutu Qobla Anta Muutu (Matikan diri kamu sebelum kamu Mati).

Dan Allah Swt juga mengatakan dalam Firmannya :

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS, Al’raaf : 179)


Jelas sekali bahwa Ma’rifat/Mengenal itu wajib bagi tiap-tiap diri, bagaimana seseorang itu menuju kepada Allah jika ia tidak mengetahui atau kenal akan Allah melalui sifat-sifat dan tanda-tanda adanya Allah. Tentu siapa yang tidak mengenal akan Allah melalui tanda-tanda yang telah nyata dicipta Allah maka tatkala beribadah, ibadah itu hampa. Karena Batinnya kering dan Buta dari pada memandang Allah yang dikatakan oleh Nabi dengan Kata-kata “Ma’rifat/Mengenal.

Kata-kata Tasawuf sendiri dikenal sejak zaman para Wali. Diantaranya Imam Al-Junaid, Ma’ruf Al-Karkhi, Hasan Al-Basri, Robiatul Adawiyah dll. Mereka (para Wali) lah yang mengatakan ajaran Ma’rifat itu dengan sebutan Tasawuf.

Lantas dimanakah letaknya Bid’ah itu dalam tasawuf..?

Bid’ah itu menurut Ahlul Ma’rifat/Ahli Tasawuf adalah mereka yang mengada-ngadakan sesuatu sedangkan ia tidak mengetahui Rahasia/Hikmah Ilmu pada apa yang dikerjakannya. (mengerjakan sesuatu hanya ikut-ikutan tetapi tidak merasakan hasil/Nikmat dari apa yang dikerjakannya). Jika demikian, sesuatu yang dikerjakan tapi tidak memperolah manis lezatnya dari apa yang diperbuat maka Hampa lah yang didapatnya.

Jika Demikian Tasawuf itu bukanlah sesuatu yang bid’ah karena mereka yang berada di dalam tasawuf itu merasakan manis dan lezatnya Amal Ibadah yang dilakukan, disebabkan ia mengerti akan rahasia Ilmu yang terkandung didalam Amal Ibadah.

Mereka yang tidak mengerti akan rahasia Ilmu yang terkandung di dalam Amal Ibadah, merekalah yang disebut pada Ayat tadi dengan sebutan “Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. disebabkan hatinya buta dari melihat dan merasakan kehadiran Allah.

Lalu siapakah yang BID’AH……….? Bid’ah itu SESAT…! Siapakah yang sesat jalan itu…… Tentu yang tidak tahu jalan…!!!!!!!

15 Tanggapan ke “TASAWUF DAN BID’AH”

  1. Jafar Hasan berkata

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
    Bismillah Khairil Asma
    Allahumma Shalli ala Muhammad wa ala Aali Muhammad

    Kami mengundang saudara-saudara semua untuk berkunjung
    ke website kami :

    http://www.hasanhusein.blogspot.com

    Wassalam

  2. truthseeker08 berkata

    Bisa jadi jika saya menjelaskan kepada anak SD bagaimana cara saya menghitung perkalian, maka anak SD tersebut akan mengatakan cara saya adalah cara sesat… :)

    Wassalam

  3. Abuharat berkata

    Ilmu Tasawuf aadalah ilmu mengenal Hakekat Allah dgn segala ciptaaNya tanpa mengenal tasauf tdk mungkin mengenal. Tanpa ilmu tasauf kita mengenal agama ganya sariyatnya saja. Terkecuali dgn rakhmat Allah medpt ilmu Laduni ilmu yg langsung dari Allah. Jadi mas sangat benar. Ucapan yg mengatakan tasauf bid;ah adalah kata2 yg menunjukan kebodohan. Wasalam

  4. pengembarajiwa berkata

    @truthseeker08 dan @Abuharat
    ————————————

    Allah merahmati kita semuanya. Aamiin.

  5. asep berkata

    Salam

    Setelah membaca dan memahami tulisan mas SP diatas, saya jadi teringat atas komentar-komentar mengenai ajaran Ahlul Bait Nabi Saw. Astagfirullah… Masya Allah. Apa yang diperbuat umat Islam sepeninggal Rasulullah Saw ?
    Mudah-mudahan seluruh umat Islam menyadari akan kehilafannya selama ini.

    Bid’ah dalam agama termasuk maksiat besar dan perkara yang dilarang. Nabi Muhammab Saw telah mengancam pelaku bid’ah ini dengan siksa neraka.

    Ibn Majah meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ” Suatu waktu Rasulullah berkhotbah, kedua matanya memerah, kemudian beliau bersabda, “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkara adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru (bid’ah dalam agama) dan setiap bid’ah itu sesat, setiap yang sesat masuk neraka. Allah tidak menerima bagi pelaku bid’ah semua ibadahnya : puasanya, shalatnya, sedekahnya, hajinya, umrahnya dan jihadnya ” (As-Sunan Ibn Majah : 1/19)

    Sebab yang dilakukan mereka adalah bantahan terhadap kekuasaan Allah Swt dalam hal pembuatan undang-undang dan syariat, ikut campur dalam agama Allah Swt. Akibatnya, dia menambahkan sesuatu dalam agama dan mengurangi hal yang berkenan dengan bidang akidah dan syariat.
    Semua ini adalah semata-mata mengada-ngadakan terhadap Allah Swt.

    “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran : 103)

    Umat Islam sepeninggal Rasulullah Saw telah bercerai berai menjadi berbagai mahzab dan golongan, akibat dari pelaku bid’ah terhadap agama dan syariat. Dengan memasukkan ke dalam agama sesuatu hal yang bukan berasal dari agama. Perbuatan mereka ini menyimpang pada kemurnian akidah Islam dan syariatnya.

    Demikian juga di dalam tasawuf, apabila melanggar ketentuan-ketentuan tsb diatas. Apakah termasuk pelaku bid’ah ? Jawabnya kembali kepada pribadi masing-masing dalam memahami dan menjalankan syariat dalam agama Islam.

    Walahu ‘Alam Bishawab

    Wasalam

  6. asep berkata

    Salam

    Setelah membaca dan memahami tulisan mas SP diatas, saya jadi teringat atas komentar-komentar mengenai ajaran Ahlul Bait Nabi Saw. Astagfirullah… Masya Allah. Apa yang diperbuat umat Islam sepeninggal Rasulullah Saw ?
    Mudah-mudahan seluruh umat Islam menyadari akan kehilafannya selama ini.

    Bid’ah dalam agama termasuk maksiat besar dan perkara yang dilarang. Nabi Muhammab Saw telah mengancam pelaku bid’ah ini dengan siksa neraka.

    Ibn Majah meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ” Suatu waktu Rasulullah berkhotbah, kedua matanya memerah, kemudian beliau bersabda, “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkara adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru (bid’ah dalam agama) dan setiap bid’ah itu sesat, setiap yang sesat masuk neraka. Allah tidak menerima bagi pelaku bid’ah semua ibadahnya : puasanya, shalatnya, sedekahnya, hajinya, umrahnya dan jihadnya ” (As-Sunan Ibn Majah : 1/19)

    Sebab yang dilakukan mereka adalah bantahan terhadap kekuasaan Allah Swt dalam hal pembuatan undang-undang dan syariat, ikut campur dalam agama Allah Swt. Akibatnya, dia menambahkan sesuatu dalam agama dan mengurangi hal yang berkenan dengan bidang akidah dan syariat.
    Semua ini adalah semata-mata mengada-ngadakan terhadap Allah Swt.

    “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran : 103)

    Umat Islam sepeninggal Rasulullah Saw telah bercerai berai menjadi berbagai mahzab dan golongan, akibat dari pelaku bid’ah terhadap agama dan syariat. Dengan memasukkan ke dalam agama sesuatu hal yang bukan berasal dari agama. Perbuatan mereka ini menyimpang pada kemurnian akidah Islam dan syariatnya.

    Demikian juga halnya di dalam tasawuf, apabila melanggar ketentuan-ketentuan tsb diatas. Apakah termasuk pelaku bid’ah ? Jawabnya kembali kepada pribadi masing-masing dalam memahami dan menjalankan agama dan syariat Islam.

    Wallahu ‘Alam bi Shawwab

    Wasalam

  7. asep berkata

    Kenapa jadi ada dua ?

  8. pengembarajiwa berkata

    @Asep
    ———–

    Tidak Usah bingung kenapa jadi dua…

    Bukankah segala sesuatu tanpa kehendak Allah tidak akan terjadi?

    Tentu ada kebaikan juga, kenapa bisa jadi dua posting komentar Anda.

    Yaitu yang membaca jadi lebih paham, karena dua kali membacanya. He…10x

  9. asep berkata

    @PengembaraJiwa

    Alhamdulillah…terimakasih mas telah mengingatkan. Iya benar, hanya dengan kehendak Allah Swt, semua akan terjadi.

  10. r.s.i berkata

    ass.wr.wb.numpang comment.
    Salman alfarisi saja dalam sholat tarawih,tidak mengikuti rasulullah yg hanya 11+witir.
    Bid’ah,bid’ahhh terus senjatanya

  11. rafi abiyyu prinanda berkata

    Ass.wr.wb. Ikut share mas PJ, Habis nggak di tag di FB oleh mas PJ. Bid’ah menurut kaum sufi adalah menjalani bentuk ibadah tetapi tidak DARI dan UNTUK ALLAH. Karena seluruh ibadah yg dijalani Rosululloh adalah DARI dan UNTUK ALLAH bukan dari dirinya dan untuk dirinya..

  12. tigaw berkata

    maksih banyak mas PJ… saya sempet merinding dan dingin membaca helaikan kalimat diatas..
    dan makasih banyak mas sya sdh ngerti sekarang “lebih baik banyak berdiam diri sambil terus2an mengenal hati dan terus menerus mendalaminya”
    maksih banyak mas PJ …..

  13. Tabahsatoe berkata

    Ass..
    Mas PJ,aku mohon ijin untuk ikut terus menyimak pelajaran2 yg sangat2 berharga yg ada di Pondok Pengembara ini..Tenang,dan bahagia sekali rasanya menyimak tulisan2 mas PJ dan saudara2ku yg lain. Alhamdulillah atas kuasaNYAlah saya dipertemukan lagi dengan orang2 spt mas PJ ini..Subhanallah.( tanpa terasa bulu kuduk merinding,airmata kebahagian kluar) thanks ya Allah..Wass

  14. Sayyid. berkata

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh mas pengembara jiwa,
    Teringat saya saat-saat rasulallah mengasingkan diri di gua hira untuk memohon petunjuk ,sehingga Allah mengutus jibril A.S kepadanya dengan membawa surat Al-alaq(segumpal darah).Di gua hira tersebutlah beliau bermakrifat yaitu siapakah diri beliau yg diciptakan dari segumpal darah tersebut yg tadinya beliau tidak ada sama sekali lalu ada(kun fayakun).Disini beliau mengkaji diri.Kenalilah dirimu dan engkau akan mengenal Tuhanmu yg menjadikanmu.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Sayyid.

  15. khoirul berkata

    Memang selagi kita menginjakkan kaki di bumi ini tidak akan bisa kita menyatakan dan menyatukan hati, memaksakan keyakinan dan kehendak bahkan paham, sudah barang tentu akan hancur jadinya bila terlalu dipaksakan.

    Hanya ingat bahwa fitrah alam ini itu selalu ada siang dan malam,ada benar dan salah dan ada salaf dan “bid’ah”, namun selagi kita berpangkal bahwa kita tidak menduakan Allah insya Allah, Dia zat yang punya kuasa menciptakan alam ini dengan segala isinya akan mengampuni kesalahn kita.

    Prinsip saya: “Apapun kebaikan yang kita lakukan hanyalah semta-2 karena Allah bukan karena pahala dan surga”.

    Terima kasih untuk Mas PJ

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>